Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Cucu Surahman

Dosen UIN Jakarta/Alumnus Leiden University, Belanda

Pentingnya Pendidikan Karakter

OPINI | 25 May 2013 | 10:18 Dibaca: 74   Komentar: 0   0

Tanggal 2 Mei biasa diperingati sebagai hari Pendidikan Nasional. Penetapan tanggal tersebut sebagai Hardiknas didasarkan pada tanggal lahir seorang pahlawan yang telah berjasa dalam merintis dan memajukan pendidikan di bumi pertiwi ini, yaitu Ki Hadjar Dewantara. Berkat jasanya mendirikan Perguruan Taman Siswa pada 1922, para pribumi dan rakyat jelata dapat merasakan pendidikan seperti halnya para priyayi dan orang-orang Belanda. Bertepatan dengan Hardiknas tersebut, walaupun sudah lewat, saya ingin mengucapkan selamat dan terima kasih kepada para pendidik, para guru, dan semua yang telah berjasa bagi dunia pendidikan di Indonesia.

Dalam sambutan pada acara peringatan Hari Pendidikan Nasional, Kamis 2 Mei 2013 kemaren, Mendikbud, Prof. Dr. Mohammad Nuh mengatakan bahwa di Indonesia saat ini ada tiga penyakit sosial yang sangat besar dampak negatifnya, yaitu: (1) kemiskinan; (2) ketidaktahuan atau kebodohan; dan (3) keterbelakangan adab. Dan menurutnya, cara agar kita terhindar dari ketiga macam penyakit tersebut adalah pendidikan.

Pendidikan memang sangat penting. Dengan pendidikan, seseorang dari tidak tahu kemudian menjadi tahu, dengan modal pengetahuan (dan keterampilan) orang bisa dapat pekerjaan yang layak, dan dengan pengetahuan pula orang bisa menjadi beradab (berakhlak).

Apa yang dikatakan Bapak Menteri tersebut memang benar. Tetapi untuk konteks Indonesia saat ini hal itu, terutama terkait keadaban, barulah idealnya (das solen), kenyataan di lapangan (das sein) ternyata tidaklah demikian. Kalau kita melihat kenyataan di tengah masyarakat, ternyata banyak orang yang berpendidikan tinggi, tetapi memiliki perilaku yang buruk. Bahkan kalau kita telusuri sumber dari segala krisis saat ini, maka tidak lain adalah krisis dan dekadensi moral.

Menurut Zuhdi, ada tujuh krisis moral yang terjadi ditengah-tengah masyarakat Indonesia saat ini, yaitu: krisis kejujuran, krisis tanggungjawab, tidak berfikir jauh ke depan, krisis disiplin, krisis kebersamaan, dan krisis keadilan (Darmiyati Zuhdi: 2009).

Kita juga mungkin sedang mengalami apa yang menurut Mahatma Ghandi disebut “tujuh dosa yang mematikan” (the seven deadly sins), yaitu: (1) semakin merebaknya nilai-nilai dan perilaku memperoleh kekayaan tanpa bekerja (wealth without work); (2) kesenangan tanpa hati nurani (pleasure without conscience); (3) pengetahuan tanpa karakter (knowledge without character); (4) bisnis tanpa moralitas (commerce without ethic); (5) ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan (science without humanity); (6) agama tanpa pengorbanan (religion without sacrifice); dan (7) politik tanpa prinsip (politic without principle). (Soedarsono: 2010).

Mengingat hal tersebut, terutama apa yang disebut Ghandi sebagai pengetahuan tanpa karakter (knowledge without character), maka kita patut merenungkan kembali rumusan pendidikan kita. Apa yang dimaksud dengan pendidikan?. Dalam Undang-undang Sisdiknas 2003 Pasal 1 ayat (1) dikatakan bahwa pendidikan adalah: Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Kemudian dalam Pasal 3-nya, disebutkan bahwa fungsi pendidikan nasional adalah “mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Dari UU Sisdiknas tersebut (arti dan fungsi pendidikan nasional di atas), tampak pendidikan kita memiliki tujuan yang holistik, yaitu membentuk manusia yang sempurna. Bahkan pengembangan mental-spiritual dan pembangunan karakter pun, yang kini menjadi perhatian para ahli pendidikan juga sudah sangat jelas ditekankan dalam UU tersebut. Lantas pertanyaannya kemudian adalah bila rumusan atau teorinya baik, tapi kenapa hasilnya buruk? Mungkinkah ada yang tidak beres dengan cara atau metode pelaksanaannya di lapangan?

Memang kita patut miris ketika melihat tanyangan televisi yang menunjukkan bukti siswa-siswi yang nyontek di UN kemaren. Nyontek mungkin sudah menjadi budaya bagi sebagian bangsa kita. Karena sudah jadi budaya, maka guru pun sudah tidak begitu peduli lagi dengan hal itu. Bahkan, dikabarkan pula pada UN kemaren, ada beberapa kepala sekolah yang berusaha mencari kunci jawaban UN dan akan membocorkan rahasia negara tersebut. Sungguh sangat ironis, institusi dan figur yang seharusnya menanamkan jiwa jujur dan disiplin, ternyata malah mempraktekkan hal yang sebaliknya.

Selain itu, kalau kita amati dari sistem pendidikan kita di lapangan, pendidikan (formal) kita sekarang ini lebih cenderung menekankan kecerdasan intelektual (IQ), di satu sisi dan mengabaikan kecerdasan emosional (EQ) dan spiritual (SQ), di sisi lain. Dinilai cerdas ketika seorang anak bisa menjawab soal-soal yang ditanyakan. Dan secara simplistis, itu juga hanya dilihat dalam bentuk angka-angka (nilai raport). Di sisi lain, pendidikan formal kita nyaris tidak pernah, untuk mengatakan tidak sama sekali, melihat perilaku dan karakter dari anak didik dan menjadikannya sebagai bagian dari unsur penilaian. Padahal pendidikan yang baik adalah pendidikan yang bukan hanya menjadikan seseorang menjadi pintar (smart), tetapi juga menjadinya baik (good).

Sistem pendidikan kita seharusnya lebih memberikan perhatian pada penanaman karakter yang baik. Karakter yang baik, menurut John Luther, lebih patut dipuji daripada bakat yang luar biasa. Dan bila hampir semua bakat adalah anugerah. Karakter yang baik, sebaliknya, tidak dianugerahkan kepada kita. Kita harus membangunnya sedikit demi sedikit, yaitu dengan pikiran, pilihan, keberanian, dan usaha keras (Ratna Megawangi: 2007).

Pendidikan karakter itu memadukan antara moral knowing, moral feeling, dan moral action. Seseorang yang berkarakter itu ia mempunyai pikiran yang baik (thinking the good), memiliki perasaan yang baik (feeling the good), dan juga berperilaku baik (acting the good) (Thomas Lickona: 2004). Dan di antara karakter yang harus ditanamkan pada anak didik kita adalah cinta kepada Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, kemandirian, tanggung jawab, kejujuran/amanah, diplomatis, hormat dan santun, dermawan, suka menolong dan gotong royong/kerjasama, percaya diri, pekerja keras, kepemimpinan, keadilan, baik dan rendah hati.

Karakter-karakter baik ini adalah manifestasi dari EQ dan SQ. Kenapa dua kecerdasan ini penting? Karena menurut Ary Ginanjar, bila IQ baik, EQ dan SQ rendah, maka hasilnya adalah buta hati, kemudian jika IQ baik, EQ baik, tapi SQ rendah, maka hasilnya adalah diktator dan kuruptor. Sementara bila IQ rendah, EQ rendah, dan SQ baik, maka hasilnya adalah petapa. Tetapi bila IQ baik, EQ baik, dan SQ baik, maka hasilnya berupa Manusia paripurna, yang dalam istilah tasawwuf disebut Insan Kamil.

Dan di sinilah pentingnya pendidikan Agama. Agama mendidik manusia untuk menyempurnakan dan mengupayakan pembentukan karakter yang baik (good character) (Abdul Majid: 2011). Pendidikan Agama mengajarkan bahwa seseorang yang sempurna bukan hanya yang cerdas akalnya, tetapi orang yang terpadu dalam dirinya kecerdasan IQ, EQ, dan SQ. Sejalan dengan arti dan fungsi pendidikan nasional kita, pendidikan Agama menekankan pembentukan pribadi-pribadi yang mampu berinteraksi yang baik dengan sang Khaliq (SQ) secara vertikal, dan dengan sesama manusia dan alam sekitar (EQ), secara horizontal.

Dengan penekanan pada pendidikan karakter ini mudah-mudahan sistem pendidikan kita bisa mencetak generasi bangsa yang tangguh, sukses dan maju. Bagi para pengajar, guru dan dosen, sudah saatnya kita lebih mengutamakan pendidikan karakter, hal yang akan menjadi bekal bagi anak didik kita selama hidupnya. Dan marilah kita memberi contoh yang baik secara langsung kepada mereka, di kelas, di sekolah dan di lingkungan akademik. []

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | | 21 October 2014 | 21:18

Rupiah Tiada Cacat …

Loved | | 17 October 2014 | 17:37

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Ekspektasi Rakyat terhadap Jokowi …

Fitri.y Yeye | | 21 October 2014 | 10:25

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46


TRENDING ARTICLES

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 6 jam lalu

Jamberoo itu Beda Total dengan Jambore …

Roselina Tjiptadina... | 7 jam lalu

Ajari Anak Terampil Tangan dengan Bahan Alam …

Gaganawati | 9 jam lalu

Siapa Sengkuni? Amien Rais, Anda Atau Siapa? …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu

Anang Hermansyah Hadiri Pesta Rakyat, Ahmad …

Sahroha Lumbanraja | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Waspadai Penipuan di Sekeliling Anda …

Syahdan Adhyasta | 8 jam lalu

Janji Kelingking Masa Lalu …

Fitri Manalu | 8 jam lalu

Ibu Negara …

Rahab Ganendra | 9 jam lalu

Kindi: Fotografer Cilik …

Dewilailypurnamasar... | 10 jam lalu

Kuliner Bebek Mercon di Warung Komando Eko …

Sitti Rabiah | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: