Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Johan Wahyudi

Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Soloraya, Kolumnis Rubrik Petuah Majalah SMARTEEN, Penyunting Naskah, Penulis Artikel, selengkapnya

Pentingnya Belajar Bahasa Asing

REP | 29 May 2013 | 13:25 Dibaca: 1220   Komentar: 22   6

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Penyesalan akan dirasakan manakala kebutuhan tak bisa terpenuhi. Rasa itu teramat menyakitkan sehingga hendaknya kita tak merasakannya. Selagi masih memiliki kesempatan, sebaiknya kita menggunakannya. Kesempatan memang datang berkali-kali, tetapi berkali-kali pula kita menyia-nyiakan kesempatan itu, begitulah ungkapan yang pernah terbaca.

Setahun lalu, saya pernah dihubungi sekolah di Singapura. Intinya, saya diminta kesediaannya untuk menjadi staf pengajar di sana. Tentu saya diiming-imingi beragam fasilitas yang lebih daripada sekadar yang kuperoleh di sini. Namun, terpaksa saya menolak tawaran itu dengan dua alasan, yaitu jarak yang relatif dekat dan penguasaan bahasa asing. Solo - Singapura dapat ditempuh hanya beberapa jam penerbangan, mengapa saya harus menetap di sana? Jika memang teramat diperlukan, cukuplah saya menjadi staf pengajar atau guru luar biasa yang mengajar secara temporal.

Alasan kedua adalah penguasaan bahasa asing (baca: Inggris). Sebenarnya saya bisa memahami isi teks berbahasa Inggris tetapi saya kesulitan untuk menyampaikannya secara lisan dan tulisan. Penguasaan kosakata dan tatabahasaku sangat terbatas sehingga timbul rasa malu manakala nantinya saya mengajar di sana. Tentu situasi itu akan mengurangi kewibawaan dan penyampaian isi pelajaran nantinya.

Setengah tahun yang lalu, saya pernah ditawari rekomendasi untuk menjadi pengajar bahasa Indonesia di Amerika Serikat. Tawaran itu berasal dari teman sesama kompasianer yang kebetulan pernah beberapa kali menjadi pengajar di sana. Tentu teman itu sudah memertimbangkan masak-masak tentang kapasitas dan kapabilitasnya sebagai pengajar bahasa Indonesia. Terlebih, saya akan menjadi guru bahasa Indonesia selama dua tahun di negeri Paman Sam. Tentu sangat diperlukan kesiapan yang supermatang.

Terpaksa pula saya menolak tawaran itu dengan memberikan dua alasan, yaitu studi dan penguasaan bahasa asing. Saat ini, saya sedang berusaha menyelesaikan studiku di Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) Sol. Jika meninggalkan kampus selama dua tahun, kapan saya bisa lulus? Tentu kondisi itu akan berdampak pada segala aspek, seperti keuangan, keluarga, dan karier.

Alasan kedua tak lain adalah penguasaan bahasa Inggris. Dengan bahasa Inggris yang grothal-grathul begini, tentu saya bisa menjadi bahan tertawaan di sana. Meskipun saya menguasai bahasa Indonesia dengan baik, semua itu tak akan berguna manakala saya pun tak bisa menyampaikannya dengan baik pula. Maka, terpaksa pula saya menolak rekomendasi itu. Sempat pula temanku itu merasa kecewa atas penolakan itu karena sulit baginya mencari pengajar bahasa Indonesia yang lain.

Kemarin (Selasa, 28 Mei 2013), saya membuka email. Cukup lama saya tak membuka pesan sehingga saya terkejut dengan terkirimnya sebuah penawaran dari The Conference On Writing Research 2014 in The City of Amsterdam, Belanda. Saya diundang untuk mengikuti Conference of Writing pada 27-29 Agustus 2014. Kabar itu tentu teramat mengejutkan sekaligus menggembirakan karena saya belum pernah terlibat pada even-even dan atau kegiatan internasional. Maka, saya sempat kebingungan menjawab penawaran itu. Satu hal yang menjadi kendalaku adalah lagi-lagi penguasaan bahasa asing!

Sebenarnya saya memiliki empat sertifikat kursus bahasa Inggris sejak kuliah di Yogyakarta hingga saat ini. Dahulu, saya cukup lumayan menguasai bahasa Inggris karena lingkunganku juga mendukung. Kini, penguasaan bahasa Inggrisku turun drastis karena jarang digunakan, khususnya penggunaan secara lisan. Dengan siapa saya akan berbicara dengan bahasa Inggris sedangkan lingkunganku tak terbiasa berbahasa Inggris? Bisa-bisa saya dianggap sebagai pribadi sombong karena berbahasa londo.

Di sinilah saya menghadapi dilema. Jika menerima tawaran itu, tentu saya harus menguasai bahasa Inggris dengan baik agar ide-ideku dapat tersampaikan dengan baik pula. Namun, tentu saya menjadi pribadi cengeng alias pengecut manakala menolak tawaran itu. Bukankah tak semua orang diberi kepercayaan, terlebih, kepercayaan dari lembaga taraf internasional? Dan di sini pula saya mengambil kesimpulan bahwa bahasa asing memang perlu dikuasai karena kita tak pernah rugi jika menguasainya. Bahkan, kita akan diuntungkan karena bisa menimba ilmu dari buku berbahasa asing sekaligus orang-orangnya. Mudah-mudahan saya bisa memanfaatkan kesempatan nan bernilai ini. Amin…!!!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | | 25 October 2014 | 23:43

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | | 26 October 2014 | 00:06

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri, Polycarpus, BIN dan Persepsi Salah …

Ninoy N Karundeng | | 26 October 2014 | 08:45

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



Subscribe and Follow Kompasiana: