Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Benedectus Arsianto Budi Nugroho

penyakit yang saya takuti bukanlah lepra,TBC, stroke, melainkan tidak dikehendaki, dicintai, dan tidak dipedulikan

Makna “ Mikul Dhuwur Mendhem Jero” bagi Pendidikan Karakter

OPINI | 31 May 2013 | 06:50 Dibaca: 2410   Komentar: 0   0

Indonesia merupakan negara yang beraneka ragam kebudayaan dan adat istiadat yang harus dijunjung tinggi seperti budi pekerti dan barhati luhur harus terus dilestarikan. Tapi kenyataannya sekarang, kaum pemuda banyak yang sudah hilang nilai luhur budi pekertinya sehingga unggah-ungguh / tata krama terhadap orang tua sudah hilang. Selain itu moral pemuda sekarang juga sudah mulai luntur sehingga moral baik semakain menipis terhadap kaum muda sekarang. Contoh saja seperti tawuran merajalela, penggunaan kata-kata yang memburuk, meningkatnya penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas, kaburnya batasan moral baik-buruk, menurunnya etos kerja, rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara, membudayanya ketidakjujuran, dan adanya saling curiga dan kebencian antara sesama.

Untuk mencegah menipisnya moral yang bertambah parah, pendidikan karakter harus lebih ditingkatkan baik di lingkungan formal, informal maupun nonformal. Ada satu peribahasa Jawa yang tepat untuk mendidik karakter anak bangsa yang sudah mulai hilang rasa hormatnya pada orang tua, yakni “mikul dhuwur mendhem jero”. Mikul dhuwur mendhem jero diartikan meninggikan atau menonjolkan kelebihan serta kebaikan keluarga dan menutupi kekurangan atau keburukan keluarga. Namun peribahasa tersebut sebenarnya memiliki makna sangat dalam, yakni njunjung drajade wong tuwa (menjunjung tinggi derajat dan harkat martabat orang tua). Peribahasa tersebut mengajarkan kita agar mampu menjunjung tinggi derajat dan harkat martabat orang tua, tidak membuat aib dan cela untuk kedua orang tua . Selain itu kita harus bisa menghargai serta menghormati orang tua. Tidak hanya orang tua dalam arti sempit namun juga dalam arti yang lebih luas, yakni orang yang lebih tua, pemimpin, tokoh masyarakat dan sebagainya.

Saat ini jarang sekali kaum muda yang mau menghormati orang tuanya, apa lagi menghormati pimpinan atau orang yang lebih tua. Anak-anak muda sekarang malah banyak yang mengecewakan orang tuanya seperti anak gadis dibawah umur sudah hamil duluan. Ini disebabkan karena tidak mendengar perintah dari orang tuanya. Maka dari itu, untuk membentuk moral dan karakter seseorang harus dilandasi oleh tindakan “mikul dhuwur mendhem jero”. Jika kalimat ini sudah diterapkan kepada jiwa pemuda maka akan memupuk moral dan karakter kaum muda untuk semakin baik. Setidaknya batasan moral antara anak dan orang tua dan norma tidak akan lenyap, terhapus arus globalisasi. Indonesia pun bisa semakin maju bukan hanya pada perekonomiannya saja namun pada karakter pemuda dan pemudinya .

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Para Tabib Muda di Karimunjawa …

Dhanang Dhave | | 23 May 2015 | 11:58

Bukchon Hanok Village, Desa Tradisional di …

Ita Dk | | 23 May 2015 | 14:04

[Blog&Photo Competition] Saatnya Non …

Kompasiana | | 17 March 2015 | 16:48

Begini Cara Mengetahui Foto Hoax dari …

Gunawan | | 23 May 2015 | 09:25

Kita Pernah Bersama …

Ando Ajo | | 23 May 2015 | 13:06


TRENDING ARTICLES

Favorit Bule, PSK Eksotis Indonesia dibayar …

Riana Dewie | 8 jam lalu

Dihantui Rasa Bersalah ,Tehnisi QZ8501 Bunuh …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Deadline FIFA Seminggu Lagi, PSSI justru …

Achmad Suwefi | 10 jam lalu

Belajar dari Jokowi memilih 9 Wanita …

Imam Kodri | 10 jam lalu

Jokowi Merekrut Orang Gila Agar Bisa Tetap …

Ahmad Maulana S | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: