Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Hilmy Ferdiansyah

Owner & Trainer Spirit Management School (SMS) yang menangani masalah Parenting, Teaching, Learning, Managing, & selengkapnya

15 Karakter Guru yang Jahat, Buruk, dan Baik

OPINI | 01 June 2013 | 20:51 Dibaca: 1294   Komentar: 0   2

Jika anda seorang guru atau pendidik, tentunya anda perlu mengevaluasi lebih mendalam termasuk karakter atau tipe apakah anda sebagai seorang guru. Berikut ini penulis sampaikan karakter atau tipe guru tersebut sebagai sarana mengevaluasi diri anda.

1. Pintar

Guru yang pintar dalam mengajar dan membimbing anak didiknya. Guru seperti ini pintar dalam melakukan tugasnya sebagai seorang guru, juga dapat membuat anak didiknya menjadi cerdas. Guru pintar ini dalam melakukan pembelajaran di kelas benar-benar mengasah aspek-aspek kecerdasan siswanya secara baik.

2. Sabar

Guru sabar memiliki beberapa pengertian.

Pertama, sabar saat menghadapi anak didiknya.

Kedua, sabar saat menuntaskan materi pembelajaran.

Ketiga, sabar saat menghadapi permasalahan yang terjadi.

Keempat, sabar dalam melakukan aktifitas mengajarnya.

Hanya makna guru sabar sering disalahtafsirkan oleh sebagian guru yang justru harus diluruskan.

Pertama, saat anak didiknya mencontek ia diam saja terhadap prilaku buruk mencontek muridnya.

Kedua, Bila saat mengajar anak didiknya ribut ia membiarkannya saja atau tidak dapat mengendalikan kelasnya.

Ketiga, bila anak didiknya berprilaku tidak sopan ia tidak menegur atau mengingatkannya.

3. Sadar

Guru yang sadar akan tugas dan kewajibannya sebagai guru. Guru seperti ini selalu berinisiatif untuk mengembangkan profesionalitasnya sebagai guru. Guru sadar ini diperintah atau tidak diperintah oleh atasannya selalu berusaha mengambil peran untuk kemajuan sekolahnya.

4. Dasar

Guru yang sudah memiliki dasar sebelumnya menjadi guru. Guru semacam ini memang menyenangi profesinya sebagai guru. Hal ini dibuktikan dengan kecintaannya mengajar, jurusan di Perguruan Tinggi yang dipilihnya dan pengalaman mengajarnya yang sudah dimulai sejak muda.

5. Benar

Guru yang benar dalam melakukan aktifitas pengajarannya. Ia menyampaikan materi yang benar, tidak asal, dan dapat dipertanggungjawabkan. Ia tidak melakukan ‘mal praktek’ mengajar misalnya tidak melakukan kekerasan fisik saat mengajar, tidak membolos saat jadwal mengajar, dan lain-lain.

6. Wajar

Guru seperti ini wajar dalam bersikap dan tidak dibuat-buat. Wajar dalam memberikan tugas (PR) kepada anak didiknya dan wajar dalam melakukan aktifitas pengajarannya.

7. Nyasar

Seseorang yang sejak awal tidak berniat menjadi guru, namun karena sesuatu hal akhirnya ia menjadi guru. Faktor-faktor yang menyebabkan munculnya guru nyasar ada enam.

Pertama, karena tidak ada lagi lowongan pekerjaan yang dapat menampungnya kecuali menjadi guru.

Kedua, karena di Indonesia ada kecenderungan asal mau dan berani saja jadi guru dapat menjadi guru. Ia tidak peduli ijazah, jurusan, atau sekolah yang telah ditempuhnya.

Ketiga, karena banyak sekolah yang begitu mudah atau asal-asalan menampung atau menerima guru. Sekolah-sekolah tersebut tidak mempedulikan pendidikan, kompetensi, keilmuan, ataupun pengalamannya.

Keempat, karena tidak menjamin bahwa seseorang yang memiliki pendidikan sebagai guru dapat bagus dalam mengajar, sehingga ia merasa bahwa tidak berpendidikan sebagai guru juga dapat bagus dalam mengajar.

Kelima, salah jurusan saat mengambil jurusan di perguruan tinggi.

Keenam, jaminan kesejahteraan menjadi guru semakin baik terutama bila menjadi PNS Guru atau mendapatkan sertifikasi.

8. Kasar

Guru kasar ini memiliki dua pengertian.

Pertama, guru yang kasar dalam berbicara. Guru yang kasar dalam berbicara masih banyak ditemui diberbagai sekolah. Bahkan penulis pun pernah mengalami curhatan dari para siswa saat beraktifitas di sekolah menengah karena ada beberapa guru yang sering mengeluarkan kata kasar seperti nama-nama binatang saat mengajar di dalam kelas ataupun di luar kelas. Jelas hal ini bukanlah perilaku terpuji yang dilakukan para guru.

Kedua, guru yang kasar dalam berperilaku. Mungkin hal ini dilakukan karena ia memiliki badan yang besar dan kekar, berwajah sangar, sehingga hobinya nampar.

9. Kurang Ajar

Guru kurang ajar ini masih sering ditemui di berbagai sekolah. Kurang ajar disini memiliki pengertian kurang ajar dalam bersikap, misal sikap seorang guru laki-laki kepada anak didiknya yang perempuan berikap tidak senonoh. Guru yang kurang ajar disini diantaranya ada guru yang sampai melakukan kejahatan seksual. Misal memegang kemaluan ataupun alat vital muridnya, ada pula yang sampai melakukan pacaran dengan muridnya, bahkan ada yang sampai berzina dengan muridnya. Na’uzu billah… Ada pula guru yang melakukan penipuan, pencurian, dan perilaku kejahatan lainnya.

10. Kurang Ngajar

Guru kurang ngajar memiliki dua pengertian.

Pertama, guru tersebut merasa jam mengajar yang dimilikinya masih kurang, sehingga ia masih ingin menambah jam mengajarnya. Hal tersebut bisa jadi karena setiap kelebihan jam mengajar ada ‘bonus tambahan’ yang didapat ataupun memang karena kecintaannya ia dalam mengajar.

Kedua, setelah ia mengajar di satu tempat ia masih merasa belum puas sehingga ia masih mengajar kembali di tempat lainnya. Bentuknya bisa dalam bentuk privat, bimbel, kursus, mengajar kembali di lembaga pendidikan formal, atau yang lainnya. Hal itu bisa jadi karena kemampuan mengajarnya baik sehingga lembaga lain memintanya untuk mengajar juga di tempatnya. Atau karena kebutuhan hidupnya yang belum memadai, yang memaksanya untuk mencari kegiatan mengajar yang lain di luar tempat utamanya mengajar. Ada pula sebagian guru yang hanya sekedar mengaktualisasikan dirinya, ia mengajar di tempat lain di luar tempat mengajarnya yang utama.

11. Makar

Guru semacam ini memiliki beberapa pengertian.

Pertama, hobinya membicarakan kejelekan orang lain (ghibah).

Kedua, iri atau dengki kepada kelebihan yang dimiliki guru yang lain, apakah terkait kemampuannya mengajar, finansial yang dimilikinya, kekayaan yang dimilikinya, perbedaan status guru yang dimilikinya, golongan atau kepangkatan yang dimilikinya, tunjangan yang telah didapatnya, ataupun sertifikasi yang sudah didapatkannya.

Ketiga, hobinya membicarakan kebijakan atasannya yang dipandang tidak disukainya atau yang tidak sesuai dengan keinginan dirinya.

12. Lapar

Guru lapar ini bisa dimaknai dua hal.

Pertama, lapar terhadap ilmu dan kompetensi yang harus didapatkannya. Ia selalu bersemangat untuk mencari ilmu bukan karena sekedar meraih sertifikasi atau kenaikan pangkat.Ia melakukannya karena untuk menuntut ilmu yang harus diraihnya. Kedua, lapar dalam arti sesungguhnya. Ia selalu merasa lapar ingin selalu makan terus bila sebelum atau sesudah mengajar. Bagi sebagian guru laki-laki selalu ingin merokok bila ada kesempatan untuk merokok diluar jam mengajarnya.

13. Bayar

Guru bayar ini adalah guru yang tidak akan mengajar kalau ia tidak dibayar. Ada pula tipe guru

bayar ini ialah guru yang sangat memperhitungkan jam mengajarnya termasuk besarnya KJM

(Kelebihan Jam Mengajar). Jadi jam mengajar dan waktu yang ia berikan harus selalu dihitung

dengan   besarnya   uang.    Tipe  guru  seperti  ini  sering ogah-ogahan bila mendapat kegiatan

tambahan baik kegiatan yang bersifat administratif maupun yang bersifat pengajaran.

14. Hambar

Guru   seperti   ini   seperti   seorang   yang  sedang memasak, lalu ia tak menaburkan bumbu

penyedap rasa. Tentu terasa ada sesuatu yang kurang. Nah.. guru   seperti  ini  sering  terasa

kering, kurang semangat, dan kurang berisi keilmuan yang diajarkannya. Siswa yang menerima

informasinya    pun   sering   dibuat  bingung   ataupun   tak  semangat,  sehingga  ketika siswa

ditanyakan tentang materi yang baru disampaikannya hasilnya siswa tidak mengerti,

15. Pasar

Guru pasar ini memiliki beberapa pengertian.

Pertama, guru semacam ini selalu membuat pasar kecil dengan cara berbisnis untuk berjualan kepada guru lainnya, orangtua murid, bahkan kepada anak didiknya. Barang yang dijual bisa bervariasi, ada yang berbentuk buku paket, LKS, kerudung, busana muslim, atau keperluan lainnya. Membuat pasar seperti ini banyak terjadi di berbagai sekolah apakah yang sifatnya legal ataupun ilegal. Pertanyaannya bolehkah melakukan jual beli semacam ini? Tentu tergantung kepada item barang yang dijualnya, legalkah bila dijual di sekolah, ataupun apah mengganggu aktivitas utama kita dalam mengajar atau tidak.

Kedua, guru semacam ini selalu membuat pasar kaget dengan melakukan jual beli informasi atau gosip yang terjadi antar guru.

Termasuk tipe guru yang manakah anda? Semoga anda termasuk guru baik yang memberikan teladan bagi para muridnya, bukan termasuk guru yang berprilaku buruk apalagi berprilaku jahat kepada muridnya.

Hilmy Ferdiansyah

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

5 Kompasianer Beropini tentang Paspampres …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 15:41

Keuntungan-keuntungan dari Kasus Florence …

Andreas Ab | | 02 September 2014 | 12:43

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | | 02 September 2014 | 11:59

Menyaksikan Sinta Obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | | 02 September 2014 | 12:19

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 4 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 6 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: