Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Kang Sugita

seorang bapak guru di pelosok gunungkidul

Bu Guru, Kenapa Saya Tidak Dapat Bea Siswa??

OPINI | 02 June 2013 | 08:03 Dibaca: 290   Komentar: 12   2

Beberapa waktu lalu, saya diundang untuk rapat di SDIT Ukhuwah Islamiyah Kalasan. Sebagai ketua komite di sekolah tersebut saya senantiasa dilibatkan untuk pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kepentingan siswa. Setelah beberapa masalah yang urgen selesai dibahas, kemudian pihak sekolah meminta masukan dari para undangan yang terdiri pengurus komite, dan pengurus POMG Kelas. Beberapa hal yang berkaitan dengan upaya memajukan sekolah diusulkan dan mendapat tanggapan dari pihak sekolah.

Tibalah seorang ibu bertanya tentang ada atau tidaknya “bea siswa” bagi siswa yang berprestasi. Hal ini karena si ibu sering mendapat curahan hati anaknya mengenai kawan-kawannya yang memperoleh “bea siswa”. Si anak merasa aneh, mengapa teman-temannya yang prestasi belajarnya tidak lebih baik dari pada dirinya, bahkan lebih buruk atau termasuk yang tertinggal di kelas; mereka mendapat “bea siswa”. Sementara si anak yang senantiasa masuk ranking tiga besar di kelas, justru tidak pernah mendapat “bea siswa”.

Meski si ibu sudah menjelaskan kepada si anak, bahwa keriteria yang mendapat bea siswa pada saat ini adalah mereka yang mengalami kesulitan dalam membiayai pendidikannya. Dengan kata lain, saat ini yang disediakan biaya dari pemerintah adalah Siswa Miskin. Namun si anak yang belum bisa menerima, masih mengkritisi. “Mosok sih Bu, dia digolongkan siswa miskin? Lihat saja, rumahnya besar dengan lantai keramik. Motornya saja ada tiga baru semua. Sementara kita….. rumahnya lebih kecil, dan motornya hanya satu, itu pun sudah kuno”

Kami memaklumi perasaan “tidak dipedulikan” yang melanda si anak. Saat ini, memang hampir tidak ada¬† “bea siswa” yang diperuntukkan bagi siswa yang berprestasi. Siswa-siswa cerdas dan berprestasi biasa dilibatkan dalam berbagai kegiatan, namun mereka merasa tidak mendapat penghargaan secara materi berupa “bea siswa”. Sebagai sekolah dasar swasta yang semua gurunya honorer, sesungguhnya telah berusaha memberikan perhatian seperlunya kepada para siswa yang cerdas dan berprestasi. Meski nilainya tidak sebesar yang diterima oleh “penerima BSM”, namun mereka mendapat kelebihan karena prestasinya dihargai dengan diberikan hadiah yang peyerahannya pada saat upacara bendera. Secara kebetulan, sekolah menerima titipan Zakat, Infak dan Shodaqoh dari para orang tua siswa yang merasa memiliki kewajiban berzakat. Sebagian dari zakat yang terkumpul disalurkan untuk subsidi biaya pendikan bagi siswa yang tidak mampu, sebagian lagi disisihkan untuk membiayai kegiatan siswa yang berprestasi dalam mengikuti berbagai kegiatan lomba.

Istilah “bea iswa” memang menimbulkan salah persepsi. Sebagian dari kita akan sepakat, pada masa lalu, bea siswa diperuntukkan bagi siswa-siswa yang cerdas dan berprestasi, sebagaimana bea siswa yang dikelola Yayasan Super Semar. Dengan adanya rangsangan berupa bea siswa, maka akan memacu siswa untuk mencapai prestasi lebih baik, dan bila mungkin yang terbaik. Namun, pada saat ini, bea siswa untuk siswa cerdas dan berprestasi itu nyaris tidak ada. “Bea siswa” diberikan kepada siswa miskin, tidak memperhatikan apakah siswa tersebut berprestasi atau tidak. Bahkan ketika si siswa miskin itu termasuk paling tertinggal di kelasnya, paling pemalas, dan terlalu sering membuat kasus di sekolah; jika mengajukan diri sebagai siswa miskin, dia akan mendapat prioritas “bea siswa miskin”. Padahal saat ini, banyak “yang mengaku miskin” itu ternyata penghasilannya ratusan ribu per hari. Jauh lebih besar daripada gaji yang diterima seorang guru honorer, yang karena profesinya sebagai guru; maka anaknya tidak mungkin mendapat “bea siswa” walaupun berprestasi. Padahal gaji si guru honorer dalam sebulan mungkin hanya setara dengan penghasilan seminggu kerja dari orang tua “siswa miskin”. Namun karena si guru honorer menerima dengan lapang dada, maka penghasilan kecilnya “barokah” dan mencukupi biaya kehidupannya. Sementara penghasilan ratusan ribu per hari orang tua dari “siswa miskin” ternyata selalu saja tidak mencukupi untuk kebutuhan hidupnya.

Jadi, sampai kapan perhatian terhadap “siswa berprestasi” dilupakan. Kapan pemerintah memberikan perhatian kepada siswa-siswa cerdas dan berprestasi, yang kebetulan orangtuanya tidak bisa dikategorikan miskin karena berprofesi sebagai guru honorer?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Ga Pengen Gundul? Rawat Rambutmu??? …

Kang Isrodin | | 29 November 2014 | 12:00

Sentilan-sentilun SBY dan Jokowi …

Gunawan | | 29 November 2014 | 09:00

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39

Festival Payung Indonesia Pertama, …

Indria Salim | | 29 November 2014 | 13:31

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jangan Tekan Ahok Lagi …

Mike Reyssent | 7 jam lalu

Ibu Vicky Prasetyo Ancam Telanjang di …

Arief Firhanusa | 8 jam lalu

Pak Jokowi, Dimanakah Kini “Politik …

Rahmad Agus Koto | 9 jam lalu

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 11 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Maaf, Tak Ada “Revolusi dari …

Felix | 8 jam lalu

Black Friday, Cyber Monday, dan GDP US …

Dyah | 8 jam lalu

Kekhawatiran Masyarakat Terhadap Bahaya Susu …

Hikmawati . | 8 jam lalu

Seperti Apa Mas Kawin di Zaman Rasulullah …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Kontraversi Aborsi …

Jahrianti Nur Tahir | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: