Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Septin Puji Astuti

Tidak ada yang lebih istimewa selain menjadi ibu dari empat anak

Peringkat Perguruan Tinggi Indonesia Menurut QS World University Ranking 2013

HL | 05 June 2013 | 03:35 Dibaca: 20517   Komentar: 42   9

Beberapa waktu lalu Kompas.com membuat suatu berita tentang rangking dunia Jurusan di Perguruan Tinggi di Indonesia menurut QS World University Ranking 2013. Cukup menarik bagi saya karena ternyata ada berita berjudul IPB dan UGM Masuk Daftar 200 Kampus Terbaik Dunia.

Tanpa membaca artikelnya, mungkin di dalam hati kita langsung bersyukur karena ada dua Perguruan Tinggi Indonesia yang masuk 200 besar rangking dunia. Tetapi sebelum berita itu dipublikasikan, saya melihat QS World University Rangking 2012/2013 saya tidak segembira ketika membaca berita dari Kompas.com. Ini karena pada waktu itu saya melihat tidak ada satupun Perguruan Tinggi di Indonesia yang masuk di dalam 200 rangking dunia seperti dalam judul berita di Kompas.com itu. Setelah membaca beritanya, ternyata saya terkecoh. Dua Perguruan Tinggi yang dimaksud ternyata bukan masuk 200 rangking dunia untuk semua subject, tetapi hanya pada subject (ditulis Jurusan) tertentu. Untuk IPB adalah Jurusan Pertanian dan Kehutanan, sedangkan UGM adalah Jurusan Modern Languages.

Sementara itu di beberapa berita yang terkait dengan berita itu diberitakan lima Perguruan Tinggi terbaik di Indonesia berdasarkan QS WUR. Jurusan yang diberitakan antara lain adalah Jurusan Sastra Inggris, Ilmu Komputer, Pertanian dan Kehutanan, dan Akuntansi. Sementara itu saya mendapatkan daftar universitas terbaik di Indonesia versi QS ini ada link ini (dari website QS). Di link itu subject dikelompokkan menjadi 5 bidang kajian yaitu Art & Humanities, Engineering & Technology, Life Science & Medicine, Natural Sciences, Social Sciences & Management. Lebih detilnya adalah sebagai berikut:

1370287964798389604137028805818905373161370288075847608186Dari daftar ini, tertulis di dalam kurung 151-200 yang berarti Perguruan Tinggi tersebut masuk di dalam daftar rangking 200 Perguruan Tinggi terbaik di dunia. Ini berarti memang hanya IPB dan UGM yang masuk dalam daftar 200 Perguruan Tinggi by subject. Seperti halnya yang diberitakan oleh Kompas.com. Sementara perguran tinggi lainnya, by subject-pun masih di luar rangking 200 dunia.

Penilaian QS untuk subject (bidang kajian) ini dinilai dari tiga hal: Academic Reputation, Employer Reputation dan Citations per Paper. Untuk menilai academic reputation dan employer  reputation, pihak QS menyebarkan kuesioner ke responden dan menanyakan beberapa pertanyaan. Sedangkan citations per paper dilihat dari jurnal yang terindeks di Scopus, yaitu daftar jurnal-jurnal yang reputasinya bagus.

Untuk kuesioner yang disebarkan ke beberapa responden yang dipilih oleh QS. Ada 46.079 akademik yang ikut di dalam survey itu. Mereka berasal dari berbagai Fakultas. Paling besar berasal dari Fakultas Teknik dan Teknologi juga dari Fakultas Ilmu Sosial dan Manajemen. Selain itu juga berasal dari berbagai kajian lain seperti Biologi, Fisika dan Astronomi, Matematika, Mmanajemen, Arsitek dan lain-lain. Responden juga berasal dari berbagai negara di seluruh dunia. Akademisi yang menjadi responden 52 persen telah bekerja selama 20 tahun dan mereka sebagian besar adalah Profesor atau Lektor Kepala (Associate Professor). Jadi dari reputasi responden sepertinya sudah tidak diragukan lagi untuk memberi penilaian.

13703732031851972328

Dari http://www.iu.qs.com/university-rankings/academic-survey-responses/

Sementara itu kuesionernya ada dua. Kuesioner pertama yang disebar ke responden bisa dilihat di sini, sedangkan kuesioner kedua bisa dilihat di sini. Kuesionar ini hanya salah satu dari penilaian saja. Masih ada kriteria lainnya. Dari keterangan Bapak Arief Anshory Yusuf, dosen di Jurusan Ekonomi Universitas Padjajaran yang sekaligus menjadi responden dari QS ini kriteria lain beserta bobot penilainnya adalah

“… hasil survey employer (20%), citation/faculty berdasarkan Scopus (20%), Teacher/student ratio (10%), proportion of intenational student (10%), proportion of international faculty (10%)“.

Itupun masih ada penilaian dari sisi penelitian yaitu dengan kriteria research reputation yang diberi bobot 40% dan citation per faculty yang diberi bobot 20%. Dari sini memang kualitas penelitian menjadi faktor yang penting.

Terkait dengan jurusan terbaik sebenarnya QS tidak menyebut department atau school, tetapi lebih menggunakan istilah subject. Subject di sini bukan berarti Jurusan, tetapi bidang kajian. Jadi sangat mungkin di jurusan elektronika atau teknik mesin mempelajari alat-alat elektronika atau mesin-mesin untuk kedokteran. Jika seorang dosen memilih kajian ini sangat mungkin mempublikasikan hasil penelitiannya di kelompok elektronika atau di kedokteran. Contoh lain adalah bidang kajian manajemen yang tidak hanya diaji oleh dosen-dosen di Jurusan Manajemen, tetapi bisa jadi dari jurusan Teknik Industri yang banyak mengkaji tentang manajemen industri, Teknik Sipil yang juga mengkaji manajemen transportasi atau bisa jadi manajemen juga dikaji oleh orang yang konsentrasinya di bidang kesehatan.

Oleh karenanya, jika melihat daftar pemeringkatan menurut QS dapat dilihat banyak ‘keganjilan’. Misalnya, ITB dikenal sebagai Perguruan Tinggi yang kajiannya tentang teknologi. Sementara IPB identik dengan bidang kajian pertanian. Akan tetapi dari daftar universitas yang masuk rangking 5 besar di Indonesia bisa dilihat jelas ITB masuk di 5 besar kampus dengan bidang kajian sosial terbaik yaitu Accounting & Finance, Economic and Econometrics, Education, dan Laws. Kemudian ITB juga masuk di Medicine, Psychology dan Agriculture & Forestry.

Jika melihatnya bidang kajian, sangat mungkin jurusan A mempelajari bidang B. Misal saja ITB yang kebetulan namanya banyak tercantum di ragking 5 besar Indonesia. Jika melihat nama ITB, Institut Teknologi Bandung, mungkin akan banyak yang bertanya apa ada jurusan yang terkait dengan bidang kajian sosial di ITB? Jika kita cari di website resmi ITB di www.itb.ac.id, di tab Fakultas/Sekolah akan di dapat beberapa singkatan nama Fakultas. Di situ ada SBM atau School Business and Management juga ada Fakultas Teknik Industri yang di dalamnya ada bidang kajian Teknik dan Manajemen Industri yang di dalamnya ada mata kuliah Akuntansi. Jadi sangat mungkin staf akademik di ITB ada yang ahli di bidang ekonomi dan ekonometrik. Ekonometrika sendiri juga tidak hanya dipelajari di Jurusan Ekonomi, tetapi bisa jadi dipelajari di Jurusan Statistika dengan Matematika sebagai induknya.

Seperti halnya akuntansi, ekonomi dan ekonometrika, sangat mungkin ITB juga unggul dalam bidang Medicine (kedokteran). Medicine atau obat tidak hanya milik kedokteran, bisa jadi ini juga menjadi kajian di Jurusan Farmasi dan Biologi dan Kimia Medis. Bidang kajian Farmasi & Farmakologi dan Kimia, ITB masih nomer wahid di Indonesia. Jadi sangat mungkin ITB unggul dalam bidang kajian kedokteran.

Bagaimana dengan bidang Law dan Education yang menempatkan ITB ke dalam rangking 5 besar? Selain penelitian ada pendapat responden yang mereka tidak hanya dari Indonesia. Sangat mungkin responden tidak mengenal Perguruan Tinggi di Indonesia yang ditulisnya. Tetapi mereka hanya mengenal seseorang yang kompeten dalam bidang itu yang ternyata alumni atau sedang bekerja di perguruan tinggi yang dia pilih itu. Ini sangat mungkin. Misal saja Bapak Sumantri Brodjonegoro yang alumni ITB ini dikenal ahli dalam bidang pendidikan karena pernah menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 1973. Masih banyak beberapa yang dosen ITB yang ternyata bergerak di bidang pendidikan. Ini untuk pendidikan, lantas bagaimana dengan kajian law (hukum)? Terkait dengan hukum, dari website resmi QS tidak disebutkan dengan jelas hukum apa yang dikelompokkan di dalam kajian ini. Tetapi inipun sangat mungkin jika ternyata banyak ahli cyber law di ITB. Iseng-iseng saya menuju ke Science Direct, pengelola Jurnal, untuk mencari juranl-jurnal Law. Ternyata muncul nama Jurnal Computer Law and Security. Jadi bisa disimpulkan, sangat mungkin jika ITB kemudian unggul dalam bidang Law karena mungkin saja dosen-dosennya mempublikasikan karya di jurnal tentang cyber law di jurnal yang reputasinya bagus.

Itu untuk ITB, bagaimana dengan universitas lain yang sepertinya kualitasnya masih diragukan? Wallahu a’lam. Lebih baik bersyukur dan menerima saja dan dijadikan ini sebagai pemicu untuk meningkatan perguruan tinggi Indonesia. Tetapi menurut saya, bukan rangking yang harus dikejar, tetapi bagaimana menjadikan anak bangsa menjadi manusia yang unggul dan mampu bersaing di tingkat global. Juga diusahakan supaya Perguruan Tinggi Indonesia bisa dipercaya dunia seperti masa-masa dahulu di saat banyak mahasiswa dari kawasan Asia Tenggara lain yang studi di Indonesia.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Perjuangan PPP & PPP Perjuangan …

Ribut Lupiyanto | | 31 October 2014 | 14:24

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

Nonggup, Contoh Pergerakan Cerdas Orang …

Evha Uaga | | 31 October 2014 | 17:40

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 7 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 11 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 11 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 12 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Upaya Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan …

Harry Supandi | 8 jam lalu

Bunga Generasi …

Rahab Ganendra | 8 jam lalu

Kerusakan Demokrasi di DPR, MK Harus Ikut …

Daniel H.t. | 8 jam lalu

Dari Pepih Nugraha Untuk Seneng Utami …

Seneng | 8 jam lalu

Persebaya Gagal Di 8 Besar, Karma Kah ? …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: