Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Livi

instagram: livilivilivilivilivi my arts: liviiii.deviantart.com

Dongeng: Cermin Kehidupan (yang Hampir Punah)

OPINI | 10 June 2013 | 20:39 Dibaca: 226   Komentar: 4   2

Saya saat ini duduk di bangku SMA. Saya tumbuh dengan berbagai dongeng yang kerap kali menemani saya sebelum saya terlelap.

Seiring dengan kemajuan zaman, saya melihat banyak anak- anak kecil yang tidak lagi mendapatkan asupan dongeng yang layak. Sebagian besar mendapatkan asupan dongeng berupa “twisted story”, yaitu dongeng yang diselewengkan para pembuat film. Saya sebenarnya sangat mendukung upaya para pembuat film tsb karena mencoba mendekatkan dongeng pada anak- anak, namun saya merasa tetap saja ada yang kurang, terlebih dongeng- dongeng tsb disajikan melalui film, bukan buku bacaan.

Film, selain lebih mudah merusak mata, juga membuat anak- anak kehilangan budaya membaca. Hal ini membuat mereka selalu berpikir instan, ingin semuanya tersaji di depan mereka tanpa ada effort yang cukup berarti.

posternya bernuansa gelap dan kelam

posternya bernuansa gelap dan kelam

Lantas, mengapa dongeng- dongeng seperti Alice’s Adventure in Wonderland, Snow White atau The Red Riding Hood versi klasik tidak lagi disukai anak- anak? Jika kita renungkan, yang pertama karena mereka memang tidak dikenalkan pada versi klasiknya, maka mereka tidak menyukainya. Kedua, mereka tahu ada versi aslinya, namun memilih menonton filmnya (yang sudah diubah ceritanya) karena lebih cocok dengan “zaman sekarang”, yaitu penambahan cerita yang membuat cerita klasiknya kehilangan keindahannya. Contohnya, kisah Red Riding Hood yang sangat terkenal diubah kisahnya, yaitu dengan penambahan cerita bahwa Sang Ayah yang tidak pernah diceriakan ternyata adalah werewolf (manusia yang saat bulan purnama bisa berubah menjadi srigala). Opini saya, hal tsb sangat menggelikan.

Kisah- kisah klasik yang sarat akan moral dan memancing imajinasi untuk bergerak kreatif seolah “dirusak” oleh hal- hal menggelikan tersebut. Mengapa tidak, dari kecil anak- anak diberi asupan dongeng agar saat menonton versi “zaman sekarang”, mereka tetap mengetahui esensi dari dongeng tsb?

Dongeng juga merupakan media pembelajaran yang sangat baik. Dongeng memiliki konsep “semua indah pada akhirnya”. Dongeng cenderung berakhir bahagia. Jika belum bahagia? Berarti belum berakhir. Begitu juga dengan kehidupan, kehidupan yang penuh liku- liku ini, nantinya akan berakhir bahagia jika kita menjalaninya dengan baik, seperti tokoh- tokoh utama dalam dongeng- dongeng klasik.

Bagaimana dengan film- film dongeng kuno karya Walt Disney? Bukankah sangat baik untuk ditonton? Benar, namun buku, bagaimanapun juga tetap yang terbaik karena film- film Walt Disney pun mengandung banyak perbedaan. Misalnya, Ratu Jahat yang menjual apel kepada Snow White sebenarnya dalam kisah aslinya tidak hanya mejual apel, namun juga sempat melakukan berbagai cara, yaitu menjual tali korset dan sisir beracun. Ini menjelaskan bahwa kesulitan akan datang berkali- kali sampai kita kewalahan mengatasinya, namun berakhir indah pada waktunya. Hal ini sangat mencerminkan kehidupan.

Saya sendiri bukan seseorang yang anti akan film- film bioskop yang diangkat dari kisah- kisah dongeng, saya menyukainya, namun tidak lupa berbekal kisah asli yang indah nan abadi yang saya tahu sejak kecil saat menontonnya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lewis Hamilton Akhirnya Juara Dunia GP …

Hery | | 24 November 2014 | 21:17

Parade Foto Kompasianival Berbicara …

Pebriano Bagindo | | 24 November 2014 | 18:37

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11

Berbisnis Buku Digital: Keuntungan dan …

Suka Ngeblog | | 24 November 2014 | 18:21

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 10 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 12 jam lalu

Tanggapan Negatif Terhadap Kaesang, Putera …

Opa Jappy | 13 jam lalu

Sikap Rendah Hati Anies Baswedan dan Gerakan …

Pong Sahidy | 14 jam lalu

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

“Sakitnya Tuh di Sini” versus …

Wahyudi Kaha | 7 jam lalu

Foto Foto Ini Bukti Kompasianival Ujud Nyata …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Cerpen : Pak Guru dan Bros Bunga November …

Didik Sedyadi | 8 jam lalu

Kompasianer dan Tantangannya (ke Depan) …

Giri Lumakto | 8 jam lalu

Dimanakah Guru Tanpa Tanda Jasa Itu Kini? …

Trisni Atmawati | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: