Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Luthfiyah Nurlaela

Pendidik di Universitas Negeri Surabaya

Pendidikan Profesi Guru, Jalan Menuju Guru Profesional?

OPINI | 12 June 2013 | 08:12 Dibaca: 1493   Komentar: 0   0

Saat ini sedang dilaksanakan Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Unesa dan di sebelas LPTK yang lain. Di Unesa, ada sebanyak 279 peserta.  Di seluruh Indonesia, ada sekitar 2500-an peserta.  Semuanya adalah para eks peserta program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T) angkatan 2011 (angkatan pertama). Oleh sebab itu, PPG ini dinamakan PPG SM-3T, merupakan program yang diluncurkan oleh Kemdikbud (Direktorat Pendidikan Tinggi) di bawah payung Program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia (MBMI).

Ada beberapa hal yang membuat program ini menarik. Pertama, PPG merupakan ‘pertaruhan terakhir’ LPTK sebagai lembaga penghasil tenaga kependidikan. Setelah berbagai upaya peningkatan kompetensi guru melalui berbagai kegiatan dan program, termasuk sertifikasi dengan portofolio maupun Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), yang dinilai belum memberikan perubahan secara signifikan, maka PPG diharapkan benar-benar menjadi ‘kawah candradimuka’ untuk menghasilkan guru-guru profesional di masa depan. Mengingat sertifikasi melalui portofolio dan PLPG akan berakhir pada tahun 2015, maka persyaratan untuk menempuh sertifikasi melalui program PPG ini hukumnya wajib, baik bagi guru dalam jabatan (yang tidak masuk dalam kuota sertifikasi melalui portofolio atau PLPG) maupun bagi guru prajabatan.

Saking menariknya program ini, pada awal dibukanya dulu, banyak guru honorer yang bermaksud mendaftarkan diri untuk mengikuti SM-3T. Kenapa? Ya, karena daripada menunggu kuota sertifikasi melalui PLPG yang tidak tahu entah kapan, lebih baik mengikuti SM-3T setahun lantas tahun berikutnya masuk PPG. Sudah jelas hitungan waktunya untuk mendapatkan sertifikat pendidik. Selain itu, siapa sih yang tidak tahu berapa gaji guru honorer? Dibandingkan dengan beasiswa yang diterima oleh peserta SM-3T yaitu sebesar Rp. 2.000.000,- plus bantuan hidup Rp. 500.000,-,  tentulah jumlah ini jauh lebih besar dibanding gaji bulanan sebagai guru honorer.

Namun tentu saja banyak dari guru itu yang tidak bisa mengikuti program SM-3T karena tidak memenuhi syarat. Sebagian persyaratan untuk mengikuti program adalah calon peserta merupakan sarjana kependidikan lulusan empat tahun terakhir, dan belum menikah. Beberapa guru honorer tersebut sudah menikah, dan juga merupakan lulusan yang lulusnya sudah lebih dari empat tahun yang lalu. Pada tahun ini, persyaratannya bahkan diperketat, tidak hanya IPK yang minimal 3,0 (tahun sebelumnya 2,75), usia juga tidak boleh melebihi 28 tahun. Jadi tidak ada harapan bagi para guru honorer itu untuk mengikuti program SM-3T sebagai jalan pintas agar dapat masuk PPG, dan mengantongi sertifikat pendidik dalam waktu dua tahun.

Kedua, program ini menarik karena berasrama dan berbeasiswa. Meski beasiswa yang diterimakan setiap bulannya hanya uang saku Rp. 300.000 plus uang buku Rp. 250.00,- per bulan, namun akomodasi dan konsumsi para peserta sepenuhnya ditanggung. Mereka juga memiliki dana kesehatan. Ya, meski jumlah nominal yang diterimakan dalam bentuk ‘fresh money’ tiap bulannya lebih kecil dibanding ketika mereka mengikuti program SM-3T,  namun sebenarnya hitungan unit cost-nya jauh lebih besar. Para peserta ini bebas biaya pendidikan sebesar Rp.6.000.000 per semester. Mereka juga memperoleh banyak kegiatan dalam rangka meningkatkan kompetensi mereka, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik, tanpa dipungut biaya. Kegiatan-kegiatan tersebut dikemas dalam lingkup kegiatan kehidupan berasrama. Mulai dari kegiatan wajib (senam pagi, pelatihan baris-berbaris, kepramukaan, kerohanian), kegiatan pilihan (sesuai dengan prodi masing-masing, tujuannya adalah peningkatan kompetensi keprodian), bahkan sampai kegiatan di luar kampus dan asrama, misalnya outbound. Benar-benar sebuah keistimewaan yang tidak setiap calon guru bisa memperolehnya.

Ketiga, program ini adalah program ‘pilotting’, yang hanya dilaksanakan di dua belas LPTK (Unesa, UM, UNY, Unnes, UNJ, UPI,  UNP, Unimed, UNM, Unima, Undiksha dan UNG). Kuota seluruh Indonesia  sejumlah 2.500-an, tentu tidak cukup banyak dibanding dengan jumlah lulusan LPTK setiap tahunnya. Seleksi juga dilakukan dengan cukup ketat, meliputi seleksi administrasi, tes TPA dan penguasaan bidang studi, serta tes bakat minat dan kepribadian. Keketatan seleksi ini tentu saja menjadikan program ini memiliki daya tarik tersendiri, setidaknya program ini bukanlah program yang ‘mudah’, namun benar-benar program yang hanya bisa diikuti oleh mereka yang memenuhi syarat. Benar-benar menjadi program unggulan dalam rangka menyiapkan guru yang profesional. Ke depan, model perekrutan calon peserta PPG konon akan menggunakan model tersebut: semua peserta PPG harus lebih dulu mengikuti program SM-3T. Dengan demikian, input PPG benar-benar telah teruji baik secara akademiki maupun nonakademik, termasuk kemampuan problem solvingnya serta ketahanmalangannya. Input yang benar-benar pilihan.

Mengapa harus pilihan? Ya, sebagaimana yang kita ketahui, beberapa tahun belakangan ini, guru adalah salah satu profesi yang didambakan oleh banyak orang. Adanya sertifikasi guru sebagai implementasi UU Sisdiknas dan UU Guru dan Dosen, adalah daya tarik yang luar biasa, karena guru menjadi profesi yang mulia, profesional dan sejahtera. Maka tidak mengherankan bila pada saat ini orang tua berlomba-lomba memasukkan anaknya ke LPTK, bahkan kadang tak peduli seperti apa mutu LPTK-nya, yang penting LPTK. Beberapa universitas yang sudah estabished-pun, yang sebenarnya tidak berbasis kependidikan dan tidak memiliki pengalaman yang cukup dalam bidang tersebut, juga ikut-ikutan membuka program kependidikan. Semua LPTK diserbu. Tak terbayangkan entah mau ke mana lulusan yang dihasilkan oleh lebih dari 370 LPTK negeri dan swasta ini, mengingat permintaan guru tidaklah sebanyak itu.

Dalam kondisi yang oversupply seperti ini, harus ada mekanisme yang mengatur rekrutmen guru. Membatasi jumlah LPTK sebenarnya merupakan jalan terbaik, apalagi menjadikannya sebagai pendidikan kedinasan. Sebagai sebuah profesi, guru sebenarnya merupakan pekerjaan khusus yang memerlukan keahlian khusus, dengan beberapa cabang ilmu yang khusus juga, yang keilmuan itu hanya dipelajari oleh mereka yang memang dipersiapkan menjadi calon guru. Dengan alasan tersebut, penyiapan guru idealnya adalah melalui pendidikan kedinasan, sebagaimana penyiapan calon perwira TNI/Polri misalnya. Proyeksi kebutuhan guru per tahun sebenarnya sudah sangat terukur, yakni pengganti guru yang pensiun dan penambahan guru baru untuk sekolah-sekolah baru. Seandainya LPTK adalah sekolah kedinasan, maka pengelolaan LPTK akan berbasis pada kebutuhan negara akan guru/pendidik. Standar pendidikan dilaksanakan di bawah kontrol yang ketat oleh negara. LPTK harus diselenggarakan oleh pemerintah, dengan menggunakan sistem buka-tutup sesuai dengan kebutuhan lapangan.

Faktanya, LPTK bukanlah pendidikan kedinasan. Jumlah LPTK di seluruh Indonesia saat ini terdiri dari 12 LPTK pemerintah berbentuk universitas, 22 LPTK pemerintah berbentuk FKIP, selebihnya (sekitar 340-an) adalah LPTK swasta. Tidak heran bila setiap tahun terjadi oversupply, terjadilah penumpukan pengangguran lulusan dari LPTK, dengan kualitas yang sangat beragam, baik jenis maupun kemampuannya.

Dalam kondisi seperti ini, PPG yang merupakan amanah UU Sisdiknas dan UUGD, merupakan salah satu jalan keluar untuk mengendalikan mutu guru. Menurut UUGD, guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi akademik diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat, sedangkan kompetensi yang meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional diperoleh melalui pendidikan profesi. Hal ini relevan juga dengan Peraturan Presiden RI Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Menurut KKNI, pendidikan Diploma empat/Sarjana paling rendah setara dengan jenjang 6; lulusan pendidikan profesi setara dengan jenjang 7 atau 8. Dengan demikian, PPG memang harus ditempuh dalam rangka memenuhi kompetensi sebagai guru/pendidik yang profesional.

PPG SM-3T di Unesa

Dalam sebuah seminar tentang PPG beberapa waktu yang lalu, saya ditanya oleh seorang peserta seminar, dosen di sebuah universitas negeri yang cukup ternama. “Begitu panjangkah jalan yang harus dilalui seseorang untuk menjadi seorang guru? Hanya untuk menjadi seorang guru?” Lantas secara berseloroh saya melengkapi pertanyaannya: “Bayarane piro sih dadi guru iku….?”

Ya, saat ini, PPG hanya diperuntukkan bagi mereka yang sudah menempuh satu tahun masa pengabdiannya di daerah 3T, yang tergabung dalam program SM-3T. PPG adalah reward bagi mereka, para sarjana kependidikan itu. PPG reguler, yang membuka peluang bagi para serjana yang lain, baik kependidikan maupun nonkependidikan, belum dibuka. Ke depan, ada wacana model inilah yang akan digunakan dalam rekrutmen input program PPG. Artinya, kalau amanah UU Sisdiknas dan UUGD ditaati, maka peserta SM-3T nantinya tidak hanya dari mereka lulusan program studi (prodi) kependidikan, namun juga nonkependidikan.

Di Unesa, saat ini ada 13 program studi yang dibuka. Program studi tersebut meliputi: PG-PAUD, PGSD, BK, Pendidikan Matematika, Pendidikan Biologi, Pendidikan Sejarah, PPKN, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Bahasa Jerman, Pendidikan Bahasa Jepang, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, dan Pendidikan Ekonomi.

Ada sebanyak 170 peserta putri dan 109 peserta putra. Mereka tidak hanya lulusan Unesa, tapi juga dari perguruan tinggi yang lain, yaitu dari Unima, Unimed, UNG, UPI, Unnes, UNY, UM, Undiksha, dan beberapa PT yang lain. Para peserta putra diasramakan di Asrama PGSD dan para peserta putri diasramakan di Rusunawa. Tempat kuliah (lebih tepatnya adalah workshop SSP/Subject Specific Paedagogy) ada di Gedung PPG. Semuanya ada di Kampus Lidah Wetan.

Akhir Februari yang lalu telah dilaksanakan Program Pengenalan Akademik (PPA) bagi para peserta PPG SM-3T. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari (28 Februari-1 Maret 2013). PPA dibuka oleh rektor, dimulai dengan kuliah umum juga dari Rektor Unesa (Prof. Dr. Muchlas Samani). Materi lain yang meliputi gambaran umum PPG, kurikulum, pembelajaran, PPL PPG, disampaikan oleh tim PPG Unesa (Prof. Dr. Luthfiyah Nurlaela, Dr. Raden Sulaiman dan Dr. Suryanti). Sedangkan materi tentang Standar Operasional Tenaga Kependidikan di Pusat dan Daerah disampaikan oleh Kepala LPMP Jawa Timur (Dr. Salamun), materi Etika dan Estetika Guru diberikan oleh Pembantu Rektor I (Prof. Dr. Kisyani), sedangkan materi Motivasi dan Dinamika Kelompok disampaikan oleh Dr. Suyatno. Ada juga materi tentang kehidupan berasrama yang disampaikan oleh para penanggung jawab asrama (Drs. Yoyok Yermiandhoko, M.Ds, Dra. Retno Lukitaningsih, Drs. Suprayitno, dibantu oleh Drs. Heru Siswanto, M. Si).

Rutinitas peserta setiap hari adalah apel pada tepat pukul 07.00, dilanjutkan dengan pembelajaran di kelas mulai pukul 08.00-16.30. Setiap hari, mulai Senin sampai Jumat. Ada waktu satu jam untuk sholat dan makan siang, dan sore hari untuk sholat saja. Di antara hari-hari itu, pada malam hari mereka juga melakukan kegiatan di asrama, misalnya kegiatan belajar kelompok dan kegiatan kerohanian. Mandi dan makan semuanya dilakukan dengan serba antri. Setiap Sabtu pagi mereka harus mengikuti senam yang dipandu oleh mahasiswa FIK, kepramukaan yang dilatih oleh tim Pramuka Unesa, dan pelatihan baris-berbaris yang dilatih oleh tim dari Kodikmar. Minggu adalah hari bebas untuk mereka.

Ya, kompetensi sebagai guru tidak hanya dibekalkan kepada mereka melalui pengembangan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di kampus, namun juga di asrama. Kehidupan berasrama lebih menekankan pada pembentukan kepribadian, seperti kedisiplinan, ketangguhan, kepedulian, tanggung jawab dan kebersamaan. Ada bapak dan ibu asrama serta para pengelola asrama yang mengajarkan kepada mereka tentang kesabaran dan berbagi, serta kebiasaan hidup bersih dan sehat. Dengan suasana yang disiplin namun penuh kenyamanan, mereka yang datang dari berbagai pelosok Indonesia itu tidak hanya belajar untuk saling menghormati dan menghargai, namun juga betapa kesadaran mereka tentang kehidupan berbangsa dan bertanah air, tumbuh dan berkembang  dengan sangat baik.

Sebagai program awal, tentu saja ada banyak kendala. Gedung PPG yang masih belum sepenuhnya jadi, sehingga kita semua yang akan mencapai gedung itu merasakan ’sensasi’ seperti sedang berada di daerah 3T. Halaman gedung yang masih sebagian dipaving, becek dan licin bila hujan turun; lantai satu yang masih penuh dengan material bangunan dan suara-suara mesin yang meraung-raung. Debu, pasir, dan semen membuat dada terasa sesak dan pengap. Ya, gedung PPG berlantai sembilan itu sejatinya belum siap betul untuk dioperasikan. Namun program tidak bisa ditunda. Untungnya, para dosen, peserta, dan seluruh tim PPG SM-3T tidak menjadikan semuanya itu sebagai kendala besar. Aktivitas terus berjalan. Mereka menuju lantai 1, 2, 3, 4 dan 5, naik turun minimal dua tiga kali sehari, tanpa lift, karena lift masih belum bisa digunakan. Tidak peduli para peserta dan para dosen (bahkan di antaranya adalah Guru Besar), semua beraktivitas di ruang-ruang yang sudah bisa ditempati, berlomba dengan para pekerja yang sedang menyelesaikan bangunan megah itu.

Sebagai sebuah pendidikan profesi, maka dosen yang mengajar di PPG juga harus memenuhi persyaratan. Menurut Permendiknas nomor 8 Tahun 2009 Tentang Pendidikan Profesi Guru Prajabatan, dosen pada program PPG memiliki kualifikasi pendidikan minimum lulusan Magister (S2), dan minimal salah satu strata pendidikan setiap dosen berlatar belakang bidang pendidikan sesuai dengan tingkat dan bidang keahlian yang diajarkannya. Selain itu, masih menurut permendiknas, dosen juga diutamakan yang memiliki sertifikat keahlian sesuai dengan tingkat dan bidang keahlian yang diajarkannya. Berdasarkan hal tersebut, maka dosen pengajar di PPG Unesa, diharuskan berkualifikasi minimal S2, minimal salah satunya dari bidang kependidikan, dan diutamakan dosen-dosen yang sudah punya NIA (Nomer Induk Asesor). Syarat ini sama dengan persyaratan yang ada di PLPG.

Jalan panjang masih akan dilalui PPG Unesa, dan juga PPG di semua LPTK. Masih ada sekitar tiga belas minggu lagi bagi para peserta PPG PG-PAUD dan PGSD, untuk menyelesaikan programnya, termasuk PPL, PTK dan ujian kompetensi, sebelum nanti mereka akan diyudicium dan diwisuda sebagai pendidik profesional. Untuk peserta PPG prodi lainnya, bahkan masih ada lebih dari dua puluh minggu yang lain untuk sampai pada titik di mana sertifikat pendidik profesional itu akan berada di tangan mereka.

Tapi kami bangga dengan semangat para peserta dan para dosen, juga semangat teman-teman tim PPG. Meski ada banyak keluhan tentang sulitnya mencapai gedung PPG karena harus melewati banyak ‘ranjau’ sejak di pintu gerbangnya yang belum jadi itu, serta melewati tangga demi tangga yang berpasir dan berdebu, namun kinerja mereka semua cukup membanggakan. Ya, memang selalu ada satu dua peserta dan juga dosen yang masih harus diingatkan tentang tujuan mereka semua ada di sini, namun semua itu insyaallah bisa diatasi dengan baik. Para peserta sering ‘update status’ dengan tulisan-tulisan yang menyemangati, juga cerita-cerita mengharukan sekaligus menggelikan tentang aktivitas sehari-hari mereka. Hari ini, baru saja saya membaca status di FB salah seorang peserta, namanya Daud Rigi Gah, dari NTT. Bunyinya: ‘PPG membuka cakrawalaku berpikir lebih luas, menginspirasi, memotivasi dan memperkuat semangatku. Kira kami dapat membawa perubahan dalam sektor pendidikan khususnya dan sektor2 kehidupan laennya untuk propinsi NTT dan Kab. Sumba Timur khususnya dan Bumi Pertiwi pada umumnya…. Salam hormat dan doa tulus kami pemuda/i Sumba timur bwt seluruh rekan2 seperjuangan PPG dan trlbh untk bpk ibu dosen UNESA yg kami cintai…..

Surabaya, 16 Maret 2013.

Wassalam,
LN

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lewis Hamilton Akhirnya Juara Dunia GP …

Hery | | 24 November 2014 | 21:17

Parade Foto Kompasianival Berbicara …

Pebriano Bagindo | | 24 November 2014 | 18:37

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11

Berbisnis Buku Digital: Keuntungan dan …

Suka Ngeblog | | 24 November 2014 | 18:21

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 10 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 12 jam lalu

Tanggapan Negatif Terhadap Kaesang, Putera …

Opa Jappy | 13 jam lalu

Sikap Rendah Hati Anies Baswedan dan Gerakan …

Pong Sahidy | 14 jam lalu

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

“Sakitnya Tuh di Sini” versus …

Wahyudi Kaha | 7 jam lalu

Foto Foto Ini Bukti Kompasianival Ujud Nyata …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Cerpen : Pak Guru dan Bros Bunga November …

Didik Sedyadi | 8 jam lalu

Kompasianer dan Tantangannya (ke Depan) …

Giri Lumakto | 8 jam lalu

Dimanakah Guru Tanpa Tanda Jasa Itu Kini? …

Trisni Atmawati | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: