Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Psikolinguistik

REP | 12 June 2013 | 08:24 Dibaca: 193   Komentar: 0   0

PSIKOLINGUISTIK

( TEORI STIMULUS- RESPONS )

TEORI - TEORI STIMULUS – RESPONS

Ada beberapa teori stimulus - respons yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli, dan dalam kesempatan ini si penulis akan menjelaskan tiga teori dari beberapa teori stimulus respons yang ada, diantaranya ialah :

1. Teori Behaviorisme dari Watson

Teori bahaviorisme diperkenalkan oleh John B. Watson ( 1878 – 1958 ) seorang ahli psikologi berkebangsaan Amerika. Di Amerika Serikat, Watson dikenal sebagai Bapak Behaviorisme. Menurut Watson, dalam pembelajaran tidak ada perbedaan antara manusia dan hewan. Untuk membuktikan teori ini, Watson melakukan eksperimen terhadap Albert seorang bayi berumur 11bulan. Awalnya Albert adalah seorang bayi yang gembira. Ia tidak takut terhadap binatang seperti tikus putih berbulu halus. Dalam eksperimen ini Watson memulai percobaannya dengan memukul sebatang besi dengan sebuah palu. Setiap kali Albert mendekat untuk memegang tikus itu, Watson melakukan perlakuan yang sama seperti memukul besi tersebut. Dan akibatnya, Albert menjadi takut terhadap tikus putih itu, dan hewan ataupun benda lainnya yang berwarna putih,seperti kelinci putih ataupun jaket yang berwarna putih. Eksperimen yang telah dilakukan oleh Watson ini membuktikan bahwa pelaziman dapat mengubah perilaku seseorang secara nyata.

Dari eksperimen Watson tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam proses pembelajaran sebagian perilaku yang terjadi adalah akibat pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Dengan kata lain bahwa karakter atau kepribadian seseorang individu dapat terbentuk karena dipengaruhi oleh lingkungan sekitar ataupun lingkungan dimana ia berada.

Sebagai contoh yang dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari yaitu ada seorang pria yang bersuku bugis. Ia menikah dengan seorang wanita yang kini menjadi istrinya yang bersuku jawa. Setelah mereka tinggal bersama sekian tahun di lingkungan keluarga istrinya, maka sang suami yang awalnya tidak bisa berbahasa jawa kini telah dapat berbahasa sunda dan memiliki dialek jawa dalam berbicara. Sang suami pun telah dapat memahami bahasa daerah istrinya. Ini merupakan salah satu contoh teori yang dikemukakan oleh Watson, dimana kepribadian atau tingkah laku seseorang dapat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.

Referensi: Chaer, Abdul. Psikolinguistik Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta, 2009.

2. Teori Pembiasaan Klasik dari Pavlov

Teori pembiasaan klasik ini ditemukan oleh Ivan Petrovich Pavlov (1848 - 1936), seorang ahli fisiologi bangsa Rusia. Dalam teori ini, Pavlov melakukan eksperimen pada seekor anjing. Ia mendapati bahwa air liur anjing telah lebih dahulu keluar sebelum seekor anjing mulai memakan makanan. Eksperimen ini dilakukan dengan cara; Pertama, ia membunyikan lonceng sebelum anjing diberi makanan, tanpa diikuti pemberian makanan. Cara tersebut tidak pernah membuat anjing mengeluarkan air liurnya. Setelah itu, ia memberikan makanan, dan membuat anjing itu mengeluarkan air liurnya. Dengan cara yang sama dan diberlakukan secara berulang-ulang terhadap anjing tersebut, maka disini anjing telah “mempelajari” bahwa bunyi lonceng bermakna bahwa makanan akan muncul dan segera anjing tersebut mengeluarkan air liurnya.

Dari eksperimen Pavlov tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk menimbulkan atau memunculkan reaksi yang diinginkan yang disebut respon, maka perlu adanya stimulus yang dilakukan secara berulang-ulang sehingga disebut dengan pembiasaan. Dengan pemberian stimulus yang dibiasakan, maka akan menimbulkan respons yang dibiasakan. Teori ini merujuk pada suatu kebiasaan yang selalu dilakukan.

Contoh yang dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya yaitu kebiasaan makan makanan yang pedas. Seseorang tidak terbiasa untuk makan makanan yang memiliki rasa pedas. Namun dengan membiasakan diri untuk makan makanan pedas sedikit demi sedikit dan berulang-ulang maka kini orang tersebut telah terbiasa memakan makanan yang memiliki rasa pedas.

3. Teori Penghubungan dari Thorndike

Teori penghubungan diperkenalkan oleh Edward L. Thorndike (1874 – 1919), seorang ahli psikologi berkebangsaan Amerika. Thorndike melakukan eksperimen pada seekor kucing. Ia menempatkan seekor kucing dalam sebuah kandang atau sangkar. Di dalam sangkar tersebut terdapat engsel, yang bila mana engsel tersebut ditekan maka dapat terbuka dari dalam. Kucing itu berusaha untuk mencari jalan keluar dengan mencakar-cakar kesana-kemari. Secara tidak kaki kucing tersebut menginjak engsel sehingga pintu sangkar terbuka dan kucing tersebut dapat keluar. Eksperimen ini dilakukan beberapa kali oleh Thorndike. Dalam eksperimen tersebut awalnya kucing itu masih berperangai yang sama seperti eksperimen sebelumnya. Eksperimen tersebut terus dilakukan dan kucing tersebut membutuhkan waktu yang semakin sedikit untuk dapat membuka sangkar itu. Akhirnya, kucing itu dapat membuka sangkar dengan segera tanpa harus mencakar terlebihdahulu kesana kemari.

Dari eksperimen Thorndike tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk memperoleh hasil yang baik maka kita memerlukan latihan. Latihan yang dimaksud ialah latihan yang dilakukan secara berulang-ulang dengan urutan yang benar dan secara teratur. Teori ini merujuk kepada system “coba - coba”, yaitu suatu kegiatan yang bila kita gagal dalam melakukannya, maka kita harus terus mencoba hingga akhirnya berhasil.

Contoh yang dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari salah satunya yaitu belajar naik sepeda. Pertama kali, seseorang belum dapat menaiki atau mengendarai sepeda. Orang tersebut belajar untuk mengayuh sepedanya. Meskipun awalnya ia terjatuh, namun ia tetap mencoba untuk berusaha berlatih naik sepeda. Dan hasilnya, orang tersebut kini telah dapat mengayuh sepedanya dan tidak terjatuh lagi. Contoh ini merupakan salah satu contoh dari teori penghubungan yang dikemukakan olehThorndike, yaitu bahwa hubungan stimulus dan respons dapat diperkuat melalui latihan-latihan.

KESIMPULAN

Hal yang dapat di pahami dari teori stimulus dan respon ialah Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera dan cara untuk memunculkan reaksi yang diinginkan , maka stimulus harus dilakukan secara berulang – ulang , dalam artian semuanya tergantung dari kebiasaan yang dilakukan..

Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan Ataupun kegiatan untuk mengungkap suatu permasalahan dalam pembelajaran. Agar tecapainya hubungan antara stimulus dan respons perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha–usaha atau percobaan-percobaan ( trials ) dan kegagalan - kegagalan ( error ) terlebih dahulu. Jadi belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah.

Sedangkan  hubungan antara Stimulus dengan Respons ialah akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih. Thorndike juga mengemukakan konsep transfer belajar yang disebutnya trasfer of training. Konsep ini maksudnya adalah penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki seorang siswa untuk menyelesaikan suatu masalah baru, karena di dalam setiap masalah, ada unsur-unsur dalam masalah itu yang identik dengan unsur-unsur pengetahuan yang telah dimiliki. Unsur - unsur yang identik itu saling berasosiasi sehingga memungkinkan masalah yang dihadapi dapat diselesaikan. Unsur-unsur yang saling berasosiasi itu membentuk satu ikatan sehingga menggambarkan suatu kemampuan. Selanjutnya, setiap kemampuan harus dilatih secara efektif dan dikaitkan dengan kemampuan lain. Misalnya, kemampuan melakukan operasi aritmetik (penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian) yang telah dimiliki siswa, haruslah dilatih terus dengan mengerjakan soal-soal yang berikaitan dengan operasi aritmetik. Dengan demikian kemampuan mengerjakan operasi aritmetika tersebut menjadi mantap dalam pikiran siswa. seseorang dianggap belajar apabila ada perubahan dalam tahap akhir pada sebuah situasi. Dan didalam belajar terdapat penguatan positif dan penguatan negatif dalam proses pembelajaran. Penguatan positif dan penguatan negatif ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dalam preoses pembelajaran. Dan menurut Thorndike praktek pendidikan harus dipelajari secara ilmiah dan praktek pendidikan harus dihubungkan dengan proses belajar. Mengajar bukanlah mengharapkan murid tahu apa yang diajarkan. Mengajar yang baik adalah : tahu tujuan pendidikan, tahu apa yang hendak diajarkan artinya tahu materi apa yang harus diberikan, respons yang akan diharapkan dan tahu kapan “hadiah” selayaknya diberikan kepada peserta didik. Jadi, dapat disimpulkan bahwa transfer belajar dapat tercapai dengan sering melakukan latihan.

Pada ungkapan di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa utuk mencapai sesuatu yang baik dan bagus kita harus melakukannya berulang – ulang sehingga dapat menjadi kebiasan yang baik. Dan harus sering berlatih untuk mencapai sesuatu yang diinginkan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompetisi Tiga Ruang di Pantai-Pantai Bantul …

Ratih Purnamasari | | 18 September 2014 | 13:25

Angkot Plat Kuning dan Plat Hitam Mobil …

Akbarmuhibar | | 18 September 2014 | 19:26

Koperasi Modal PNPM Bangkrut, Salah Siapa? …

Muhammad | | 18 September 2014 | 16:09

Tips Hemat Cermat selama Tinggal di Makkah …

Sayeed Kalba Kaif | | 18 September 2014 | 16:10

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Jokowi Seorang “Koki” Handal …

Sjahrir Hannanu | 13 jam lalu

Indra Sjafri Masih Main-main dengan …

Mafruhin | 14 jam lalu

TKI “Pejantan” itu Jadi Korban Nafsu …

Adjat R. Sudradjat | 17 jam lalu

Penumpang Mengusir Petinggi PPP Dari Pesawat …

Jonatan Sara | 18 jam lalu

Modus Baru Curanmor. Waspadalah! …

Andi Firmansyah | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Ditemukan: Pusat Tidur Dalam …

Andreas Prasadja | 13 jam lalu

Museum Louvre untuk First-Timers …

Putri Ariza | 13 jam lalu

Cinta dalam Botol …

Gunawan Wibisono | 13 jam lalu

Wisata Bahari dengan Hotel Terapung …

Akhmad Sujadi | 13 jam lalu

Jurus Jitu Agar Tidak Terjadi Migrasi dari …

Thamrin Dahlan | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: