Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Handrini

Terjun ke bidang jurnalistik sejak SMA dengan menjadi Pemimpin Umum Majalah Expressi SMA Negeri 1 selengkapnya

Menyikapi Perbuatan Orang Lain yang Menyakitkan bagi Kita (Membajak Pelajaran Pilot Jilid 3)

OPINI | 13 June 2013 | 09:15 Dibaca: 1665   Komentar: 0   0

Pada hakekatnya kita adalah pilot dalam kehidupan. Keselamatan kehidupan kita tergantung pada keputusan demi keputusan yang kita ambil dan kita lakukan dalam kehidupan. Dalam penerbangan seorang pilot diajarkan bagaimana menghadapi setiap perubahan yang tidak terduga dari langit yang begitu luas . We can not change the wind but we can change the wings….. begitulah salah satu ilmu dalam penerbangan ^_^ kita tidak pernah akan mampu merubah niat/keinginan orang lain dan perbuatan orang lain pada kita tapi kita bisa menentukan sikap kita terhadap perbuatan orang lain kepada kita.

Menyikapi perbuatan orang lain yang menyakitkan bagi kita biasanya ada beberapa sikap yang akhirnya kita tunjukkan.

Menangis?

Menangis memang dapat melegakan tapi bukankah kita menjadi melakukan hal yang tidak akan menambahkan pahala apa-apa bagi kita ? Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamtelah mengajarkan “….menangis karena takut kepada Allah…” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 1333; an-Nasa-i, no. 2911 dan dishohihkan oleh al-Albani rahimahullah dalam al-Misykaah, no. 3828). Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, disentuhkan apinya pun tidak. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua mata yang tidak akan disentuh api Neraka, yakni mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang terjaga karena siaga (saat berjihad) di jalan Allah.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 1338 dan dishohihkan oleh al-Albani dalam al-Misykaah, no. 3829).

Saya sendiri selalu menyesal setelah menangis karena mata menjadi bengkak sedang segala tugas dan aktivitas tidak dapat dihindari. Sungguh tak elok jika kita beraktivitas dengan mata bengkak.

Hal kedua yang saya kerap hadapi adalah jika kita menangis ternyata hal berikutnya yang terjadi adalah tangis yang kita tak mampu tahan justru lebih membuat orang yang menyayangi kita jadi bersedih hati bahkan bisa menyebabkan mereka jatuh sakit atau bahkan menjadi memandang buruk kepada orang yang dianggap telah membuat kita tersakiti dan merasakan semua itu ternyata jauh membuat sedih dari kesedihan sebelumnya yang kita alami.

Mendoakan buruk?

Baik lisan maupun tertulis setiap kata adalah doa. Jika kita berkata baik tertuju orang tersebut maka kebaikan pula yang akan kita unduh. Begitu pula dengan keburukan, semua akan berbalik kepada kita buah yang akan kita panen. Benar adanya bahwa doa orang teraniaya akan dikabulkan, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Tiga orang yang tidak akan ditolak doanya: orang puasa sampai ia berbuka, imam yang adil, dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Al-Tirmidzi).

Hukum mendoakan keburukan bagi orang yang menzalimi kita pun diperbolehkan sebagaimana firman Allah : Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Nisa’: 148). Pun tiada berdosa jika kita mendoakan keburukan bagi orang yang telah menganiaya kita sebagaimana firman Allah : “Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosa pun atas mereka.” (QS. Al-Syuura: 41).

Saya pun pernah mendoakan hal yang buruk agar menimpa kepada seorang wanita cantik yang pada saat itu telah melakukan sesuatu hal yang sangat menyakitkan bagi perasaan saya. Tapi ketika hal buruk tersebut benar terjadi padanya, tiada henti saya menyesali dan justru kesedihan yang saya rasakan melihat hal buruk tersebut menimpa padanya jauh melebihi dari kesedihan yang saya alami sendiri.

Alangkah bahagianya jika pada saat kita teraniaya tapi kita mampu mengambil kesempatan untuk meraup lebih banyak lagi bekal bagi kehidupan abadi kita kelak kemudian hari.

Al quran telah mengajarkan bagaimana sikap terbaik menghadapi mereka yang telah kita anggap menzalimi kita. Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan.  Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Fushshilat: 34-35). Mengapa tidak kita jadikan hal yang buruk yang menimpa kita sebagai ladang meraup pahala? Maka Barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Al-Syuura: 40). Tidak mudah memang tapi bukan berarti tidak bisa kita lakukan. Teguhkan niat dan berusaha.. ^_^ we can not change the wind but WE CAN CHANGE THE WINGS..

Marah dan mencaci maki ?

Hehe..dicaci membalasnya dengan mencaci baik itu lisan maupun tulisan, benar-benar tambah rugi deh. Sudah sakit hati kemudian membuat kita mencaci maki atau bahkan karena kita dijahatin kita jadi membalas perbuatan jahat itu. Karena dicaci maki, kita lantas membalas mencaci maki juga. Lu jual, gue beli, gitu deh konon katanya. Percaya atau tidak, beberapa kali saya juga pernah melakukannya. Alhamdulillahnya sih masih saya masih bisa menghitung dan mengingat detail setiap kejadiannya sehingga semoga saya masih bisa mengambil pelajaran dari setiap kejadiannya agar jangan terulang lagi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berbahagialah orang yang dapat menjaga lisannya, merasa betah di rumahnya (untuk beribadah), dan menangisi dosanya.” (Diriwayatkan oleh ath-Thobroni dalam al-Ausath, no. 2340 dan kitab Mu’jamush Shoghiir, no. 212. Beliau mengatakan bahwa sanadnya hasan). Lantas mengapa kita tidak berusaha mengejar kebahagiaan kita dnegan cara menjaga lisan kita (dan tentunya itu berlaku pula untuk tulisan kita).

Sekali lagi menyikapi perbuatan orang lain yang menyakitkan bagi kita we can change the wings.. kita bisa menentukan dan bahkan merubah sikap kita menghadapi orang lain yang kita anggap menyakiti atau menzalimi kita dari sikap yang sebelumnya kurang memberikan kemanfaatan bagi kita menjadi sikap yang bisa memberikan kemanfaatan dunia dan akhirat bagi kita. Membajak pelajaran dari dunia penerbangan “remember, you’re always a student in an airplane…. “ Begitulah seperti halnya penerbangan, dalam kehidupan kita adalah pelajar yang harus selalu belajar dan belajar untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya…. Have a pleasant flight..

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fort Marlborough dan Tugu Thomas Parr, Saksi …

Sam Leinad | | 21 April 2014 | 12:34

Dekati ARB, Mahfud MD Ambisius Atau …

Anjo Hadi | | 21 April 2014 | 09:03

Menjadi Sahabat Istimewa bagi Pasangan Kita …

Cahyadi Takariawan | | 21 April 2014 | 07:06

Bicara Tentang Orang Pendiam dan Bukan …

Putri Ratnaiskana P... | | 21 April 2014 | 10:34

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 9 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 10 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 12 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 13 jam lalu

Pengalaman Bekerja di Luar Negeri …

Moch Soim | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: