Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Febri Prasetyo

Seorang guru yang masih terus belajar

IPA Terpadu atau Guru Terpadu

OPINI | 16 June 2013 | 23:30 Dibaca: 314   Komentar: 2   1

1371399850673498356

Konsep IPA Terpadu masih banyak di salah artikan oleh sebagian besar orang, bahkan guru yang sudah (merasa) menjalaninya. Para guru SMP mapel Fisika yang juga mengajar Biologi atau sebaliknya, merasa bahwa itulah yang dimaksud dengan pengajaran IPA TERPADU. Meski sebenarnya itu lebih pas jika dikatakan sebagai pengajaran GURU TERPADU.

Saya mencoba untuk membandingkan antara konsep IPA TERPADU dengan apa yang selama ini diterapkan, dan (maaf) saya katakan sebagai GURU TERPADU.

Tinjuan Aspek Guru
Selama ini obyek pelaksana adalah guru. Maksudnya si guru mapel Fisika sekaligus mengajar mapel Biologi atau sebaliknya. Bukankah itu yang dimaksud dengan GURU TERPADU. Satu orang guru mengajar beberapa mapel.

Proses pembelajaran di bagi berdasarkan jam. Misalnya jam 1,2 pelajaran biologi, lalu jam 3,4 tentang fisika. Atau berdasarkan hari, misanya, hari senin 2 jam digunakan untuk membahas fisika. Lalu pertemuan hari berikutnya 2 jam untuk membahas biologi. Sisanya 1 jam untuk kimia.

Kalau untuk yang model begini, saya kira bukan yang dimaksud dengan keterpaduan IPA. Model yang begini tidak ada urgensinya guru satu mengajar tiga mapel, meskipun serumpun. Hal ini bisa diterapkan untuk mapel yang tidak serumpun sekalipun.

Teknik pengajaran model begini juga bukan terobosan baru dan inovatif. sebenarnya bukan persoalan yang sangat mendasar apabila seorang guru mengajar bukan mapel keahliannya. Meski itu juga sangat kurang tepat.

Praktik-praktik demikian sebenarnya sudah berlangsung lama. Tengok saja sekolah-sekolah pinggiran (apalagi sekolah swasta) yang memiliki jumlah guru dan pendanaan yang terbatas. Mau tidak mau para guru yang ada harus bisa mengajar mapel lain demi alasan penghematan dan keterbatasan jumlah guru. Praktik demikian juga terjadi di sekolah-sekolah negeri yang sudah maju sekalipun.

Meski demikian, pemerintah telah mencoba mengeremnya dengan aturan guru sertifikat. Saat ini, mana ada guru setifikat yang bersedia mengajar mapel lain? Maklum, berapa pun jumlah mengajar mapel lain, tak dihitung sebagai kewajiban jumlah jam mengajar.

Pada IPA TERPADU yang menjadi obyek pelaksana adalah materinya. Maksudnya salah satu materi dalam pelajaran fisika, misalnya optika, dikaji selain dari ilmu fisika, juga dari biologi dan kimia. Sang guru bukan hanya dituntut untuk menguasai mapel yang bukan keahliannya, tapi juga mengkaitkan mapel-mapel tersebut dalam menjelaskan satu hal. Tentu bukan pekerjaan yang mudah

Tinjuan Aspek Materi
Tidak semua materi bisa dipadukan. Misalnya dalam kajian Fisika SMP ada konsep tentang alat optik, yang salah satunya adalah mata. Memang berdasakan kajian biologi, mata bisa diuraikan lebih jauh tentang dimana posisinya, apa fungsinya, strukturnya bagaimana saja dll. Tetapi, jika dilihat dari jumlah jam yang biasanya tersedia, pada semester dua kelas delapan, maka pembahasan alat-alat optik, yang meliputi mata, kamera, teropong, mikroskop dll hanya tersedia selama 2 jam pelajaran (2×40 menit). Mana cukup untuk membahas tentang keterpaduan yang dimaksud.

Kita coba materi lain tentang tata surya. Apa keterpaduan planet Jupiter dalam kajian biologi? Kimia dll.

Pada dasarnya kelompok rumpun IPA (sains) bukan hanya terbagi dalam Fisika, Biologi dan Kimia saja. Juga ada Astronomi dan Geologi. Bagi sebagian lain, juga matematika termasuk kelompok sains. Menjelaskan keterpaduan sains tidak secara komprehensif, bukanlah bentuk keterpaduan yang setengah-setengah.

Sains sebenarnya meliputi empat unsur, yakni nilai (values), sikap dan perilaku (attitudes), proses (process) dan kandungan/ fakta ilmiah (contents). Silahkan baca lengkapnya di buku SAINS UNDERCOVER. Buku itu saya tulis setelah mempelajari berbagai literatur.

Seharusnya, keterpaduan IPA atau sains juga mengacu pada penerapan keempat unsur sains tersebut secara bersamaan. Bukan hanya mengenalkan fakta sains biologi, kimia dan fisika oleh satu orang guru.

Beberapa mapel yang sudah dilaksanakan terpadu, misal matematika dengan fisika. Matematika adalah sebagian dari bahasa yang berlaku di fisika. Contoh yang sudah diterapkan di level SMA misalnya, matematika diferensial dan intergral diterapkan untuk penyelesaian kasus persamaan gerak di fisika. Lah… mestinya yang namanya keterpaduan ilmu seperti itu. Dua atau lebih kajian ilmu diterapkan untuk menyelesaikan satu persoalan. Itu baru namanya cerdas

Tinjauan Aspek Siswa
Konsep IPA TERPADU masih kurang tepat diterapkan di tingkat SMP. Terlalu berat untuk usia yang seharusnya cukup mengenal konsep dasar saja. Setidaknya level SMA mungkin sudah mulai bisa memahaminya. Sangat disayangkan sebenarnya, tingkat SMP yang sedang mulai dikenalkan dengan konsep dasar sains, mulai dituntut juga untuk kemampuan analisa. Mungkin bagi siswa tertentu yang memiliki kemampuan khusus, itu menjadi hal yang tidak masalah. Tetapi anak bangsa ini di seluruh negeri sangat banyak dan beragam. Banyak pelajar di sekolah pinggiran yang untuk kemampuan mengenal, mengetahui dan menjabarkan saja masih kesulitan. Apalagi kalau harus menganalisis.

Tinjauan Aspek Pendukung
Buku-buku pegangan anak berupa buku paket yang diterbitkan oleh BSE dan penerbit besar lain, sebenarnya tidak jauh beda dengan model terbitan tahun-tahun sebelumnya, sebelum konsep IPA Terpadu itu diterapkan. Kebanyakan buku-buku tersebut hanya menggabungkan dalam satu jilidan materi bio, kim dan fis. Tidak ada bentuk keterpaduan uraian materi dan latihan soalnya. Lantas dimana keterpaduan IPA yang dimaksud?

Belum lain bentuk soal-soal yang muncul dalam ujian semester bahkan ujian nasional. Keterpaduan yang dimaksud hanya berupa penggabungan soal fisika, bio dan kimia dalam satu paket soal. Tidak dalam satu keterpaduan yang utuh dan cerdas.

Model soal yang sudah menerapkan keterpaduan misalnya soal SNMPTN, tes seleksi CPNS dll.

Berbagai diklat dan workshop tingkat kabupaten hingga propinsi, selalu memisahkan kelas IPA menjadi kelompok bio dan fis. Baik itu dalam penyusunan lembar kerja dll. Padalah, pesertanya tentu saja guru-guru pilihan dan (merasa) sudah menerapkan IPA Terpadu di sekolahnya.

Faktanya, ketika sesi diskusi materi tentang bio, maka kebanyakan guru fis hanya terdiam dan akan menjadi lantang berdialog ketika sesi tentang fisika. Dan berlaku juga sebaliknya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Cegah Lintah Darat Merajalela dengan GNNT …

Agung Soni | | 21 December 2014 | 11:16

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

[Langit Terbelah Dua] Pohon Malaikat …

Loganue Saputra Jr ... | | 21 December 2014 | 16:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Campur Tangan Joko Widodo dalam Konflik di …

Imam Kodri | 9 jam lalu

Di Kupang, Ibu Negara yang Tetap Modis namun …

Mba Adhe Retno Hudo... | 10 jam lalu

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 13 jam lalu

Lebih Baik Pernyataan Dwi Estiningsih …

Hendi Setiawan | 14 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: