Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Thukul Satus

Sedang belajar di Kompasiana s/d sekarang

Mendidik Anak: Tanggung jawab Ayah atau Ibu?

OPINI | 16 June 2013 | 13:21 Dibaca: 919   Komentar: 8   5

“kamu jadi ibu tidak becus mendidik anak, moral, akhlak dan pendidikan dimana-mana itu tanggung jawab ibu! Tugas suami itu mencari nafkah untuk anak dan istri! Saya sudah capek dan kamu ngapain aja?”

Itu adalah kata-kata kemarahan dalam perseteruan seorang kawan dengan istrinya gara-gara anak mereka yang masih  SMP  nilai UASnya berantakan semua dan terancam tidak naik kelas karena juga sering tidak masuk alias bolos (woooww!!)  dan berujung dengan semprotan sang kawan.

Hmm…
Sekedar melengkapi ilustrasi, si anak semenjak masuk SMP memang tidak terkendali, pergaulan dengan lingkungannya membuatnya makin jauh dari keluarga. Mulai merokok, tidak betah dirumah bahkan terkadang tidak pulang kerumah.  Si ayah jarang di rumah dengan berbagai alasan kesibukannya.

Oke, kita tidak membahas apa yang terjadi dalam rumah tangga itu dan bukan urusan kita untuk membahasnya lebih jauh. Tapi ada yang menarik dari statement sang ayah terkait dengan mendidik anak yang konon banyak diamini oleh para lelaki berstatus ayah.

Ada kecenderungan untuk menyalahkan istri bila “something bad happened” dengan anak-anaknya. Bisa dibayangkan, di tengah kesibukan dan kepusingan pekerjaan, kelelahan macet di jalan, menghadapi situasi yang sulit di pekerjaan, sampai di rumah mendapat kabar buruk mengenai perilaku dan hasil pendidikan anak yang buruk.

Benarkah Tugas utama mendidik anak ada di pundak seorang ibu?
Dalam konsep modern,  seorang ayah  turut memberikan kontribusi penting bagi perkembangan anak, pengalaman yang dialami bersama dengan ayah, akan mempengaruhi seorang anak hingga dewasa nantinya. Peran serta perilaku pengasuhan ayah mempengaruhi perkembangan serta kesejahteraan anak dan masa transisi menuju remaja (Cabrera,dkk,2000). Perkembangan kognitif, kompetensi sosial dari anak-anak sejak dini dipengaruhi oleh kelekatan, hubungan emosional serta ketersediaan sumber daya yang diberikan oleh ayah (Hernandez & Brown, 2002). Bisa dilihat bagaimana pendekatan dan bentuk komunikasi seorang ayah kepada anaknya yang masih balita cenderung sering berbentuk pertanyaan. Berbeda dengan pendekatan seorang ibu yang lebih menunjukkan ekspresi dan rasa dalam komunikasinya. Pendekatan komunikasi seorang ayah memancing anak pada kemampuan intelegensia serta prestasi akademiknya karena pancingan nalar dan perluasan kosa wawasan.

Ini baru dari sisi konsep modern, lalu bagaimana dari sisi agama? Kebetulan karena saya muslim saya coba angkat literatur terkait dengan Al-Qur’an.
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar,” (QS. Luqman (31) ayat 13).

Sementara itu di ayat yang lain (al-Baqarah 132, Yusuf 67) menceritakan bagaimana para ayah (Luqman, Nabi Ya’kub, dan Nabi Ibrahim) yang sedang mendidik anak-anaknya.
Ternyata, proses pendidikan (dalam keluarga) yang digambarkan melalui Al-Qur’an dilakukan oleh para ayah. Lebih menarik lagi tidak banyak disebutkan peran ibu dalam proses mengajar atau mendidik anak.

Dalam perjalanan dari masa ke masa yang semakin modern, kesulitan dan tuntutan untuk bertahan hidup membuat seorang suami dan ayah harus berjuang lebih keras dalam ibadah menafkahi keluarganya. Otomatis membuat waktu yang tersedia untuk keluarga terutama anak sering terlalaikan. Dalam sebuah kerjasama peran mendidik banyak bergeser kepada seorang ibu.  Secara logika memang waktu seorang ibu untuk anaknya (dengan catatan status murni sebagai ibu rumah tangga) jauh lebih banyak dibandingkan seorang ayah yang harus beredar diluar rumah mencari nafkah.

Namun dalam sebuah hadits, Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda, “Seorang ayah yang mendidik anak-anaknya adalah lebih baik daripada bersedekah sebesar 1 sa’ di jalan Allah.”
Artinya, dengan kondisi seperti saat ini yang sudah jauh berbeda dibandingkan dengan zaman Rasullulah, pekerjaan mendidik anak sebagai bagian dari amanah Allah SWT adalah pekerjaan bersama bagi seorang ayah dan ibu.

Saya dan anda sebagai seorang ayah harus tetap mampu menyisihkan waktu bagi mereka anak-anak kita dalam proses pertumbuhan dan pendidikan mereka secara moral dan kecerdasan kognitif.

Tampuk dan posisi sebagai imam dalam keluarga yang bertanggung jawab sebagai nakoda dalam biduk rumah tangga berkaitan dengan persiapan dan pembentukan keluarga serta  generasi penerus yang berkualitas dan berakhlak.
Apakah anda termasuk seorang ayah atau suami yang menimpakan beban mendidik anak kepada ibu atau istri anda semata? Mari kita belajar dan mencoba menjadi figur teladan seorang ayah  sekaligus guru kehidupan yang paling dekat dengan anak untuk memastikan bahwa tanggung jawab kita sebagai imam dapat kita laksanakan tuntas agar kelak kita bisa dengan bangga melihat anak kita tumbuh menjadi generasi yang bermanfaat bagi umat dan berada di jalan Allah SWT.

“Satu Ayah lebih berharga dari 100 guru disekolah” – George Herbert

Sumber referensi:
http://mozaikmuslim.blogspot.com/2013/04/peran-ayah-dalam-pendidikan-anak.html
Jurnal Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak Farida Hidayati, Dian Veronika Sakti Kaloeti, Karyono Fakultas Psikologi UNDIP

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 5 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 13 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 13 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 14 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: