Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Sulthony El-madury

Pendukung berdirinya khilafah Islamiyah Metode Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wasallam

Ulama Menurut Aswaja al Indo dan Versi Ahlussunah

OPINI | 18 June 2013 | 00:09 Dibaca: 430   Komentar: 12   0

Mungkin kalangan nahdhiyin mengenal aswaja sebagai ahlussunah waljamaah model 1926, yang dilahirkan lewat mistis dengan meminta izin kepada shahibul kubur kramat, yang konon cara kuburan meng-izinkan, surat yang diletakkan dikuburan hilang seketika. Tetapi konsep pemikiran mistis seperti ini hanya terkenal dalam dunia aswaja yang memang sebuah ormas hasil produk inkarnasi dari konsep konsep pemikiran mistis jawaisme yang terkenal dengan sebutan kejawen. Sebab bentuk adabul’awam, sayogiyanya seorang muslim memiliki simpati empati untuk meng-agungkan kuburan, terlebih kuburan orang shaleh, merupakan refleksi pengabdian model aswaja. Sehingga tak ada kata dalam do’a aswaja, melainkan terdapat amalan melayangkan pahala kepada arwah arwah penunggu kuburan, mulai dari malaikat muqarrabin , kalangan nabi, kalangan sholihin dan orang orang awam, berdasarkan kelas dan tingkatan muslim yang mati. Yang menarik ASWAJA menampilkan sosok dirinya sebagai pengemban dan pembela sunah, meskipun dalam fakta perjalanannya ASWAJA hanya mampu beretorika belaka, tanpa mampu menghadirkan dalil dalil yang mendasari amalnya.

Konsep pemikiran ASWAJA yang dikenal mayoritas sebagai dasar pemikiran beragama, telah menjadi asa keyakinan penganutnya, seolah paparan ASWAJA itu memang landasan mayoritas yang diakui syariat, meskipun sebenarnya penampilan ASWAJA annahdhiyah tak lebih dari sekedar refleksi keyakinan nenek moyang sebelum Islam, yang kemudian dikemas dengan latar Islam. Sedangkan dalam kiat ibadah aswaja tidak pernah ada yang sesuai dengan sunah itu sendiri. Berbeda dengan Ahlussunah, ASWAJA menjelma dalam sebuah ormas NU variabelnya adalah Kyai, dengan slogan “Ulama pewaris Nabi”. Bagaikana cendawan di musim hujan, kata “ulama” selalu tak lepas dengan kyai, bahkan seorang penyanyi dangdutpun model Oma Irama dalam beberapa media ketika berkomentar  selangit terhadap kehadiran Jokowi menyatakan :” Kapasitas saya sebagai Ulama “. Ini cerminan kalau orang sekelas Oma Irama mengaku ulama, tentu sangat besar kemungkinan para dukun dan tukang santet juga mengaku Ulama, ini tentu tidak baik buat perkembangan Islam kedepan. Sama misalnya dengan MH Ainun Najib dengan  “terang Wulannya”, mungkin lebih berhak diulaman ketimbang Oma, lalu akan seperti apa kwalitas ulama, kalau para penyair yang mendengkan syair syair berbahasa arab dikatagorekan sebagai ulama. Apakah bobot ulama seperti itukah yang bisa memajukan Islam.

Padahal kata “Ulama ” disematkan kepada orang orang dahulu, mereka sekwalitas Hasan al bishri, Abu Sofyan Atstsauri, Imam Anas bin Malik, Nu’man (Abu Hanifah), Imam syafii, Imam Ahmad bin Hanbal dan yang sekelas dengannya, bukan pada orang orang yang mengenakan blangkon Kyai, karena memutar biji tasbih dan komat kamit dikuburan dan tahlilan lalu disebut ulama, itu tentunya penilaian salah kaprah umat Islam dalam mentokohkan tokoh panutan. Hingga dalam berbagai Media, tarif ulama yang berprofesi seperti Komar, Jojon , Sule  dan sekelasnya lebih laku, bukan karena mereka mengerti Islam, tetapi karena pandai melucu dengan beberapa ayat Allah dan dengan interpretasi yang dibumbui lelucon, yang menimbulkan gelak tawa, maka profil seperti itulah yang dinisbatkan sebagai ulama, artinya gaya menghibur itulah menjadi pilihan umat karena pemberitaan mas Media yang meng-ebohkan yang bersangkutan, padahal modalnya hanya sekedar bicara. Tetapi paling laku dalam menggadaikan ayat ayat Allah dengan model melawakkan agama. Hal ini dpandang pantas untuk menghilangkan kejenuhan oleh penggemarnya, sekalipun sama sekali bukan Islam yang disampaikan.

Berbeda dengan Konsep Ahlussunah menempatkan kata “ulama” bukan disematkan diatas para pemain Opera Van Java, tetapi kata “ulama” memang disematkan kepada orang orang yang kwalitas keilmuannya meliputi Tahfidzil Quran, Hadist (sunah ), Atsar shahbat, Siroh dan berbagai qaul ulama dalam kompilasinya. Mereka digolongkan ulama, karena secara keilmuan disebut sangat menguasai lapangan dan bidang ilmu. Kapasitas dan kwalitas keilmuanya mereka tidak diragukan, sangat mengenal bidang bidang dan disiplin ilmu yang bermuara pada kemampuan menguasai ilmu Islam dari berbagai sisi dan aliran madzahib, selain beradab tanpa memandang rendah sesama ulamanya, menjunjung tinggi akhlaq menghadapi lawan pemikiran yang berbeda, bukan memunculkan retorika permusuhan yang berkepanjangan , tetapi solusi  terhadap permasalahan umat . Demikian konsep “ulama” dimata ahlussunah, tertitik beratkan pada penguasaan semua bidang ilmu agama

.
Dalam Wikipedia dijelaskan begini :Ulama (Arab:
العلماء al-`Ulamā`, tunggal عالِم ʿĀlim) adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupum masalah sehari hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Makna sebenarnya dalam bahasa Arab adalah ILMUAWAN atau peneliti, kemudian arti ulama tersebut berubah ketika diserap kedalam Bahasa Indonesia, yang maknanya adalah sebagai orang yang ahli dalam ilmu agama Islam.

Ibn Katsir (w. 774 H) menafsiri ayat di atas pada teks { إنما يخشى الله من عباده العلماء } sebagai berikut[4]:

إنما يخشى الله من عباده العلماء } أي إنما يخشاه حق خشيته العلماء العارفون به لأنه كلما كانت المعرفة للعظيم القدير العليم الموصوف بصفات الكمال المنعوت بالأسماء الحسنى كلما كانت المعرفة به أتم والعلم به أكمل كانت الخشية له أعظم وأكثر . قال علي بن أبي طلحة عن ابن عباس في قوله تعالى : { إنما يخشى الله من عباده العلماء } قال : الذين يعلمون أن الله على كل شيء قدير وقال ابن لهيعة عن ابن أبي عمرة عن عكرمة عن ابن عباس قال : العالم بالرحمن من عباده من لم يشرك به شيئا وأحل حلاله وحرم حرامه وحفظ وصيته وأيقن أنه ملاقيه ومحاسب بعمله وقال سعيد بن جبير : الخشية هي التي تحول بينك وبين معصية الله عز وجل وقال الحسن البصري : العالم من خشي الرحمن بالغيب ورغب فيما رغب الله فيه وزهد فيما سخط الله فيه ثم تلا الحسن { إنما يخشى الله من عباده العلماء إن الله عزيز غفور{وعن ابن مسعود رضي الله عنه أنه قال : ليس العلم عن كثرة الحديث ولكن العلم عن كثرة الخشية وقال أحمد بن صالح المصري عن ابن وهب عن مالك قال : إن العلم ليس بكثرة الرواية وإنما العلم نور يجعله الله في القلب قال أحمد بن صالح المصري : معناه أن الخشية لا تدرك بكثرة الرواية وإنما العلم الذي فرض الله عز وجل أن يتبع فإنما هو الكتاب والسنة وما جاء عن الصحابة رضي الله عنهم ومن بعدهم من أئمة المسلمين فهذا لا يدرك إلا بالرواية ويكون تأويل قوله : نور يريد به فهم العلم ومعرفة معانيه وقال سفيان الثوري عن أبي حيان التيمي عن رجل قال : كان يقال العلماء ثلاثة : عالم بالله عالم بأمر الله وعالم بالله ليس بعالم بأمر الله وعالم بأمر الله ليس بعالم بالله فالعالم بالله وبأمر الله الذي يخشى الله تعالى ويعلم الحدود والفرائض والعالم بالله ليس بعالم بأمر الله الذي يخشى الله ولا يعلم الحدود ولا الفرائض والعالم بأمر الله ليس العالم بالله الذي يعلم الحدود والفرائض ولا يخشى الله عز وجل

“{Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama}, maksudnya hanyalah ulama yang ‘arif billah yang benar-benar takut pada-Nya, karena sesungguhnya ketika ma’rifat pada zat yang maha agung, berkuasa, mengetahui dan semua sifat-sifat baik itu semakin sempurna dan pengetahuan tentang-Nya juga semakin sempurna, maka khasyyah (takut) pada-Nya juga semakin besar dan banyak. Ali Ibn Abu Tolhah meriwayatkan maksud ayat di atas dari Ibn Abbas ra, yaitu ulama yang dimaksud adalah orang-orang yang yakin bahwa Allah maha berkuasa atas segala sesuatu. Berkata Ibn Abu Lahi’ah dari Ibn Abu ‘Umrah dari ‘Ikrimah dari Ibn Abbas: Orang yang alim dengan Allah adalah orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, menghalalkan yang dihalalkan-Nya, mengharamkan yang diharamkan-Nya, menjaga wasiat-Nya serta yakin bahwa ia akan bertemu dengan-Nya untuk menghisab semua amal perbuatannya. Berkata Sa’id Ibn Jubair: al-Khasyyah adalah sesuatu yang bisa menjauhkan dari maksiat pada Allah SWT. al-Hasan al-Bashri berkata: Orang yang alim adalah orang yang takut pada Allah yang tidak dilihatnya, senang dengan apa yang di senangi-Nya dan menjauhi diri dari apa yang dibenci-Nya lantas al-Hasan membacakan ayat di atas. Ibn Mas’ud ra berkata: ilmu itu tidak diukur dengan banyaknya meriwayatkan Hadits, tapi dengan banyaknya al-Khasyyah. Berkata Ahmad Ibn Saleh al-Mashri dari Ibn Wahb dari Malik: ilmu itu bukan dengan banyaknya riwayat, tapi dengan adanya nur yang Allah letakan dalam qolb. Lalu Ahmad Ibn Saleh al-Mashri memberi penjelasan; artinya bahwa al-Khasyyah itu tidak bisa dihasilkan semata dengan banyaknya riwayat, karena memang tidak bisa dipungkiri bahwa ilmu yang diwajibkan itu terkait dengan al-Qur’an, al-Sunnah dan apa-apa yang datang dari para Sahabat serta para Imam itu hanya bisa didapat dengan cara periwayatan. Maka takwil makna Nur adalah pemahaman ilmu dan mengerti makna-maknanya. Berkata Sufyan al-Tsauri dari Abu Hayan al-Taimi dari seorang ulama yang berkata bahwa ulama itu dibagi tiga macam, yaitu: 1) Alim bi Allah dan bi amr Allah, 2) Alim bi Allah, tapi tidak alim bi amr Allah dan 3) Alim bi Amr Allah, tapi tidak alim bi Allah. Dan kelompok pertama itulah tipikal ulama yang khasyyah pada Allah juga mengerti akan hudud (batasan-batasan) dan faraidl (kefardluan)[5]. Adapun kelompok kedua adalah tipikal ulama yang punya khasyyah tapi tidak mengerti hudud dan faraidl. Sedangkan kelompok ketiga adalah tipikal ulama yang mengerti hudud dan faraidl tapi tidak punya khasyyah pada Allah SWT.”

Sedangkan hadist yang menyatakan : “ulama pewaris nabi”, memili tafsir sebagaimana berikut ini:


في هذا الحديث بيان واضح أن العلماء الذين لهم الفضل الذي ذكرنا هم الذين يعلمون علم النبي صلى الله عليه وسلم دون غيره من سائر العلوم ألا تراه يقول : ( العلماء ورثة الأنبياء ) والأنبياء لم يورثوا إلا العلم وعلم نبينا صلى الله عليه وسلم سنته فمن تعرى عن معرفتها لم يكن من ورثة الأنبياء

“Di dalam Hadits ini terdapat penjelasan yang terang bahwa orang-orang yang mendapat keutamaan (sebagai pewaris para Nabi) tersebut adalah orang-orang yang mengetahui ilmu Nabi Muhammad SAW dan bukan ilmu lainnya, karena bukankah Nabi bersabda “para ulama adalah pewaris Nabi”, sedangkan para Nabi hanya mewariskan ilmu dan ilmu Nabi Muhammad SAW adalah sunnah-sunnahnya. Maka barangsiapa ulama yang tidak mengetahuinya, berarti ia bukanlah pewaris para Nabi.”

Kesimpulan menurut kenyataan dan ulama versi Aswaja :

1. Ulama dengan kata lain adalah kyai

2. Tiap alumni pesantren aswaja yang mendirikan pesantren adalah ulama

3. Siapapun dalam katagore aswaja bisa disebut ulama, sehingga ada jenis habitat ulama dalam berbagai versinya, seperti ulama budayawan, ulama artis dan ulama ulama lainnya.

Sedangakan kesimpulan Ahlussunah, ulama sebagai berikut :

  1. Ulama itu adalah orang yang arif billah, yang melahirkan rasa takut dalam pengabdian pada-Nya.
  2. Ulama itu orang yang yakin bahwa Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
  3. Ulama adalah orang yang alim tentang Allah, sehingga tidak pernah menyekutukan Allah dengan siapapun.
  4. Ulama itu yang menghalalkan dengan yang dihalalkan Allah, dan mengharamkan apa yang diharamkan Allah.
  5. Ulama adalah yang menjaga wasiat wasiat Allah
  6. Ulama adalah orang yakin, bahwa dia akan bertemu Allah, sedangkan amal perbuatannya akan dihisab oleh-Nya.
  7. Memiliki sikap khasyyah, menjauhkan diri dari maksiat kepada Allah.
  8. Ulama adalah senang dengan yang disenangi-Nya.
  9. Benci dengan apa yang tidak disukai-Nya.
  10. Menjauhi semua amalan amalan bid’ah yang membuatnya tersesat dari jalan-Nya yang lurus
  11. Abid (ahli Ibadah)
  12. Wara’
  13. Menjaga sunah sunah nabi-Nya
  14. Dan Ahli tauhid.
  15. Mereka mewarisi ilmu Nabi dan mengamalkan sesuai dengan petunjuk nabi.
  16. Menjaga amanah amanah nabi, tidak mengurangi dan tidak menambah
  17. Sopan satun yang tinggi.

Tags: ulama

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Produksi Murah Jualnya Mahalan …

Gaganawati | | 23 October 2014 | 16:43

Astaghfirulloh, Ada Kampung Gay di …

Cakshon | | 23 October 2014 | 17:48

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

”Inspirasi Pendidikan” dari Berau …

Rustan Ambo Asse | | 23 October 2014 | 18:22

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 6 jam lalu

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 11 jam lalu

Dua Cewek Kakak-Adik Pengidap HIV/AIDS di …

Syaiful W. Harahap | 12 jam lalu

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 13 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Catatan Yayat: Remote Control Traveller …

Kompasiana | 7 jam lalu

Jalan Sunyi, Akhirnya Kutempuh …

Usman D. Ganggang | 8 jam lalu

Belajar Ungkapan (Idiom) Amerika - Part 3 …

Masykur | 8 jam lalu

Terlalu Banyak Omong = Tidak Bermutu …

Rachmadia Athaya | 8 jam lalu

Menikmati Kemenangan Jokowi …

Lilik Agus Purwanto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: