Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Sarlen Julfree

saya seorang arsitek yang senang menulis. Sejak tahun 2008 sudah menjadi aktifis blogger. Pernah pula selengkapnya

Menyikapi Adanya Perubahan Sikap dan Perilaku Negatif Pada Anak

OPINI | 19 June 2013 | 09:06 Dibaca: 1291   Komentar: 0   0

Banyak orang tua yang mengeluh karena anak-anak mereka yang mulai beranjak remaja dan dewasa (kira-kira, usia anak SMP dan SMA), mulai sering membantah perkataan mereka, mulai sering minta ijin pulang terlambat, atau mulai sering berbohong. Keluhan itu masih pula diikuti dengan adanya suatu kekhawatiran, kalau anak mereka telah terpengaruh oleh pergaulan yang salah.

Pada dasarnya, adanya keluhan dan rasa khawatir orang tua seperti itu, masih dalam batas kewajaran, karena tidak ada satu pun orang tua di dunia ini yang menginginkan anaknya memiliki sikap atau perilaku yang buruk sebagai bagian dari kepribadiannya. Hati dan pikiran orang tua pasti cenat-cenut oleh karenanya.

I. Penyebab Perubahan Sikap dan Perilaku

Lingkungan pergaulan diluar rumah, memang merupakan salah satu faktor yang memiliki peranan besar dalam membawa perubahan sikap atau perilaku pada diri seorang anak kearah yang tidak baik.

Kehidupan di luar rumah, membuat anak “melihat dunia” yang berbeda dari apa yang pernah digambarkan atau dijelaskan orang tua kepadanya. Lingkungan pergaulan membuat anak melihat, mendengar, merasakan, dan menghadapi berbagai peristiwa yang selama ini belum pernah diketahui sebelumnya.

Dengan kata lain, adanya interaksi dengan orang-orang di luar rumah, bisa menjadi sumber inspirasi adanya perubahan pola sikap maupun perilaku pada anak.

Usia anak yang masih remaja atau baru memasuki usia dewasa muda, masih belum kaya dengan pengalaman hidup. Anak masih rentan dengan masuknya berbagai informasi dan pengetahuan yang salah, yang tidak patut di contoh dan ditiru, yang penuh dengan rekayasa atau tipu muslihat, serta yang mengandung tindak kekerasan.

Meskipun demikian, patut pula diingat para orang tua, tidak tertutup kemungkinan, kalau perubahan sikap atau perilaku anak terjadi karena keadaan atau kondisi lingkungan di dalam rumah yang sering kali tidak kondusif, dan karena pola kebiasaan / didikan yang tidak inspiratif.

Hari-hari kehidupan di dalam rumah dilalui dengan : penuh pertengkaran, teramat mudah untuk mengucapkan kata-kata kasar, tidak sungkan melakukan tindak kekerasan di depan anak, tidak ada sikap saling menghormati dan menghargai, serta tidak ada dukungan untuk kemajuan hidupnya.

Selain menimbulkan trauma psikologis pada diri anak, kondisi rumah yang tidak kondusif mendorong adanya perubahan sikap atau perilaku anak untuk mengikuti berbagai kebiasaan buruk yang dibiarkan berkembang di rumah.

Tidak hanya itu. Kerumitan dalam mengarahkan pola sikap atau perilaku anak yang out control juga bisa terjadi karena orang tua tidak menerapkan pola didik serta pola komunikasi yang benar terhadap anak mereka.

Pernah nonton acara televisi Super Nanny 911 yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta? Di setiap episode acara televisi itu, tercermin beragam model kegagalan anak dalam mendidik dan mengarahkan anak, sehingga anak memiliki sikap atau perilaku yang susah diatur, cenderung melawan / membantah orang tua, serta “melecehkan” kewibawaan orang tuanya.

Dalam artikel berjudul Merubah Perilaku Anak yang dimuat di www.preventionindonesia.com, seorang ibu rumah tangga bernama Vina menulis tentang curahan hati temannya dalam mendidik anak : “Ternyata tidak ada bedanya antara mendidik anak usia 2 tahun 6 bulan dengan anak yang sudah berusia  18 tahun. Sama-sama rumit dan amat melelahkan”.

Seorang psikolog anak asal Tucson Amerika Serikat, DR. Kevin Leman, dalam bukunya yang berjudul Have A New Kid By Friday mengatakan, perubahan sikap atau perilaku anak (kearah yang kurang baik), bisa terjadi karena orang tua tidak konsisten dengan perkataan dan tindakannya sendiri.

Ada banyak orang tua, dalam rangka menciptakan rasa nyaman anak untuk bisa meniti tangga keberhasilan dan kemajuan hidup anaknya, selalu menuruti setiap keinginan anak atau memenuhi segala kebutuhan yang dinilai diperlukan oleh anaknya.

Lalu tidak sedikit pula orang tua yang membebaskan anaknya sejak masih berusia belia, untuk tidak melakukan serangkaian tugas ataupun pekerjaan yang bisa dilakukan anak di rumah. Semenjak dari bangun tidur, orang tua sudah bertindak sebagai “pelayan” bagi anaknya. Kesan yang muncul, anak hanya terima beres saja. Padahal, dampak yang ditimbulkan atas “cara orang tua menunjukkan rasa sayangnya kepada anak” dengan cara demikian, membuat anak menjadi tidak perduli dengan keadaan dan kondisi di rumahnya.

Tanpa disadari, sesungguhnya tindakan orang tua seperti itu membuat anak tidak memahami tugas dan tanggung jawab mereka sebagai anak.

Hal lain yang bisa menjadi penyebab perubahan sikap atau perilaku anak kearah yang negatif terjadi karena orang tua “tidak terbiasa” untuk menyampaikan pujian serta memberikan dorongan semangat kepada anaknya.

Ada banyak orang tua yang “pelit” untuk mengucapkan kata pujian kepada anaknya. Kata pujian tidak harus (baru) terucap saat anak mereka berhasil mengukir prestasi. Jika anak berhasil menyelesaikan segenap tugas yang diserahkan orang tua kepadanya dengan baik, maka tidak ada salahnya apabila orang tua menyampaikan kata pujian pada anak, sehingga anak tahu, kalau tindakannya itu merupakan sebuah tindakan yang benar.

Selain itu, tidak sedikit pula orang tua yang “enggan” memuji anaknya di depan orang lain, atau tidak pernah menyampaikan dorongan motivasi kepada anak, sehingga dapat meningkatkan semangat juang anak untuk bisa mencetak prestasi atau tampil dengan nilai lebih pada hal-hal tertentu, yang bisa menghadirkan kebanggaan tersendiri, baik pada diri anak, pada orang tuanya, maupun pada keluarga besarnya.

Para orang tua ini beranggapan, memuji anak dihadapan orang lain merupakan sebuah tindakan yang tidak penting untuk dilakukan, karena mereka tidak ingin kalau suatu saat nanti, pujian yang telah mereka nyatakan diharapan orang lain (dengan penuh kebanggaan) itu, akan menjadi batu sandungan bagi mereka apabila kenyataan membuktikan, kalau sikap, perilaku, atau prestasi anak, ternyata tidak sesuai dengan ungkapan pujian yang pernah mereka nyatakan.

II. Tindakan yang Harus Dilakukan Orang Tua

Orang tua tidak akan menyampaikan keluhan dan rasa khawatirnya, apabila perubahan sikap atau perilaku anak, sesuai dengan harapan serta pola didik yang mereka kembangkan / arahkan semenjak anak masih berusia balita. Beda halnya apabila perubahan sikap atau perilaku anak mengarah pada hal-hal yang bersifat negatif. Apabila hal itu terjadi, akan muncul sikap protektif dari orang tua.

Dalam waktu singkat, orang tua akan ada penyaringan secara ketat terhadap teman-teman sepergaulan anak, dan terhadap aktifitas-aktifitas apa saja yang boleh atau bisa dilakukan / diikuti oleh anaknya, Bahkan tidak sedikit pula orang tua yang melakukan pemaksaan kehendak, dengan mencabut / mengurangi hak-hak serta kebebasan anak untuk berekspresi.

Mungkin para orang tua lupa, cepat atau lambat, perubahan sikap atau perilaku pada diri anak akan terjadi juga. Pada dasarnya, ini adalah sebuah keadaan yang alamiah, karena setiap orang, pasti mengalami perubahan.

Perubahan sikap atau perilaku seseorang bisa terjadi kapan saja. Bahkan perubahan bisa terjadi sejak anak masih balita. Semua tergantung pada pola didik dan kebiasaan yang dikembangkan orang tua dalam beraktifitas serta dalam mendidik anaknya, dan bagaimana seorang anak dapat menyikapi dengan baik beragam problematika kehidupan yang dilihat, didengar, dibaca, atau dihadapinya sendiri.

Kemajuan atau kualitas hidup seseorang bisa saja meningkat, tetap sama, atau mengalami penurunan. Akan tetapi, tidak demikian dengan pola sikap atau perilakunya : bisa tetap memiliki tata krama serta menjalani pola / gaya hidup yang sehat dan benar, atau tidak.

Lalu, bagaimana sebaiknya sikap orang tua pada saat melihat adanya perubahan sikap atau perilaku yang terjadi pada diri anaknya?

Faktor terpenting dalam menyikapi perubahan sikap atau perilaku anak kearah yang kurang baik, terletak pada ada atau tidaknya “deteksi dini” orang tua terhadap perubahan tersebut. Dalam hal ini, orang tua perlu tahu apa yang menjadi penyebab atau pangkal persoalannya.

Sebagian besar perubahan sikap atau perilaku anak, tidak terjadi secara drastis. Pasti ada fase atau keadaan yang mengawali adanya perubahan sikap atau perilaku pada anak.

Hal kedua yang tidak kalah pentingnya adalah soal pola pendekatan. Berikan perhatian yang besar, sebagai bentuk keperdulian mereka terhadap masalah atau kondisi penuh emosional yang sedang dihadapi anak. Orang tua harus menghadapinya dengan sikap tenang, penuh kesabaran, dan berlaku layaknya seorang teman kepada anak.

Bangunlah suasana penuh keakraban, bicaralah dari hati ke hati dengan penuh kelembutan. Tunjukkan rasa kasih orang tua kepada anak, sehingga anak bisa menyampaikan hal-hal yang mengganjal di hatinya.

Manfaatkan kedekatan emosional dengan anak agar mereka dapat menyampaikan isi hati dan keluh-kesahnya. Rangkul mereka dengan menjadi pendengar yang baik. Pahami, bahwa anak butuh untuk didengarkan pada saat itu. Biarkan mereka bercerita atau menyampaikan argumentasinya hingga usai.

Selanjutnya, lakukan dialog secara terbuka, namun tetap mengendalikan jalannya pembicaraan. Maksudnya disini, arahkan pembicaraan menjadi suatu dialog yang sehat, dimana orang tua harus bersikap tegas apabila anak mulai menggunakan kata-kata yang kasar atau kata-kata yang tidak selayaknya diucapkan. Namun pada sisi yang lain, orang tua juga harus mau menerima dikritik oleh anaknya.

Pada saat memberikan nasehat, tunjukkan adanya sikap kalau orang tua menginginkan anaknya dapat menjalani hari-hari kehidupannya dengan baik, sehingga tidak ada penyesalan di kemudian hari. Itu sebabnya, anak perlu memperhatikan kata-kata orang tuanya.

Terkadang, langkah ini sulit dilakukan oleh para orang tua. Bukan karena anak enggan untuk berbicara, akan tetapi karena cara pandang orang tua yang tidak berubah dalam memandang sosok diri anaknya. Ini merupakan titik kelemahan terbesar orang tua, sehingga upaya pendekatan kepada anak, terasa sulit untuk dilakukan.

Meskipun anak sudah memasuki usia remaja atau dewasa muda, banyak orang tua yang tetap memposisikan anak mereka sebagaimana layaknya anak mereka yang masih balita atau bocah usia SD.

Kecenderungan yang ada, orang tua akan bertindak layaknya diktator atau mahasiswa senior yang sedang melakukan ospek kepada mahasiswa baru, dimana orang tua tidak mau disalahkan dan tidak mau mengucapkan kata maaf kalau berbuat salah.

Banyak orang tua memilih untuk menggunakan gimmick lain sebagai pengganti kata “maaf”, seperti membuka satu obrolan mengenai satu hal kecil, yang tidak terkait dengan hal-hal yang dipermasalahkan oleh anaknya.

Sikap layaknya diktator ditunjukkan orang tua dengan tidak pernah memberikan kesempatan kepada anak untuk dapat menyampaikan argumentasi atau pembelaan diri. Itu sebabnya ada banyak keluarga, dimana antara orang tua dan anaknya, jarang bisa berdiskusi secara sehat. Anggapan yang dibangun orang tua, hanya anak yang harus mendengarkan orang tua, tapi tidak pada posisi sebaliknya.

Pemecahan masalah yang dihadapi anak akan sulit dilakukan apabila orang tua tidak bersikap kompromistis. Anak akan sulit untuk diajak bicara terbuka. Keinginan dan harapan anak akan sulit pula diterima orang tua. Padahal, saat itu anak sedang membutuhkan adanya tanggapan yang bisa membuat anak merasa “diterima” oleh orang tuanya.

Curahan terbesar yang perlu dihadirkan orang tua adalah perhatian dan pengertian. Tidak hanya orang tua yang bisa capek hati melihat tingkah anaknya, tapi anak juga bisa merasa capek hati melihat gaya orang tua yang tetap arogan dalam mengambil sikap serta pesimistik dalam memberikan tanggapan terhadap keinginan dan harapan anak.

Jangan hanya memberikan penekanan kepada anak, akan tetapi orang tua juga harus bisa bertindak fair terhadap pencapaian-pencapaian yang dicapai atau kualitas pribadi terbaik yang ditunjukkan anak dengan menyampaikan kalimat pujian kepada anaknya.

Ketulusan orang tua untuk menyampaikan kata-kata pujian kepada anak, akan menimbulkan perasaan berharga di hati anak. Orang tua juga perlu memuji anak di depan orang lain. Tunjukkan rasa bangga orang tua akan anaknya di hadapan orang lain, meskipun anaknya minim akan keberhasilan mencetak prestasi. Cari dan temukan kualitas pribadi terbaik pada diri anak yang bisa dibanggakan di hadapan orang lain.

Hal yang tidak kalah pentingnya untuk dilakukan orang tua adalah mendorong semangat juang anak. Pemberian motivasi pada anak, merupakan satu langkah untuk membangun rasa percaya diri anak. Namun sayangnya, ada banyak orang tua yang sering kali alpa untuk melakukannya karena kesibukkan mereka.

Pada sisi yang lain, ada baiknya pula kalau para orang tua mengenali teman-teman yang berada dalam lingkungan pergaulan anak, sehingga orang tua dapat mengevaluasi, apakah anak berada dalam lingkungan pergaulan yang sehat atau tidak.

Selain terus mengarahkan dan membekali anak dengan pengetahuan yang baik serta sesuai dengan nilai-nilai yang ingin ditanamkan orang tua ke dalam kehidupan anaknya, upaya pencegahan adanya perubahan sikap atau perilaku anak kearah yang tidak baik dapat dilakukan orang tua untuk mengenali dan kenal dengan baik siapa saja teman, guru, atau orang-orang terdekat anak di luar rumah.

Langkah tersebut perlu diambil, agar orang tua dapat melakukan updating atas aktifitas kehidupan pergaulan anak di luar rumah, sehingga orang tua dapat segera mendapatkan informasi pelengkap (selain informasi langsung dari anaknya sendiri) dengan mencari tahu dari teman, guru, dan orang-orang terdekat anaknya di luar rumah, pada saat mulai mendapati anaknya mengalami perubahan sikap atau perilaku yang tidak sesuai dengan pola pembentukan karakter yang diinginkan orang tua.

III. Orang Tua Adalah Penentu Dalam Pembentukan Karakter dan Kepribadian Anak

Ketika dijumpai adanya perubahan sikap atau perilaku pada diri anaknya, orang tua perlu mencermati dan menyikapinya dengan bijaksana, penuh ketenangan, penuh kesabaran, penuh pengertian, dan juga penuh dengan rasa kasih sayang. Tidak perlu reaktif atau paranoid, karena perubahan sikap atau perilaku merupakan sesuatu hal yang alamiah dalam kehidupan seseorang.

Saat berkumpul dengan anak, orang tua tidak perlu suka marah-marah atau bersikap layaknya diktator, karena sikap seperti itu justru membuat anak merasa tertekan dan tidak diayomi.

Anak juga akan sulit untuk diajak berdiskusi atau bicara dari hati ke hati apabila orang tua bisanya hanya menunjukkan sikap layaknya diktator kepada anaknya, karena sikap tersebut akan muncul satu anggapan dalam benak pikiran anak, kalau segenap argumentasi maupun pembelaan yang diajukannya, tidak diterima / didengarkan / diperhatikan oleh orang tuanya.

Oleh sebab itu, orang tua perlu menunjukkan adanya penerimaan sikap (acceptance) terhadap “keberadaan” anak, dengan berlaku layaknya orang tua. Jadilah pendengar yang baik atas keluhan, keinginan dan harapan anak.

Jangan pula ragu dan enggan untuk memuji dan mendorong semangat juang anak. Adanya kalimat-kalimat pujian serta dorongan semangat akan menimbulkan perasaan bernilai di mata orang tuanya.

Pada sisi yang lain, orang tua juga harus memiliki ketegasan dalam bersikap. Semenjak anak masih balita, orang tua harus sudah menetapkan batasan-batasan tentang hal-hal yang dibutuhkan atau diinginkan anaknya. Jangan biarkan anak memiliki kepribadian yang manja, dimana segenap kemauan atau keinginannya selalu dituruti oleh orang tuanya.

Menghadirkan ketegasan dalam bersikap perlu dilakukan, agar anak tahu, kalau ayah dan ibunya merupakan pihak yang memegang kendali dalam mengatur dan menetapkan pola sikap ataupun perilaku yang benar pada diri anak. Dalam hal ini, orang tua perlu sering-sering berkomunikasi dengan anak. Berikan sebanyak mungkin inspirasi kehidupan kepada anak tentang pola dan gaya hidup yang benar serta sehat.

Jika kemudian ditemui adanya perubahan sikap atau perilaku anak kearah sikap atau perilaku negatif, keadaan itu merupakan lonceng waktu bagi orang tua untuk mengevaluasi kembali setiap tindakan, pernyataan, maupun batasan aturan yang mereka tunjukkan serta berlakukan pada anak selama ini.

Langkah evaluasi perlu dilakukan orang tua, agar upaya pembentukan karakter dan kepribadian anak yang sesuai dengan kehendak serta keinginan orang tua, dapat terus berlangsung. Dalam hal ini, orang tua perlu berlaku konsisten terhadap berbagai pernyataan maupun serangkaian aturan main yang mereka buat.

Ada baiknya pula kalau orang tua kenal dengan teman-teman dalam lingkungan pergaulan anak di luar rumah. Kedekatan orang tua pada teman atau orang terdekat anak di luar rumah, selain sebagai bentuk antisipasi terhadap keterlibatan anak dalam lingkungan yang tidak sehat, juga bertujuan untuk dapat memperbaharui pengetahuan orang tua terhadap aktifitas serta perilaku anak di luar rumah.

Hal ini perlu dilakukan orang tua, karena setiap upaya serta aktifitas yang dilakukan, selayaknya mempunyai makna strategis serta berpengaruh dalam suatu rangkaian proses (kehidupan) yang dijalani saat ini dan di masa yang akan datang (prinsip Kodawari orang Jepang).

Upaya orang tua dalam mendidik anak sehingga memiliki karakter dan kepribadian yang baik, akan banyak sekali menghabiskan energi. Namun semuanya itu tidak akan berakhir dengan sia-sia atau kekecewaan, karena segenap perhatian, dukungan, dan keintiman suasana yang selalu dihadirkan orang tua, akan menghindarkan anak untuk menyerap pola sikap atau perilaku yang tidak baik.

Jadilah orang tua yang mendidik anak secara otoritatif, dimana anak diberikan kebebasan untuk memformulasikan segenap arahan yang orang tua berikan, sehingga anak dapat menjalani kehidupan dengan pola sikap dan perilaku yang benar.

We cannot choose our family but we can choose to love them. Keluarga merupakan tempat awal bagi seorang anak untuk menerima didikan. Gunakan waktu dan kesempatan dalam mendidik anak, untuk menciptakan karakter dan kepribadian yang menarik. Let’s start to see a gold in your son / daughter, digging it and let them shine.

Selamat mendidik anak. Sukses selalu. God Bless You All.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fort Marlborough dan Tugu Thomas Parr, Saksi …

Sam Leinad | | 21 April 2014 | 12:34

Dekati ARB, Mahfud MD Ambisius Atau …

Anjo Hadi | | 21 April 2014 | 09:03

Menjadi Sahabat Istimewa bagi Pasangan Kita …

Cahyadi Takariawan | | 21 April 2014 | 07:06

Bicara Tentang Orang Pendiam dan Bukan …

Putri Ratnaiskana P... | | 21 April 2014 | 10:34

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Demonstrasi KM ITB: Otokritik untuk …

Hendra Wardhana | 7 jam lalu

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 12 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 13 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 14 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: