Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Muhammad Fauzi Ahmad

Peneliti di Lembaga Kajian Kebijakan Publik dan Otonomi Daerah (lekakapoda) Malang dan Staf Dekanat Fak. selengkapnya

Pendidikan dan Cita-Cita Kesejahteraan di aras Bumi Paranaka.

OPINI | 21 June 2013 | 13:51 Dibaca: 39   Komentar: 0   0

“Bumi paranaka, tanah yang melahirkan manusia-manusia yang tangguh, ksatria dan berjiwa patriotis. Tanah yang mengandung jiwa-jiwa suci, pengabdi sejati kepada ilahi rabbi. Bumi paranaka, tanah yang bertabur insan-insan pemberani yang berhati kudus, penyuara kebenaran, pemegang panji-panji keadilan”.

Pendidikan, suatu kata yang lazim dipergunakan bagi siapapun yang berorientasi pada perubahan, kemajuan, prestasi, dan nilai-nilai suci (fitrah) yang terkadung dalam jati diri manusia. Pendidikan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan kemanusiaan, dengan pendidikan terjadi proses transformasi ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral, keyakinan, pengalaman dan teknologi. Pendidikan identik dengan belajar, mengajar, pelajaran, buku, sekolah, kuliah, kampus perpustakaan, penelitian, pelajar, siswa dan mahasiswa. Istilah-istilah dasar pendidikan akan menjadi bermakna bilamana terjadi proses pembelajaran yang bermutu, lingkungan belajar yang didukung oleh fasilitas yang memadai, serta perangkat pembelajaran yang sistemik dan professional. Adalah sangat wajar, terjadi pengarus-utamaan pendidikan sebagai komponen dasar dalam memajukan daerah, wilayah, maupun negeri ini. Komponen dasar berupa pendidikan adalah suatu yang asasi dalam kehidupan manusia.

Komponen dan hak-hak dasar manusia berupa pendidikan hendaklah menjadi perhatian utama bagi yang ingin maju dan berkembang, apalagi negara dengan amanat konstitusinya telah menjamin, pendidikan yang layak, bermutu, berkeadilan, berkesetaraan dan memiliki standardisasi secara nasional/internasional. Negara juga telah mengamanatkan dalam konstitusinya, minimal anggaran pembelanjaan negara mengalokasikan 20% untuk sektor pendidikan. Pengelolaan pendidikan yang bermutu dapat menberikan konstribusi yang sangat berarti bagi keberlangsungan kesejahteraan masyarakat. Memang tidak ada dampak langsung dari proses pendidikan yang bermutu terhadap kesejahteraan rakyat, akan tetapi dengan adanya lembaga pendidikan yang bermutu akan membawa dampak multi dimensi (multi effect), ekonomi yang berkembang, system dan pranata social yang stabil, keamanan dan kondisi masyarakat yang dinamis serta sumber daya pelajar dan mahasiswa yang maju. Tidak adanya standardisasi mutu pendidikan di daerah membawa dampak yang luas bagi situasi, kondisi, toleransi, pandangan dan jangkauan kehidupan masyarakat.

Ada beberapa hal yang dapat memperburuk kondisi kesejahteraan rakyat menurut pandangan Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra, 2005) dalam Lumbessy (2005) antara lain: tingkat pendapatan yang masih rendah, pengangguran yang masih tinggi, biaya hidup yang masih tinggi dan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari yang masih sulit dipenuhi oleh masyarakat lapisan bawah, kurangnya penghayatan, pengamalan, pengembangan nilai keagamaan, lambatnya pengembangan sumberdaya manusia, lemahnya kapasitas dan kualitas sumberdaya manusia termasuk aparatur negara, lemahnya daya dorong perekonomian, tingginya kesenjangan antar daerah, menurunnya penyediaan infrastruktur, lemahnya kelembangaan sosial baik formal maupun informal, menipisnya sumberdaya alam dan menurunnya daya dukung lingkungan gangguan keamanan, konflik sosial serta kondisi sosial yang tidak stabil.

Ciri-ciri di atas umumnya dialami oleh daerah yang memiliki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dalam tingkatan minim, termasuk di daerah kita. Pembangunan kualitas sumber daya manusia masih dalam sebatas prestasi angka-angka yang cenderung masih dapat dimanipulasi, dipalsukan serta jauh dari esensi kemajuan peradaban mutu. Diperlukan keterbukaan, kebersamaan dan rasa memiliki untuk solidaritas memperbaiki carut-marutnya kondisi kesejahteraan masyarakat. Keterbukaan, kejujuran dan semangat memperbaiki diperlukan untuk mengangkat potensi, kemampuan dan kompetensi yang masih terendap didalam masyarakat.

Konsep pendidikan yang dikembangkan hari ini dan kedepan, semestinya dapat menjawab tantangan, kondisi dan situasi peradaban masyarakat. Pendidikan yang dapat mengangkat harkat, martabat kemanusiaan, memanusiakan manusia, dan memberi ruang dan waktu bagi kesempatan mengembangkan diri, potensi, minat dan bakat. Pendidikan yang dapat “menggenggam” masa depan masyarakat untuk mencapai cita-cita kesejahteraan dan kemakmuran serta kemaslahatan bersama. Bukanlah pendidikan yang berujung pada penindasan, kesewenang-wenangan dan melahirkan manusia-manusia “kanibal”, yang akhirnya terjadi kemajuan utopis tanpa disertai nilai-nilai peradaban, basic value yang kita anut.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Endah Kreco, Kartini dari Keong Sawah …

Junanto Herdiawan | | 21 April 2014 | 07:31

Mempertanyakan Kelayakan Bus Transjakarta …

Frederika Tarigan | | 21 April 2014 | 10:22

Cara Menghadapi Lansia (Jompo) Pemarah …

Mohamad Sholeh | | 21 April 2014 | 00:56

Danau Linow Masih Mempesona …

Tri Lokon | | 21 April 2014 | 07:01

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 2 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 3 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 5 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 6 jam lalu

Pengalaman Bekerja di Luar Negeri …

Moch Soim | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: