Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Divi Lintang

Yang membuatmu tersesat adalah nafsumu; dan yang membuatmu sadar adalah nafasmu

Kelas Unggulan….. (Dulu dan Kini)

OPINI | 22 June 2013 | 13:05 Dibaca: 495   Komentar: 6   0

[Kembali ke suatu kota kecil dan memperhatikan bekas sekolah unggulan SMP dan SMA, menimbulkan pertanyaan, "Siapakah pengisi bangku-bangku tegar dalam kelas merdeka (baca: luas) yang disangga tiang-tiang tua yang kokoh berdiri itu ?"]

Seperti kita ketahui beberapa sekolah unggulan telah merintis program unggulan di antaranya kelas Akselerasi, kelas CI MIPA, kelas IT , dan kelas RSBI (meski bubar). Masing-masing jenis unggulan dikembangkan berdasarkan tujuan dan alasan “logis” masing-masing beserta segala akibatnya, seperti fasilitas, SDM (pendidik dan pendukung laboran, teknisi IT, konseling) dan biaya.  Metode yang digunakan untuk menjaring calon siswa umumnya menggunakan “test” tambahan di luar cara standart penerimaan siswa pada umumnya.

Sebenarnya, kelas unggulan yang selama ini telah dilaksanakan oleh beberapa sekolah telah memiliki cikal bakal sejak dulu kala.

1. Saat tahun ‘70-’80-an ada SMP (di suatu kota kecil) yang merintis kelas unggulan yang relatif lebih testruktur dan natural dibanding  saat ini. Saat awal test masuk, tidak ada perbedaan perlakuan (test khusus), tetapi pihak sekolah telah memonitor nilai raport SD dan nilai test. Mereka yang dianggap memenuhi kriteria kemudian dimasukkan dalam satu kelas “khusus”. Di dalam kelas ini semua fasilitas pendukung, materi, dan metode pembelajaran sama dengan kelas lain. Yang membedakan para guru dan konselor lebih “matang” dibanding kelas lain. [Di kemudian hari kehadiran guru yang lebih matang ini ternyata bermanfaat, karena dengan "kelebihan" yang dimiliki siswa di kelas ini memunculkan kenakalan yang relatif  lebih cerdas untuk ukuran di jamannya]. Untuk kegiatan-kegitan yang bersifat seni, debat, atau sains hampir semua diwakili oleh siswa di dalam kelas ini.

Saat kenaikan ke kelas 2, kelas unggulan mengalami penyaringan. Siswa yang prestasinya kurang berkembang dikeluarkan. Lalu  juara 1, 2, dan 3 dari masing kelas paralel ditambahkan pada kelas unggulan. [Bandingkan dengan cara sekarang yang tidak ada model degradasi seperti ini].  Dengan pendampingan yang baik, siswa-siswa di kelas unggulan tahap 2 ini mengalami perkembangan yang baik di bidang pelajaran dan seni.

Namun cara tersebut tetap menyisakan satu hal, yaitu tingkat “sosialisasi” dengan siswa kelas lain yang relatif rendah. Untuk itu di tahun ke-3 (kelas 3), kelas unggulan ini kemudian “dibubarkan”, dan siswa-siswa unggulan tersebut ditempatkan secara merata dan terstruktur kedalam kelas-kelas yang berbeda. Faktanya di saat kelulusan, tetap saja siswa-siswa yang berasal dari kelas unggulan itulah yang medominasi nilai terbaik Ujian, dengan bonus tingkat sosialisasi yang homogen tanpa ada perbedaan “kecerdasan”.

2. Setali tiga uang. Siswa akselerasipun jaman dulu sudah ada. Tapi modelnya tidak paket “satu kelas cerdas” semua. Sampai luluspun bareng-bareng, seperti jaman sekarang.

Saat itu siswa SD yang “cerdas berlebih” mulai dipantau sepanjang tahun, mulai dari pertama kali masuk hingga kelas 5. Merekapun berada di dalam kelas-kelas regular. Saat guru dan wali kelas menganggap seorang siswa memiliki kelebihan setingkat dibanding teman sekelasnya, maka pihak sekolah akan menghubungi orang tua/wali murid. Kondisi tersebut akan didiskusikan secara matang untuk “lompat kelas” atau “lulus dini” (kelas 5).  Jika dirasa perlu si anak akan diajak bicara untuk memperkecil segala kerugian yang muncul dibelakang hari. Apabila dirasa cukup, si anak akan ditest untuk naik kelas lompatan atau lulus sebelum tahun akademik berakhir. Hal ini biasa dilakukan di pertengahan tahun.

Perbedaan signifikan dibanding sekarang adalah tidak ada “kelas akselerasi”  yang bersifat permanen dan berkelompok. Hal ini akan menguntungkan karena fakta membuktikan, tidak setiap anak yang mengikuti akselerasi  sebenarnya siap di seluruh mata pelajaran. Jika dia terikat “kontrak aksel”, maka dia akan terbebani sepanjang masa studinya untuk semua topik. Ada kendala sosialisasi dan wadah prestasi yang mungkin digeluti untuk pengembangan bakat dan jati diri. [Contohnya: Bagi anak SMA atau SMP yang ingin mengembangkan bidang seni, organisasi dan sains mereka memiliki waktu "edar" 1 (satu) tahun lebih sedikit]. Dengan model akselerasi individual yang bersifat non kelas, pihak sekolah juga akan lebih mudah memfasilitasi, tanpa ada perbedaan  ”kasta” dalam fasilitas, SDM, dan tata kelola.

[Masalahnya, mungkin tidak Diknas mengijinkan dan memfasilitasi adanya "lompat kelas" individual di luar kelas akselerasi yang resmi ?Jika homeschool yang bersifat "pribadi" bisa , kenapa lompat kelas individual tidak]

Jika kurikulum kita berbasis SKS seperti PT, sebenarnya segala model kelas unggulan bisa terakomodasi dengan minimal perbedaan. Tapi siapa juga yang mau SKS, di tengah kurikulum 2013 yang masih gamang.

Salam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Timnas U-23 dan Prestasi di Asian Games …

Achmad Suwefi | | 22 July 2014 | 13:14

Sindrom Mbak Hana & Mas Bram …

Ulfa Rahmatania | | 22 July 2014 | 14:24

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Beri 8 Milliar untuk Facebook! …

Tukang Marketing | 13 jam lalu

Selamat Datang Bapak Presiden Republik …

Ahmadi | 13 jam lalu

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 14 jam lalu

Jangan Keluar dari Pekerjaan karena Emosi …

Enny Soepardjono | 14 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: