Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Abanggeutanyo

Pengamat : Mengamati dan Diamati

Parpol Enak Jamanku To?, Rindu Kejayaan RI Zaman Soeharto?

OPINI | 22 June 2013 | 01:35 Dibaca: 2166   Komentar: 70   17

Sumber gambar : http://media.viva.co.id/thumbs2/2011/06/10/113080_soeharto-tengah-beristirahat-di-tengah-tengah-kunjungannya-ke-daerah_663_382.jpg

Sumber gambar : http://media.viva.co.id/thumbs2/2011/06/10/113080_soeharto-tengah-beristirahat-di-tengah-tengah-kunjungannya-ke-daerah_663_382.jpg

Banyak orang menilai masa Soeharto enak. Semua serba murah. Seluruh dimensi tatanan bernegara berjalan dengan baik.

Sementara di sisi lainnya tak kurang juga sejumlah orang menilai jaman Soeharto tak lebih dari masa-masa penyiksaan yang tidak berujung. Mereka memberi lebel Soeharto sebagai diktator, otoriter, kejam, bengis dan korup.

Hukuman masyarakat yang tidak puas terahdap Soeharto tak berhenti sampai di situ, mereka menghukum secara sosial keluarga Soeharto dan koleganya dengan prediket minor melalui sebutan “Kroni Soeharto.”


Waktu terus berjalan tak perduli siapapun pengganti Soeharto memimpin negeri ini. Lambat tapi pasti, satu per satu masyarakat mulai tergelitik nalurinya membandingkan masa kini dengan masa silam. Orang-orang yang -minimal- pernah masuk masa remaja pada akhir pemerintahan Soeharto, sedikit tidaknya pasti masih tersimpan memorinya tentang situasi negara dan masyarakat Indonesia dalam aneka dimensi pada masa Soeharto.

Sebagian masyarakat diam-diam mulai merindukan hadirnya sosok kepemimpian dan kondisi negara pada zamannya presiden Soeharto. Mereka mengekspresikan kerindun itu melalui aneka bentuk dan gaya. Salah satu gaya  kerinduan itu adalah ditemukan sejumlah lukisan mural berisi sentilan halus tapi tajam namun bergenre menghibur tentang gambar Soeharto.

Aneka tulisan (mural, graiti dan lukisan) menyentil, tajam sekaligus menghibur itu misanya “Enak dan Jamanku, to..?” atau “Pripun Kabare, Kepenak jaman ku to?” Masih banyak lagi lainnya dengan tulisan bernada sama tapi dengan tambahan kata-kata yang sedikit panjang sehingga tidak mudah atau tidak praktis untuk diiingat.

Enak Jamanku to, telah menjelma menjadi sebuah slogan yang mengakomodir sejumlah harapan pada masa kejayaan negara kita pada era Soeharto. Terlepas dari sejumlah kesalahan (kalau tak pantas disebut dengan kekonyolan) yang terjadi masa Soeharto berkuasa, harus diakui posisi negara dan bangsa Indonesia memang sedang jaya-jayanya.

Beberapa hal yang masih teringat di benak kita antara lain adalah :

  1. Soeharto menganut kebijakan Dwi Tujuan dengan memadukan keberhasilan bidang politik dengan bidang ekonomi. Meskipun itu berjalan akan tetapi belakangan muncul praktek KKN yang melibatkan kroni dan koleganya.
  2. Eksploitasi sumber daya alam secara ekstrim untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang stabil. Meskipun kenyataannya pertumbuhan ekonomi tidak merata dibeberapa daerah dengan daerah lainnya memang tak dapat dipungkiri benar terjadi.
  3. Memberdayakan peranan militer dalam pemerintahan untuk meningkatkan disiplin aparatur negara, meskipun tak dapat dipungkiri bahwa penempatan itu sekaligus melahirkan garis pemerintahan mirip komando militer ke dalam pemerintahan.
  4. Menindak tegas para pengacau keamanan termasuk preman dan jaringan-jaringan penacau keamanan meskipun kenyataannya kemudian mengarah kepada pelanggaran Hak Azasi Manusia dan kontraprodukti dengan prinsip-prinsip demokrasi.
  5. Memberi perhatian pada sektor pertanian dan nelayan serta usaha menengah ke bawah meskipun itu terkesan agar masyarakat tidak berpikir politik.
  6. Mengangkat derajat dan reputasi negara di mata negara tetangga (regional) dan internsional dalam bidang militer dan pertahanan meskipun hal itu menimbulkan persekongkolan dalam pengadaan perlengkapannya.
  7. Memberi peluang dan kemudahan bagi investor asing untuk menanam modal dan membuka pabrik atau berbisnis di Indonesia meskipun kemudian hari terdapat indikasi curang dengan tema “Ten Percent,” untuk mempermudah setiap urusan.
  8. Meredam setiap gejolak dalam negeri dengan cepat meskipun akhirnya ditemukan beberapa hal upaya itu kadang kala tidak tepat sasarannya.
  9. Menekan harga-harga kebutuhan pokok dan stablitas distribusinya dalam jangka waktu lama, termasuk menjaga harga dan disribusi BBM. Meskipun akhirnya hal tersebut menimbulkan jaringan pengadaan yang dimonopoli oleh kroni dan koleganya.
  10. Menciptakan dan mengutamakan kerukunan ummat beragama dan saling menghormati melalui azas Pancasila meskipun pada akhirnya Pancasila itu sendiri tidak pernah tertanam dengan seutuhnya dalam sanubari  pada sebagian masyarakat Indonesia.

Waktu terus berjalan hingga akhirnya empat presiden telah datang dan (akan) pergi silih berganti meninggalkan sejarahnya masing-masing.

Presiden B.J Habibie yang menggantikannya terkenal simpatik dan energik serta intelek. Beliau pun yang hanya berkuasa tak sampai 2 tahun harus mengalami penilaian tak sedap akibat dituduh terlibat dalam melepas provnisi Timor Timur (Timor Leste saat ini).

Presiden KH Abdurrahman Wahid atau Gusdur, terkenal kepiawaiannya dalam berdiplomasi dan merangkul lawan dan kawan. Sayangnya sejumlah nilai minor pun tak luput melekat pada beliau. Salah satunya beliau dinilai tidak berwibawa dan tidak konsisten dalam mengatur irama politik dalam negeri.

Megawati Soekarno Putri. Mewarisi titisan darah Presiden legendaris Indoensia (Soekarno) hebat dalam menggalang persatuan dengan tema-tema nasionalisme. Beliau pun tak lepas dari sorotan tajam, sinis bercampur minor akibat terlalu lemah dalam politik luar negerinya. Beberapa kalangan menilai Megawati lebih mementingkan kepentingan partainya ketimbang nasional.

Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) datang dengan sejumlah tema pro demokrasi dan kebebasan. Pada tahun pertama berkuasa periode perama beliau, sebagian bangsa Indonesia serasa menemukan kembali jati diri negara dan bangsa yang pernah hilang pada beberapa dekade sebelumnya. Masyarakat Indoensia menemukan harapan dan impian yang tak ternilai. Pada SBY bangsa kita mengadu dan menitipkan harapan dan impian dalam segala hal.

Akan tetapi tentu bukan SBY sendiri saja yang bertanggung jawab mengelola bangsa dan negara ini. Aneka kepentingan politik yang terdapat pada sejumlah menteri dalam kabinetnya dari aneka partai telah membuat SBY sendiri sangat dilematis dan konservatif dalam menjalankan kebijakannnya.

Belum lagi peranan DPR serta lembaga tinggi pemeintah lainnya yang banyak disusupi oleh kepentingan partai politik yang mengusung SBY telah membuat SBY seolah-olah berhutang budi pada mereka. Lambat tapi pasti sinar SBY pun mulai meredup dan tinggal melewati hari-harinya hingga berakhir ada Juli 2014 yang akan datang.

Empat presiden pasca Soeharto meninggalkan bangsa dan negaranya untuk selama-lamanya telah membuat sebagian bangsa di negara ini melakukan analisa perbandingan. Apa hasil yang mereka dapatkan dari perbandingan itu mungkin sangat subyektif, sama halnya dengan sebagian bangsa ini yang juga menilai sisi gelap Soeharto sebagai sesuatu yang tidak seluruhnya benar.

Lihatlah pada beberapa catatan pada rekord secara umum ke empat presiden yang mennggantikan Soeharto. Periksalah satu per satu apa yang menjadi sisi negatif Soeharto apakah terjadi pada masa presiden penggantinya?

Kita tentunya tidak melegalisasikan kesalahan apapun yang dibuat oleh seorang presiden dalam mempin negara dan bangsa ini. Akan tetapi dari sisi manusiawi kita yakin presiden adalah juga manusia. Tentu tidak ada presiden yang paling sempurna, bukan?

Akan tetapi secara keseluruhan dari empat presiden pengganti Soeharto jika kita mau jujur, sebenarnya apakah kita merindukan hadirnya kembali sisi positif dalam berbagai dimensi berbangsa dan bernegara seperti pada zaman Soeharto?

Jika benar diantara kita merindukan hadirnya kembali suasana dan kondisi sisi-sisi positi pada masa Soeharto, kemanakah kita menyalurkan aspirasi tersebut?

  • Menyalurkan aspirasi melalui tulisan, sudah biasa.
  • Menyalurkan aspirasi melalui mural dan grafiti ditembok-tembok dan bagian belakang bis umum, angkot dan truk, juga sudah biasa.
  • Menyalurkan aspirasi kerinduan masa Soeharto melalui pentas seni (Puisi dan Lagu) juga sudah amat sering tejadi.

Apakah semua itu mampu mengakomodir terpenuhinya rasa kerinduan pada masa silam? Jika tidak, rasa-rasanya perlu sebuah organisasi yang mampu memayungi masyarakat yang rindu jaman Soeharto. Mungkin saja jika suatu saat komunitas itu sudah besar, tumbuh dan berkembang,  ia akan menjadi sebuah partai politik yang menyalurkan aspirasi Enak Jamanku,To? Hehehehehehe….

Salam Kompasiana

abanggeutanyo

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Rafting Tidak Harus Bisa Berenang …

Hajis Sepurokhim | | 25 October 2014 | 11:54

10 Tanggapan Kompasianer Terhadap Pernikahan …

Kompasiana | | 25 October 2014 | 15:53

Dukkha …

Himawan Pradipta | | 25 October 2014 | 13:20

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 13 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 14 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 14 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Resep Kerupuk Seblak Kuah …

Dina Purnama Sari | 8 jam lalu

“Sakitnya Tuwh di Sini, di …

Handarbeni Hambegja... | 8 jam lalu

Kabinet Stabilo …

Gunawan Wibisono | 8 jam lalu

Sofyan Djalil dan Konsep yang Belum Tuntas …

Edy Mulyadi | 8 jam lalu

Dikelilingi Nenek-nenek Modis di Seoul, …

Posma Siahaan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: