Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Mba Adhe Retno Hudoyo

http://ouropinion.info/ dan http://retnohartati.8m.net/

Ijazah, Jual Ginjal, dan Vidio Kekerasan

REP | 29 June 2013 | 12:12 Dibaca: 2742   Komentar: 19   14

1372477123440067789

doc kompasiana/tempo/jamprehati

Masih ingat foto di atas, yang hari-hari belakangan ini menyentak dan menerobos masuk ke ruang publik Nusantara!? ada nuansa kemanusiaan, kesulitan, pemaksaan serta ketertindasan, dan juga berhubungan dengan dunia pendidikan. Karena ada foto tersebut, maka saya kemudian mencoba menelusuri apa-apa yang menjadikan mereka seperti itu.

Ternyata, hasil sedikit jerih payah itu, saya dapatkan hal-hal yang di luar dugaan serta diatas batas ambang kewajaran.

Tahun 2005, setelah lulus SD, Ayu masuk Pondok Al-Asiyyah Nurul Iman, Parung, Bogor; pada waktu itu, ia dan orang tuanya tertarik karena disebutkan bahwa semua biaya ditanggung pondok. Semuanya berjalan normal sampai tahun 2008, ketika Ayu tamat SMP dan 2011 lulus SMA di/dalam lingkungan Ponpes; kemudia dilanjutkan dengan pengabdian kepada almamater sampai tahun 2013, sekaligus kuliah selama dua bulan, juga di lingkungan Ponpes.

Sampai di sini, mungkin anda tertarik untuk mengetahu lebih jauh;!?  apa yang sebetulnya terjadi!? Tidak ada informasi yang detail tentang hal tersebut; akan tetapi, ada rangkaian rekaman vido yang sampai ke luar Ponpes di Youtube.


Di bawahnya ada catatan sebagai berikut, “Pimpinan pondok pesantren AL-ASHRIYAH NURUL IMAN Parung Bogor telah melakukan penamparan terhadap pengajar pada saat upacara disaksikan seluruh santri dan peserta upacara lainnya yang mana telah menjatuhkan harga diri dosen tersebut; Bos Pon Pes juga mengeluarkan kata kata yang tidak menyenangkan untuk para ustad, santri/wati. Kalimat yang tidak pantas keluar dari mulut pimpinan pondok tersebut dan meresahkan kepada tokoh masyarakat

[Vidio di atas, telah ada di Youtube sejak Februari 2013, akan tetapi, kemarin 28 Juni 2013, hanya di tonton oleh sekitar 4.000an orang; namun setelah di share ke Facebook, langsung mencapai di atas 10.000an orang; sementara Vido ini telah di tonton lebih dari 25 000an orang melaului Facebook dan mendapat tanggapan yang sangat beragam dari publik.]

1372477123440067789

doc kompasiana/tempo/jamprehati

Agaknya hal-hal (yang cuma sedikit dalam vidio) tersebutlah yang menjadi alasan adanya exodus dari Ponpes. Dengan alasa takut, (banyak) para santri/wati yang berniat meninggalkan pondok. Akan tetapi, niat tersebut terhalangi, karena dari pihak Ponpes, meminta kepada mereka yang mau keluar/pindah haru membayar ijazah SMP sebesar Rp 7 juta dan ijazah SMA Rp 10 juta; plus alasan lain yaitu, para santri harus menyelesaikan jenjang S-1 dulu baru boleh keluar. Di samping itu, juga harus membayar biaya Rp 20.000/hari selama 6 tahun di Ponpes.  Karena sikon seperti itu, maka ada yang memilih kabur dari tempat mereka menuntut ilmu (dari/di Pondok).

1372477123440067789

doc kompasiana/tempo/jamprehati

Singkat kisah, Ayu adalah adalah salah satu Alumni sekaligus korban dari Ponpes; ia telah memilih untuk keluar dari lingkungan Ponpes, akan tetapi tak bisa karena harus membayar ganti rugi sekian juta. Ayu dan ayahnya sudah berulang kali datang ke Ponpes untuk meminta ijazah, akan tetapi tanpa hasiol apa-apa. Bahkan, Sugianto, ayah Ayu, telah  mengadukan permasalahannya ke berbagai pihak, termasuk Komnas HAM sudah, Kemenag, dan instansi lain, namun semunya sama, tanpa solusi.

Dalam sikon dan latar seperti itulah, maka mereka melalukan terobosan dengan jalan menjual ginjalAksi usaha cari dana ala Ayah dan anak ini, langsung mendapat respons dari berbagai pihak, termasuk Gubernur DKI. Sekali  lagi mendapat suguhan dari realitas dari/dan yang ada pada Institusi Pendidik, dhi Ponpes yang menawarkan peindidikan gratis.

Gaung dari rencana jual ginjal untuk menebus ijazah tersebut, ternyata berdampak baik untuk Syara Meilanda Ayu binti Sugiyanto; Kemendikbud yang akan mengambil ijazah Ayu dari Ponpes; di samping itu Ayu, akan mendapatkan beasiswa Bidik Misi dari Kemendikbud, (akan tetapi bukan berarti, Intitusi Pendidikan lainnya, boleh menahan ijazah dan kemudian ditebus oleh Kemendikbud).

Di balik kabar baik tersebut, apa yang bisa atau nantinya yang dilakukan oleh Kemendikbud dan Kemenag terhadap Ponpes yang menahan Ijazah serta melakukan hal-hal yang tak sepatutnya (seperti ada dalam/pada vidio) tersebut.

Atau, kita cuma prihatin karena hanya ada keprihatinan dari pihak-pihak yang terkait.

1372477123440067789

doc kompasiana/tempo/jamprehati

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Keuntungan Minum Air Mineral di Pagi Hari …

Vitalis Vito Pradip... | 11 jam lalu

Perbandingan Cerita Rakyat Ande-ande Lumut …

Kinanthi Nur Lifie | 11 jam lalu

Kalau Nggak Macet, Bukan Jakarta Namanya …

Seneng Utami | 11 jam lalu

Merdeka Tapi Mati! …

Engly Ndaomanu | 12 jam lalu

‘Jujur dan Benar dalam Pola …

Asep Rizal | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: