Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Uil Urbasa

uil urbasa mahasiswa UMS

Matematika

OPINI | 01 July 2013 | 01:17 Dibaca: 122   Komentar: 0   0

Uil urbasa

MATEMATIKA

Matematika mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu, yang dapat memajukan proses berpikir manusia yang profesional. Sehingga, matematika dikatakan sebagai ilmu universal yang mendasari perkembangan modern atau ibu ilmu. Dengan demikian, jangan heran kalau matematika diberikan kepada siswa semenjak masuk sekolah dasar.

Contoh kongkrit kenapa matematika dikatakan sebagai ilmu ibu,yaitu: setiap orang yang mengikuti pendidikan dari SD,SMP, dan SMA pasti tahu bahkan sudah belajar mata pelajaran biologi, fisika, kimia, geografi, ekonomi. Nah, di dalam beberapa pelajaran ini terdapat adanya pokok bahasan yang berkaitan dengan perhitungan. Sementara, yang telah kita ketahui bahwa yang namanya berhitung adalah pelajaran matematika. Itu berarti bahwa, matematika sangat berperan penting atau sebagai dasar bagi kita untuk mempelajari pelajan-pelajaran lain.

Dan jika, dasar perhitungan atau matematika kita lemah, otomatis ini sangat mempengaruhi kita untuk sulit melangkah atau mempelajari pelajaran-pelajaran lain yang bekaitan dengan matematika. Contoh lainnya adalah dalam kehidupan kita sehari-hari, kita membutuhkan waktu dan itupun kita menghitungnya. Jadi, dapat disimpulkan bahawa jika ada seseorang tidak belajara matematika dan menyebabkannya tidak tahu tentang perhitungan, maka tentu suasah bagi dirinya dalam menjalani kehidupannya.

Karena dalam sepanjang kehidupan kita, sangat membutuhkan cara berpikir yang logis, profesional dalam mengambil sebuah keputusan yang menentukan atau menciptakan kehidupan yang beradab atau lebih baik.

Berikut adalah pengertian matematika menurut beberapa ahli, yaitu:

1. Tri Wijiyanto 2011, menyebutkan bahwa matematika adalah ilmu tentang kuantitas, bentuk, susunan, dan ukuran.

2. Erman Suherman 2001, menyebutkan matematika berarti ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar, ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, konsep- konsep yang berhubungan dengan jumlah yang banyak yang terbagi ke dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis, dan geometri.

3. Destiana Vidya Prastiwi 2011, mendefinisikan bahawa matematika jelas berbeda dengan mata pelajaran lain dalam beberapa hal berikut, yaitu objek pembicaraannya abstrak, sekalipun di sekolah anak diajarkan benda kongkrit, siswa tetap didorong untuk melakukan abstraksi; pembahasan mengandalkan tata nalar, artinya info awal berupa pengertian dibuat seefisien mungkin, pengertian lain harus dijelaskan kebenarannya dengan tata nalar yang logis; pengertian/konsep atau pernyataan sangat jelas berjenjang sehingga terjaga konsistennya; melibatkan perhitungan (operasi); dapat dipakai dalam ilmu yang lain serta dalam kehidupan sehari-hari.

Namun ada pula kelompok lain yang beranggapan bahwa matematika adalah ilmu yang dikembangkan untuk matematika itu sendiri. Ilmu adalah untuk ilmu, dan matematika adalah ilmu yang dapat dikembangkan untuk matematika itu sendiri. Selain itu, matematika juga merupakan ilmu tentang struktur yang bersifat deduktif atau aksiomatik, akurat, abstrak ,dan ketat.

Dari definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa matematika merupakan ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, represetasinya dengan lambang-lambang atau simbol dan memiliki arti serta dapat digunakan dalam pemecahan masalah yang berkaitan dengan bilangan.

Berdasarkan pernyataan di atas, maka tidak ada lagi hambatan atau alasan bagi peserta didik yang merupakan harapan bangsa, untuk harus lebih giat belajar matematika. Untuk melancarkan proses belajar matematika kepada peserta didik, maka ini sangat membutuhkan rasa ingin belajar yang tinggi dari peserta didik. Karena belajar merupakan faktor terpenting dalam mengetahui matematika. Dalam bukunya Hilgar (Mudjijana,2002) mengatakan bahwa belajar merupakan proses yang aktif untuk membangun pengetahuan dan ketrampilan siswa. Depdiknas (Mudjijana, 2002) menyatakan bahwa belajar sebagai kegiatan yang menghasilkan perubahan tingkah laku pada diri individu yang sedang belajar, baik potensial maupum aktual.

Selain siswa harus memiliki keinginan untuk belajar, begitu pula seorang guru yang akan atau sedang mengajar harus seorang guru yang profesional. Dalam mengajar tidak semudah yang dipikirkan, sebab seorang guru sama seperti seorang dokter yang harus mencari atau memberikan obat yang cocok dengan penyakit yang diderita oleh pasiennya supaya mengalami pemulihan.

Jadi, seorang guru ketika mengajar harus menciptakan suasana kelas yang nyaman bagi siswa,dengan mengunakan strategi atau metode pembelajaran yang diikut sertakan dengan media atau alat peraga yang sesuai dengan materi yang sedang diajarkan, hingga siswa dapan menyentuh secara langsung, hingga mudah bagi siswa untuk mengerti apa yang sedang dipelajari.

Dengan demikian, dapat mencipatakan kelas belajar yang kondusif serta memberikan atau membuat siswa selalu ingin belajar matematik. Maka terciptalah penerus bangsa yang berpikir kritis, profesional dan berpotensi, berdedikasi yang tinggi.

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa, matematika merupakan proses di mana siswa secara aktif mengkonstruksi pengetahuan matematika. Karena matematika merupakan salah satu penentu hidup bagi setiap orang yang ingin kehidupannya sukses, dan juga menciptakan warga negara yang berkreatif dalam segala bidang. Maka, bukan hanya berdampak positif pada dirinya sendiri, melainkan berdampak juga kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.

Ketika didapati orang yang demikian, baik siswa maupun seorang guru yang profesional, maka dengan terus-menerus akan mempengaruhi bibit-bibit yang baru atau penerus-penerus bangsa yang baru dan akan berdampak positif pada negara kita. Dengan terciptanya guru-guru yang profesional, maka proses belajar matematika dapat dioptimalkan dalam arti akan terjadi internalisasi pada diri siswa tersebut, yaitu suatu keadaan di mana pengalaman yang baru dapat menyatu ke dalam struktur kognitif siswa.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

ISIS: Dipuja atau Dihindari? …

Baskoro Endrawan | | 26 July 2014 | 02:00

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Legitimasi Pilpres 2014, Gugatan ke MK dan …

Michael Sendow | 8 jam lalu

Risma dan Emil Lebih Amanah Dibanding …

Leviana | 8 jam lalu

Analisis Prosedur Sengketa Hasil Pilpres …

Muhammad Ali Husein | 9 jam lalu

Jokowi: The First Heavy Metal’s …

Severus Trianto | 11 jam lalu

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: