Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Nur Jannah06

Lahir di Sorong pada tanggal 06 November 1990. Mahasiswi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Motivasi Bagian dari Faktor-faktor Penentu dalam Pembelajaran Bahasa Kedua

REP | 03 July 2013 | 20:36 Dibaca: 1251   Komentar: 0   0

Dalam proses pemerolehan bahasa kedua salah satu aspek yang berperan penting adalah motivasi. Adapun pengertian motivasi menurut Makmun (2007: 37) adalah suatu kekuatan (power) atau tenaga (forces) atau daya (energy) atau suatu keadaan yang kompleks (a complex state) dan kesiapsediaan (prepatory set) dalam diri individu (organisme) untuk bergerak (to move, motion, motive) ke arah tujuan tertentu, baik disadari maupun tidak disadari.

Dalam pembelajaran bahasa kedua ada asumsi yang menyatakan bahwa orang yang di dalam dirinya ada keinginan, dorongan, atau tujuan yang ingin dicapai dalam bahasa kedua cenderung akan lebih berhasil dibandingkan dengan orang yang belajar tanpa dilandasi oleh suatu dorongan, tujuan, atau motivasi itu (Chaer, 2009: 251).

Jenis-jenis motivasi dalam belajar menurut Yamin (2011: 234), yakni motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik merupakan kegiatan belajar yang tumbuh dari dorongan dan kebutuhan seseorang tidak secara mutlak berhubungan dengan kegiatan belajarnya sendiri. Motivasi intrinsik merupakan kegiatan belajar dimulai dan diteruskan, berdasarkan penghayatan sesuatu kebutuhan dan dorongan yang secara mutlak berkaitan dengan aktifitas belajar.

Menurut Gardner dan Lambert (1972: 3) dalam Chaer (2009: 251) motivasi yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa kedua mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi integratif dan fungsi instrumental. Motivasi berfungsi integratif kalau motivasi itu mendorong seseorang untuk mempelajari suatu bahasa karena adanya keinginan untuk berkomunikasi dengan masyarakat penutur bahasa itu atau menjadi anggota masyarakat bahasa tersebut. Sedangkan motivasi berfungsi instrumental kalau motivasi itu mendorong seseorang untuk memiliki kemauan mempelajari bahasa kedua itu karena tujuan yang bermanfaat atau karena dorongan ingin memperoleh suatu pekerjaan atau mobilitas sosial pada lapisan atas masyarakat tersebut.

Upaya membangkitkan motivasi belajar siswa menurut Sanjaya (2009: 261) yaitu dengan memperjelas tujuan yang ingin dicapai, membangkitkan minat siswa, menciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar, berilah pujian yang wajar setiap keberhasilan siswa, berikan penilaian, berilah komentar terhadap hasil pekerjaan siswa, dan ciptakan persaingan dan kerja sama yang dapat memberikan pengaruh yang baik untuk keberhasilan proses pembelajaran siswa.

Hasil penelitian para pakar mengenai motivasi dalam pembelajaran bahasa kedua ini memang sangat berbeda dan berlainan. Gardner dan Lambert (1959) yang mengadakan penelitian di Monterial menyatakan bahwa motivasi integratif lebih penting dari motivasi instrumental. Namun dalam penelitian mereka yang lain (Gardner dan Lambert, 1972) terbukti tidak ada hubugan signifikan antara motivasi integratif degan penguasaan bahasa. Chihara dan Oller (1972) yang meneliti pembelajaran bahasa inggris di jepang, menyimpulkan adanya sedikit korelasi antara sikap dan kemampuan berbahasa. Sedangkan hasil penelitian Lukmani (1972) menyimpulkan bahwa motivasi instrumental lebih berperan dari pada motivasi integratif. Hasil penelitian Lukmani ini didukung oleh hasil penelitia Gardner dan Lambert (1972) di Philipina (Theresia Rettob, 1990).

Objek Penerapan Teori Motivasi Dalam Pembelajaran Bahasa Kedua,

Pada Siswa Kelas 6 SD Inpres 118.

Dalam pembelajaran bahasa inggris yang merupakan bahasa kedua bagi siswa kelas 6 SD Inpres 118 menurut salah satu guru yang mengajar disana mengatakan bahwa motivasi siwa dalam belajar bahasa inggris beragam. Ada yang sangat excited (semangat), biasa-biasa saja ada juga yang terkesan malas untuk belajar bahasa inggris.

Dengan adanya beragam reaksi dan motivasi dalam pembelajaran bahasa inggris tentu didasarkan oleh faktor yang beragam pula. Bagi siswa yang semangat ketika proses belajar bahasa inggris, rata-rata mereka yang memiliki kemampuan yang baik dalam belajar bahasa inggris, sementara mereka yang bereaksi biasa-biasa saja bahkan cenderung malas, mereka memiliki kemampuan yang kurang atau kesulitan dalam memahami pelajaran bahasa inggris.

Melihat beragam reaksi tersebut, guru yang mengajarkan bahasa inggris berusaha memberikan motivasi dengan cara berusaha semaksimal mungkin membuat proses belaja bahasa inggris semenyenangkan mungkin bagi mereka, dan terus meyakinkan siswa bahwa bahasa inggris bukanlah pelajaran yang sangat sulit seperti kebanyakan siswa asumsikan selama ini. Guru menggunakan media pembelajaran yang menarik, serta mengaitkan materi ajar dengan hal-hal yang menarik bagi siswa. Dengan cara tersebut diharapkan akan meningkatkan motivasi siswa, sehingga meningkat pula keberhasilan siswa dalam bahasa inggris, yang merupakan bahasa kedua.

Namun walaupun telah melakukan hal-hal yang positif dalam upaya meningkatkan motivasi dan semangat siswa, masih saja terdapat beberapa siswa yang belum sepenuhnya aktif, sehingga hasil belajarnya pun tidak mengalami perubahan yang signifikan kearah yang lebih baik. Dalam menghadapi hal ini guru berusaha untuk memberikan perhatian khusus juga kesabaran lebih dalam membimbing dan mengajari siswa. Salah satunya dengan cara siswa sering ditanya-tanya dan diajak mengobrol oleh guru. Guru berusaha mengetahui permasalahan siswa dan berupaya mencari solusinya.

Motivasi merupakan keseluruhan tujuan pembelajar dalam mempelajari bahasa kedua. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi berkorelasi positif dengan keberhasilan belajar Bahasa kedua. Semakin besar motivasi seseorang dalam mempelajari bahasa kedua akan semakin besar kemungkinan keberhasilan seseorang dalam menguasai bahasa tersebut. Di lain pihak, pembelajar Bahasa kedua yang tidak mempunyai motivasi akan sulit mencapai keberhasilan dari pembelajarannya. Jadi, motivasi, apapun jenisnya, merupakan salah satu faktor yang berperan dalam mempengaruhi keberhasilan pembelajaran Bahasa kedua.

Referensi :

Chaer, Abdul. (2009). Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Harras, Kholid A. dan  Andika Dutha Bachari. (2009). Dasar-dasar Psikolinguistik. Bandung: UPI PRESS.

Makmun, Abin Syamsuddin. (2007). Psikologi Kependidikan: Perangkat Sistem Pengajaran Modul. Bandung: PT Remaja RosdaKarya.

Sanjaya, Wina. (2009). Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana.

Yamin, Martinis. (2010). Kiat Membelajarkan Siswa. Jakarta: Gaung Persada Press.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Merawat Identitas Melalui Karya Seni …

Khus Indra | | 23 September 2014 | 11:34

Menemukan Pembelajaran dari kasus Habibi dan …

Maria Margaretha | | 23 September 2014 | 03:26

Ke Mana dan di Mana Mantan Penghuni …

Opa Jappy | | 23 September 2014 | 08:58

Pak Jokowi, Jangan Ambil Kepala Daerah Kami …

Felix | | 23 September 2014 | 10:00

[Studio Attack] Mau Lihat Geisha Latihan …

Kompas Video | | 23 September 2014 | 11:00


TRENDING ARTICLES

Ini Kata Anak Saya Soal 4 x 6 dan 6 x 4 …

Jonatan Sara | 3 jam lalu

PR Matematika 20? Kemendiknas Harus …

Panjaitan Johanes | 5 jam lalu

Kesamaan Logika 4 X 6 dan 6 X 4 Profesor …

Ninoy N Karundeng | 5 jam lalu

Cara Gampang Bangun ”Ketegasan” …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Ramping Itu Artinya Wamen dan Staff Ahli …

Den Bhaghoese | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Pak Menteri, Tolong Hentikan Nyiksa Anak SD …

Prabu Bolodowo | 8 jam lalu

Dari Pelukis Jalanan, Becak Indonesia dan …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Memecah Kontroversi RUU Pilkada …

Daryani El-tersanae... | 8 jam lalu

Kodam Jaya Terlibat Serbuan Teritorial ke …

Simon | 8 jam lalu

“Quantum Leap eSeMKa” …

Tjhen Tha | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: