Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Iswekke

Membaca dengan bertualang untuk belajar mencintai Indonesia...

Jurnal Pendidikan Tinggi yang Memprihatinkan

OPINI | 15 July 2013 | 08:45 Dibaca: 402   Komentar: 6   6

Berapa jumlah jurnal terakreditasi Dikti Kemendikbud di kawasan timur Indonesia (KTI)? Terminilog KTI ini mencakup Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi sampai ke Papua melalui Maluku. Dari puluhan provinsi itu yang masing-masing terdapat di dalamnya satu atau bahkan lebih perguruan tinggi. Ada juga perguruan tinggi Agama Islam yang dikoordinir Kementerian Agama.

Hanya ada SATU. Tidak lebih. Jurnal itu dikelola di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin, Makassar. Selebihnya tidak ada. Hurnal Pemikiran Islam al-Fikr, terakreditasi sejak 2010. Tahun ini akan menempuh re-akreditasi. Sistem akreditasi jurnal pola Kemendikbud sebelum 2013 jangka waktu akreditasi selama tiga tahun. Setelah itu harus dilakukan proses reakreditasi dengan prosedur yang sama ketika pertama kali diakreditasi.

Apa memang susah punya jurnal terakreditasi?

Dalam praktiknya susah. Buktinya, dengan kawasan yang luas itu dan ditambah jumlah perguruan tinggi yang tidak bisa dikatakan kurang, ternyata hanya ada satu jurnal terakreditasi. Berarti ada kepemimpinan di perguruan tinggi yang tidak memberikan arah yang jelas bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Padahal, jurnal adalah sarana untuk memberikan dorongan agar civitas akademika senantiasa terlibat dalam aktivitas keilmuan terkini. Jurnal sebagai publikasi berkala dan membahas keilmuan yang lagi trend, akan memberikan dampak bagi kalangan kampus untuk senantiasa membangun komunikasi dengan masyarakat keilmuan yang ada dalam rumpunnya. Ini menjadi penting agar tidak ketinggalan informasi. Maka, di kelas-kelas pembelajaran, dosen senantiasa akan menyampaikan proses keilmuan yang mutakhir. Bukan ilmu yang sekedar dari waktu ke waktu sama saja.

Kalau kemudian seorang pimpinan punya komitmen untuk memberikan wadah kecendekiawanan kepada kalangan kampus, maka mudah saja. Untuk kebutuhan operasional pengelolaan jurnal dapat didukung dengan dana yang memadai. Hanya saja, tidak semua pimpinan punya perspektif tentang ini. Lebih banyak mereka berpikir tentang pagar yang indah, selokan dan pengadaan lainnya. Jurnal tidak dipandang sebagai mercusuar keilmuan. Semata-mata ukuran yang digunakan adalah sarana fisik yang tampak dan terlihat orang ramai.

Sementara perpustakaan tidak terisi dengan buku-buku yangberkualitas. Pengadaan bukupun yang penting banyak dan tidak melihat siapa pengarangnya serta dari mana penerbitnya. Semata-mata hanya jumlah. Tidak pada kualitas buku. Apalagi langganan surat kabar dan majalah ilmiah. Itu semua tidak ada terlintas dalam benak pimpinan beberapa perguruan tinggi. Kalau jurnal, hampir semuanya tidak ada yang berlangganan.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Untuk mengatasi krisis jurnal terakreditasi ini ada beberapa hal yang harus dilakukan pimpinan perguruan tinggi. Pertama, membentuk tim orang-orang yang peduli akan jurnal. Di perguruan tinggi bisa saja ada tim 10 atau tim 5 yang fokus untuk mendorong adanya jurnal terakreditasi.

Kedua, tim yang ada dilatih dan diberikan kemudahan untuk meningkatkan keterampilannya. Perlu dikirim secara berkala untuk mengikuti pelatihan dengan fokus pada penguasaan menyunting artikel, manajemen berkala ilmiah. Termasuk di dalamnya pengunaan teknologi informasi untuk penyebarluasan jurnal. Ini juga akan berfungsi sekaligus dalam pengelolaan open access journal untuk indeks ke Scopus, ISI dan institusi yang mengkhususkan dalam indeks tersebut.

Ketiga, perlu kerja berjaringan. Maka, perguruan tinggi yang memiliki hasrat untuk mewujudkan jurnal terakreditasi perlu bekerja sama. Saling mendukung, juga berbagi informasi yang ada. Perkembangan terkini dan terobosan teknologi informasi yang ada senantiasa dikomunikasikan sehingga dapat mencapai tujuan bersama.

Keempat, tidak kalah pentingnya adalah ketersediaan artikel. Dengan demikian dosen-dosen di setiap program studi perlu dilatih melalui “Pelatihan Penulisan Artikel Jurnal”. Hasil akhir pelatihan ini adalah tersedianya artikel jurnal untuk dapat dimuat dalam jurnal tersebut. Untuk mencapai standar atau kualifikasi yang diinginkan, dapat saja setiap dosen didampingi oleh dosen yang lain untuk bersama-sama menulis artikel. Saling memberi dukungan berupa saran dan referensi sehingga artikel yang ada merupakan artikel hasild ari kerja kelompok.

Kelima, semua itu memerlukan anggaran. Sehingga alokasi dana dan fasilitas yang memungkinkan untuk berkarya perlu disiapkan. Dengan kemudahan untuk menjalankan program-program yang ada, maka tentu akan dihasilkan sebuah jurnal yang sesuai dengan kelayakan akreditasi Dikti (direktorat pendidikan tinggi) Kemendikbud.

Catatan Akhir

Tidaklah mustahil untuk mewujudkan sebuah jurnal terakreditasi. Paling utama, pedoman yang ada sudah tersedia dengan standar dan kriteria yang dapat dicapai. Ini sebagai kejelasan arah yang harus dilakukan. Setelah penguasaan terhadap aturan, maka tinggal mengikuti aturan yang ada. Namun demikian, jurnal bukanlah tujuan. Tujuan akhir sesungguhnya adalah terselenggaranya aktivitas kecendekiawanan untuk mendorong kemajuan ilmu pengetahuan. Jurnal hanyalah sasaran, sekaligus sebagai wahana.

Jika ini dilakukan, maka kegairahan dalam proses belajar mengajar akan berlangsung. Dosen kemudian akan memperoleh keterampilan meneliti dan kemudian menjadikan kelas sebagai proses untuk menyebarluaskan pengetahuan yang didapatkan melalui penelitian. Supaya masyarakat ilmiah dapat membaca penelitian itu, maka artikel jurnal sebagai salah satu pilihan bentuk publikasi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Reportase Festival Reyog Nasional XXI Hari …

Nanang Diyanto | | 21 October 2014 | 17:45

Rodhi, Pelukis Tunadaksa Ibu Negara, Titisan …

Maulana Ahmad Nuren... | | 21 October 2014 | 17:36

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Kok, Jokowi Lari di Panggung? …

Gatot Swandito | | 21 October 2014 | 10:26

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Siapa Sengkuni? Amien Rais, Anda Atau Siapa? …

Erwin Alwazir | 9 jam lalu

Anang Hermansyah Hadiri Pesta Rakyat, Ahmad …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

Jokowi Membuatku Menangis …

Fidiawati | 10 jam lalu

Makna Potongan Tumpeng Presiden Jokowi bagi …

Kanis Wk | 11 jam lalu

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Bersih Dusun Playen I dan II dari Kirab …

Tulus Jokosarwono | 7 jam lalu

“Ketika Rintik Hujan Itu Turun di …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Inilah Pemenang Blog Reportase Test Ride …

Kompasiana | 8 jam lalu

Taman Lalu Lintas Bandung yang Sepi …

Dewilailypurnamasar... | 8 jam lalu

Teawalk: Olahraga Sederhana yang Menyehatkan …

Dewilailypurnamasar... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: