Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Gustaaf Kusno

A language lover, but not a linguist; a music lover, but not a musician; a selengkapnya

Buku Komik, Musuh Bersama Ortu Zaman Dulu

OPINI | 07 August 2013 | 15:22 Dibaca: 388   Komentar: 10   2

13814871491092628380

Komik Morina karya Taguan Hardjo (ilust carrotacademy.com)

Di era tahun 60-70an, ada suatu benda yang sangat disukai anak sekolah, tetapi yang paling dimusuhi oleh orangtua yaitu buku komik. Ada beberapa alasan yang menjadi dasar penentangan keras dari orangtua, misalnya gara-gara anak terlalu asyik membaca komik, maka nilai rapor pelajaran di sekolah menurun. Alasan lain, komik dikambing-hitamkan sebagai penyebar ajaran moral yang rendah, sehingga segala kenakalan anak selalu dihubungkan dan ditudingkan ke buku komik yang menurut mereka memberi pengaruh negatif.

Tak mengherankan, di zaman itu, anak-anak selalu mencuri-curi membaca buku komik. Karena uang saku yang diberikan orangtua cekak, maka mereka saling barter buku komik dengan teman-teman sekolah secara klandestin, persis seperti pasukan gerakan bawah tanah yang tanah airnya sedang diduduki oleh musuh. Resiko ketangkap basah membaca komik sudah terbayang, buku komik ini langsung disita oleh orangtua dan tak akan dikembalikan lagi (dijual bersama dengan koran bekas ke tukang loak atau dibakar di tempat). Tiada kamus pengampunan dan rasa kasihan dari orangtua, sekalipun sang anak menangis mengiba supaya buku komiknya jangan dimusnahkan. Prinsip pendidikan orangtua zaman itu adalah ‘spare the rod, spoil the child’ (kalau bersikap lunak pada anak, justru akan merusak akhlak anak itu).

Mengilas balik (flashback) ke masa itu, saya ingin membuat sejumlah catatan kecil. Saya ingin mengatakan bahwa justru dari buku komik ini, wawasan dan cakrawala pandang sebagai anak diperluas. Di masa itu, komik dalam negeri yang beredar misalnya serial Mahabharata yang dilukis oleh R.A. Kosasih. Juga ada serial Kapten Yani yang digambar oleh Taguan Hardjo. Yang unik dalam keluarga saya, bapak dan ibu mempunyai pandangan yang berseberangan dalam hal buku komik ini. Ibu saya sangat anti dengan buku komik, tetapi bapak secara diam-diam berpihak pada saya. Jadi kalau ada serial Mahabharata baru yang terbit, dan terlihat dipajang di toko buku yang saya lewati pada saat dibonceng dengan sepeda motor pulang sekolah, saya tinggal menggamit bapak untuk mampir membeli komik ini.

Setiap kali membeli buku komik baru ini, bapak selalu memincingkan mata sebagai kode agar hal ini dirahasiakan pada ibu. Sekali tempo, omerta ini ketahuan juga oleh ibu. Biasanya bapak yang dapat omelan lebih banyak daripada saya, meskipun saya juga tak lepas dari ultimatum harus menunjukkan prestasi rapor yang bagus sebagai bukti bahwa komik tak membuat saya jadi malas belajar. Buat saya, buku-buku komik ini sama seperti harta karun (treasure), yang semuanya saya sampul dengan rapi dan saya susun dengan necis dalam lemari buku. Kala itu belum ada sampul buku ready made, jadi saya memotongnya dari kertas minyak (kertas roti) dengan teknik yang barangkali tidak diakrabi lagi oleh anak-anak generasi sekarang.

Komik-komik ini saya baca ulang manakala saya sudah selesai menyelesaikan tugas pekerjaan rumah dan menghapal untuk ulangan keesokan harinya. Karenanya, generasi sepantaran dengan saya, banyak yang akrab dengan tokoh-tokoh perwayangan Mahabharata, dengan keluarga Pandawa Lima dan Kurawa. Juga wawasan saya terbuka lebar, karena membaca komik-komik karya Taguan Hardjo yang begitu indah goresan penanya. Ada komik ‘Mencari Musang Berjanggut’, ‘Morina’ (dengan latar belakang perang kerajaan Aceh dengan Portugis), ‘Setangkai Daun Surga’ (kisah klasik di negara Arab), ‘Keulana’ dan banyak lagi.

Komik-komik yang lahir setelah generasi saya sudah jauh berbeda ‘genre’nya. Sebagian besar komik ini dimonopoli oleh komikus Jepang. Goresan penanya juga jauh berbeda. Yang cukup mengherankan, orangtua zaman sekarang tidak lagi menganggap komik sebagai ‘ancaman’ bagi pendidikan sekolah anak-anaknya. Mungkin karena ancaman (bahaya laten) ini justru datangnya dari permainan game. Memang kalau diamati, game ini lebih membuat anak kecanduan, lupa makan, lupa tidur, dan terlebih-lebih lupa belajar. Sampai saya pernah dengar cerita, ada seorang ibu yang terpaksa berhenti dari pekerjaan untuk mengawasi anaknya yang ‘gila game’. Saya pikir mungkin orangtua saya dahulu juga mempunyai kecemasan yang sama, bahwa anaknya jadi ‘gila komik’ sehingga lupa daratan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Peringatan HUT PGRI di Kota Ambon …

Shulhan Rumaru | | 26 November 2014 | 15:04

Bedanya 2 Orang Terkaya Indonesia vs China …

Ilyani Sudardjat | | 26 November 2014 | 10:40

Nangkring bareng Litbang Kementerian …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 19:25

Minta Maaf Saja Tidak Cukup, PSSI! …

Achmad Suwefi | | 26 November 2014 | 11:53

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Ini Kata Menpora Terkait Gagalnya Timnas …

Djarwopapua | 5 jam lalu

Teror Putih Pemecah Partai Politik …

Andi Taufan Tiro | 5 jam lalu

Pak JK Kerja Saja, Jangan Ikutan Main di …

Hanny Setiawan | 6 jam lalu

Kisruh Golkar, Perjuangan KMP Menjaga …

Palti Hutabarat | 11 jam lalu

Golkar Lengserkan Aburizal Bakrie, Babak …

Imam Kodri | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Maaf Anang, Aurel Tak Punya Suara dan Aura …

Arief Firhanusa | 7 jam lalu

“Tamatan Malaysia” Rata-rata Sakit Jiwa …

Pietro Netti | 8 jam lalu

“Operasi Intelejen” Berhasil …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Kesenjangan Antara Gaji Guru Honerer dan PNS …

Ufqil Mubin | 8 jam lalu

Menciptakan Kebajikan …

Daniel Suchamda | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: