Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Makna Syawal

OPINI | 09 August 2013 | 19:46 Dibaca: 931   Komentar: 0   1

Bulan Syawal, Bulan ini dalam penanggalan atau Kalender Hijriah islam, adalah bulan ke-10. Arti kata syawal adalah naik, ringan, atau membawa (mengandung). Disebut demikian karena dahulu, ketika bulan-bulan hijriyah masih ‘disesuaikan’ dengan musim (praktek interkalasi), suhu meningkat karena berada pada musim panas seperti halnya Ramadhan. Selain itu, biasanya orang Arab mengamati bahwa pada bulan inilah unta-unta mengandung atau menaikkan ekornya sebagai tanda tidak mau dikawini. Karenanya, orang Arab juga memiliki kepercayaan bahwa bulan ini ‘tidak baik’ dan melihat pernikahan di bulan Syawal akan berakhir sial. Kepercayaan ini dihapus oleh islam dengan peristiwa pernikahan Nabi Muhammad saw.

bulan syawal juga berada setelah bulan ramadhan dimana bulan ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, rahmat serta idkuminannar, dimana khususnya umat muslim digembleng langsung oleh Allah, nah dari arti kata diatas saja kalaulah kita memang ingin mendapatkan petunjuk dari Allah maka bukanlah suatu kebetulan semata. bulan ini juga terkenal dengan hari dimana kita meraih kemenangan setelah melaksanakan pertempuran melawan jin, syetan, iblis yang ingin menggoda manusia, dan dibulan ini pula konon katanya manusia menjadi seperti bayi yang baru dilahirkan.

syawal dalam arti kata.

NAIK. RINGAN, MEMBAWA (mengandung), berbicara kata naik maka pikiran kita akan berasumsi dari tempat rendah ketempat yang tinggi artinya ada step-step atau bagian yang harus kita lewati dan kita tinggalkan, tidak akan mungkin kita naik tanpa melewati yang rendah terlebih dahulu, nah inilah yang Allah maksudkan setelah manusia dididik dalam bulan ramadhan Allah menginginkan manusia yang telah mencicipi institusi ilahi dibulan ramadhan tersebut naik tingkat atau derajat  dimataNYA, dengan cara terus meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah. dibulan ramadhan manusia diajarkan untuk meningkatkan shalat dimalam hari, maka setelah keluar dibulan ramadhan seharusnya tingkat shalatnya terus dinaikkan, akan tetapi jika dibulan ramadhan shalat malam mampu dilaksanakan, setelah keluar dari ramadhan shalat malam semakin malas alias berat dan tidak ada kekuatan dengan berbagai alasan, bisa dipastikan derajat manusia tersebut masih stagnasi dan bisa dikatakan gagal di bulan ramadhan. ramadhan juga mengajarkan agar manusia mampu untuk menahan lapar dan dahaga, bukankah lapar dan dahaga adalah lambang dari kebutuhan perut manusia,  maka bukti dari keberhasilan tersebut sikapnya terhadap dunia ini tidak terlalu dominan, tidak terlalu menggebu-gebu dengan kehidupan dunia yang melenakan, semua tahu bahwasanya dunia ini adalah tempat persinggahan sementara, kalaulah persinggahan maka pasti suatu saat kita sebagai manusia akan pergi meninggalkan persinggahannya dan menuju kepada tujuan yang benar yaitu akhirat,(mati), ramadhan juga mengajarkan kita untuk bisa mengontrol emosi atau amarah manusia, bukti dari keberhasilan dibulan ramadhan adalah setelah keluar dari bulan ramadhan sikap sabarnya terus dinaikkan atau ditingkatkan, ramadhan adalah bulan turunnya Al Qur’an dimana pada malam-malam dibulan ramadhan banyak diantara kita yang melakukan tadarusan dimasjid-masjid, atau langgar-langgar, seharusnya setelah keluar dari bulan ramadhan kegiatan tersebut terus ditingkatkan dan dinaikkan. ramadhan juga mengajarkan dimana kita harus memberikan sebagian harta yang kita miliki yaitu lewat zakat fitrah, manusia yang berhasil dan naik tingkat derajatnya dimata Allah maka manusia tersebut selalu memiliki sifat suka menolong dan suka memberi alias tidak bakhil dengan harta yang dimilikinya. bukankah harta yang kita miliki atau yang kita dapatkan adalah pemberian dari Allah juga,, lantas mengapa manusia harus bakhil dengan harta yang diberikan Allah.

RINGAN.

sebuah kata yang memberikan sebuah pemahan tentang syawal, ringan adalah lawan dari kata berat, dibulan ramadhan manusia mampu untuk meringankan langkah dalam bentuk ketaqwaan dan membuktikan keimannya kepada Allah, dengan berbagai cara, meringkan langkah dalam beribadah kepada Allah untuk menuju masjid agar mampu melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah, meringankan tangan dalam urusan tolong menolong, meringkankan perut agar mampu menahan lapar dan dahaga, meringankan diri agar mampu untuk membaca Al Qur’an pada waktu-waktu tertentu, setelah keluar dari ramadhan masihkah kita mampu untuk meringkankan langkah, tangan hingga perut kita dalam mencari ridhanya, jika keringan tersebut mampu dilaksanakan maka sudah sepantasnyalah kita menyandang predikat manusia pemenang, menang melawan setiap godaan yang datang kepada kita manusia.

MEMBAWA.

apa yang dibawa, sebenarnya kalaulah kita teliti institusi ilahi pada buan ramadhan yang telah lewat mengajarkan kita beberapa konsep yang mesti kita bawa.

1. bulan ramadhan adalah bulan turunya Al Qur’an, setelah keluar dari ramadhan sudah sepatutnya dan wajib bagi manusia yang bertaqwa membawa konsep Qur’an dimanapun kita berada, bagaimana caranya membawa konsep tersebut, jalannya adalah terus belajar dan membaca Qur’annya setiap hari,

2. shalat, perhatikan bulan ramadhan yang telah lalu, bukankah bulan ramadhan mengajarkan konsep untuk meningkatkan shalat kita, maka manusia yang berhasil pada bulan ramadhan adalah manusia yang selalu menjga dan terus meningkatkan kualitas shalatnya.

3. infaq, ramadhan juga mengajarkan kita untuk suka menolong dan suka memberi kepada manusia lainnya.

tiga konsep inilah yang dapat ditingkatkan, diringankan untuk dilaksanakan dan dibawa sampai sebelas bulan berikutnya, agar kita mendapatkan penghargaan yaitu manusia yang kembali fitrah, dan manusia pemenang, tiga hal ini dilaksanakan maka manusia tersebut tidak akan pernah merugi, tidak akan pernah. hingga maut menjemput kita. dan hal ini dikatakan dalam surah fatir (35) ayat 29.

29. Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,

nb : surah fatir juga berarti fitrah jadi sangat keterkaitan erat dengan konsep syawal yaitu kembali fitrah.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sensasi Mudik Melintasi Jalan Daendels yang …

Hendra Wardhana | | 23 July 2014 | 16:32

10 Keunikan Ramadhan di Turki …

Wardatul Ula | | 23 July 2014 | 15:32

Saat Hari Anak Nasional Terlupakan oleh …

Topik Irawan | | 23 July 2014 | 18:53

Efek Samping Kurikulum “Cepat Saji” …

Ramdhan Hamdani | | 23 July 2014 | 18:46

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 6 jam lalu

Siapkah Kita di “Revolusi …

Gulardi Nurbintoro | 7 jam lalu

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 11 jam lalu

Seberapa Penting Anu Ahmad Dhani buat Anda? …

Robert O. Aruan | 11 jam lalu

Sampai 90 Hari Kedepan Belum Ada Presiden RI …

Thamrin Dahlan | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: