Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Hifdzi Ulil Azmi

seorang farmasis muslim, penulis lepas, bekerja untuk negeri. more info at hifdziua.wordpress.com

Narkoba: Serba-serbi Sejarah, Bahaya, dan Pencegahannya

OPINI | 15 August 2013 | 09:41 Dibaca: 249   Komentar: 0   0

Satu setengah abad yang lalu, tepatnya pada tahun 1834-1842, sejarah telah mencatat begitu berbahayanya narkoba. Salah satu peristiwa sejarah yang menarik perhatian diantaranya ialah perang Candu yang berlangsung di Cina.

Inggris memang cerdas dalam menerapkan taktik untuk mendapatkan hasil alam Cina. Tanpa mengeluarkan banyak uang, Inggris cukup menawarkan sutra dan teh yang Cina miliki dengan ganja.

Cina tentu tidak mau menukar ganja dengan sutra dan teh yang dimilikinya. Pada saat itu, Cina hanya ingin sutra dan tehnya ditukar dengan uang, alias dibeli bukan dibarter. Akhirnya didapatlah strategi untuk mengenalkan candu kepada rakyat Cina oleh Inggris. Semakin hari, semakin banyak rakyat Cina yang terjerat candu karena ketagihan. Banyaknya rakyat Cina yang ketagihan inilah yang pada akhirnya membuat Cina bukan hanya rela, melainkan dengan senang hati sutra dan tehnya dibeli dengan ganja!

Proses transaksi ini pun berlangsung dengan cukup lama dan makin hari makin banyak saja pasokan candu ke Cina. Rakyat Cina semakin ketagihan dibuatnya. Akhirnya disadari juga oleh sang raja bahwa efek candu telah merusak rakyatnya. Tak ada pilihan lain, China akhirnya menutup hampir semua pelabuhannya bagi kapal-kapal dagang Eropa. Tujuannya tiada lain untuk menghentikan pasokan candu yang masuk ke wilayah Cina.

Inggris tidak langsung kehabisan akal. Mengingat tingginya tingkat ketagihan rakyat China terhadap candu, Inggris berani menyatakan perang. Satu per satu wilayah Cina jatuh ke pangkuan Inggris. Tak lama setelah ini, Cina menyatakan diri menyerah kalah.

Kecanduan rakyat Cina termasuk anggota militernya membuat mereka mudah ditaklukan Inggris. Bisa dibilang, mereka sudah kalah sebelum berperang akibat efek candu yang masih menjerat mereka. Akibat kekalahan ini, Cina harus mengikuti berbagai ketentuan yang semakin merugikan bangsanya!

Itulah episode kelam bangsa Cina. Uraian Peristiwa tersebut hanyalah satu dari beragam cerita yang menyuratkan bahayanya mengonsumsi obat terlarang. Kita jelas tidak ingin seperti yang dialami oleh Cina kala itu. Kita tak ingin bangsa ini hancur dari dalam karena narkotik dan obat-obat terlarang (narkoba).

Narkoba dan tahap penyalahgunaannya

Narkoba sendiri bisa meliputi obat-obat golongan analgesik/penghilang rasa sakit jenis opium (morfin, heroin), ganja, amfetamin (shabu-shabu, ekstasi atau DMDA), kokain, dan obat-obat penenang seperti senyawa turunan barbital. Paling sedikit, kelima jenis inilah yang sering disalahgunakan karena sifatnya yang tidak hanya addiktif, tetapi juga sangat merusak tubuh.

Sebelum mengetahui bahaya narkoba, maka sangat penting bagi kita untuk mengetahui terlebih dahulu tahapan-tahapan dalam penyalahgunaan narkoba.

Ada empat tahap dalam penyalahgunaan narkotik dan obat-obat terlarang. Pertama ialah sekedar tahap coba-coba alias ingin tahu. Pada tahap ini banyak dari mereka yang bisa berhenti. Kedua adalah pemakai regular, alias memakainya kadang-kadang namun tak sering. Pada tahap ini belum ada perubahan mendasar yang dialami pemakai. Mereka umumnya tetap melakukan rutinitas sebagaimana mestinya seperti sekolah, kuliah dan ke kantor. Beranjak pada tahap ketiga adalah ketagihan. Pemakai sudah mulai merasa berkeinginan untuk memakainya berulang-ulang karena perasaan nyaman. Namun, pada tahap ini pengguna masih memiliki kesempatan untuk berhenti. Dan terakhir adalah tahap ketergantungan.

Pada tahap ketergantungan ini yang sangat berbahaya. Tahap ini meliputi ketergantungan psikis dan fisik. Jika telah mencapai ketergantungan fisik, ini lebih berbahaya lagi. Pada tahap ini pengguna sangat sulit untuk bisa berhenti dari obat. Jika dilepas begitu saja, akibat yang muncul adalah rasa sakau yang amat sakit. Namun apabila diteruskan, fungsi fisiologis tubuh juga semakin rusak dan peluang mendekati ajal semakin dekat. Jalan utamanya ialah tiada lain dengan memberikan obat tersebut terus menerus dengan penurunan dosis berkala untuk menghilangkan rasa sakaunya.

Sayangnya, di Indonesia sendiri pengguna narkoba sudah sangat banyak. Para pelajar SMA bahkan SMP rawan akan hal ini. Si pengedar narkoba sudah berani menjual barang yang disalahgunakan ini di sekitar sekolah dan kampus. Namun, tetap saja polisi masih kesulitan meringkusnya karena teknik yang dilakukan antara pengedar dan pengguna tergolong professional!

Inilah yang menyebabkan jumlah pemakai narkoba di Indonesia sesungguhnya ibarat fenomena gunung es (ice berg). Jumlah pengguna, pengedar, dan bandar yang tampak di permukaan hanya sebagian kecil dibandingkan yang tidak tampak di permukaan. Jumlah ini bahkan bisa mencapai sepuluh kali lipatnya.

Bahaya narkoba

Bahaya awal yang mudah teridentifikasi dari banyaknya orang yang mengalami ketergantungan terhadap narkoba ialah meningkatnya tindak asusila. Hal ini disebabkan narkoba akan menyebabkan penurunan self controlling bagi pengguna yang pada akhirnya akan menghasilkan kehilangan kendali (lost control), layaknya suatu kendaraan dengan rem yang sudah blong. Inilah yang menyebabkan banyak dari pengguna pada akhirnya berbuat tindak asusila seperti memerkosa, membunuh, mencuri, dan lain-lain.

Bahaya lain dari dari masalah narkoba ialah hilangnya asset bangsa yang sesungguhnya bila dikembangkan akan bermanfaat. Bayangkan, negara ini tiap tahun harus kehilangan ratusan ribu orang usia muda yang mati akibat narkoba. Sungguh miris, karena kaum muda lah yang nantinya akan memikul tanggung jawab sebagai penerus bangsa. Tak hanya itu, kerugian materil yang harus ditanggung negara kita per tahunnya selalu mencapai satuan triliun. Pada tahun 2008 saja, kerugian yang kita alami mencapai 15,37 triliun (BNN,2009). Adapun tiap tahunnya rata-rata 380 miliar habis hanya untuk transaksi narkoba antara pengedar dan pengguna. Jumlah ini tentu akan terus melonjak pada tahun 2009 ini mengingat masih banyaknya pengguna narkoba yang belum terjamah.

Inilah bahaya nasional yang menimpa negeri kita. Secara langsung narkoba telah mengakibatkan krisis moral yang sebagian besar menghinggapi kaum usia muda. Apabila masalah ini tidak ditangani secara serius, kita akan kehilangan generasi penerus bangsa yang berdaya saing!

Pemecahannya

Tidak dapat dipungkiri, pintu dari semua keburukan ini tiada lain adalah karena coba-coba. Sekitar 73% para pengguna narkoba mengaku memakainya karena alasan coba-coba atau sekedar ingin tahu (BNN,2003). Oleh sebab itu, peran orang tua sangatlah penting dalam mencerdaskan anak sejak kecil terhadap bahaya yang akan ditimbulkan akibat narkoba. Kondisi keluarga yang tidak baik dengan orang tua yang tidak mampu menjadi panutan akan menyebabkan anaknya memiliki resiko 7,9 kali untuk menyalahgunakan obat (Hawari,1990).

Mengenal keburukan narkotik, ganja, dan obat terlarang lainnya bukan untuk dicoba sekedar supaya tahu, tetapi untuk dibasmi dan ditinggalkan. Dengan anggaran pendidikan yang mencapai 20% ini, kiranya pemerintah dapat memasukkan bahaya mengonsumsi narkotik ke dalam kurikulum sekolah. Atau dari sekolahnya sendiri diwajibkan aktif untuk mengadakan pencerdasan kepada siswa-siswinya terhadap masalah ini, salah satunya dengan mengadakan kunjungan ke panti rehabilitasi korban narkotika. Dengan begini, para pelajar bisa  melihat secara langsung betapa buruknya keadaan korban pengguna narkotik yang sesungguhnya.

Sama seperti Cina, Indonesia adalah negeri yang besar dengan jumlah penduduk yang besar pula. Tingginya jumlah penduduk ini bisa berpotensi mengarah kepada kemajuan atau kemunduran. Semua itu tergantung perlakuannya. Maka, perlu dicari perlakuan yang tepat dalam menangani masalah narkoba ini. Perlakuan yang tepat tentu melibatkan semua pihak, mulai dari kesadaran individu, orang tua, institusi pendidikan, hingga pemerintah yang di dalamnnya mencakup aparat penegak hukum. Jangan sampai bahaya nasional akibat narkoba ini semakin tak terkendali.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 10 jam lalu

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 11 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 12 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Program ‘Haji Plus Plus’: Bisa …

Rumahkayu | 8 jam lalu

Sampai Kapan Hukum Indonesia Mengecewakan …

Giri Lumakto | 8 jam lalu

ISIS di Indonesia …

Irham Rajasa | 8 jam lalu

Sampai Kapan Polwan Dilarang Berjilbab? …

Salsabilla Hasna Mu... | 8 jam lalu

Subsidi BBM: Menkeu Harus Legowo Melepas …

Suheri Adi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: