Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Hanafi.rais

Salam AYOM AYEM!

Hikmah Syawalan yang Jleb

OPINI | 19 August 2013 | 00:05 Dibaca: 378   Komentar: 0   0

Beberapa hari ini berturut-turut sejak lebaran hari kedua, saya berkesempatan untuk mengisi hikmah syawalan.  Seperti pagi hari ini, syawalan dengan ratusan guru-guru PAUD berlangsung meriah.

Ketua Himpunan PAUD-nya begitu semangat dan sangat memotivasi guru-guru lainnya untuk terus mengabdi demi pendidikan usia dini. Dan mereka pun punya impian untuk bisa membeli tanah di tengah kota dan membangun gedung PAUD yang gagah sebagai semacam pusat studi PAUD di Jogjakarta.

Giliran saya diminta mengisi hikmah syawalannya, saya menyampaikan secara sederhana tentang tiga hal. Yang pertama, syawalan ini sebenarnya unik. Hanya ada di Indonsia. Tidak dikenal oleh orang Saudi, Mesir, Irak, Iran, Malaysia, apalagi di Jepang, Cina bahkan Amerika atau Eropa.

Syawalan ini temuan lokal budaya Indonesia. Begitulah uniknya Indonesia yang kaya dan kreatif dengan budayanya. Saking uniknya, ’syawalan’ itu belum ketemu istilah Inggrisnya atau Arabnya. Hehe..

Sebagai temuan budaya lokal, maka syawalan itu milik bersama. Budaya tidak ada agamanya. Sehingga syawalan itu sangat lumrah kalau yang menghadirinya itu tak selalu harus seluruhnya Muslim, tapi juga dihadiri dari kalangan agama lainnya.

Begitulah.  Syawalan sebagai temuan budaya lokal bisa jadi instrumen untuk mempererat keguyuban di antara masyarakat yang majemuk.

Namun demikian, di sisi lain, di dalam momen syawalan ini kita sebagai hamba Allah juga sebenarnya diminta untuk menjalankan perintah Tuhan.

Allah memang menjanjikan barangsiapa berpuasa selama Ramadhan kemarin dengan ‘imanan wahtisaban’, maka leburlah semua dosa hamba Allah kepada-Nya. Tapi apakah betul SEMUA dosa telah lebur? Jangan ge-er dulu, Pak, Bu. Hehe..

Kelak di akhirat nanti, akan ada yang namanya “orang bangkrut”. Siapa itu “orang yang bangkrut”? Yaitu orang-orang yang selama di dunia rajin ibadah, tabungan pahalanya melimpah ruah sebagai jaminan masuk surga, tapi selama dia hidup di dunia, ternyata banyak orang yang ia salahi, ia dzalimi, sengaja maupun tidak.

Tiap langkah kaki yang ia ayunkan menuju surga terhenti karena ada saja tetangganya, teman kantornya, teman dagangnya, teman bisnisnya, kerabatnya, dan orang-orang lain  yang ‘protes’ kepada Allah, “Wahai Allah, mohon tahan dulu orang tersebut masuk surga, karena dulu ketika ia hidup di dunia, banyak ia menghina, menyalahi kami, dan kami BELUM PERNAH saling memaafkan”.

Akhirnya Allah memindahkan sepotong demi sepotong pahala orang tersebut kepada orang-orang yang pernah disalahinya itu.

Singkat cerita, ternyata banyak sekali orang yang disalahinya selama hidup di dunia dan belum pernah saling memaafkan. Jadilah tabungan pahalanya habis, bahkan minus, karena bangkrut untuk ‘membayar’ kesalahan-kesalahan dia terhadap orang lain dan belum saling memaafkan.

Oleh karena itu, Pak, Bu. Kesempatan syawalan ini, ketika kita salam-salaman, niatilah untuk saling memaafkan dengan ikhlas, sungguh-sungguh. Insya Allah apapun yang keluar dari hati akan diterima pula dengan hati.

Sempurnalah kesucian yang dijanjikan Allah kepada kita karena salah dan dosa kita kepada-Nya sudah dihapus dengan puasa ‘imanan wahtisaban’ dan lebur pula seluruh dosa kita sesama hamba Allah.

Yang kedua, ibu bapak yang saya cintai. Yuk sama-sama kita pertahankan apa yang sudah jadi kebiasaan bagus di Ramadhan kemarin. Ada rumus sederhana: Bisa karena BIASA. Biasa karena PEMBIASAAN.

‘Pembiasaan’ itu kalau diarabkan kira-kira bahasanya itu yang disebut ‘Istiqamah’. Istiqamah ini sikap yang luar biasa patut kita amalkan. Bahasa kerennya ‘Konsisten’. Ibarat ungkapan yang sudah sering kita dengar: batu itu keras, tapi jika air menetes terus-terusan (baca: istiqamah) di atas batu itu maka batu itu pun akan berlobang dan pecah.

Artinya apa? Sikap istiqamah itu bisa jadi pembuka pintu harapan dan rejeki yang kita haturkan kepada Allah. Kalau sudah punya niat mulia, namun action-nya aras-arasen, maka bisa dipastikan hasilnya pun juga akan tanggung.

Kalau sudah punya niat mulia ya sertailah dengan action yang terus-menerus, konsisten, tlaten. Barangsiapa konsisten dan tlaten, maka ia akan panen. Konsisten, tlaten, panen!

Nabi pernah ditanya oleh ummatnya. “Yaa Nabi, kami kan tidak bisa sedekah banyak-banyak karena kita bukan orang berada. Bagaimana Yaa Nabi?”.

Nabi menjawab, “Yang disukai Allah itu itu, walaupun sedikit, tapi engkau melakukannya TERUS-MENERUS”.

Begitu pak, bu. Boleh kok sedekah seribuan terus. Tapi harus terus-menerus. Tiap habis shalat subuh, dhuhur, ashar, maghrib, isya, coba langsung sisihkan uang Rp 1.000,00. Sehari tidak sadar sudah sedekah/infak Rp 5000, 00. Sebulan sudah sedekah/infak Rp 150.000, 00. Setahun berapa coba?

Kalau ratusan ibu-ibu sekarang yang di gedung ini menjalani ini mulai besok dan terus istiqamah, maka impian ibu bapak untuk punya gedung PAUD yang megah itu hanya soal waktu saja. Pasti ada jalan!

Nah, yang terakhir, yuk bareng-bareng kita jaga semangat kita untuk selalu mencurahkan usaha dan ikhtiar kita untuk urusan apapun itu dengan YANG TERBAIK. Ketika Rasulullah saw masih hidup, ada seorang pembenci yang akhirnya sampai meninggal tetap menjadi pembenci Nabi. Apa yang dilakukan oleh Nabi?

Beliau memakamkannya dan menyempurnakan sebaik-baiknya hingga pemakaman itu selesai dan mendoakannya. Mari pak bu, kita ittiba’ Nabi. Berikan apapun ikhtiar kita dengan YANG TERBAIK yang kita miliki. Give our very best, begitu kata sebuah film.

Karena kalau enggak begitu nanti nyesel, pak bu.

Ada kisah. Seorang tukang kayu, terkenal hebat kerjanya, selalu mengerjakan dengan cara-cara terbaik tiap kali diberi pekerjaan. Nah, suatu ketika, si tukang kayu ini memutuskan untuk berhenti bekerja dari perusahaan majikannya. Dia bilang ke bosnya, “Pak, saya mohon ijin berhenti bekerja dari perusahaan Bapak karena saya ingin punya usaha sendiri.”

Mendengar permintaan dari tukang kayu yang sudah membantunya puluhan tahun itu, majikan itu pun menukas dengan baik, “Masya Allah pak, tentu engkau pasti akan punya usaha yang hebat karena engkau terkenal dengan pekerjaan terbaikmu. Tapi sebelum kamu aku ijinkan untuk pamit, tolong penuhi aku satu permintaan. Tolong buatkan aku satu rumah dari kayu ya”.

Tukang kayu itu pun segera bergegas mengerjakan permintaan majikannya itu. Karena si tukang kayu ini sudah ingin sekali keluar dari perusahaan tersebut dan sudah ngebet sekali untuk punya usaha sendiri, maka rumah permintaan majikannya tadi dikerjakannya secara serampangan, jauuuuuh dari kebiasaannya yang selalu bekerja dengan sebaik-baiknya.

Begitu rumah selesai, menghadaplah ia ketemu majikannya, “Pak, rumah permintaan Bapak sudah jadi. Saya mohon pamit. Terima kasih Pak”.

Majikannya berkata, “Terima kasih banyak atas bantuanmu pak tukang kayu. Aku sungguh sudah engkau bantu luar biasa selama puluhan tahun ini. Maka, sebagai bentuk terima kasihku padamu, aku sudah niatkan sejak awal, rumah itu aku persembahkan untukmu”. Menyesallah bapak tukang kayu itu.

Mari ibu bapak, kita jaga sama-sama ibadah kita. Jangan sampai kita jadi orang bangkrut, kita sama-sama istiqamah biar impian apapun yang kita miliki diridhai Allah, dan selalu berikan yang terbaik ikhtiar kita supaya kita tidak menyesal di kemudian hari.

Salam AYOM AYEM!

Follow @hanafirais_YUK | #SRUDUKFOLLOW

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Topeng Politik Langsung Terbuka di Hari …

Hanny Setiawan | 8 jam lalu

Anggota DPR Ini Seperti Preman Pasar Saja …

Adjat R. Sudradjat | 10 jam lalu

SBY Ngambek Sama Yusril, Rahasia Terbongkar, …

Daniel H.t. | 12 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Rumahkayu | 13 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Sebuah Cinta yang Terlarang #14 ; Cuma …

Y.airy | 8 jam lalu

Ceu Popong Jadi Trending Topic Dunia …

Samandayu | 8 jam lalu

“Menjadi Indonesia” dengan Batik …

Hendra Wardhana | 9 jam lalu

Dzikir Seorang Perokok …

Ahmad Taufiq | 9 jam lalu

Superbike R-25, Solusi untuk Gerak Cepat …

Zulfikar Akbar | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: