Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Nanda Mulyana

-Sukses, dan Berusaha untuk Menjadi Sukses, adalah Hak Semua Orang (Masih Dalam Proses Belajar, Maaf jika selengkapnya

Internet Bagi Pelajar: Antara Kemudahan dan Kemalasan

OPINI | 24 August 2013 | 05:33 Dibaca: 295   Komentar: 1   1

Pada era ini, internet merupakan suatu objek utama dalam menunjang globalisasi dan modernisasi. Penggunaan dan pemanfaatannya merupakan ‘hukum wajib’ bagi kalangan yang mengikuti secara intense perkembangan teknologi dan informasi di era global ini.

Contoh kalangan yang intense dalam mengeksplorasi internet adalah kalangan remaja, dalam hal ini kita khususkan pada golongan pelajar atau mahasiswa. Disini yang kita garisbawahi adalah fungsi internet sebagai media yang sering digunakan untuk pencarian data atau informasi oleh para pelajar.

Sebagai kelompok yang sedang menuntut ilmu, pelajar memang dituntut untuk memiliki cakrawala wawasan yang luas. Bila pada era sebelumnya para pelajar memperluas wawasannya dengan membaca buku, koran atau literatur lainnya, maka di era modern sekarang ini, para pelajar cenderung lebih bersemangat untuk mengakses internet dalam pencarian data dan informasi untuk memperluas wawasannya.

Kemudahan akses serta sangat kayanya data, fitur dan literatur yang terdapat pada internet, ditambah dengan menariknya tampilan dan layanan yang diberikan, membuat internet menjadi primadona untuk terus dieksplorasi secara luas.

Perlu diakui, dengan segala macam keunggulannya itu, internet memang telah sangat membantu kalangan pelajar dalam proses pencarian data, informasi dan pencarian referensi untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Tinggal searching di ‘mbah google’, maka data yang kita cari akan dengan cepat ditemukan.

Namun, jika dilihat dari sisi lain, justru inilah salah satu ‘sudut gelap’ internet. Dari berbagai kenyataan yang ada, kita dapat melihat dengan jelas bahwa pelajar generasi sekarang mulai atau sudah mengalami ‘ketergantungan’ pada internet.

Karena terlalu dimanjakan oleh ‘mbah google’, kalangan pelajar cenderung akan lebih malas dan ‘bermental instan’. Bagaimana tidak, tinggal bertanya pada ‘mbah google’, lalu ‘copas’ (Copy-Paste), maka data-data yang telah diperoleh akan dianggap telah terproses dengan benar.

Para pelajar sekarang pun banyak yang seakan sudah kurang peduli lagi dengan isi data yang di-copas-nya. Asal judul data yang didapat persis dengan apa yang dicari, seakan tidak diteliti secara rinci lagi, langsung copas saja, dan tugas pun sudah bisa dianggap beres.

Padahal, data-data yang ter-upload ke internet dan yang kita akses, tidak semuanya merupakan data atau informasi yang valid dan teruji kebenarannya. Kita tetap perlu me-recheck kembali data dan informasi yang telah kita dapatkan.

Selain itu, banyak pelajar sekarang yang tidak mengubah informasi yang ia dapat menjadi sebuah pengetahuan baru untuk untuk menambah wawasannya.

Mereka hanya menerima data, dan berhenti pada ‘copas’. Atau hanya menerima informasi, tanpa mengubah dan menyimpannya pada memori untuk menjadi sebuah wawasan baru.

Hal ini tentu sangat disayangkan, mengingat internet merupakan ‘lautan ilmu pengetahuan‘ yang tak terkira manfaatnya bila kita dapat memanfaatkan dan memproses data dan informasi yang kita dapatkan secara tepat.

Bandingkan dengan generasi pelajar angkatan ayah atau kakak-kakak kita yang masih belum dimanjakan oleh internet. Mereka yang berjuang pada zaman itu, identik dengan ‘keprihatinan’ dan semangat juang yang tinggi dalam menempuh proses pembelajaran.

Kita bisa mengambil contoh pada saat mereka mengerjakan tugas-tugas yang harus diselesaikannya. Bagi mereka, tidak ada istilah ‘copas’, atau bertanya pada ‘mbah google’. Yang ada, mereka harus berjuang dengan kemempuannya sendiri untuk mencari buku, literatur dan referensi lainnya sebagai sumber data dalam penyelesaian tugasnya.

Setelah data didapat, mereka masih harus berjuang dengan menyaring data yang harus mereka tuangkan pada tulisan atau ketikan tangan mereka sendiri. Namun justru disinilah proses pembelajaran terjadi. Pada tahap ini, data-data yang dipakai akan tersaring dan tersimpan dalam memori sebagai sebuah pengetahuan dan wawasan baru.

Karena data yang mereka dapatkan tidak didapat dengan mudah, sudah tentu, terlalu sayang bila data-data itu hanya menjadi penghias kertas dan pelengkap tugas saja. Data-data itu tidak boleh hanya berhenti dalam tugas, tapi harus masuk ke memori dan tersimpan sebagai sebuah pengetahuan.

Cerita-cerita seperti itu dapat kita dengar jika kita menggali cerita dari pengalaman ‘pelajar tempo dulu’ yang masih belum terjamah era internet.

Banyak pelajar sekarang yang harus me-refresh kembali anggapannya mengenai peran internet dalam fungsinya sebagai media pencarian data untuk menyelesaikan tugas yang didapatnya.

Seharusnya mereka sadar, internet hanyalah sebagai ‘sarana pembantu’ dalam penyelesaian tugas. Dan istilah ‘sarana pembantu’ itu haruslah diartikan dan disikapi secara bijak dan benar.

Selain itu, yang harus diingat lagi adalah data-data dan informasi yang diperoleh sangat tidak pantas jika hanya menjadi pemanis kertas dan pelengkap tugas saja. Data dan informasi yang diperoleh itu sepatutnya diproses secara benar untuk menjadi sebuah pengetahuan dan wawasan baru.

Karena inti dari proses pembelajaran bukanlah hanya menyelesaikan tugas-tugas. Tapi yang terpenting adalah, pelajaran apa yang bisa kita ambil setelah tugas itu dapat kita selesaikan.

Perlu kearifan, kesadaran dan pemahaman yang tepat, serta keterlibatan dari semua kalangan yang terkait dengan dunia pendidikan, agar generasi pelajar sekarang ini dapat terselamatkan dari ‘mental instan’ dan ‘efek gelap’ akibat ‘ketergantungan’ pada internet.

Ibarat sebuah pisau, internet dapat menjadi alat yang ampuh untuk mempermudah pekerjaan kita, namun dapat juga menjadi ‘tidak berdaya guna’, atau bahkan dapat ‘mencederai’ kita, jika kita tidak pandai dan bijak dalam menggunakannya. Perlu kesadaran dan pemahaman yang cukup untuk menggunakannya secara tepat guna.

Sudah selayaknya kemajuan IPTEK di era global ini dapat dimanfaatkan secara bijak sesuai porsi dan batasannya sebagai ‘sarana pembantu’ untuk meningkatkan efisiensi kerja dan sarana penambah wawasan dan pengetahuan kita.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Real Madrid 1 – 0 Bayern Muenchen …

Arnold Adoe | | 24 April 2014 | 04:37

Pojok Ngoprek: Tablet Sebagai Pengganti Head …

Casmogo | | 24 April 2014 | 04:31

Rp 8,6 Milyar Menuju Senayan. Untuk Menjadi …

Pecel Tempe | | 24 April 2014 | 03:28

Virus ‘Vote for The Worst’ Akankah …

Benny Rhamdani | | 24 April 2014 | 09:18

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 3 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 4 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 4 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 8 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: