Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Catur H Yulianti

sedang belajar untuk bisa memberi manfaat

Awalnya.

REP | 25 August 2013 | 22:42 Dibaca: 62   Komentar: 0   0

Ketukan di pintu diiringi panggilan lirih menyeret langkahku untuk menghampirinya. Pemilik suara itu, Aris, bocah manis anak tetangga sebelah, tersenyum padaku dengan muka penuh harap ketika pintu terbuka.

“Hari ini Les ngga Bund ?” Matanya yang besar berbinar-binar. Dan aku tahu, untuk kesekian kalinya sejak libur lebaran, aku akan mengganti binar itu dengan semburat kekecewaan.

“Ngga Ris.. masih belum..Dedenya masih sakit, Bunda juga masih batuk nanti kalian tertular” aku mengulang alasan yang sama entah keberapa kalinya.. pasca lebaran ini aku memang menghentikan dulu jadwal belajar matematika basis 10 bersama anak-anak. Pertimbangannya sudah aku curhatkan ke Kakek Hakimi, terkait dengan kondisi bayiku yang sering panic mendengar suara anak-anak yang lebih besar ketika sedang belajar. Tapi saat ini, keluarga kami juga memang sedang dilanda flu dan batuk.

Dan sesuai bayanganku, binar di mata Aris meredup. Tapi dia masih disana, tidak seperti yang sudah-sudah putar badan dan berlari apabila menerima penolakanku.

“Aris sudah kangen mau les ya ?” tanyaku

“Iya.. liburnya sudah lama” jawabnya.

Aku kembali mengucap alasan sebelumnya. Dan kali ini dia berbalik lambat menuju halaman. Diujung teras mukanya kembali menghadapku.

“kalau besok, bisa les ngga..?” dia masih berjuang mengetuk hatiku

Wajahnya..campuran antara khawatir dengan penolakan dan harapan untuk diiyakan membuat aku geli sekaligus menggerutu, karena tanpa dia sadari, dia punya kunci yang tepat untuk membuat aku mempertimbangkan keinginannya.

“kita lihat besok ya..kalau besok Dedenya baikan, kita les. Besok bundanya juga libur” janjiku, dan serta merta dia melesat ke jalan sambil berteriak senang. Hmm anak-anak.. !!

………….

Aris sebelumnya tidak ikut kegiatan belajar yang aku adakan di rumah. Berawal dari rasa bête karena tidak ada kegiatan selain kegiatan domestic selama masa cuti melahirkan, ditambah dengan anak-anak tetangga yang hampir setiap hari berisik di depan kamar, akhirnya aku memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lebih bersifat simbiosis mutualisma.

“Anak-anak… mau ngga sambil nengokin anak kucing bunda ajarin bahasa inggris ?” itu ajakan pertamaku. Dan gayung pun bersambut, tidak hanya bocah-bocah centil yang setiap hari berkicau dibawah jendela, tapi anak-anak yang lebih besar pun ternyata berminat untuk hadir. Dan biang keroknya siapa lagi kalau bukan anakku yang pertama. Tanpa sepengetahuanku dia yang paling bersemangat menerima ide ini. Membuka pendaftaran, membuat lembaran aturan main dan menentukan bagaimana cara aku mengajar, alamaaakk… gagal total deh niatan refreshing.

Setelah dialog alot dan tawar menawar dengan si Kaka, akhirnya kami bersepakat untuk menerima hanya 10 orang anak saja yang belajar di rumah, dengan pertimbangan aku masih harus meluangkan banyak waktu untuk si kecil dan dengan jumlah yang sedikit aku bisa memonitor perkembangan setiap anak (idealisnya…).. dan setelah beberapa kali pertemuan, nenek Aris datang mengunjungiku khusus untuk memintakan izin supaya cucunya bisa menyusul ikut bergabung.

Mengajar bahasa inggris untuk 10 anak dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan berbeda-beda merupakan tantangan yang cukup berat. Tidak focus, banyak bercanda dan mencela teman lainnya menjadi kebiasaan yang sempet membuatku pusing kepala. Ketika aku mendiskusikan dengan guru SD yang juga tetangga depan rumah, beliau mengiyakan kebiasaan tersebut, begitu juga dengan guru ngajinya. Walah… nambah kerjaan nih.. ngajarin disiplin dan menghargai orang lain.. padahal pengalamanku dengan anak-anak sudah belasan tahun berlalu, ketika masih kuliah dulu.

Untuk menyampaikan materi, aku memutuskan memperbanyak percakapan sederhana dan pengenalan kata melalui lagu. Maklum, kemampuan bahasa inggris ku pun standar. Hanya ngomong bahasa inggris apabila dijedotkan dengan bule dan kesempatan ketemu bule pun tidak sesering ketemu tukang sayur.Bersyukur di rumah banyak buku, barang dan mainan kaka yang bisa dijadikan media untuk mengajar, ditambah lagi aku hobby bernyanyi, pucuk dicinta ulam pun tiba.. dengan metode yang aku gunakan dalam kegiatan ini, aku bisa bernyanyi sesuka hati tanpa diprotes tetangga he he he.. senangnya..

Beberapa pertemuan berjalan dengan mulus. Mulai jam 10 pagi sampai jam 2 siang seminggu tiga kali rumahku ramai dengan teriakan nyaring anak-anak bernyanyi, sampai akhirnya seorang anak yang lebih besar meminta untuk belajar matematika. Hmmm bingung… apa nih yang harus diajarkan… tapi aku iyakan saja. Lumayan juga.. bisa bikin si Kaka tambah semangat belajar nih kalau ada teman. Cara mengajarnya ? gimana ntar..kan banyak buku panduan.

Besoknya aku mengetes pengetahuan mereka mengenai matematika. Dan hasilnya tidak jauh berbeda dengan anakku, parah..!!

Yang aku ajari saat itu adalah anak kelas satu, dua, tiga, empat, lima dan enam SD…lengkaplah…

Untuk anak yang lebih kecil aku memberikan soal penjumlahan untuk dilatih, sementara untuk anak yang lebih besar mengambil panduan dari buku pelajaran kelas IV, karena anak kelas V dan VI termasuk anakku juga masih gagap dengan pelajaran kelas IV. Kedua golongan ini memiliki satu kesamaan, yaitu lamaaaaa sekali dalam menyelesaikan soal yang diberikan. Biasanya aku akan mencari tempat nyaman sambil ngASI dan terkantuk-kantuk sementara bibir mengomel sendiri…” satu tahun kemudian…. Dua tahun kemudian… tujuh tahun kemudiaannnn….. “

Menyaksikan hal tersebut, anak-anak biasanya akan tertawa tapi kemudian kembali sibuk dengan jari-jari di tangan dan kakinya.sampai satu bulan berjalan, aku memang membiarkan anak-anak menggunakan kebiasaannya dalam berhitung dan tidak banyak mengajarkan metode baru untuk mereka. Alasannya karena memang tidak tahu ha ha ha…ya.. dan anak-anak lebih tidak tahu lagi kalau ternyata aku tidak tahu…heuuu…

Sebenarnya ketidaktahuanku lebih kepada “apa dulu yang harus diajarkan”. Makin sering mempelajari buku panduan, makin banyaklah aku mengomel. Karena cara yang disampaikan disitu tidak praktis dan ribet. Sementara mau mengajari jalan pintas juga khawatir anak-anak jadi bingung nantinya. Akhirnya aku mengajari mereka dengan cara yang pernah aku dapat ketika sekolah, ditambah dengan gaya mamaku ketika dulu mengajariku ditambah pula dengan langkah-langkah dari buku. Walhasil.. sebulan pertama itu sukseslah anak-anak menjadi kelinci percobaan… sementara akupun sukses menurunkan berat badan dampak dari menyusui dan stress..

Sebenarnya metode mengajarkan matematika ini sudah menjadi masalah kami sejak lama. Aku dan suamiku mempunyai pemahaman yang cukup baik untuk menyelesaikan soal-soal matematika, tetapi kami menemui kesulitan setiap kali mau mengajarkan caranya. Sering sekali aku berpikir, kenapa dulu mama mudah sekali ya mengajarkan matematika ini, maksudnya.. biasanya beliau akan mengajariku cara menyelesaikan suatu perhitungan, dan dalam waktu yang tidak terlalu lama aku akan bisa menangkap intinya. Seperti ketika dulu mengajariku raraban. Mama hanya butuh waktu sekitar 1-2 jam menjelaskan perkalian dua dan tiga, setelah itu untuk selanjutnya aku belajar dan menghapal sendiri sampai raraban sepuluh. Di kelas 4, raraban 1- 10 sudah hapal di luar kepala, karena dulu guru mewajibkan itu dan rutin memanggil kami ke depan kelas untuk mengulangnya. Terus kenapa anak-anak yang kuajar sekarang termasuk anakku masih tersendat di raraban 3 ? apanya atuh yang kurang tepat ?

Mungkin karena aku pintar ya.. jadi cukup mudah menangkap pelajaran, ha ha ha.. just kidding, perlu pembuktian lebih lanjut itumah…

Aku pikir cara yang digunakan untuk menjelaskan itu yang penting. Yang seperti apa ? ya ngga tahu, karena aku hanya mahir menangkap tapi tidak mahir menjelaskan, dan untuk mengingat kembali cara mama mengajar, sudah kelamaan. Banyak bagian dari memory yang sudah buram.

Jadinya.. dizaman ini, setiap belajar aku pasti akan berdebat dengan anakku, karena dia selalu setia dengan metode yang diajarkan disekolah dan hal ini selalu menyentil emosi karena menurutku lambat sekali. Coba perhatikan, misalnya untuk perkalian 7×8, dia akan menjajarkan angka 7 sebanyak 8 buah dan kemudian menjumlahkannya satu persatu, satu persatu..satu persatu…lama kan? ditambah lagi dia juga sering bingung sendiri..akibat jari-jarinya yang nilep sana sini… hadeeuuuh atuh tambah lama.

Sampai kemudian satu pemberitaan lewat di Karawang info, ajakan mempelajari basis 10. Awalnya aku menanggapi dengan biasa saja karena penjelasan mengenai 1+9, 2+8 dst terlihat hampir sama dengan metode jarimatika ataupun metode lain yang sering dipromosikan. Dan karena aku sering kesulitan mempelajari metode baru, maka penawaran pertama itupun hanya menjadi berita yang segera berlalu. Sampai kemudian ajakan berikutnya kurang lebih menyertakan kalimat “cara mudah mengajarkan matematika”, nah ini dia… baru sesuai kebutuhan.

Dan begitulah ceritanya, sambil tetap menenteng bayiku, aku berkenalan dengan Kakek Hakimi dan metode yang diajarkannya, yang mengingatkanku kembali akan metode pengajaran mama. Langsung pinter..? ngga juga…masih perlu latihan terus, dan karena mungkin otaknya juga tidak sesegar otak anak-anak. Tapi minimal cara sederhananya sudah mulai tertangkap. Selanjutnya masih butuh waktu untuk belajar banyak… (semoga masih diberi kesempatan untuk itu..)

…….

Dan sabtu siang ini, sesuai janjiku pada Aris , aku menunggunya dari jam 1 siang. Tapi dia tak kunjung datang. Sampai si Kaka dan temannya memberikan keterangan bahwa Aris bersepeda ke arah barat.

jam 3 sore, tidak juga ada tanda-tanda kehadiran anak-anak di rumah. Ya sudah, berarti bisa menyelesaikan pekerjaan rumah tangga lainnya.

Jam 4 sore, ketika aku sedang menemani Kaka dikebun belakang, Aris menerobos pagar tanaman yang memisahkan halaman kami, dan kembali menanyakan jadwal kegiatan belajar. Aku dan Kaka membalas dengan tertawa, dan berkata,

”Arisnya yang telat… ditungguin dari jam 1 ngga datang-datang, sore gini kan nanggung mau pada mandi”

Aris kembali melakukan tawar menawar,

“kalau besok bisa les ?”

“ngga.. bunda ada undangan ke teluk jambe”

“kalau besoknya lagi ?”

“ada kerjaan di Telukjambe”

“besoknya lagi ?”

“Masih ada kerjaan”

“setahun kemudian ?” (meledek dia)

“Tetep masih ada kerjaan…ya udah kita lihat sabtu depan ya..kalau ada waktu lowong kita belajar. Karena bunda udah mulai kerja kayaknya belajarnya seminggu sekali aja”

“ya udah.. lihat sabtu depan”

Pembicaraan kamipun berlanjut membahas kejadian disekolah dan lain-lain, sampai kemudian aku meninggalkan mereka untuk berkeliling kebun…

Sambil mengambil foto dari tanaman di halaman yang masih bertahan dari panasnya cuaca, samar-samar kudengar pembicaraan Kaka dan Aris yang mulai bernada tinggi. Aku menghampiri mereka untuk melerai.

“ada apa nih ?” tanyaku sambil memperhatikan mereka, tapi tidak nampak aura pertikaian, sepertinya mereka sedang bercanda.

“ini nih si Aris” Kaka menjelaskan. “Dia minta lesnya jam 8 malem ya aku jawab, atuh tunduuuh”

“trus dia minta abis magrib, aku bilang kan ngajiii”

“trus dia minta subuh-subuh, atuh can hudaanggg”

“ooh gitu.. ya udah, cari aja waktu dimana kalian ngga ngantuk dan ngga ngaji” ujarku sambil masuk rumah. Dalam pikiranku waktu yang dimaksud adalah sabtu di minggu berikutnya.

Dan apa yang terjadi kemudian?.. aku harus berhati-hati dengan ucapanku sendiri, karena ternyata anak-anak yang bersemangat akan menemukan jalan demi tujuan mereka.

Belum selesai adzan magrib berkumandang, ramai pintu depanku diketuk orang, dan ketika dibuka..olala…. Aris dan anak tetangga lainnya sudah rapi jali berkerumun depan pintu.

“mau Les Bund… hari ini ngga ngaji” kata mereka penuh kemenangan.

Aku dan suamiku hanya bisa senyum-senyum geli, dan mengungsikan bayi kami ke kamar paling sepi.

“ya sudah, pada sholat dulu sana, nanti kita mulai setelah sholat magrib”

Jadilah, malam minggu ini, kami mengulang kembali pelajaran tentang basis 10. Masih di awal sekali memang, karena aku juga belajar berproses bersama anak-anak untuk bisa lancar memahami metode ini, untuk tingkatan selanjutnya aku masih merasa perlu sowan dan berguru lagi ke Kakek Hakimi.

Dan begitulah akhirnya sodara-sodara… setelah sesi “Les” yang heboh dengan jeritan dan rebutan.. Anak-anak itu pulang dengan ikatan jadwal baru.

“LES LAGI BESOK, BADA MAGRIB !”

Heuleuh….dasar barudak…!! Jaragoan ngarayu…

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Jangan Bakar Jembatan …

Bonekpalsu | 7 jam lalu

Kios Pasar Pon Diperjual Belikan Oknum …

Fajar Agustyono | 7 jam lalu

Kuda-kuda yang Terluka …

Feri Sapran | 9 jam lalu

Dari Desa untuk Bangsa: Sinergi Kepemimpinan …

Mamang Haerudin | 9 jam lalu

BBM Naik, Pelayanan SPBU Pertamina …

Jonatan Sara | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: