Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Arek-tembalangan

life is nothing but a daring adventure - helen keller

Baca Komik = Belajar?

OPINI | 26 August 2013 | 07:02 Dibaca: 326   Komentar: 78   17

Hubunganku dengan komik bagaikan kisah cinta terlarang. Banyak diwarnai aksi kucing-kucingan.

Ketika aku kecil dulu, ayahku sangat keras membatasi bacaan di rumah kami. Buku, majalah, dan koran dipilih dengan ketat. Komik tidak boleh masuk rumah, kecuali komik pewayangan karya RA Kosasih koleksi Eyang Kakung. Kalau bosan membaca buku, aku membaca komik pewayangan. Saking sukanya, aku memberi nama anakku sesuai tokoh favoritku di dunia pewayangan.

Karena larangan Ayah, aku tidak pernah mempunyai atau membawa pulang komik. Aku mengenal komik Tintin lewat koleksi ketua kelasku jaman SD yang diselundupkan ke sekolah (dan sukses membuatku naksir berat pada si pemilik komik). Aku kenal komik Smurf lewat “pasar gelap” di kelas (karena dilarang membawa komik ke sekolah). Aku kenal Winnetou dan Old Shatterhand di rumah tetangga. Bahkan majalah komik Donal Bebek pun aku kenal lewat Paman.

Arjuno jauh lebih beruntung karena eranya sudah berbeda. Ayahku sudah tidak (terlalu) ribut soal bacaan cucunya ini. Konon, kakek dan nenek memang cenderung lebih permisif pada cucu. Jadilah Arjuno penikmat komik sejak belum bisa membaca.

Belajar Lewat Komik

Komik yang (menurut Ayahku) tidak ada manfaatnya ini ternyata jadi penyelamat ketika Arjuno mulai masuk sekolah dan mengenal matematika. Pelajaran matematika yang diengganinya ternyata bisa dijembatani lewat komik Doraemon. Penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian jadi lebih menyenangkan. Apalagi kemudian ada edisi Bendera Negara dan Peta Dunia, makin getollah Arjuno membaca (sekaligus belajar). Sampai sekarang dia masih hapal bendera-bendera negara di dunia, plus ibu kotanya.

Kemudian muncul komik sains dan sejarah yang (tampaknya) berasal dari Korea. Mulai dari pengetahuan alam sampai sejarah penemuan benda-benda yang kita gunakan sehari-hari, semua ada. Apalagi seringkali disampaikan lewat cerita-cerita yang lucu. Materi Pelajaran IPA di sekolah ternyata bisa dijelaskan dengan menghibur, sekaligus mendidik. Jangankan Arjuno, aku saja senang membaca komik jenis ini. Lumayan, mengenang pelajaran IPA jaman sekolah dulu.

Kegemaran Arjuno akan dunia militer dan sejarah dunia terpuaskan lewat serial komik perang. Komik Perang Saudara Amerika hingga sejarah Perang Dunia II ternyata ada. Belakangan, ternyata komik-komik lain macam Tintin maupun Gober Bebek pun mengandung fakta dan muatan sejarah yang disampaikan secara menarik. Ini hasil penelusuran Arjuno yang ternyata tidak puas hanya membaca komik, tapi juga menelusuri hal-ihwal perkomikan lewat Internet.

Sayangnya, Arjuno lebih paham sejarah dunia dibandingkan sejarah negara kita karena komik sejarah bangsa Indonesia sangat terbatas jumlah maupun judulnya.

Arjuno banyak mendapat tambahan pengetahuan lewat komik. Penyajian komik membuat aktivitas membaca lebih mengasyikkan daripada membaca buku-buku pelajaran sekolah. Buku-buku teks sekolah tentu saja memiliki keunggulan-keunggulan, antara lain pasti sesuai dengan kurikulum yang digariskan Pemerintah, dilengkapi dengan soal-soal latihan yang memadai, dan lain-lain. Namun tampaknya Arjuno lebih ingat materi-materi yang disampaikan oleh komik daripada yang disampaikan lewat buku teks sekolah. Seringkali, Arjuno sudah lupa materi yang jadi bahan ulangan minggu kemarin, tapi masih ingat cerita komik yang dibaca lebih 6 bulan yang lalu, bahkan bisa menceritakan ulang dengan rinci.

Belajar Harusnya Menyenangkan

Belajar lewat komik sudah pasti menyenangkan. Komik bisa “membumikan” materi-materi yang semula hanya ada di awang-awang. Memang tidak dipungkiri, ada jenis-jenis komik yang isinya tidak ada unsur pengetahuannya, murni hiburan, bahkan mengandung unsur pornografi. Untungnya, sampai sejauh ini, komik porno “baru” aku temukan di Internet, bukan di toko buku yang sering kami kunjungi. Sebagai ibu dari remaja belasan tahun yang rasa ingin tahunya besar, aku pun pernah “dipameri” situs komik porno oleh Arjuno dengan tenangnya, “Ini lho Mam, situs yang sering dibuka teman-teman.”

Komik dengan segala jenisnya bisa kita temui di toko buku. Orang tua bisa memilihkan komik pengetahuan yang pas dengan usia anak, walaupun isi komik belum sesuai dengan materi pelajaran anak di sekolah. Namun bila dimaksudkan sebagai tambahan materi pelajaran sekolah, komik bisa memberi manfaat yang besar. Apalagi dengan bahasa gambar yang sederhana, biasanya anak bisa cukup lama mengingat isi komik pengetahuan untuk melengkapi materi yang diperoleh di sekolah.

Agar tidak ketinggalan jauh dari anak-anak, sebaiknya orang tua juga meluangkan waktu untuk membaca komik pengetahuan tersebut. Jangan khawatir bosan atau gagal paham, karena jalan cerita komik jenis ini biasanya cukup mudah dipahami. Siapa tahu, Anda malah ikut ngakak membaca ceritanya.

Anak Anda hobi baca komik?

Jangan keburu marah dulu. Siapa tahu dia sedang belajar…

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Satpol PP DKI Menggusur Lapak PKL Saat …

Maria Margaretha | | 31 July 2014 | 17:04

Menghakimi Media …

Fandi Sido | | 31 July 2014 | 11:41

Ke Candi; Ngapain Aja? …

Ikrom Zain | | 31 July 2014 | 16:00

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Teman Saya Pernah Dideportasi di Bandara …

Enny Soepardjono | | 31 July 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 11 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 15 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 16 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 19 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: