Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Nadia Silvarani

Menulis apa yang ingin ditulis aja :p

Rumana dan Rere -Citra Tokoh Perempuan dalam Sinetron Tukang BUbur Naik Haji-

OPINI | 27 August 2013 | 16:46 Dibaca: 175   Komentar: 0   0

Citra ‘Rumana’ dan ‘Rere’, Dua Tokoh Perempuan dalam Sinetron Tukang Bubur Naik Haji

 

Saya tergerak menuliskan artikel ini dikarenakan hampir setiap hari menemani eyang putri saya menonton sinetron ini. Kadang, rasa bosan sering datang, tapi tak tega juga membiarkan eyang putri saya menonton sendirian di ruang keluarga. Jadi ya sudahlah…. Saya terima saja suratan takdir saya menonton sinetron ini. Hahaha….

Para pemeran wanita dalam sinetron ‘Tukang Bubur Naik Haji’ ini menarik perhatian saya. Di dalam sinetron yang ditayangkan setiap hari ini, ada beberapa tokoh wanita yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Sebut saja Rumana si wanita solehah (diperankan Citra Kirana), Rere si wanita karir (diperankan oleh Alice Norin), Romlah si wanita tajir (diperankan oleh Nova Soraya), Atika si wanita pengunjing (diperankan oleh Mega Aulia), Nafisah (diperankan oleh Rahmi Nurullina), Riyamah (diperankan oleh Dina Lorenza) dan Raisa (Sekretaris Robby).

Sebelumnya, saya ingin memaparkan bahwa artikel ini bukanlah karya ilmiah atau penelitian serius. Saya akui bahwa saya tidak menonton ulang sinetron ini dan menganalisisnya secara detil. Namun, jika ada seorang mahasiswa/i atau peneliti yang membaca artikel ini, mungkin dapat menjadikannya sebagai bahasan yang menarik.

Saya membagi tokoh-tokoh wanita dalam sinetron Tukang Bubur Naik Haji ini dalam dua kategori, yaitu wanita yang berkecimpung di ranah domestik dan wanita yang berkecimpung di ranah publik. Pembagian ini pun saya buat sendiri. Bukan merupakan pembagian kategori wanita berdasarkan ahli feminisme manapun. Ya sekali lagi saya ulangi. Tulisan ini bukanlah penelitian ilmiah.

Baik. Mari kita lanjutkan.

Lalu, siapa saja tokoh-tokoh yang masuk ke ranah public dan ranah domestic?

Untuk ranah public, saya melihat tokoh Rere, Romlah dan Raisa dapat dikatakan berkecimpung dalam ranah ini. Rere adalah seorang wanita karir yang menghabiskan hari-harinya di rumah dan di kantor, sementara tokoh Romlah diceritakan mempunyai perusahaan. Mungkin tidak seperti Rere yang benar-benar menghabiskan waktu sehari-hari di kantor, tetapi Romlah yang saya lihat mengurus keuangan, investasi dan perusahaan sendiri dapat dikatakan menjadi wanita mandiri yang masuk ke ranah public.

Tokoh ketiga yang saya anggap masuk ke ranah public adalah Raisa. Ia adalah rekan kerja Robby dan kawan-kawan. Tokoh ini pernah dicurigai Rumana lantaran ia pernah kepepet mengangkat panggilan handphone Robby. Mendengar suara perempuan, Rumana langsung berseru “Siapa ini?”

Kemudian untuk tokoh Rumana, Nafisah, Atika dan Riyamah, saya melihat mereka sebagai wanita yang berkecimpung di ranah domestik. Mereka menghabiskan banyak waktu di rumah. Meski tokoh Rumana diceritakan berpendidikan tinggi dan pernah bersekolah di Kairo, ia tidak mengaplikasikan ilmunya secara optimal. Memang untuk beberapa adegan, digambarkan Rumana eksis di pengajian dan terlihat memimpin pengajian, tetapi sifatnya tidak sering.

Tokoh Atikah yang seorang pengunjing juga menarik perhatian saya. Apakah karena ia digambarkan menjadi seorang pengunjing, makanya ia digambarkan tidak berjilbab? Untuk menjawab pertanyaan ini, tentunya harus ada penelitian lebih lanjut lagi. Tokoh Atika ini saya masukan ke dalam tokoh perempuan yang berkecimpung di ranah domestic. Ia tidak bekerja dan mengurus anak-anaknya sehari-hari. Dalam waktu senggangnya, ia banyak bergunjing dan sering membuat suaminya, Mahmud (diperankan Derry 4 Sekawan) geleng-geleng kepala.

Pada artikel ini, saya tertarik membahas Rumana dan Rere. Apalagi ketika kedua tokoh ini sudah menikah. Rumana menikah dengan Robby. Rere menikah dengan Rahmadi. Kebetulan sekali semua nama tokohnya berawalan huruf ‘R’.

Dua rumah tangga ini memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Rumah tangga Robi dan Rumana digambarkan selalu harmonis. Robi bekerja di kantor dan Rumana yang seorang istri rumah tangga menunggu sang suami dengan setia setiap harinya. Mereka juga memiliki anak. Karir Robi digambarkan semakin lama semakin berkembang. Pokoknya, model rumah tangga mereka ini seolah digambarkan oleh sinetron ini sebagai rumah tangga ideal. Semua penonton yang ‘menelan’ adegan demi adegan dalam rumah tangga ini bulat-bulat pasti atau dibuat mengimpikan model rumah tangga seperti ini.

Sementara pada rumah tangga yang kedua, yaitu rumah tangga Rahmadi dan Rere, saya melihat bahwa rumah tangga ini rentan dengan konflik. Adanya dua anak yang dimiliki Rahmadi di pernikahan sebelumnya sebenarnya berpotensi untuk memacu konflik. Misalnya, konflik antara dua anak ini dengan sang ibu tiri (Rere). Namun, dalam sinetron ini, tokoh Rere bukanlah tokoh ibu tiri jahat. Ia dapat memberikan kasih sayangnya kepada kedua anak tirinya tersebut.

Akan tetapi, tokoh Rere yang sudah menerima dua anak tirinya itu tidak membuat sang sutradara ‘gatal’ untuk membalut image Rere menjadi tokoh yang disukai penonton, layaknya Rumana. Menurut saya, alangkah baiknya jika penerimaan Rere kepada dua anaknya Rahmadi ini sedikit ditonjolkan.

Hal yang ditonjolkan pada karakter Rere justru adalah sosoknya yang merupakan seorang wanita kantoran dan tak memiliki waktu untuk sang suami. Akhirnya, Rahmadi sering mengeluhkan bahwa Rere tak sempat memasak untuknya, menemaninya lebih intens, dan lain-lain. Sampai-sampai, Rahmadi ingin Rere berhenti bekerja.

Padahal menurut saya, tidak semua wanita kantoran tidak dapat menjadi istri yang ideal untuk suaminya. Jika kita terpatok pada image yang secara tak sengaja dibentuk oleh sinetron ini, kita akan mengagungkan tokoh Rumana dan mengutuk tokoh Rere yang selalu membuat Rahmadi tak puas menjadi suami. Untuk para laki-laki, mungkin khayalan mereka terhadap istri ideal adalah seorang istri seperi Rumana. Bukan istri seperti Rere yang turut menyokong finansial keluarga.

Meski demikian, saya juga tidak berpendapat bahwa tokoh Rere adalah istri ideal dan Rumana adalah istri yang tidak ideal atau lemah. Kedua wanita ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hanya saja, saya agak kasihan dengan karakter Rere yang seolah dibuat image-nya sebagai wanita yang bukan menggambarkan ‘istri ideal’. Rumana hamil dan mempunyai anak lebih dulu, sementara Rere belum. Sempat juga Rere ingin adopsi tetapi tidak dibolehkan oleh suaminya. Dari sinilah, pasangan suami istri ini kembali cek-cok. Terkadang, kedua orang tua Rahmadi mau tak mau turut campur, dan tentu saja mereka membela Rahmadi. Rere semakin terpojok.

Terlambatnya kehamilan dan memiliki anak pada karakter Rere pun kembali mengundang kecurigaan, apakah tokoh Rere yang belum hamil digambarkan bahwa perempuan kantoran kurang subur? Bisa iya, bisa tidak. Lagi-lagi, butuh penelitian lebih lanjut yang saya akui belum saya lakukan.

Rumah tangga Rumana dan Robi tidak cek-cok bukan berarti rumah tangga meeka ideal. Saya melihat –mungkin bisa saja saya salah-, Rumana sering menyimpan masalahnya sendiri. Ia kurang dapat mengemukakan pendapatnya pada suaminya, mungkin takut ada konflik. Menurut saya, menyimpan konflik itu juga tidak baik.

Saya mengambil kesimpulan bahwa tokoh Rumana dan Rere memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hal yang saya sayangkan adalah adanya pembentukan image bahwa Rumana adalah istri ideal, sedangkan Rere tidak. Semoga saja, setelah membaca ini, kita yang merupakan bagian kecil dari penonton sinetron ini semakin sadar bahwa istri ideal tidak selalu istri domestic dan istri kurang ideal adalah perempuan kantoran.

Akhir kata, saya sudahi artikel ini. Saya minta maaf jika ada kata-kata yang kurang tepat atau terkesan kurang netral. Ini hanya bacaan santai dan terbuka bagii pendapat-pendapat lain. Terima kasih.

 

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Jokowi, Berhentilah Bersandiwara! …

Bang Pilot | 10 jam lalu

Menerka Langkah Politik Hatta …

Arnold Adoe | 12 jam lalu

Anies Baswedan Sangat Pantas Menjadi …

S. Suharto | 12 jam lalu

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: