Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Kapitan Joe

A New Yorker, live and work for many years in Rockefeller center Area, Like to selengkapnya

Ada Salah Apa Ibu Lurah Lenteng Agung?

REP | 28 August 2013 | 17:40 Dibaca: 3622   Komentar: 83   44

Hari ini ramai diberitakan lewat berbagai media, bahwa di wilayah Jakarta selatan, ada demo di salah satu kelurahan oleh masyarakat setempat, demo ini terkesan menjurus ke SARA oleh karena menurut warga setempat Sang Lurah memiliki agama yang berbeda dengan mayoritas warga setempat, dan untuk itu demi kenyamanan para warga, lurah ini harus diganti  kalau tidak mereka akan berdemo sampai Istana negara agar lurah ini disingkirkan dari kelurahan ini.

Tentu bagi kaum awam hal ini sungguh mengherankan, sang lurah yang nota bene lulus dengan ujian lelang jabatan  yang dilakukan secara transparan beberapa waktu lalu oleh pemda DKI, justru mendapat penolakan dari oknum-oknum tertentu  yang mengaku warga lenteng agung, bahkan sampai hari ini telah terkumpul 1.500 tanda tangan yang digunakan sebagai bukti untuk penolakan ini.

Laporan demo  penolakan ini juga telah sampai kepada Gubernur dan Wakil Gubernur DKI, Gubernur sampai berucap; bahwa yang melakukan demo itu bukanlah warga lenteng Agung, sementara sang Wakil Gubernur berucap sang lurah akan dipindah jika yang bersangkutan melakukan kesalahan seperti Korup atau melakukan pelanggaran dalam menjalankan tugasnya sebagai lurah.

Dari berbagai hasil wawancara yang dilakukan oleh para jurnalis media cetak dan televisi terhadap warga setempat, ditemukan bahwa sang lurah cukup supel dengan warga setempat, pengurusan berbagai surat maupun kartu tanda penduduk pada kelurahan ini berjalan transparan dan tidak berbelit-belit, bahkan kesaksian seorang ibu saat anaknya mengalami kesulitan keuangan di sekolahan sang lurah turun tangan membantu, lantas mengapa ada demo penolakan terhadap lurah ini?

Ada informasi dari beberapa warga bahwa bu lurah ini tidak bisa menghadiri halal-bilhal saat bulan Ramadhan kemarin dengan para pemuka agama setempat, sehingga membuat para pemuka ini tersinggung atau merasa kurang dihormati oleh sang lurah, untuk itu hukuman yang paling ringan untuk sang lurah adalah dipindahkan dari lenteng agung, demikian informasi yang diberitahukan oleh beberapa media hari ini.

Melihat fenomena ini tentu sang Gubernur dan Wakil Gubernur tidak bisa menerima demo yang dilakukan oleh para pendemo hari ini, alasan Primodial  tidak bisa dijadikan untuk memindahkan bu lurah, demikian pernyataan Jokowi hari ini di Balaikota, Ahok pun berujar, kalau keinginan para pendemo ini diluluskan, hancurlah Republik ini, karena sistem konsitusi tidak bisa berjalan jika pemerintah mengakomodir keinginan kelompok tertentu.

Unsur SARA memang senjata paling ampuh di Negeri ini, jadi jangan heran jika para koruptor yang saat ini dikandangkan di Kantor KPK, waktu sidang di pengadilan Tipikor tampil dengan peci dan baju koko, padahal sebelumnya para koruptor ini dengan santainya menggarong uang rakyat ratusan milyar, pesta pora dengan banyak wanita,  mana lebih berharga ibu lurah yang tulus melayani warganya atau para koruptor ini?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tertangkapnya Polisi Narkoba di Malaysia, …

Febrialdi | | 01 September 2014 | 06:37

Menjelajahi Museum di Malam Hari …

Teberatu | | 01 September 2014 | 07:57

Memahami Etnografi sebagai Modal Jadi Anak …

Pebriano Bagindo | | 01 September 2014 | 06:19

Kompas TV Ramaikan Persaingan Siaran Sepak …

Choirul Huda | | 01 September 2014 | 05:50

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 5 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 6 jam lalu

Salon Cimey; Acara Apaan Sih? …

Ikrom Zain | 6 jam lalu

Bayern Munich Akan Disomasi Jokowi? …

Daniel Setiawan | 7 jam lalu

Kisah Ekslusive Tentang Soe Hok Gie …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | 7 jam lalu

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | 8 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 8 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

‘Royal Delft Blue’ : Keramik …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: