Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Wellyandi Wellyandi

belajar seumur hidup...

Ospek oh Ospek….

OPINI | 30 August 2013 | 01:24 Dibaca: 132   Komentar: 0   0

Jika ditanya tentang Ospek banyak orang mengetahuinya, umumnya adalah para mahasiswa, mantan mahasiswa dan dosen. Namun jika ditanya apa kepanjangan dari Ospek saya yakin banyak yang tidak tahu. (silakan intip di google, ketahuan kan kalau gak tahu…)

Bicara tentang Ospek yang terlintas di pikiran akan bermacam-macam. Ospek identik dengan perploncoan. (Apa itu plonco ? lagi-lagi tidak tahu tapi gambarannya sudah ada…) Gambaran Ospek cukup mengerikan, dikerjai senior, disuruh ini itu, memakai pakaian aneh-aneh, diintimidasi baik fisik maupun mental dan sebagainya.

Alasan senior untuk meng”ospek” pun beragam. Ada yang beralasan untuk pembinaan mental, tradisi, bahkan ada yang melampiaskan dendam karena pernah juga di”ospek”. Kalau diamati memang ada manfaat tetapi juga ada dampak buruknya.

Saya hanya ingin membahas sisi lain dari “Ospek”. Pada dasarnya manusia memang butuh dihargai oleh manusia lain dan bentuk untuk melampiaskan kebutuhan ini bisa beragam. Ada yang menghabiskan waktu untuk perawatan tubuh supaya kelihatan ganteng atau cantik. Ada yang sekolah setinggi-tingginya agar mendapatkan gelar yang bergengsi. Ada yang memakai barang-barang bagus dan mahal agar kelihatan bahwa dia kaya. Ada yang mengintimidasi orang lain agar tunduk. Ada yang ikut beragam kegiatan dan organisasi agar kelihatan sibuk. Ada yang ikut beragam lomba, kompetisi dan sebagainya. Ada yang pergi naik haji biar dipanggil pak haji dan buk hajjah. Semuanya bermuara pada satu tujuan, dihargai.

Menurut saya meng”ospek” adalah salah satu variasi usaha manusia agar dihargai. Terlebih lagi kecenderungan orang yang lebih tua adalah merasa lebih benar, lebih berilmu, lebih ahli, lebih berpengalaman dan lebih dalam banyak hal daripada orang yang lebih muda. Memang ada yang beralasan bahwa “ospek” yang diberikan untuk kebaikan mahasiswa baru, tidak ada yang salah pada niat baiknya. Namun hal itu menjadi tidak nyambung ketika sudah di”ospek” junior tidak juga menghargai senior. Disini letak permasalahannya, ujung-ujungnya pembinaan yang diberikan bukan untuk si junior dengan sadar menghargai orang lain, namun karena terpaksa dan merasa terintimidasi oleh senior.

Jika kita mau jujur, perploncoan asik-asik saja selama itu dibawakan dengan santai, lucu-lucuan dan menyenangkan. Namun akan menjadi masalah ketika intimidasi baik secara fisik maupun mental dilakukan secara berlebihan dan kabur. Kabur maksud saya disini adalah suasana yang tidak jelas seperti ketika asik-asiknya bernyanyi bersama tiba-tiba ada saja yang marah-marah, sehingga menimbulkan kebingungan. Ketika asik bercanda, tiba-tiba saja ada yang main fisik. Kenapa tidak dipisah-pisah secara jelas.

Ada hari khusus untuk pembinaan fisik ala militer, ada hari khusus pembinaan mental namun bukan dengan senior tapi dengan preman yang asli misalnya. Yang penting jelas sehingga tidak menimbulkan perlawanan yang tidak perlu dari junior sehingga berujung pada permusuhan. Bagaimanapun, kalau ingin dihargai tidak perlu dengan cara intimidasi tetapi dengan perilaku yang baik.

Banyak yang jika bercerita tentang masa-masa ospeknya mengatakan bahwa itu menyenangkan, berkesan, membuat dekat dengan senior dan manfaat baik lainnya. Jika diamati dengan lebih teliti lagi, keakraban itu muncul bukan ketika kegiatan berbau kekerasannya, namun karena banyak hal-hal lain yang dilakukan diluar itu. Efek buruknya, yang tidak menerima perlakuan itu akan dendam dan membalaskan pada orang yang tidak tahu apa-apa, junior yang dibawahnya, kasihan. Pernah tahu istilah ini ? dua pasal yang berlaku di dunia per”ospek”an ? Pasal satu : Senior selalu benar. Pasal dua : Jika senior salah kembali ke pasal satu. Undang-undang ini diteruskan dari generasi ke generasi, menyeramkan.

Intinya, suatu tujuan yang baik sebaiknya dilalui dengan proses yang baik serta tidak berlebihan, jujur dan jelas. Akhirnya, umumnya manusia akan membangga-banggakan masanya dan merendahkan masa generasi di bawahnya. Dahulu kami begini, lihat anak zaman sekarang. Padahal di setiap zaman selalu saja ada kebaikan, prestasi sebagaimana juga selalu juga akan ada keburukan dan kegagalan. Ingin dihargai ? hargai dulu orang lain.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bledug Kuwu, Fenomena Langka Alam Indonesia …

Agoeng Widodo | | 27 August 2014 | 15:18

Taufik Mihardja dalam Sepenggal Kenangan …

Pepih Nugraha | | 27 August 2014 | 22:34

Ini yang Harus Dilakukan Kalau BBM Naik …

Pical Gadi | | 27 August 2014 | 14:55

Cinta dalam Kereta (Love in The Train) …

Y.airy | | 26 August 2014 | 20:59

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Hilangnya Acara Budaya Lokal di Televisi …

Sahroha Lumbanraja | 6 jam lalu

Lamborghini Anggota Dewan Ternyata Bodong …

Ifani | 7 jam lalu

Cara Mudah Latih Diri Agar Selalu Berpikiran …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

3 Kebebasan di K yang Buat Saya Awet Muda …

Hendrik Riyanto | 9 jam lalu

Boni Hargens cs, Relawan atau Buruh Politik …

Munir A.s | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: