Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Mawalu

Banyak orang menulis bagaikan thriller psikologis dengan pola berpikir seperti orang epilepsi. Orang bebal ketika selengkapnya

Darah Orang Kafir Halal Dicurahkan di Bumi Pertiwi Ini

OPINI | 01 September 2013 | 15:07 Dibaca: 1989   Komentar: 39   5

Di malam Natal itu seorang Pendeta baru saja akan menyelesaikan tugasnya memimpin ibadah malam natal. Ia menumpangkan tangan kepada Jemaatnya dengan penuh khidmat dan mengucapkan doa berkat, “Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau, Tuhan menyinari engkau dengan wajahNya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajahNya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.”

Sesaat setelah ucapan berkat itu selesai diucapkan, tiba-tiba terdengan ledakan keras menggelegar, DUUAARRR!!! Gereja itu hancur luluh lantak, serpihan kaca pecah berhamburan kemana-kemana, korban pun tewas berjatuhan tumpang tindih satu sama lain, darah berceceran dimana-mana menggumpal bercampur dengan debu tembok Gereja yang hancur lebur rontok ke tanah, serpihan daging manusia pun bertebaran akibat ledakan dasyat bom di malam Natal itu.

Teriakan dan jeritan pilu para jemaat yang terluka parah pun bersahut-sahutan, seolah-olah doa berkat yang baru saja mereka terima itu direnggut paksa oleh Malaikat Pencabut Nyawa. Lucifer dan Dajjal pun bertepuk tangan kegirangan di alam barkah menyaksikan aksi bom jihad hasil karya buah tangan anak bangsa di malam Natal yang indah itu.

Kisah ini adalah salah satu serpihan dari sekian banyaknya serpihan-serpihan lainnya tentang kisah memilukan pengeboman Gereja di negeri yang katanya menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika itu.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Gereja penuh hanya di Malam Natal saja. Pengurus Gereja harus pasang tenda dan mengadakan kebaktian berkali-kali karena orang-orang yang dalam setahun penuh biasanya tak pernah injak Gereja, tiba-tiba ingat dan sadar diri masuk Gereja untuk memperingati hari kelahiran Yesus di Betlehem, Yehuda. Itulah sebabnya jangan heran kenapa aksi terorisme selalu berjibaku terjadi di malam Natal.

Rentetan kekerasan atas nama agama terus berlanjut, bahkan sampai saat ini, meluah tak tertahankan. Toleransi antar umat beragama di negeri ini telah berada pada titik nadir akibat ulah segelintir munafiqun yang telah tercemar racun doktrin reward Bidadari Sorgawi yang masih perawan, cantik jelita, yang menanti di Taman Firdaus.

Bahkan seorang tokoh bangsa sekaliber Jusuf Kalla pun pernah berkomentar bahwa negeri ini sudah punya 56.000 Gereja, seharusnya orang Kristen berterima kasih kepada bangsa ini. Apa pantas tokoh bangsa bicara seperti itu? Stigma seperti begini ini pemicu jurang pemisah yang sangat dalam antar umat beragama di negeri Zamrud Khatulistiwa ini. Ibaratnya, bagaikan air dan minyak yang tak akan mungkin bersatu.

Seringkali orang yang penuh dengan simbol dan atribut agama, justru bersikap sebaliknya, rasis, angkuh, dan sebegitu mudahnya menghakimi sesamanya sebagai sesat, kafir, murtad, Dajjal, terkutuk, dan sumpah serapah lainnya yang keluar dari mulut mereka. Doa dan kutuk keluar dari mulut yang sama.

Tentu saja, setiap agama punya kacamatanya sendiri-sendiri. Akan tetapi bagaimanapun juga prilaku fanatisme yang super ngawur dan super konyol yang membabi-buta hanya menjadikan manusia terkotak-kotak dan mudah dibodohi supaya bertindak sembarangan dengan memaksakan kebenaran subyektif ke ranah publik.

Kalau kita mau bicara mengenai halal dan haram, dulu kakek nenek kita haram hukumnya makan pakai sendok dan garpu. Hanya orang Londo kafir yang makan dengan sendok dan garpu. Sekarang justru babu dan jongos pun makan pakai sendok dan garpu. Sudah jadi Londo semuanya. Ini realita.

Begitu banyak umat beragama di negeri ini yang dengan sebegitu gampangnya menghakimi umat agama lain yang tak sepaham dalam pandangan agama tertentu adalah orang kafir, sesat, murtad, haram jadah, sehingga mereka halal dibunuh. Ini adalah prilaku super konyol dan super ngawur yang mengkudeta Tuhan dengan mengambil alih secara paksa hak prerogatif dan otoritas Tuhan Yang Maha Kuasa sang pemberi kehidupan bagi umat manusia.

Bangsa kita bukan kuburan yang kelihatannya begitu indah dan mewah diluar, tapi busuk didalam penuh dengan cacing, bakteri, kecoak, dan ulat belatung. Bangsa kita juga bukanlah bangsa barbar yang sakit jiwa. Bangsa kita adalah bangsa yang murah hati, murah senyum, gotong royong, dan welas asih dalam kebersamaan. Apapun agama anda, belajarlah untuk hidup tulus tanpa pamrih Sorga dan Phobia Neraka.

Aku percaya selama masih ada orang-orang yang peduli dengan nasib bangsa ini, siap berjibaku melawan barisan para munafiqun itu, istiqomah dalam perlawanannya, sehingga suatu saat nanti stigma dan doktrin konyol yang super ngawur itu akan mampus dan punah dengan sendirinya.

Majulah bangsaku, tumpah darahku. Damai sejahtera beserta mu, sekarang sampai selama-lamanya, Yaer ADONAI panav eleycha v’kunecha Yisa ADONAI panav eleycha v’yasem leycha shalom. Amein.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Bank Papua, Sponsor Tunggal ISL Musim Depan …

Djarwopapua | 9 jam lalu

Seminggu di Makassar yang Tak Terlupakan …

Annisa Nurul Koesma... | 9 jam lalu

Robohkah Surau Kami Karena Harga BBM Naik? …

Axtea 99 | 10 jam lalu

Sahabat Hati …

Siti Nur Hasanah | 10 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: