Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Mochamad Syafei

Guru SMP Negeri 135 Jakarta. Pernah juga mengajar di SMP N 228 Jakarta. Suka Menu selengkapnya

“Bangsat!” Dalam Buku Bahasa Indonesia Kurikulum 2013

OPINI | 03 September 2013 | 16:00 Dibaca: 267   Komentar: 20   2

Sedih.  Sedih banget rasanya.  Pendidikan nasional yang diharapkan mampu menjadi pionir dalam pembangunan karakter bangsa yang saat ini sudah amburadul karena dihiasi oleh cengengesannya para koruptor, ternyata digarap dengan kurang profesional.  Jika ada ketidaketisan dalam buku LKS yang notabene tak pernah melalui jalur penilaian, maka kata maaf dari pejabat kemdikbud dapat dipahami.

Akan tetapi, jika muncul persoalan ketidaketisan dalam buku Bahasa Indonesia Kurikulum baru 2013, maka sebagai seorang guru, saya sungguh-sungguh terbelalak.  Karena buku tersebut seharusnya sudah melalui banyak penilaian yang biayanya juga tak murah.  Sehingga, permintaan maaf dari pejabat Kemdikbud menjadi sebuah prilaku yang tak etis.

Apakah Kemdikbud kecolongan?  Saya rasa tidak.  Persoalan seperti ini terjadi karena ada ketidakprofesionalan dalam birokrasi Kemdikbud.  Pengerjaan pengadaan buku terburu-buru karena hendak memenuhi tagret tahun ini juga Kurikulum baru harus dilaksanakan.

Jalan keluar yang ditawarkan:  Sobek saja kertas yang ada cerpen itu.  Ganti dengan cerpen baru.  Sepele amat!  Beginikah cara mengurus pendidikan di negeri ini?

Kecewa.  Sangat kecewa.  Pendidikan tak pernah dikelola dengan profesional.  Jangan bicara yang fundamental.  Kalau masalah buku saja tak beres begini.

Terus bagaimana bangsa ini bisa membangun masa depan?  Omongan pejabat Kemdikbud yang berkoar-koar bahwa Kurikulum baru berpijak pada pembenahan etika bangsa tapi malah dikangkangi dengan realita buku bahasa Indonesia yang penuh kata tak etis.

Negeri ini memang negeri penuh paradoks.  Koruptor yang ditangkap KPK adalah mereka yang sebelum ditangkap selalu bicara semangat tentang stop korupsi.  Bahkan iklannya ditayangkan berulang-ulang.  Mereka yang ditangkap KPK adalah mereka yang begitu fasih mengucap firman Tuhan sam,bil menginjak-injak dalam tindakan kesehariannya.

“Bangsat!” dalam buku bahasa Indonesia Kurikulum 2013 yang ditemukan digarut adalah bukanlah sesuatu kealpaan.  “Bangsat” lebih mencerminkan kerja para pejabat Kemdikbud yang asal-asalan.  Sehingga buku yang sudah melalui penilaian dengan biaya yang tak murah masih mengandung etika murahan.

Lalu, masihkah kami berharap akan ada perbaikan dalam dunia pendidikan nasional jika para pemegang tampuk kekuasaan di Kemdikbud bekerja seperti sekarang ini?

Ogah mikir aku!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Waspada Oknum Polisi pada Ngumpet di Jalan …

Iskandar Indra | | 15 September 2014 | 16:23

Super Yuraaaa! Catatan Konser Balada Sirkus …

Irvan Sjafari | | 15 September 2014 | 21:23

Dampak Kasus Perkosaan Rutin Mewarnai Media …

Majawati Oen | | 15 September 2014 | 19:44

Kita adalah Dua Layang-layang …

Conni Aruan | | 12 September 2014 | 12:42

Dicari: “Host” untuk …

Kompasiana | | 12 September 2014 | 16:01


TRENDING ARTICLES

RUU Pilkada: Jebakan Betmen SBY buat Jokowi, …

Giri Lumakto | 8 jam lalu

Timnas U-23 Pimpin Grup E Asian Games …

Abd. Ghofar Al Amin | 9 jam lalu

Festival Film Bandung, SCTV, dan Deddy …

Panjaitan Johanes | 16 jam lalu

Berkunjung ke Tebet? Kunjungi Tempat Ini …

Ryu Kiseki | 18 jam lalu

Keluar dari Zona Nyaman …

Afrisal Planter | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Pilih ONH Reguler atau ONH Plus? …

Bonekpalsu | 8 jam lalu

Revolusi Mental, Mungkinkah KAI Jadi …

Akhmad Sujadi | 9 jam lalu

Perilaku Agamis dan Pentingnya Ekonomis …

Saktya Alief Al Azh... | 9 jam lalu

[Fiksi Fantasi] Runtuhnya Agate: …

Hsu | 9 jam lalu

Mencapai Gelinjang Orgasme di Kompasiana …

Pebriano Bagindo | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: