Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Pepih Nugraha

Gemar catur dan mengoleksi papan/bidak catur. Bergabung dengan Harian Kompas sejak 1990, hari-hari diisi membaca, selengkapnya

Berkat Vicky, Kami Mendadak Cinta Bahasa Indonesia

HL | 11 September 2013 | 17:25 Dibaca: 15388   Komentar: 91   54

137889357242698527

Zaskia Gotik dan Vicky Prasetyo/Kompas.com

Banyak orang mencemooh Vicky Prasetyo. Tutur-katanya itu loh… Oleh sebagian orang celotehannya di depan corong media dianggap aneh bin ajaib, nyleneh, sok intelek, sok ngota, sok nyekolah, sok nginternasional, dan cap “miring” lainnya, setidak-tidaknya yang saya tangkap di media sosial. Vicky adalah no one” yang tiba-tiba menjadi “someone” berkat sihir Youtube, sebab hanya dalam semalam saja namanya menjadi buah bibir netizen internet di Indonesia. Orang yang suka melototin internet dan aktif sebagai warga media sosial boleh dibilang tidak ada yang tidak kenal nama ini.

Dalam tulisan singkat ini, saya tidak perlu mengulas siapa sosok Vicky Prasetyo, mungkin tidak terlalu penting atau menarik buat saya. Kata media sih, pemuda berusia 29 tahun ini pandai menaklukkan hati perempuan, wa bil khusus sejumlah penyanyi dangdut yang sedang berkibar di panggung nasional, termasuk pedangdut Zaskia Shinta yang berjuluk panggung Zaskia Gotik alias “goyang itik” (Oalah… apa serunya nonton goyang itik, ya?). Banyak artis pria yang lebih ganteng dari “Brad Pitt” ini menyanjung kehebatan Vicky dalam menaklukkan hati perempuan.

Pada video berdurasi satu menit itu Vicky mempertontonkan kemahiran bahasa gado-gadonya. Dibilang gado-gado, ya karena bahasanya campur-campur. Kadang bahasa Indonesia, kadang bahasa Inggris, kadang pula bahasa yang sulit dimengerti pendengar bahkan oleh Zaskia Gotik itu sendiri. Hebatnya Vicky, ringan saja bertutur seperti tidak ada beban, dan benar-benar menunjukkan bahwa dirinya sebagai seorang “intelek” yang mahir menggunakan bahasa “canggih”, campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, plus “istilah” baru Vicky yang barangkali sulit dimengeri, bahkan oleh pakar bahasa Indonesia sekelas Jus Badudu sekalipun.

Sila kutip kembali ucapan Vicky seperti “kontroversi hati”, “konspirasi kemakmuran”, “harmonisisasi”, “statusisasi kemakmuran”, atau “labil ekonomi” di depan pakar bahasa Indonesia, dijamin mereka kebingungan sendiri. Atau tanya Nisrina H Nur Ubay dan Anton Hilman, orang Indonesia yang mengajar bahasa Inggris di TVRI tempo dulu makna kalimat “twenty nine my age” saat Vicky mengungkapkan usianya. “What..??” mungkin demikian reaksi mereka. Tapi Vicky, enteng-enteng saja mengucapkan kalimat ini dan merasa tidak ada yang salah. Mungkin dalam hati Vicky bertanya, “Emang masalah buat lo?”

Lantas banyak orang bereaksi sinis atas “ulah” Vicky berbahasa, padahal berbicara dan mengeluarkan pendapat itu dijamin konstitusi loh, tidak terkecuali gaya dan cara Vicky bicara. Saya menggarisbawahi kicauan budayawan Goenawan Mohamad (gm_gm) di Twitter bahwa apa yang disebutnya ”vickinisasi” itu sebagai puncak gunung es dari gejala kemalasan berbahasa, baik menelaah maupun menerjemahkan kata asing.

Saya kira benar apa yang dikatakan Goenawan. Misalnya, berapa sering di antara kita yang membuka kamus besar Bahasa Indonesia saat pikiran terantuk kata-kata yang ambigu. Atau, berapa banyak di antara kita yang membuka thesaurus (mengutip Ahmad “Negeri 5 Menara” Fuadi, ini bukan adik Dinosaurus) kala kita tidak memahami persamaan atau lawan kata sehingga kita seperti miskin kata-kata.

Saya senang cara bicara Vicky dicemooh ramai-ramai. Supaya orang tak lagi omong asal bunyi dan menulis tanpa berpikir,” demikian kicauan Goenawan saya kutip ulang di sini.

Bahasa Indonesia, karena diucapkan sehari-hari dan karenanya merasa tidak perlu dipelihara dan dipelajari, sebenarnya satu dari “ruh” eksistensi negara ini yang ditabalkan para “the founding fathers”, para pendiri bangsa, pada tahun 1928, jauh sebelum Indonesia merdeka. Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa…. ya Indonesia, bahasa Indonesia itu. Tetapi cermati apa yang terjadi, “kemalasan” berbahasa Indonesia semakin menjadi-jadi di negeri ini. Jangan-jangan, orang sudah jatuh gengsi jika dalam pergaulan tingkat elit masih saja menggunakan bahasa Indonesia yang kaku. Padahal, orang dengan mudah cas-cis-cus berbahasa asing, yang katanya jauh lebih keren, bergaya dan berwibawa.

Sekarang, demikian bejibun stasiun televisi di Tanah Air. Pertanyaannya; adakah satu mata acara “Pelajaran Bahasa Indonesia” di puluhan stasiun swasta itu sekarang sebagaimana dulu TVRI menyiarkan Jus Badudu atau Anton Moeliono yang mengajari pemirsa bagaimana berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Soal penghormatan, tanya pada anak-anak, adik-adik, atau kita sendiri, bagaimana penghormatan mereka terhadap guru bahasa Indonesia dibanding guru bahasa Inggris atau matematika? Atau jangan jauh-jauh, apakah Fakultas Sastra dan Bahasa Indonesia pernah menjadi fakultas favorit dan karenanya menjadi incaran calon-calon mahasiswa sebagaimana mereka mengejar fakultas ekonomi, hukum, atau teknik?

Pada hemat saya, bahasa Indonesia benar-benar merana. Dibutuhkan saat orang menyampaikan buah pikir, perasaan atau gagasan, tetapi tidak cukup diperhatikan apakah ia sudah diucapkan dengan benar dan tertib. Padahal, tidak sedikit jasa baik bahasa Indonesia ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bagi warga negara Indonesia.

Meski diolok-olok habis-habisan dan dikuliti di media sosial tanpa ampun, Vicky Prasetyo secara langsung telah menyadarkan kita, minimal saya sendiri (sebelum diteriakin “kita? elo, kali!”), betapa pentingnya kita berbahasa Indonesia yang benar dan tertib itu. Vicky menyadarkan kita semua, ternyata kita ini sebenarnya masih cinta dan tetap bangga terhadap bahasa Indonesia. Buktinya, banyak di antara kita yang langsung melancarkan protes dan mencemooh Vicky sebagai “sok pintar” atau mengutip Zaskia Gotik sendiri “kelewat cerdas” saat ia dianggap “melecehkan” bahasa Indonesia.

Gaya dan cara berbahasa Indonesia Vicky yang “aneh” adalah memonetum yang baik untuk kembali menumbuhkan rasa bangga di antara kita, bahwa kita masih punya bahasa kebanggaan, yaitu bahasa Indonesia. Kalau Anda dan kita semua tidak mau diperolok-olok dan “direndahkan” orang lain seperti Vicky, ya… mulai sekarang perhatikan bahasa Indonesia yang sudah “embed” dalam diri kita itu dengan tetap berbicara bahasa Indonesia yang benar dan tertib.

Sudah lama para filsuf bilang, “kata itu tidak bermakna, oranglah yang memberi makna”. Ada kesepakatan bersama untuk memahami satu kata. Banyak orang mengatakan, ucapan Vicky itu ngawur dan tidak ada artinya sama sekali, sebab ia lahir tanpa kesepakatan dengan orang lain. Kata “statusisasi” dan “harmonisisasi” tidak lahir dari kesepakatan itu karena lahir dari Vicky sendiri. Tetapi kenyataannya, lama-lama orang mungkin bisa paham maksud “kontroversi hati”, “konspirasi kemakmuran”, “harmonisisasi”, “statusisasi kemakmuran”, atau “labil ekonomi” itu.

Ah, jangan-jangan kita sudah sering mengutip apa yang diucapkannya itu, baik langsung sebagaimana Vicky ucapkan, atau kombinasi dari kata-kata itu yang “lebih bermakna”, misalnya “konspirasi hati” atau “kontroversi kemakmuran”. Bahwa ada istilah baru seperti “statusisasi” dan “harmonisisasi” yang tidak ada dalam kamus bahasa Indonesia maupun Inggris, ya barangkali tinggal meminta penjelasan Vicky saja, apa makna sesungguhnya dari kata-kata itu. Kalau menjadi kesepakatan, kelak “harmonisisasi” dan “statusisasi” yang diciptakan Vicky akan menjadi punya makna. Siapa tahu…

Sebagai penutup tulisan ringan ini, daripada saya mencemooh dan merendahkan Vicky Prasetyo sedemikian rupa, saya lebih baik berterima kasih kepadanya. Alasannya sederhana, berkat gaya bicara Vicky itu, saya sadar bahwa saya masih memiliki bahasa kebanggaan, yaitu bahasa Indonesia. Sungguh, mendadak saya jadi cinta bahasa Indonesia dan ingin menggunakan bahasa kebanggaan itu secara benar dan tertib.

Jadi…. terima kasih, Vicky!

***

Palbar, 11 September 2013

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 10 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 11 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 12 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: