Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Lilis Setiyorini

Guru Matematika di SMP Negeri 2 Benjeng Gresik

Jurnal 5: Kurikulum 2013, Bukan Untuk Guru Malas

REP | 11 September 2013 | 21:50 Dibaca: 485   Komentar: 8   3

Materi diklat ke 5 adalah Kurikulum 2013. Ada 4 sub materi yaitu tentang rasional kurikulum 2013, elemen perubahan kurikulum, konsep pendekatan sceintific dan konsep penilaian otentic pada proses dan hasil.

Ada bebrapa alasan mendasar mengapa terjadi perubahan kurikulum dari kurikulum KTSP menuju kurikulum 2013. Dalam rasionalisasi kurikulum 2013, sebagian alasannya adalah adanya tantangan masa depan terhadap mutu, investasi dan transformasi pada sektor pendidikan . Perkembangan teknologi juga menjadi alasan bagi perubahan kurikulum ini.

Beberapa standar menjadi elemen perubahan kurikulum. Elemen standar isi sudah di proses secara matang oleh Kementrian Pendidikan. Yang harus kita cermati adalah standar prosesnya.  Standar proses ini mencakup peran serta guru yang sangat besar. Dalam proses pembelajarannya, guru harus menggunakan pendekatan saintific dan kontekstual.  Dalam pendekatan ini, siswa dituntut untuk memiliki kreativitas. Kemampuan kreativitas diperoleh melalui:

      • Observing [mengamati]
      • Questioning [menanya]
      • Associating [menalar]
      • Experimenting [mencoba]
      • Networking [Membentuk jejaring]

Yang menjadi pertanyaan, sudah siapkah guru Indonesia melakukannya? Sementara bukan hanya proses , dalam penilaianpun, banyak sekali perubahan yang harus dilakukan.

Menurut saya, perubahan kurikulum itu perlu. Meningkatkan kemampuan guru itu hukumnya wajib. Sebelum kurikulum baru diberlakukan, pemerintah harus meng upgrade kompetensi guru. Bukan hanya kompetensi, tetapi juga harus meng “upgrade’ semangat perubahan pada diri guru. Jangan sampai, kurikulum yang disusun dengan biaya yang tidak sedikit ini, dengan pemikiran para cendikia, menjadi sia-sia karena ketidaksiapan ujung tombaknya dalam menerapkan di lapangan. Jangan sampai plesetan kurikulum-kurikulum sebelumnya  berlaku pada kurikulum 2013.  Kalau dulu ada kurikulum balik kucing (KBK) karena gak jadi dilaksanakan, jangan sampai Kurikulum 2013 menjadi kurikulum “celaka” 13, karena tidak berhasil diterapkan di sekolah.

Kurikulum 2013, memang bukan untuk guru malas. “Semangat Guru Indonesia melaksanakan Kurikulum 2013″

Tags: p4tk

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Berani Duduk di Bangku Paling Depan—Cupu …

Frida Kurniawati | | 22 December 2014 | 18:22

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 4 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 5 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 5 jam lalu

Evan Dimas, Tengoklah Chanathip ‘Messi …

Achmad Suwefi | 12 jam lalu

Dampak ‘Mental Proyek’ Pejabat …

Giri Lumakto | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: