Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Dian Lisdianto Wibiowo

Alumni Universitas Paramadina,Jurusan Public Relations

Nilai-nilai Kemanusiaan Dalam Berpuasa

OPINI | 11 September 2013 | 15:34 Dibaca: 75   Komentar: 0   0

Nilai-nilai kemanusiaan dalam berpuasa

Bulan Ramadhan telah datang kembali menghampiri kita. Ini merupakan momentum bulan yang sangat tepat bagi kita untuk bisa memperbaiki diri kita, agar  kedepan menjadi insan yang memiliki tingkat Ketaqwaan yang berkualitas dihadapan Allah Swt serta menjadi manusia yang senantiasa memiliki nilai kemanfaatan terhadap sesama manusia. Puasa menurut bahasa adalah”menahan”,Sedangankan menurut Syara adalah menahan diri dari segala hal-hal yang membatalkan puasa. Dalam pelaksanaan ibadah puasa, kita dituntut tidak hanya bisa menahan dari segala hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, bersenggama di siang hari. Namun hal lain yang paling penting dalam berpuasa adalah bagaimana kita bisa menjadikan puasa tersebut lebih bernilai bagi kehidupan rohani kita khsususnya dan umumnya  bisa memberikan hal  yang berguna dan bernilai terhadap sesama manusia daripada nilai puasa yang kita kerjakan.

Puasa akan semakin bernilai dan kualitas dihadapan Allah Swt tidak hanya dinilai dari perspektif sara’ yaitu bagaimana kita bisa menahan daripada hal yang membatalkan puasa, seperti yang penulis sebutkan diatas. Karena hal tersebut yang didapat hanya lapar dan haus saja, namun tidak mendapatkan makna spiritual daripada pahala puasa itu sendiri, atau boleh dikatakan bahwa puasa tersebut tidak mendapatkan nilai ganjaran dan pahala disisi Allah Swt. Lalu bagaimana kita bisa benar-benar mendapatkan nilai,  ganjaran, serta pahala puasa,terlebih lagi puasa tersebut memberi asar (membekas) dalam diri kita? Maka puasakan juga hati dan pikiran kita daripada hal-hal yang dapat merusak nilai  pahala puasa kita dihadapan Allah Swt. Hal tersebut antara lain berdusta, ghibah (membicarakan aib/kejelekan, keburukan orang lain), mengadu domba, sumpah palsu dan memandang penuh syahwat,serta menjaga telinga daripada hal-hal yang dilarang untuk didengar menurut sara’/agama. Seandainya hal tersebut benar-benar kira aplikasikan dalam menjalankan ibadah puasa, maka sesungguhnya puasa yang kita jalankan dapat menjadi sarana untuk kita bisa membina hubungan yang harmonis dengan sesama manusia.Dapat terciptanya kerukunan sesama umat Islam dan terciptanya kerukunan dengan umat yang beragamam lain. Inilah sesungguhnya satu bulan yang telah Allah siapkan bagi kita sebagai sarana untuk  senatiasa memperbaiki diri kita agar menjadi insan yang bertaqwa.

Bulan Ramadhan merupakan bulan pendidikan bagi kita yang didalamya terdapat berbagai nilai-nilai spiritual bagi jasmani dan rohani kita. Ketika kita berpuasa sedang merasakan haus dan lapar disiang hari, maka paling tidak kita pun ikut  dilatih untuk merasakan penderitaan terhadap saudara-saudara kita yang kelaparan. Mereka berpuasa tidak hanya dibulan ramadhan, namun di bulan lain, bahkan setiap hari mereka berpuasa, bahkan mereka tak tahu, mereka mau makan apa ketika berbuka nanti. Makan dari itu, dari  kita berpuasa  diharapkan bisa melahirkan dan melatih  kepekaan sosial terhadap sesama manusia melalui  perasaaan empatik yang dirangsang melalui ibadah puasa.Sehingga melalui ibadah puasa, diharapkan bagi kita yang memiliki kemampuan rezeki yang luas, mau membagi sebahagian  rezekinya kepada fakir miskin ataupun mereka yang hidup serba kekurangan. Itulah keutamaan puasa yang kita kerjakan memliki dimensi sosial yang tinggi.

Nilai lain yang terkandung dalam puasa adalah nilai-nilai kejujuran. Bagi seseorang yang sedang berpuasa, hanya dirinyalah dan Allah yang mengetahui secara penuh dia sedang berpuasa atau tidak. Bahkan ketika seseorang berada di tempat yang sepi sekalipun dan tidak ada satupun orang  yang ada di tempat itu, bisa saja orang tersebut minum atau makan ditempat itu. Namun sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang dia kerjakan. Apalagi di era sekarang ini sangat mahalnya kejujuran di negeri ini,maka melalui momentum  Ramadhan  ini sangatlah tepat bagi kita untuk bisa menerapkan nilai kejujuran dalam kehidupan bermasyarakat pada seluruh aspek kehidupan. Semoga bermanfaat

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompasiana Nangkring bareng Pertamina …

Santo Rachmawan | | 01 September 2014 | 13:07

Intip Lawan Timnas U-23 di Asian Games : …

Achmad Suwefi | | 01 September 2014 | 12:45

Anda Stress? Kenali Gejalanya …

Cahyadi Takariawan | | 01 September 2014 | 11:25

‘Royal Delft Blue’, Keramik …

Christie Damayanti | | 01 September 2014 | 13:32

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 5 jam lalu

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 9 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 10 jam lalu

Salon Cimey; Acara Apaan Sih? …

Ikrom Zain | 10 jam lalu

Bayern Munich Akan Disomasi Jokowi? …

Daniel Setiawan | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Nikmat Merantau …

Cucum Suminar | 7 jam lalu

Perbaikan Gedung DPRD Kab.Tasikmalaya …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Kompasianer, dari Sekedar Komentator Hingga …

Sono Rumekso | 8 jam lalu

Legislator Karawang Sesalkan Lambannya …

Abyan Ananda | 8 jam lalu

Di The Hague [Denhaag], ada …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: