Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Supriadi -

guru matematika smp n 2 watang sidenreng kabupaten sidrap sulawesi selatan

Jurnal : Kurikulum 2013

OPINI | 13 September 2013 | 16:38 Dibaca: 2013   Komentar: 0   0

Kurikulum 2013 sekarang ini sudah berjalan di beberapa sekolah di wilayah indonesia. yang mana pada awalnya digembor-gemborkan akan diterapkan di seluruh wilayah Indonesia. namun pada saat pelaksanaannya cuman diterapkan oleh beberapa sekolah di wilayah Indonesia mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai pada tingkat SMA/K.

Terdapat perbedaan mendasar antara Kurikulum 2013 dengan KTSP antara lain.

Dalam KTSP, kegiatan pengembangan silabus merupakan kewenangan satuan pendidikan, namun dalam Kurikulum 2013 kegiatan ptengembangan silabus beralih menjadi kewenangan pemerintah, kecuali untuk mata pelajaran tertentu yang secara khusus dikembangkan di satuan pendidikan yang bersangkutan. Meskipun silabus sudah di kembangkan oleh pemerintah pusat , namun  guru tetap dituntut untuk dapat memahami seluruh pesan dan makna yang terkandung dalam silabus, terutama untuk kepentingan operasionalisasi pembelajaran. Oleh karena itu, kajian silabus tampak menjadi penting, baik dilakukan secara mandiri maupun kelompok sehingga diharapkan para guru dapat memperoleh perspektif yang lebih tajam, utuh dan komprehensif dalam memahami  seluruh isi silabus yang telah disiapkan tersebut.

Adapun penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) masih merupakan kewenangan guru yang bersangkutan, yaitu dengan berusaha mengembangkan dari Buku Babon (termasuk silabus) yang telah disiapkan pemerintah.

selain hal tersebut di atas, pada kurikulum 2013 ditekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah(scientific appoach) dimana  dalam pembelajarannya meliputi mengamati, menanya, menalar, mencoba, membentuk jejaring. Dalam kegiatan pembelajaran peserta didik lebih diharapkan memegang peranan penuh di dalam kelas. Dalam setiap kegiatan pembelajara Guru hanya berfungsi sebagai fasilitator. Dalam kegiatan proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Proses hasil belajar menggunakan Penilaian autentik (Authentic Assessment) yaitu pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Penilaian autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013. Penilaian tersebut mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring, dan lain-lain. Selain itu dalam kegiatan pembelajaran peserta didik lebih diharapkan memegang peranan penuh di dalam kelas. Dalam setiap kegiatan pembelajara Guru hanya berfungsi sebagai fasilitator.


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cerita Terang di Gunung Padang …

Irvan Sjafari | | 30 March 2015 | 17:16

Mungkinkah Golkar Melahirkan Anak ke-7? …

Bambang Setyawan | | 30 March 2015 | 16:50

Kompasiana Nangkring Bareng Cast and Crew …

Kompasiana | | 30 March 2015 | 19:11

Laki-laki dan Gerobaknya …

Mochamad Syafei | | 30 March 2015 | 17:30

[Nangkring] Jelajah Non Tunai bersama Bank …

Kompasiana | | 17 March 2015 | 16:48


TRENDING ARTICLES

Breaking News: Anak Buah Ahok Jadi Tersangka …

Bejo Al-bantani | 8 jam lalu

Ketika Hasrat Eksis di Medsos Mengalahkan …

Wardah Fajri | 9 jam lalu

Jokowi Dipermalukan di China? …

Sembada Dora | 11 jam lalu

Polisi Menjemur Polisi [Karena Indonesia …

Felix | 11 jam lalu

Ketika Anang Hermansyah Kedapatan Duduk …

Edi Abdullah | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: