Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Zona Damai

Mendambakan Indonesia Damai

Waspadai Penyebaran “Virus” Terorisme Melalui Internet

OPINI | 18 September 2013 | 00:07 Dibaca: 229   Komentar: 2   0

13794375012123811342

ilustrasi : http://cegah-terorisme.blogspot.com

Fenomena penembakan polisi dalam dua bulan terakhir menarik untuk diulas. Tanpa disadari, muncul semacam perasaan yang membenarkan aksi penembakan itu, seakan-akan polisi adalah “musuh” bersama lantaran tingkah pola beberapa oknum di lapangan yang membuat masyarakat tidak simpatik. Sadarkah kita bahwa perasaan itu tidak muncul tiba-tiba? tetapi melalui suatu proses pembentukan yang terrencana oleh kelompok-kelompok yang memang punya kemahiran khusus?

Belum bisa dipastikan bahwa pelaku penembakan para polisi itu adalah dari kelompok teroris. Tetapi dampak dari penembakan itu jika tidak bisa dihentikan dengan cepat sama dengan dampak teror juga.

Ada banyak cara kelompok teroris “mencuci otak” kita. Salah satunya dengan meyebarkan fahamnya, misalnya melalui halaqoh, ceramah, diskusi, majalah ataupun selebaran-selebaran yang bisa ditemukan di masjid atau tempat-tempat yang identik dengan kegiatan keislaman, bahkan saat ini berkembang melalui media internet. Pelan tapi pasti, kritik-kritik sosial dan kritik terhadap pemerintah yang sedang berkuasa mengendap dalam hati kita. Lalu berkembang menjadi rasa benci. Tanpa ragu mereka menuding Pemerintah atau Polisi dianggap‘kafir’ atau ‘musuh’ Islam. Paham itu diulang terus-menerus dan dipertegas melalui tulisan di internet agar lebih banyak masyarakat yang membacanya.

Pada tahap tertentu dilakukan uji coba, misalnya menembak polisi yang kinerja sudah sering dikritik dalam ceramah atau diskusi. Ternyata ada kelompok masyarakat yang “menyetujui” aksi penembakan itu, karena mereka sudah terlanjut benci sama polisi.

Contoh-contoh Korban Virus

Sudah tak terhitung jumlah korban virus penyebaran jihad sesat. Mulai dari  kelompok prtama yang beraksi sekitar tahun 2000 (pelaku pemboman Kedutaan Besar Filipina, di Menteng Jakarta  pada Agustus 2000) hingga Muhammad Syarif (32 tahun), pelaku bom bunuh diri di Mapolres Cirebon 15 April 2011, dan Achmad Yosefa Hayat (31 tahun) yang meledakkan bom di GBIS Kepunton Solo 25 September 2011 maupun para pelaku menembakan polisi saat ini (jika benar mereka dari kelompok teroris).

Antara generasi pertama (tahun 2000-an) dengan generasi berikutnya (2010 hingga sekarang) sama-sama bukan sebagai pemain utama. Mereka hanyalah  “boneka” yang digerakkan oleh jaringan terorisme yang mengindoktrinasikan semangat jihad yang salah secara masif dan intensif melalui internet. Anak-anak muda yang terindoktrinasi ini sulit teridentifikasi karena jumlahnya yang tidak pasti. Kadangkala mereka tidak terhubung secara langsung dengan jaringan terorisme yang sesungguhnya.

Pemahaman radikal sudah lama tertanam dalam hati mereka yang dilakukan secara terselubung oleh jaringan terorisme. Jaringan itu memiliki sejumlah situs web yang dikelola sendiri untuk tujuan indoktrinasi. Cara ini jauh lebih efisien dan efektif untuk menjaring generasi muda, generasi melek internet.

Ditunjang pengaruh psikologi anak muda  yang sedang mencari jati diri, indoktrinasi paham jihad yang salah dengan mudah berkembang. Pemikiran-pemikiran baru yang dianggapnya benar dan mampu mengantarkannya ke kehidupan yang lebih baik disambut luar biasa oleh kaum muda. Maka tak heran, para pelaku bom bunuh diri  adalah sosok anak muda belia berusia 25-30 tahun.

Kelompok melek internet ini sering tak sadar jika mereka sedang dimanfaatkan aktor-aktor intelektual yang memang ingin melakukan aksi teror. Ini bisa menimpa siapa saja, para pengguna internet. Sekaligus menjadi ancaman serius bagi generasi muda bangsa Indonesia. Karena itu, mari kita mewaspadainya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 6 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 7 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 8 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Aku Ingin .. …

Gunawan Wibisono | 7 jam lalu

Keasyikan itu Bernama Passion …

Ika Pramono | 7 jam lalu

Sisi Positif dari Perseteruan Politik DPR …

Hts S. | 7 jam lalu

Menyiasati kenaikan harga BBM …

Desak Pusparini | 7 jam lalu

Trah Soekarno, Putra Cendana, dan Penerus …

Service Solahart | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: