Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Wijaya Kusumah

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta selengkapnya

Apakah Peran Guru dalam Pelaksanaan Kurikulum 2013?

REP | 20 September 2013 | 18:57 Dibaca: 3165   Komentar: 13   7

Jumat, 20 September 2013 guru-guru SMP-SMA di lingkungan Labschool Yayasan Pembina (YP) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) diundang untuk mengikuti kegiatan seminar penerapan kurikulum 2013. Kegiatan itu dilaksanakan di Auditorium Labschool Jakarta Rawamangun Jakarta Timur dari pukul 13.00 sampai dengan pukul 16.00 wib.

Praktik mengajar di kurikulum 2013

Praktik mengajar di kurikulum 2013

Hadir sebagai nara sumbernya adalah Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd, dan Prof. Dr. Conny R. Semiawan. Para pakar atau pendekar pendidikan ini memberikan materi pembelajaran yang bermakna dalam kurikulum 2013 dan strategi implementasi kurikulum 2013.

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Labschool serta sambutan dari Ketua Badan Pengelola Sekolah (BPS) YP-UNJ, Ibu Dra. Indira Sunito, M.Psi. Acara juga dibuka dengan doa yang dipimpin oleh bapak Drs. H. Asdi Wiharto, wakil kepala SMP Labschool Jakarta.

Drs. H. Asdi Wiharto membuaka acara dengan doa

Drs. H. Asdi Wiharto membuka acara dengan doa

Menarik sekali apa yang disampaikan oleh kedua nara sumber. Pada prinsipnya pemerintah memiliki tujuan yang baik dalam rangka mempersiapkan generasi emas yang produktif dan kreatif. Sebagai pendidik kita diharapkan bersikap menerima atau positif thinking dengan ikut memperbaiki atau menyempurnakannya. Tentu saja peran guru di sini sangatlah penting.

Kurikulum yang dibuat memang harus relevan dengan kehidupan sehari-hari dan guru harus mengupdate pengetahuannya. Bila guru mengajar di SMP, maka guru tersebut harus mampu mengikuti jiwa anak SMP dan mengikuti perkembangan zaman dan karakter anak. Oleh karena itu, kurikulum 2013 harus mempunyai dasar-dasar teori yang kuat sehingga mampu melahirkan pemimpin masa depan.

Prof. Dr. H. Arief rachman, M.Pd

Prof. Dr. H. Arief rachman, M.Pd

Prof. H. Arief Rachman, M.Pd mengatakan ada 4 perbedaan penekanan pesan antara kurikulum 2013 dan kurikulum sebelumnya, yaitu:

  1. Pada kurikulum sebelumnya, pemisahan antara mata pelajaran pembentuk sikap, pembentuk keterampilan, dan pembentuk pengetahuan (fokus pada kognitif), sedangkan pada kurikulum 2013 semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan (fokus pada afektif/karakter)
  2. Kompetensi diturunkan dari mata pelajaran (parsial pada KTSP), sedangkan pada kurikulum 2013 matpel diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai (holistik antar mata pelajaran)
  3. Pada KTSP terjadi individual teacher, dan pada kurikulum 2013 terjadi team teaching
  4. Evaluasi bersifat kuantitatif pada KTSP, sedangkan pada kurikulum 2013 evaluasi (proses) bersifat kuantitatif dan kualitatif.

Pada akhirnya, kurikulum 2013 berujung kepada karakter peserta didik, dan bukan hanya sekedar kompetensi. Oleh karenanya, Prof Arief Rachman membaginya ke dalam 4 bagian, yaitu:

  1. Fokus pada karakter/sikap
  2. Bersifat Holistik
  3. Team Teaching
  4. Evaluasi yang tepat dari kualitatif dan kuantitatif

Menurut David Elkind dan Freddy sweet Ph.D (2004), Pendidikan karakter adalah upaya sadar dan yang disengaja serta terprogram untuk menolong manusia agar mengerti, peduli, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai dasar etika, dengan tujuan agar mereka mengetahui apa yang benar, baik, dan patut serta sangat peduli terhadap apa yang benar dan patut serta percaya dan yakin meskipun dalam keadaan yang tertekan dan dilematis.

Untuk membentuk karakter siswa yang kuat diperlukan guru yang kuat. Karakteristiknya adalah:

  • Akademis
  • Psikologis
  • Pedagogis
  • Sosial

Etika harus lebih diutamakan daripada logika. Keunggulan logika harus diungguli dengan etika, dan guru menjadi pemimpin di kelas yang memiliki karakter kuat untuk pembentukan karakter siswa atau peserta didik. Guru yang kuat adalah guru yang mempunyai jiwa kepemimpinan yang kuat.

Guru harus menjadi pemimpin atau leader dan memiliki 7 karakter yang terdiri dari:

  1. Leadership Character
  2. Leadership Responsibilities
  3. Leadership Strategy
  4. Leadership and execution
  5. Leadership and Change
  6. Leadership Influence
  7. Leadership and the team

Ketujuh karakter tersebut harus dapat dikuasai oleh guru agar menjadi guru yang kuat dan berkarakter berani, bermental yang tangguh, disiplin diri, mampu menghargai orang lain, percaya diri, memiliki gairah dan memiliki antusias yang tinggi untuk maju. Sehingga guru yang kuat memiliki motto, bekerja untuk hidup dan hidup untuk bekerja.

Guru juga mempunyai tanggung jawab yang besar dimana dapat mengubah yang abstrak menjadi nyata. Tidak lupa mengelola waktu dengan baik dengan konsentrasi yang detail, memiliki gaya tersendiri, dan mau berubah. You Must anticipate the future and prepare your team to meet it. Managers concentrate on detail whilst leaders concentrate o change. The bst leaders know which style to employ to create the best team climate.

Guru harus menjadi tangguh dan banyak berlatih serta memiliki keberanian yang tinggi dalam perjuangannya sebagai seorang pendidik. Hidup itu selalu berubah. Pandangan hidup juga demikian. Momentum bisa membuat kita mengambil kesempatan yang baik. Guru harus menjadi leadership and change dengan menerima sesuatu hal yang tidak pasti. Termasuk juga kematian yang tidak tahu kapan datangnya.

Dalam pembelajaran holistik, guru harus mempunyai pengetahuan tentang filsafat ilmu yang terdiri dari:

  1. Ontologis
  2. Epistimologis
  3. Aksiologis

Dari ketiga hal di atas guru menjadi ingat mengapa, dan untuk apa guru mengajarkan materi tersebut? Siswa harus memahami untuk apa dia belajar dan memahami materi yang disampaikan oleh guru. Terjadi interaksi yang baik antara guru dan siswa.

Ingatlah selalu, guru bukanlah superman, tapi supertim. Dalam team teaching guru melakukan:

  1. Perencanaan program bersama
  2. Pembagian tugas yang jelas dan seimbang
  3. Memahami materi/kompetensi secara menyeluruh
  4. Bekerja dalam satu tim yang solid

Guru juga harus dapat menilai peserta didiknya dengan evaluasi yang tepat. Evaluasi pembelajaran harus mampu mengukur pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Untuk ketiga hal tersebut, Prof Arief Rachman memberikan tugas kepada guru untuk membuatnya.

Proses dan kesimpulan itu adalah suatu hal yang penting. Dalam proses itu harus ada kesimpulan. Contohnya dalam mengukur akhlak (menurut Prof Conny R Semiawan), maka ada 3 hal yang harus dilakukan yaitu: View (pandangan), Value (nilai), dan Virtue (kebajikan).

13796881551359041909

Ibu Ulya Latifah (Kepsek SMA Labschool Kebayoran) dan Ibu Prof. Dr. R. Semiawan

Prof. Conny Semiawan lebih menyoroti kurikulum 2013 sebagai ajang guru untuk melakukan refleksi diri. Tanpa adanya refleksi, kurikulum 2013 tak akan berjalan dengan baik. Refeksi atau reflecting itu sangat penting dalam kurikulum 2013 sehingga melahirkan karakter atau watak peserta didik yang peduli, bertanggung jawab, mandiri, dan hal-hal baik lainnya.

Pendekatan keterampilan harus menggunakan Critical Thinking, Conditioning, Communication, dan Creativity. Peserta didik harus mampu menghubungkan antara pengetahuan satu dengan pengetahuan yang lain dalam pembelajaran yang mengundang. Siswa menjadi aktif dan bukan “Cah Bodo Siswa Akeh”.

Menarik sekali apa yang disampaikan oleh kedua nara sumber dalam menerapkan kurikulum 2013. Apalagi ada contoh praktik mengajar yang dilakukan oleh ibu Iin beserta tim sukarelawan. Walaupun ada perdebatan antara “yes dan no” tentang proses pembelajarannya, saya sendiri memberikan apresiasi atas contoh praktik mengajar yang ditampilkan. Kemampuan TIK menjadi sangat penting, karena guru harus mampu melakukan presentasi dengan baik menggunakan komputer.

Jadi, peran guru dalam pelaksanaan kurikulum 2013 sangatlah penting. Guru harus mampu memberikan penekanan yang berbeda dari kurikulum sebelumnya. Fokus pada karakter atau sikap peserta didik dan menjadi guru yang kuat dengan mempunyai jiwa kepemimpinan yang kuat pula. Hal yang terpenting, guru harus mampu bekerjasama dengan guru lainnya sehingga mampu melahirkan pembelajaran yang mengundang siswa untuk aktif.

1379678174980753339

Menjadi guru supertim dan bukan superman di kurikulum 2013

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sambut Sunrise Dari Puncak Gunung Mahawu …

Tri Lokon | | 28 July 2014 | 13:14

Pengalaman Adventure Taklukkan Ketakutan …

Tjiptadinata Effend... | | 28 July 2014 | 19:20

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 12 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 13 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 14 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 17 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: