Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ina Rizqiyana

On my way to be an excellent people, an extraordinary woman, Aamiin :) Management UNNES'14

Siapa Bilang Ospek Itu Menegangkan! Ospek Itu Menyenangkan!

REP | 25 September 2013 | 17:56 Dibaca: 213   Komentar: 13   3

OSPEK  (Orientasi dan Pengenalan Kampus) memang sudah menjadi salah satu event tahunan yang wajib diadakan oleh setiap Universitas negeri maupun swasta di Indonesia. Tujuan utama OSPEK ini adalah untuk memperkenalkan  kondisi dan situasi kampus serta memberikan gambaran tentang dunia perkuliahan kepada mahasiswa baru. Selain itu, OSPEK juga menjadi salah satu cara yang paling mutakhir untuk membantu mahasiswa mengubah kebiasaannya ketika masih berstatuskan siswa.

Lantas, apa yang membuat OSPEK itu terdengar menyeramkan?

Ya, beberapa kesaksian dari pendahulu saya (katakanlah : kakak kelas saya semasa SMA) menyebutkan bahwa OSPEK jauh lebih menyeramkan daripada MOS. What? MOS? Apa yang pertama kali muncul di dalam pikiran kalian ketika mendengar nama MOS? Dijemur di lapangan, mengenakan topi caping kardus, rambut dikucir menggunakan pita warna-warni, membuat name-tag, dan masih banyak lagi. Lalu pasti akan muncul pertanyaan semacam ini, “MOS aja kayak gitu, apalagi OSPEK? Tingkatannya udah Mahasiswa!” atau “Ah, MOS aja udah nyiksa, apalagi OSPEK!” dan masih banyak lagi. Benar bukan?

Hmm, memang tidak bisa dipungkiri bahwa paradigma negatif tentang OSPEK sudah menjalar di seluruh lapisan masyarakat. Terlebih beberapa tahun terakhir ini banyak beredar kabar tentang kasus ‘bulllying’ yang dilakulan oleh mahasiswa senior kepada mahasiswa baru pada saat OSPEK. Hal itu tentu saja menambah kewaspadaan para calon Maru (Mahasiswa Baru) ketika akan memasuki bangku perkuliahan. Jujur, saya pribadi pun demikian, bahkan saya hampir membuat beberapa macam alasan agar diperbolehkan untuk tidak mengikuti OSPEK.

Konyol bukan? Ya, tentu saja! Dan bukankah hal itu juga sempat terlintas di dalam benak kalian, para calon Maru!

STOP! Jangan lakukan itu! Nikmati dan jalani! Itulah kunci dan salah satu cara yang kemudian membuat saya kembali optimis untuk mengikuti OSPEK. Kenapa? Yahhh, karena pada dasarnya memang tidak ada satupun hal yang patut ditakutkan dari suatu event bernama OSPEK. Loh, kok bisa? Iyalah, kamu justru akan menyesal seumur hidup kalau tidak mengikuti OSPEK. Terlebih lagi, kamu akan menanggung dosa karena alasan palsu yang sengaja kamu buat agar tidak mengikuti OSPEK. OSPEK itu menyenangkan kok! Percaya deh!!!

Kalau OSPEK itu menyenangkan, mana buktinya? Bukankah di media massa seperti TV , koran dan majalah sering menyebutkan bahwa kasus “bullying” itu rawan terjadi di dalam OSPEK?

Heii! Anda hidup di tahun berapa? Abad berapa? Era kita sudah berubah kawan, hal semacam “bullying” bukan lagi trend untuk masa kita. Universitas macam apa yang menghendaki mahasiswanya melakukan kekerasan terhadap Maru? Coba sebutkan! Kalaupun ada, itu hanyalah pelampiasan mahasiswa senior dan bukan program terencana dari suatu Universitas. Laporkan kepada pihak Universitas!

Percaya deh! Saya pribadi juga Maru tahun 2013. Awalnya, ada banyak hal yang saya takutkan tentang OSPEK, dan saya benar-benar tidak ingin mengikuti OSPEK. Namun, semenjak diberikan penjelasan oleh mahasiswa senior tentang tujuan dan point utama OSPEK, saya menjadi yakin untuk mengikuti OSPEK. Coba saja! Nikmati! Penugasan aneh itu adalah kenikmatan tersendiri yang tidak akan kita rasakan selanjutnya. Laporkan jika ada tindakan kekerasan dari panitia!

Ingat! OSPEK itu menyenangkan! OSPEK itu menggembirakan! Bangun mindset kamu sejak sekarang, jangan sampai hal semacam ini mengganggu pikiranmu dan membuat kamu enggan untuk ikut OSPEK!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Johannes Karundeng Mengajari Kami Mencintai …

Nanang Diyanto | | 21 September 2014 | 15:45

Kompasianers Jadi Cantik, Siapa Takut? …

Maria Margaretha | | 21 September 2014 | 16:51

Kaizen dan Abad Indonesia …

Indra Sastrawat | | 21 September 2014 | 15:38

Kucing Oh Kucing …

Malatris | | 21 September 2014 | 16:00

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Pak SBY, Presiden RI dengan Kemampuan Bahasa …

Samandayu | 17 jam lalu

Setelah Ahok, Prabowo Ditinggal PPP dan PAN, …

Ninoy N Karundeng | 18 jam lalu

Australia Siaga Penuh …

Tjiptadinata Effend... | 18 jam lalu

MK Setuju Sikap Gerindra yang Akan …

Galaxi2014 | 20 jam lalu

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B tentang …

Djarwopapua | 20 September 2014 16:34


HIGHLIGHT

Kepoisme Itu Paham? Pilihan Sikap? Atau …

Christian Kelvianto | 8 jam lalu

Seraut nan Utuh …

Eko Kriswanto | 8 jam lalu

Ketika Lampard Mencetak Gol ke Gawang …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Lampard Pecundangi Mourinho …

Iswanto Junior | 8 jam lalu

Cinta dalam Bingkai Foto …

Cuzzy Fitriyani | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: