Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Yabu M

Pengajar di Fakultas Seni dan Desain UNM

EKSISTENSI LUKISAN PRASEJARAH PADA SITUS LIANG KABORI DI KABUPATEN MUNA SULAWESI TENGGARA

OPINI | 01 October 2013 | 17:44 Dibaca: 99   Komentar: 0   0

EKSISTENSI LUKISAN PRASEJARAH PADA SITUS LIANG KABORI DI KABUPATEN MUNA

SULAWESI TENGGARA

EXISTENCE OF PAINTING ON SITE PREHISTORIC LIANG KABORI MUNA IN SOUTHEAST SULAWESI


EKSISTENSI LUKISAN PRASEJARAH PADA SITUS LIANG KABORI DI KABUPATEN MUNA

SULAWESI TENGGARA

Oleh:

Yabu M.

Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar

Abstrak: Lukisan prasejarah menyajikan banyak hal, terutama tentang wawasan pikiran dan imajinasi peradaban masa lampau. Para arkeolog dari generasi ke generasi semakin tertarik untuk mengartikan temuan-temuan tersebut guna mengungkap banyak hal tentang kehidupan masyarakat pada waktu itu. Situs Liang Kabori adalah salah satu diantara sekian banyak situs di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara yang memiliki peninggalan warisan budaya bangsa, yakni berupa lukisan prasejarah. Tinggalan tersebut kini menjadi bukti otentik dari pola pikir, adat-istiadat, sistem sosial budaya, teknologi, dan religi yang perlu dipahami bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Peradaban masa lalu, seperti mengekspresikan hasil pemikiran, hasrat, dan  cita-cita melalui gambar-gambar pada dinding gua adalah bentuk kebudayaan yang unik dan langka. Dalam konteks masa lalu, gua menjadi tempat hunian, tempat beraktivitas bagi masyarakat prasejarah, serta sebagai sarana untuk mengekspresikan diri, hasrat, pikiran, cita-cita, dan harapan mereka dalam bentuk kepercayaan (magis-religius).

Kata Kunci: Lukisan prasejarah, situs, liang Kabori.

Abstract: Prehistoric paintings presents a lot of things, especially about the insights the mind and imagination of past civilizations. The archaeologists from generation to generation more interested in interpreting these findings in order to reveal much about the life of society at that time. Site Kabori Liang is one among the many sites in Muna, Southeast Sulawesi, which has relics of the nation’s cultural heritage, namely in the form of prehistoric paintings. The remains are now to be authentic evidence of the mindset,, customs, social and cultural systems, technology, and religion that needs to be understood for present and future generations. Past civilizations, such as expressing the thoughts, desires, and ideals through the drawings on cave walls is a unique form of culture and rare. In the context of the past, the cave into the shelter, place of activity for the prehistoric society, and as a means to express themselves, desires, thoughts, ideals, and their hope in the form of beliefs (magical-religious).

Keywords: Prehistoric Paintings, the site, Burrow Kabori.

PENDAHULUAN

Prehistoric paintings EXISTENCE ON THE SITE IN THE DISTRICT MUNA LIANG KABORI
SULAWESI

Existence Prehistoric OF PAINTING ON SITE IN SOUTHEAST LIANG KABORI MUNA SULAWESI

Prehistoric paintings EXISTENCE ON THE SITE IN THE DISTRICT MUNA LIANG KABORI
SULAWESI

By:
Yabu M.
Faculty of Arts and Design, State University of Makassar

Abstract: Prehistoric Painting presents a lot of things, especially about the mind and imagination insight of civilizations past. Archaeologists from generation to generation getting attracted to interpret these findings to reveal much about the lives of the people at that time. Liang Kabori site is one among the many sites in Muna, Southeast Sulawesi, which has the nation’s cultural heritage relics, in the form of prehistoric paintings. The remains are now being authentic evidence of the mindset, customs, social and cultural systems, technology, and religion are necessary to understand the present generation and the generations to come. Civilizations of the past, such as expressing the ideas, desires, and ideals through the pictures on the walls of the cave is a unique form of culture and rare. In the context of the past, a cave dwelling, place to move for prehistoric peoples, as well as a means to express themselves, desires, thoughts, ideals, and expectations in the form of beliefs (magical-religious).
Keywords: prehistoric paintings, websites, Kabori burrow.
Abstract: Prehistoric paintings presents a lot of things, especially about the insights the mind and imagination of past civilizations. The archaeologists from generation to generation more interested in interpreting these findings in order to reveal much about the life of society at that time. Site Kabori Liang is one among the many sites in Muna, Southeast Sulawesi, roomates has relics of the nation’s cultural heritage, namely in the form of prehistoric paintings. The remains are now to be authentic evidence of the mindset,, customs, social and cultural systems, technology, and religion that needs to be understood for present and future generations. Past civilizations, such as expressing the thoughts, desires, and ideals through the drawings on cave walls is a unique and rare form of culture. In the context of the past, the cave into the shelter, place of activity for the prehistoric society, and as a means to express Themselves, desires, thoughts, ideals, and their hope in the form of beliefs (magical-religious).
Keywords: Prehistoric Paintings, the site, Burrow Kabori.
INTRODUCTION

EXISTENCE AND ARABIC CALLIGRAPHY ORNAMENTATION epigraphy
THE ANCIENT TOMB KINGS GOWA
(A Review)

Yabu M.

Indonesia adalah negara yang memiliki ribuan pulau yang antara laut dan darat memiliki potensi kekayaan budaya warisan nenek moyang. Namun sayangnya diantara warisan tersebut banyak yang diterlantarkan sehingga tidak bisa diberdayakan. Wilayah Sulawesi, juga  merupakan lahan strategis yang sangat kaya dengan peninggalan arkeologis dan cagar budaya alam. Kedudukannya yang berada di jalur utama antara pulau-pulau barat dan timur Nusantara telah melahirkan anasir-anasir budaya yang beragam sejak zaman prasejarah sampai dengan zaman kolonial. Peninggalan-peninggalan tersebut merupakan potensi pendidikan, penelitian dan pariwisata yang belum digarap secara maksimal (Irfan Mahmud, 2001).

Peradaban masa lalu, seperti mengekspresikan hasil pemikiran, hasrat, dan cita-cita melalui coretan-coretan atau gambar-gambar pada dinding gua adalah bentuk kebudayaan yang unik dan langka yang perlu dilestarikan. Namun peradaban seperti itu seringkali gagal mendapatkan perhatian dari pemiliknya sendiri. Pemerintah daerah yang seharusnya melindungi dan memanfaatkan sumberdaya warisan budaya seperti itu terkadang tidak bisa berbuat banyak dengan alasan keterbatasan dana. Bahkan di beberapa tempat cenderung dibiarkan terlantar akhirnya mengalami kerusakan. Hal ini dapat dimaklumi karena pemikiran-pemikiran pada sebagian masyarakat Indonesia cenderung menganggap bahwa penggalian masa lalu sebagai romantisme yang kurang perlu diperhatikan dan kecil manfaatnya. Padahal tinggalan peradaban masa lalu memiliki nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan acuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (Irfan Mahmud, 2001).

Pelestarian warisan budaya yang bersifat fisik melalui berbagai upaya, seperti kegiatan perlindungan, pemeliharaan, dan penyelamatan merupakan salah satu wujud kepedulian. Dalam arti pengembangan kebudayaan lokal maupun nasional, termasuk di dalamnya pelestarian lukisan pada gua-gua. Pentingnya kegiatan perlindungan dan penyelamatan situs cagar budaya tersebut karena di samping sebagai pelestarian warisan budaya dan aset bangsa, juga sebagai upaya memupuk rasa kebanggaan nasional serta memperkokoh kesadaran jatidiri bangsa. Selain itu, warisan budaya seperti itu mempunyai arti yang sangat penting dalam kajian sejarah dalam rangka memajukan kebudayaan bangsa sekaligus sebagai bagian yang integral dari pembangunan nasional.

Kepulauan Muna adalah salah satu daerah di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara yang memulai kehidupannya sejak zaman prasejarah. Hal ini diperkuat oleh bukti-bukti sejarah dengan ditemukannya bentuk-bentuk peradaban masa lalu, yakni berupa lukisan prasejarah pada beberapa situs yang telah disurvei oleh para ahli sejarah dan arkeologi (Irfan Mahmud, 2001; Depdikbud, 1993; Puslit Arkenas, 1977 dan 1984).

Hariati Soebadio dan Edi Sedyawati menyampaikan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam peninggalan budaya, tradisi, dan peradaban masa lalu perlu dipahami, dilestarikan, dan dimanfaatkan serta diteladani sebagai acauan tentang jatidiri dan kepribadian bangsa (dalam Irfan Mahmud, 2001: 26). Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa kandungan nilai-nilai pada tinggalan sejarah memiliki aspek yang dapat memberikan kebanggaan bagi bangsa dan sekaligus membuktikan bahwa sejak zaman dahulu nenek moyang bangsa  Indonesia telah memiliki peradaban yang tinggi.

Situs Liang Kabori di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara adalah salah satu diantara sekian banyak situs yang memiliki lukisan prasejarah. Jika lokasi situs tersebut mendapat perhatian dari pemerintah, maka sangat menguntungkan karena dapat memberikan sumber-sumber pemasukan bagi daerah. Oleh karena itu, nilai-nilai luhur yang tercermin pada peninggalan budaya bangsa memiliki muatan pengetahuan yang perlu diketahui dan dipahami sebagai warisan nenek moyang, terutama bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang.

Permasalahan

Permasalahan dalam tulisan ini dilandasi oleh asumsi bahwa apresiasi terhadap peninggalan sejarah yang menjadi kebanggaan nasional tersebut perlu dikembangkan agar jatidiri dan kepribadian yang menandai kehidupan nenek moyang pada masa lalu tetap diketahui dan dapahami sebagai acuan hidup, sekaligus diteladani oleh generasi masa kini. Untuk itu, maka perlu dipelajari dalam kerangka proses belajar mengajar sebagai pengetahuan yang dapat ditanamkan kepada anak didik kita mulai dari tingkat yang paling rendah yang sekaligus perlunya menumbuhkan rasa untuk ikut memiliki (sense of belonging) terhadap hasil warisan budaya masa lalu sebagaimana dikemukaankan oleh Graham Clark dalam Bukunya: Archaeoloy and Society (dalam Irfan Mahmud, 2001:28).

Tulisan dalam arti karya ilmiah yang dibuat berdasarkan hasil penelitian mengenai lukisan prasejarah di Kabupaten Muna dapat dikatakan masih sangat langka jika dibandingkan dengan penulisan tentang lukisan prasejarah di daerah-daerah lainnya di Indonesia. Jika kegiatan penulisan mengenai peninggalan prasejarah di Kepuluan Muna juga diaktifkan, maka tentu saja diharapkan dapat menambah informasi kesejarahan yang tentunya akan sangat bermanfaat dalam menambah wawasan dan pengetahuan mengenai sumber-sumber prasejarah Indonesia, terutama bagi generasi masa kini dalam usahanya untuk memahami kehidupan nenek moyang, termasuk bagi siswa-siswa sekolah umum dan mahasiswa seni rupa dalam rangka proses belajar untuk memahami peradaban masa lampau sebagai acuan hidup. Hal ini penting karena dalam peradaban dan kehidupan manusia tidak terlepas dari peristiwa yang terjadi pada masa lampau, seperti dengan adanya bentuk-bentuk kebudayaan dan karakteristik kelompok manusia sebagai suatu masyarakat yang bersuku-suku, berbangsa dan bernegara - dan setiap kelompok manusia sudah pasti memiliki latar belakang budaya yang berbeda-beda.

Tulisan ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai: (1) bahan informasi budaya bagi masyarakat luas atas keberadaan lukisan prasejarah pada situs gua Liang Kabori dan situs gua Liang Metanduno di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara sebagai salah satu peninggalan budaya, khususnya kesenian prasejarah masyarakat Muna di masa lampau; (2) sebagai bahan referensi yang diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran berbudaya serta untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap peninggalan-peninggalan prasejarah yang mengandung nilai-nilai sejarah yang tak ternilai harganya karena peristiwa semacam ini tak mungkin lagi dapat diulangi oleh masyarakat sekarang.

Peninggalan lukisan prasejarah di Pulau Muna yang tersebar di beberapa situs gua adalah hasil karya budaya para leluhur yang sekarang diwarisi oleh daerah-daerah dimana peninggalan-peninggalan tersebut berada. Di beberapa tempat peninggalan-peninggalan sejarah dan kepurbakalaan seperti itu dengan sendirinya memiliki nilai potensial untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pembangunan daerah tersebut, termasuk di dalamnya lukisan prasejarah pada situs gua Kabori dan situs gua Metanduno, Kabupaten Muna. Peninggalan-peninggalan prasejarah tersebut perlu dilestarikan agar generasi muda kita dapat mengetahui atas keberadaannya, terutama untuk kepentingan apresiasi seni budaya bangsa.

SEJARAH SINGKAT KABUPATEN MUNA

Kata Muna berasal dari kata “Wuna” yang artinya “Wuna” (bahasa muna). Sebutan nama “Wuna” didasarkan pada penemuan “Kontu Kowuna” (Batu Berbunga) yang terletak di Kota Muna, yaitu kurang lebih 22 kilometer sebelah selatan Kota Raha ibu kota Kabupaten Muna. “Kontu Kowuna” biasa juga dikenal dengan nama “Bukit Bahutara” yang merupakan tempat terdamparnya perahu Sawerigading. Batu tersebut berbentuk kerucut, besarnya seperti sebuah rumah dengan tinggi kurang lebih 7 meter dari permukaan tanah. Bagian sekelilingnya sampai permukaan bagian atas ditumbuhi semacam bunga berwarna putih dan berumpun-rumpun serta terlihat sangat indah. Itulah sebabnya Pulau Muna biasa pula disebut “Witeno Wuna”, artinya “Tanah Bunga.”

Menurut legenda, awal diketahuinya Pulau Muna, yakni dengan adanya seorang pelayar terkenal saat itu, ia berasal dari Luwu’, Sulawesi Selatan yang dikenal dengan nama “Saweri Gading.” Dalam suatu perjalanan pelayarannya, diberitakan bahwa perahunya terdampar di sekitar pantai timur Pulau Muna, tepatnya di Kampung Butu (suatu tebing di pinggir laut saat itu). Ketika Belanda mulai menanamkan pengaruh kekuatannya di Muna pada sekitar tahun 1906, sebutan “Wuna” diganti menjadi “Muna” yang disesuaikan dengan ucapan atau lidah orang Belanda, dimana sebutan konsonan “W” menjadi “M”. Sejak itulah maka sebutan “Muna” menjadi populer dan secara umum digunakan oleh masyarakat, terutama orang asing atau orang yang berasal dari luar daerah Muna. Muna mempunyai nama lain yang disebut Pancana” (sesuai nama yang tertulis dalam naskah Perjanjian Bongaya, tanggal 18 November 1667).

KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT MUNA: Persebaran Penduduk Dan Anasir-Anasir Kebudayaan Masyarakat Prasejarah

Sebagaimana telah disinggung terdahulu bahwa Kepulauan Muna adalah salah satu daerah di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara yang diperkirakan telah memulai kehidupannya sejak zaman prasejarah. Lingkungan dan kondisi alam Pulau Muna hampir sama dengan kondisi alam di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yaitu berbukit-bukit batu gamping dan batu karang. Semua gugusan pada kawasan situs gua di Pulau Muna bentuknya beraneka ragam. Gua yang berukuran besar disinyalir sebagai tempat tinggal manusia pada saat itu, sedangkan gua yang berukuran kecil hanyalah sebagai tempat berteduh dan istirahat pada saat melakukan aktivitas kehidupan, misalnya berburu. Jarak diantara situs-situs tersebut tidak berjauhan, yakni sekitar 200 sampai dengan 1500 meter. Luas gua yang menjadi tempat tinggal mereka berkisar antara 50 hingga 300 meter sehingga diperkirakan penghuninya antara 10 sampai 20 orang secara berkelompok.

Kelompok masyarakat yang menghuni ke-13 gugusan gua tersebut disinyalir memiliki budaya sekalipun masih dalam taraf yang rendah. Hal ini terbukti pada lukisan-lukisan yang terdapat di setiap gua pada situs Liang Kabori yang terdiri dari berbagai corak. Keanekaragaman corak tersebut diasumsikan bahwa manusia yang menghuni gua tersebut telah mempunyai kebudayaan yang tinggi. Lukisan yang ada menunjukkan bahwa manusia pada saat itu telah menuangkan perpaduan antara daya imajinasi, artistik dengan relaitas kehidupan yang dialaminya. Kemampuan mereka untuk memperlihatkan kreativitas seni yang sesuai dengan dasar-dasar kehidupan mereka dapat dilihat pada contoh lukisan-lukisan yang terdapat pada situs Liang Kabori. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa manusia prasejarah pada awalnya memiliki corak hidup yang sama, yaitu hidup mengembara dan mengumpulkan makanan sebagaimana halnya manusia purba yang mendiami sekitar Liang Kabori.

Berdasarkan kondisi gua dan hasil analisa terhadap lukisan pada dinding gua yang menggambarkan aktivitas sosial mereka seperti perburuan, maka diperkirakan bahwa aktivitas manusia di sekitar situs tersebut adalah berburu. Hal ini terlihat pada: (1) gua-gua sebagai situs sejarah di Liang Kabori, terdapat 4 gua yang ukurannya kurang lebih 200 meter sehingga sangat memungkinkan sebagai tempat tinggal; (2) sudah menjadi ciri khas manusia purba bahwa setiap yang tinggal di dalam gua, maka pola kehidupannya adalah mengembara; (3) sesuai pengamatan gambar-gambar yang terdapat pada dinding gua, yaitu gambar-gambar babi, orang berburu dengan menunggang kuda yang menunjukkan ciri khas corak kehidupan berburu dan mengumpulkan makanan; dan (4) lokasi situs gua Kabori, letak geografisnya tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan, karena di sekitar gua tidak terdapat tumbuh-tumbuhan yang dapat dikonsumsi sehingga sangat memungkinkan kehidupan mereka hanya tergantung pada binatang buruan. Demikain gambaran kehidupan sosial budaya dan kepercayaan masyarakat Muna pada masa lampau.

Robert Van Heine Sclaern (seorang sarjana Austria) dalam penelitiannya tentang tingkat hidup bangsa Indonesia pada zaman Neolitikum menyimpulkan telah mengenal anasir-anasir kebudayaan, yaitu: menanam padi, memiliki alat pemotong padi, dapat membuat minuman keras dari beras, memelihara babi, kerbau, dan binatang lainnya untuk keperluan penyajian, membuat benda pecah belah dari tanah liat, membuat pakaian dari kulit kayu, mendirikan rumah di atas tiang dan berbentuk persegi panjang, menjalankan pemotongan kepala manusia untuk keperluan keagamaan, dan mendirikan bangunan megalit yang terbuat dari batu besar untuk keperluan upacara agama (pemujaan terhadap arwah nenek moyang), dan mengenal suatu jenis kesenian

Anasir-anasir kebudayaan tersebut masih ditemukan pada masyarakat di pedesaan sampai sekarang, walaupun cara dan bentuknya ada yang mengalami perubahan dan lebih maju. Sebagai contoh pembuatan minuman keras dari beras, dalam hal kepercayaan kepada arwah nenek moyang, pembuatan barang pecah belah dari tanah liat. Fenomena budaya dan tradisi seperti itu masih dijumpai sampai sekarang pada masyarakat Muna yang bermukim di pedalaman. Dapat disimpulkan bahwa penduduk Pulau Muna adalah bagian yang tak terpisahkan dari persebaran penduduk pertama yang mendiami kepulauan Nusantara.

Berdasarkan peninggalan-peninggalan yang ditemukan, maka dapat dipastikan bahwa penghuni pertama Pulau Muna tinggal di gua-gua secara berpindah-pindah dari gua yang satu ke gua yang lain bila persediaan makanan dan binatang buruan mulai berkurang. Kehidupan semacam ini juga terjadi sejak zaman Paleolitikum. Kemudian pada masa neolitikum diduga mulai dikenal kehidupan beternak dan pembuatan periuk dari tanah liat. Bila dihubungkan dengan penelitian Robert Van Heine Sclaern tentang tingkat hidup bangsa Indonesia, maka diduga kemampuan membuat benda pecah belah dari tanah liat menurut tradisi dari masyarakat setempat sudah lama dikenal, terutama di Kampung Labora (penduduk tertua di Muna). Pada zaman Neolitikum, kehidupan mereka mulai menetap dan mengembangkan kehidupan bercocok tanam (terutama tanaman umbi-umbian), mereka juga mulai mengembangkan pembuatan periuk dari tanah liat sebagai tempat memasak dan wadah air, keterampilan memintal benang dan menenun. Pada masa ini mereka membuat tempat tinggal tetap (rumah/pondok) yang tiangnya agak tinggi dari permukaan tanah untuk menghindari ancaman binatang buas (Keterangan dari Bapak La Hada). Walaupun demikian, kehidupan berburu tidak ditinggalkan, bahkan sampai sekarang masih ada penduduk desa yang melakukan pekerjaan berburu rusa sebagai kegiatan sambilan.

Bagi masyarakat prasejarah, kegiatan berburu binatang telah menjadi salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi penduduk yang pertama kali menghuni Pulau Muna. Hal ini terbukti dengan banyaknya terdapat lukisan dengan tema perberburuan pada sejumlah gua. Selain itu, untuk menghadapi musuh juga dilambangkan pada gambar-gambar atau lukisan orang yang sedang naik kuda sambil memegang tombak.

KEPERCAYAAN MASYARAKAT PRASEJARAH

Seperti halnya pada kepercayaan lama masyarakat di Indonesia pada umumnya, yaitu percaya pada tahayul-tahayul, terutama masyarakat di pedesaan juga masih dijumpai wujud kepercayaan dinamisme dan animisme. Kepercayaan semacam ini hampir ditemukan pada semua suku bangsa di Indonesia. Kepercayaan lama pada masyarakat Indonesia beranggapan bahwa tiap-tiap benda atau mahluk mempunyai makna. Selain dinamisme terdapat pula kepercayaan animisme yang keduanya sangat berkaitan erat. Animisme adalah percaya bahwa tiap benda atau mahluk mempunyai roh seperti jiwa yang secara langsung tidak dapat dilihat dengan mata. Jika ada orang meninggal, maka hanya tubuhnya yang hancur sedangkan jiwanya tetap hidup dan seakan-akan tinggal di sekelilingnya. Anggapan mereka bahwa dunia dimana kita hidup terdapat jiwa orang-orang yang sudah meninggal. Begitu pula mahluk lain yang tidak tampak secara kasat mata (sering diibaratkan dengan hantu, kuntilanak, dan sebagainya). Mereka beranggapan bahwa orang-orang yang telah meninggal tidak pernah lepas dari masyarakat atau orang-orang yang masih hidup dan mereka itu tetap memperhatikan orang-orang yang ditinggalkan. Atas kepercayaan tersebut, mereka lalu mengadakan pemujaan terhadap arwah nenek moyang. Wujud pemujaan tersebut dilakukan melalui upacara-upacara melalui ritual tradisional.

PEMBAHASAN

Lukisan prasejarah menyajikan banyak hal, terutama tentang wawasan pikiran dan imajinasi peradaban masa lampau. Para arkeolog dari generasi ke generasi semakin tertarik untuk mengartikan temuan-temuan tersebut. Akhirnya mereka berhasil mengungkap banyak hal tentang kehidupan masyarakat pada waktu itu. Lukisan yang ditemukan di gua-gua, seperti di gua Kabori dan gua Metanduno, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara serta beberapa lukisan prasejarah di Sulawesi Selatan membawa kita kembali ke sekitar ratusan tahun yang lalu. Meskipun sebelumnya para arkeolog telah menyatakan bahwa lukisan-lukisan tersebut adalah hiasan semata. Lalu kemudian mereka tahu bahwa itu tidak benar karena pada umumnya gua-gua tersebut gelap gulita. Teori yang lain mengatakan bahwa gambar-gambar tersebut merupakan kekuatan sihir dalam berburu, lalu mereka melukiskan binatang yang ingin mereka tangkap supaya mereka kelak berhasil dalam berburu. Teori terakhir yang mungkin paling masuk akal (mendekati kebenaran) adalah bahwa tempat-tempat/gua semacam itu pernah dihuni orang. Tempat-tempat seperti di gua Leang-Leang, gua Leang Kabori dan gua Metanduno, mungkin pernah menjadi tempat untuk melakukan upacara ritual, atau upacara lainnya.

LUKISAN GUA PADA SITUS PRASEJARAH DI KEPULAUAN MUNA

Gua merupakan salah satu fenomena hasil rekayasa alam yang secara khusus terjadi di kawasan batu gamping karst pada kisaran waktu puluhan juta tahun silam. Gua tidak tidak saja ditemukan di dataran tinggi, dataran rendah, dan lembah tetapi juga di dasar laut dalam bentuk tebing dan terjalan (Kosasih, 1995 dalam Irfan Mahmud, 2001: 150). Gua juga telah menjadi tempat hunian dan tempat beraktivitas bagi masyarakat prasejarah sebelum mereka mengenal pola hidup berpindah-pindah dan bercocok tanam. Bahkan gua telah menjadi salah sarana untuk mengekspresikan hasrat, pikiran, cita-cita, dan harapan mereka dalam bentuk kepercayaan (magis-religius). Itulah sebabnya sehingga banyak gua yang pernah dihuni oleh masyarakat primitif yang tersebar di seluruh dunia yang di dalamnya ditemukan bekas-bekas peninggalan sebagai bukti bahwa mereka pernah tinggal di sana.

Pada bulan Maret 1977, Tim kecil dari Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional yang terdiri dari Drs. E.A. Kosasih dan Rokhus Due Awe, B.A. melakukan penjajakan yang pertama sebagai survei pendahuluan. Sesuai dengan laporan tersebut, tim memperoleh data yang positif tentang sejumlah gua dan ceruk yang memiliki lukisan yang terdapat di daerah perladangan Liabalano, Kampung Mabolu, Desa Liang Kabori, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Gua dan ceruk yang dimaksud yang sekaligus pada waktu itu dapat diteliti adalah gua Metanduno dan gua Kobori, serta ceruk-ceruk La Sabo, dan Tangga Ara. Survei selanjutnya dilaksanakan pada tahun 1984 terhadap sejumlah objek penelitian yang lebih luas lagi. Tim survei  akhirnya menemukan 7 gua dan 6 ceruk. Keseluruhan gua dan ceruk tersebut selanjutnya diberi nama Liang Kabori.

Manusia yang menghuni situs Liang Kabori kemudian mengalami proses perubahan pola kehidupan dari berburu dan mengumpulkan makanan menjadi pola bercocok tanam. Hal ini seperti ditunjukkan pada lukisan-lukisan yang terdapat pada 4 buah situs yang baru ditemukan oleh La Hada, yakni gua Sugi Patani, gua Pominasa, ceruk Pinda, ceruk La Kubah. Keempat situs tersebut memiliki perbedaan dengan 9 situs sebelumnya yang diteliti oleh Kosasih. Perbedaan ini terlihat dari adanya lukisan yang menunjukkan ciri-ciri kehidupan bercocok tanam, dibuktikan dengan adanya lukisan kelapa, lukisan jagung, dan lukisan umbu-umbian.

Peninggalan prasejarah lainnya yang ditemukan di sekitar situs Liang Kabori adalah makam raja-raja Muna sebagaimana keterangan yang disampaikan oleh La Hada (juru pelihara situs Liang Kabori). Menurut informasi dari masayarakat  setempat bahwa di sekitar situs Liang Kabori terdapat makam raja-raja Muna, yakni Sugi Patola, Sugi Ambona, Sugi Patani, Sugi La Ende. Situs dari makam-makam tersebut masih dapat dilihat dengan jelas sampai sekarang. Sayang sekali penulis tidak mendapatkan dokumentasi foto dari makam-makam tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Tim Arkeologi Nasional Jakarta pada tahun 1977 bahwa lukisan-lukisan yang ditemukan di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara diperkiraan dibuat sekitar abad ke-12 dengan dasar pertimbangan bahwa bukti-bukti temuan pada situs itu masih muda, baik dilihat dari segi bahan maupun motipnya. Sebagaimana ciri khusus kehidupan prasejarah bahwa manusia pada zaman itu kebanyakan memilih tempat tinggal pada ketinggian yang memiliki gua (La Kimi Batoa, 1991:7).

Para ahli berpendapat bahwa situs kepurbakalaan di Kabupaten Muna, merupakan kawasan yang sarat dengan temuan kepurbakalaan prasejarah (Puslit Arkenas, 1977 dan 1984). Di dalam situs tersebut terdapat berbagai jenis lukisan prasejarah yang menggambarkan berbagai aktivitas kehidupan manusia prasejarah yang mendiami lokasi tersebut (Informasi disampaikan oleh La Kimi Batoa, mantan Kepala Seksi Kebudayaan, Kantor Depdikbud, Kabupaten Muna).

Gua Kabori terdapat di Desa Liang Kabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna. Situs ini berjarak sekitar kurang lebih 17 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Muna yang beribukota di Raha. Dari ketinggian kurang lebih 800 meter dari permukaan laut, dan dapat ditempuh kurang lebih 30 menit dengan kendaraan roda dua. Menurut keterangan dari La Hada (juru pelihara sekaligus penemu gua tersebut) bahwa keseluruhan lukisan di gua Kabori berjumlah 130 lukisan. Akan tetapi dari sejumlah lukisan tersebut, banyak yang sudah rusak, bahkan ada yang sudah tidak jelas lagi sehingga sulit diidentifikasi. Kerusakan gambar-gambar tersebut selain faktor alam, juga disebabkan oleh ulah para pengunjung yang tidak bertanggung jawab. Lukisan yang masih dapat dijumpai dalam gua Kabori, antara lain adalah lukisan dengan motip binatang, figur manusia dalam berbagai variasinya, gambar perahu, dan gambar matahari.

Penulis berasumsi bahwa lukisan-lukisan antara gua yang satu dengan lukisan yang ada pada gua lainnya memiliki saling keterkaitan atau persamaan-persamaan, baik dari karakteristik pola, tema maupun makna-makna simbolik yang terkandung di dalamnya.

Tabel 1

Lukisan prasejarah di gua Kabori

Tema/jenis gambar/motip gambar

Karakteristik gaya

Binatang buruan: Babi, rusa.

Sarana berburu: Kuda, anjing

Binatang melata: Lipan

Naturalis-dekoratif

Figur manusia:

Orang berkuda, orang main silat, orang naik perahu, orang berburu, orang berperang, orang tanpa kepala, manusia terbang.

Naturalis-dekoratif

Gambar perahu:

Perahu dengan layar, perahu sedang di dayung.

Naturalis-dekoratif

Gambar/motif alam:

Gambar matahari sedang bersinar.

Naturalis

Tabel 2

Lukisan prasejarah di Gua Metanduno

Tema/jenis gambar/motip gambar

Karakteristik gaya

Berburu/Perburuan:

Menampilkan gambar orang naik kuda.

Naturalis-dekoratif

Perang:

Menampilkan gambar orang naik kuda sambil memegang tombak pada tangan kanan, orang tanpa kepala.

Naturalis-dekoratif

Aktivitas kebaharian:

Menampilkan gambar perahu sebagai sarana transportasi laut, perahu dengan layar, perahu sedang di dayung.

Naturalis-dekoratif

Kepercayaan:

menampilkan gambar matahari sedang bersinar.

Naturalis

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan pembahasan terdahulu, dapat disimpulkan bahwa: (1) Kecenderungan tema gambar-gambar atau lukisan prasejarah di situs Liang Kabori umumnya menampilkan tema yang erat kaitannya dengan kehidupan sosial budaya dan religi, seperti adegan perburuan dengan menampilkan binatang buruan, alat trasportasi laut dengan menampilkan perahu-perahu, dan adegan peperangan, gejala alam (matahari), manusia berkuda, manusia tanpa kepala, manusia bersikap silat, serta binatang melata; dan (2) Makna simbolik yang implisit dalam lukisan prasejarah di situs Liang Kabori tidak terlepas dari kepercayaan lama, serta kebiasaan setempat, seperti kegiatan sehari-hari berupa berburu dan mengumpulkan makanan, dan aktivitas kebaharian.

Sebagai penutup dari tulisan ini, penulis menyarankan kepada pemerintah Kabupaten Muna agar kiranya terus menggalakkan penulisan dan inventarisasi benda-benda cagar budaya serta menjaga kelestariannya, kepada Dinas Purbakala Kabupaten Muna kiranya situs Liang kabori dapat dilindungi sebagaimana dengan situs purbakala lainnya, dan kepada masyarakat Muna agar ikut menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah tersebut agar masyarakat kita ke depannya dapat membandingkan karya-karya seni pada zaman dahulu dengan karya-karya seni zaman sekarang.

DAFTAR PUSTAKA

AKW, 1991. Sejarah Seni Rupa Indonesia, Seri 2: Zaman Hindu, FPBS IKIP Ujung Pandang.

Batoa, La Kimi. 1982. Sejarah Kerajaan Daerah Muna. Raha: CV. ASTRI Raha Diknas dan Balai Bahasa. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga Jakarta: Balai Pustaka.

Depdikbud. 1983. Aspek Geografi Budaya dalam Wilayah Pembangunan Daerah Sulawesi Tenggara, Jakarta: Proyek Investarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.

Devereux, Paul, Arkeologi, Elex Media Komputindo, halaman 13.

Kosasih, E.A., 2001. Bentang Ekosistem Karts dan Prospek Wisata Arkeologi di Indonesia dalam Buku: Memediasi Masa Lalu: Spektrum Arkeologi dan Pariwisata, Cetakan I. Makassar: Lembaga Penelitian UNHAS (LEPHAS, M. Irfan Mahmud (Editor), halaman 149-180.

Puslit Arkenas. 1984. Laporan Penelitian Arkeologi di situs-situs lukisan gua dan ceruk Pulau Muna (Sulawesi Tenggara) tahun1977 dan 1984. Jakarta : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Soekmono, 1981 Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Jilid 1, 2, dan 3, Edisi ke-3, Yogyakarta: Kanisius.

Sukendar, Haris, 2001. Masyarakat Sumberdaya Arkeologi Sulawesi dan Pemberdayaannya dalam Menunjang Pembangunan Daerah, dalam Buku: Memediasi Masa Lalu: Spektrum Arkeologi dan Pariwisata. Cetakan I. Makassar: Lembaga Penelitian UNHAS (LEPHAS), M. Irfan Mahmud (Editor), halaman 23-38.

Soebadio, Haryati, 1986. Kepribadian Budaya Bangsa, dalam Buku: Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius), Penyunting Ayatrohaedi, Cetakan I, hlm. 18-26, Jakarta: Pustaka Jaya.

Yabu M. 2005. Materi Kuliah Sejarah Seni Rupa Indonesia: Prasejarah, Makassar: Fakultas Seni dan Desain, Universitas Negeri Makassar.


Lampiran

Lukisan prasejarah pada gua-gua di Kab. Muna Sulawesi Tenggara.

Kiri: Salah satu lukisan di gua Kabori yang menggambarkan adegan berburu.

Kanan: Salah satu lukisan di gua Kabori yang menggambarkan

adegan pemotongan kepala (Dokumentasi: Wa Muliati, 2009).

(

Lukisan prasejarah pada gua-gua di Kab. Muna Sulawesi Tenggara.

Kiri: Salah satu lukisan di gua Kabori yang menggambarkan adegan pertarungan/perang.

Kanan: Lukisan perahu layar di gua Kabori.

(Dokumentasi: Wa Muliati, 2009).

(

Salah satu gambar/lukisan gua di Pulau Muna

yang menggambarkan adegan perburuan

(Sumber: Kosasih dalam Irfan Mahmud, 2001:178).

(Sumber: Kosasih dalam Irfan Mahmud, 2001:178).


Biodata Penulis:

N a m a                                  : Drs. Yabu M., M.Sn.

Tempat/Tgl. Lahir      : Ujungloe / Jeneponto, 1 Desember 1955

Pendidikan                 : S2

Alamat Kantor                       : Universitas Negeri Makassar                                  :

Alamat Rumah                      : Komp. Tata I Indah, Jl. Dg. Tata 1 No.19B RT 03 RW 03

Makassar, 90224, Telepon (0411) 869689

Alamat e-mail                        : abuem@yahoo.com

Alamat Kantor                       : Kampus FSD Parangtambung, Jl. Mallengkeri

Makassar, 90224, Telepon & Faks. (0411) 888524

Artikel dalam Jurnal/Majalah Ilmiah:

· Semester Pendek dan Beberapa Permasalahannya: Studi terhadap Opini Mahasiswa dan Dosen Jurusan Seni Rupa FSD UNM,  Jurnal INSANI, Lemlit UNM, Vol. 10, No. 1 Juli 2009, ISSN 0854-3712, hlm. 94-105.

· Visi dan Misi Pendidikan Seni di Era Globalisasi: Sebuah Tinjauan. Jurnal SPARTA, Edisi Khusus Agustus 2008, FSD UNM, hlm.1-8.

· Seni Konseptual di Indonesia. Majalah SPHINX, Edisi Khusus Agustus 2007, FBS UNM, hlm.1-9.

· Fenomena Kebudayaan Pop di Indonesia (Sebuah Catatan) Majalah SPHINX, Edisi Khusus Agustus 2007, FBS UNM, hlm.23-27.

· Fenomena Kebudayaan Pop di Indonesia Jurnal IMAJINASI, Jurusan Seni Rupa FBS UNM Makassar, Vol.1 No.3, Juni. 2004, ISSN 1693-3990.

· Simbiosis Islam dalam Bangunan Sakral. Jurnal IMAJINASI, Jurusan Seni Rupa FBS UNM Makassar, Vol.1 No. 1 Juni 2003.

· Pengembangan Budaya Kewirausahaan Berbasis Sains di Perguruan Tinggi. Jurnal IMAJINASI, Jurusan Seni Rupa FBS UNM Makassar, Vol. 1 No. 1 Januari 2003, ISSN 1693-3990.

Pengalaman Penelitian:

· Ketua Penelitian: Konsep Silabus dan Kerangka Bahan Ajar PPG Prajabatan Bidang Studi Pendidikan Seni Rupa, Lemlit UNM, Biaya PNBP 2010.

· Anggota Penelitian: Koleksi Referensi Perpustakaan Seni dan Relevansinya dengan Mata Kuliah pada Prodi di FSD UNM, Lemlit UNM, Biaya PNBP 2010.

· Ketua Penelitian: Pengembangan Keramik Hias melalui Penerapan Ragam Hias Etnik pada Kriya Keramik di Desa Jipang, Kec.Bontonompo, Kab. Gowa, Penelitian Strategis Nasional, Lemlit UNM, Biaya DIPA-Dikti 2009.

· Anggota Penelitian: Revitalisasi Nilai-Nilai Budaya Tradisional pada Masyarakat Sulawesi Selatan. Biaya Balitbanda Prov. Sulsel, 2007.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 5 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 6 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 7 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 8 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Resiko Terlalu Banyak Informasi Diri di …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Ketika Sayang Dijadikan Sebuah Alasan Untuk …

Fairusyifa Dara | 8 jam lalu

Semarak Pesta Rakyat Situ Bungur (Bingkai …

Agung Han | 9 jam lalu

Kenapa Lebih PD Dengan Bahasa Asing Dari …

Seneng | 9 jam lalu

Car Free Day Bukan Solusi …

Nitami Adistya Putr... | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: