Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Jokowi Khutbah Idul Adha 1434 H

REP | 01 October 2013 | 21:02 Dibaca: 1924   Komentar: 2   1

Menyembelih Egoisme

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah.

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT yang dengan taufiq, hidayah dan inayah-Nya, kita dapat merayakan Idul Adha dengan tenang, khidmat dan dapat melaksanakan shalat Id dengan khusu’ tadlarru’ dalam naungan keridhoan Allah SWT.

Hari ini kita berkumpul di tempat yang mulia ini yaitu untuk merayakan suatu hari penting dalam setiap tahun. Pada hari ini juga, jutaan manusia, dengan kesadaran keagamaan yang tulus, kembali mengenang peristiwa keagamaan yang sangat bernilai itu. Jutaan manusia dari berbagai etnik, suku, dan bangsa di seluruh penjuru dunia, mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil sebagai rasa syukur dan sikap kehambaan mereka kepada Allah SWT. Sementara jutaan yang lain sedang membentuk lautan manusia di tanah suci Makkah, menjadi pemandangan yang menakjubkan yang menggambarkan keberadaan manusia di hadapan kebesaran Allah Subhanahu Wata’ala yang Maha agung. Mereka serempak menyatakan kesediaannya untuk memenuhi panggilan Allah, “Labbaik, labbaika lasyarikalaka labbaik. Innal hamda wani’mata laka wal mulk la syarikalak.”

Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah

Idul Adha dikenal juga dengan Idul Qurban, karena sejak fajar menyingsing di pagi hari ini, sampai terbenam matahari pada tanggal 13 Dzulhijjah nanti atau yang disebut hari Tasyriq, selama empat hari berturut-turut kita telah berada dalam suasana Idul Adha. Suatu hari penting dan terbesar dalam Islam.

Hari raya Idul Adha yang kita rayakan setiap tahun telah memberikan kesan dan pelajaran yang dalam untuk kita semua, khususnya dalam mengenang tokoh-tokoh yang terkait dengan peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. Siti Hajar dan Ismail a.s. Mereka adalah suri tauladan abadi.

Pengorbanan yang besar yang telah diberikan oleh Nabi Ibrahim a.s. itu oleh agama Islam telah dianjurkan untuk dilaksanakan pula oleh kaum muslimin, sebagai tanda keikhlasan dan kesediaannya untuk memberikan pengorbanan dan pengabdiannya kepada Allah SWT dengan menyembelih hewan yang layak dikurbankan, seperti unta, sapi dan kambing yang dagingnya sudah barang tentu yang utama ialah membaginya menjadi tiga bagian yakni sepertiga untuk dimakan oleh yang berqurban beserta keluarganya (QS Al Hajj ayat 28), sepertiga untuk tetangga sekitarnya dan yang sepertiga untuk fakir miskin. Dan yang lebih utama adalah menyedekahkan seluruh daging kurbannya dengan sarat ia harus mengambilnya meskipun sedikit demi mengikuti sunnah. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.

Penyembelihan hewan yang lazimnya disebut kurban itu merupakan pengabdian kita kepada Allah SWT. Karena Allah SWT tidak menerima daging dari hewan-hewan yang kita potong itu, kecuali hanya niat amal kita yang ikhlas saja yang diterima oleh Allah.

Sebagaimana firmannya dalam Quran surat Al hajj ayat 37:

Artinya:

Daging-daging yang menjadi qurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhoan Allah Subhanahu Wata’ala, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.

Dari ayat tersebut, kita memperoleh pelajaran bahwa hewan-hewan qurban yang kita potong itu, baik unta, sapi maupun kambing, maka bukan daging-daging dan darah-darah dari hewan-hewan itu yang diterima Allah SWT, melainkan ketaatan kita yang ikhlas dan pengabdian kita yang sungguh-sungguh itulah yang diterima oleh Allah SWT dan dibalas dengan pahala yang setimpal. Maka pengorbanan dan pengabdian itulah suatu didikan Islam kepada umat islam untuk memperkuat jiwa sosial dan dermawan, untuk melatih dan membiasakan umat Islam mengorbankan segala sesuatu yang dimilikinya bagi keselamatan dan kebahagiaan umat bersama, serta bagi kemajuan masyarakat, bangsa negaranya serta kejayaan Islam.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Jamaah shalat Idul Adha Rahimakumullah

Berqurban, apabila dilihat dari segi memperoleh keridhoan Allah, maka sungguh berqurban itu sangat luar biasa pahalanya, sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya

Artinya;

Berkurban itu untuk yang melaksanakannya, dibalas Allah dengan pahala tiap-tiap satu helai rambut, satu kebajikan (HR Ibnu Majah)

Saudara-saudara kaum muslimin wal muslimat, alangkah besar pahala berkurban . Maka kesempatan ini hendaknya tidak disia-siakan . Hidup pasti mati, harta kekayaan akan kita tinggalkan seluruhnya, kecuali amal jugalah yang dapat kita tenteng atau kita bawa kelak.

Dalam hal kurban ini, Abu Hurairah meriwayatkan :

“Barang siapa yang memiliki kelapangan tetapi ia tidak berkurban, maka jangan sekali-kali ia mendekati tempat shalat kami” (HR Hakim dari Abu Hurairah)

Kita sebagai muslim dituntut oleh Allah SWT untuk memberikan pengabdian kita sebanyak-banyaknya agar kita memperoleh kebahagian dunia dan akhirat. Karena itu, tugas kita mencontoh dan mengambil teladan dari derap dan langkah serta sikap Nabi Ibrahim dalam mewujudkan dan mempertahankan keyakinan kepada Allah SWT.

Artinya, apa yang diperbuat oleh Nabi Ibrahim a.s. jelas mengisyaratkan agar anak cucu mereka, agar generasi sesudahnya menerima dan menegakkan Islam secara kafah atau utuh serta konsisten atau istiqomah dalam merealisasikan atau mewujudkan cita-cita kesejahteraan. Ketulusan dalam menerima dan menegakkan Islam serta konsistensi atau istiqomah pada cita-cita luhur adalah jaminan untuk memperoleh kesejahteraan hidup. Sebaliknya ketidak patuhan dan inkonsistensi atau tidak istiqomah kepada islam dapat menjerumuskan kehidupan kaum muslimin ke lembah yang penuh nestapa dan akan menjerembabkan manusia ke jurang kesengsaraan yang berkepanjangan.

Jamaah Idul Adha Rahimakumullah

Umat islam yang mampu, (ukuran mampu menurut Imam Syafii adalah apabila seseorang mempunyai kelebihan uang dari kebutuhannya dan kebutuhan orang yang menjadi tanggungannya, senilai hewan qurban pada hari raya Idul Adha dan tiga hari tasyriq). hukumnya wajib bagi orang yang mampu sesuai dengan surat Al Kautsar ayat 2 Fashalli lirabbika wanhar. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu, dan berkurbanlah. Kurban dianjurkan kepada para nabi mulai dari nabi Adam as sampai sekarang.

Ibadah qurban merupakan upaya menghidupkan sunah para nabi Allah SWT dengan menyembelih sesuatu dari pemberian Allah Subhanahu Wata’ala kepada manusia sebagai ungkapan rasa syukur. Kemurnian keataatan dengan mengerjakan seluruh perintah Allah adalah bukti syukur tertinggi.

Diantara hikmah berkurban adalah mendekatkan diri atau taqarrab kepada Allah SWT atas segala kenikmatan-Nya. Kenikmatan itu jumlahnya banyak. Sehingga tak seorangpun dapat menghitungnya, Wain taudu nikmatallahi latuhsuha. (QS Ibrahim ayat 34).

Hikmah secara tersirat dan tegas tentang kurban ini, telah diungkapkan dalam Al Qur’an “..Maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang minta. Demikianlah kami telah menundukkkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. QS Al Haj (22) : 36)

Hikmah berikutnya adalah menghidupkan makna takbir di Hari raya Idul Adha dari tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah, yakni hari Nasar (penyembelihan) dan hari-hari tasyrik. Dengan setulusnya kita bersaksi bahwa hanya Allah-lah yang Maha besar, Maha Esa, Maha perkasa dan sifat kesempurnaan lainnya.

Kebahagiaan akan tercapai bila manusia menyadari fungsi keberadaannya di dunia ini hanyalah untuk menjadi hamba dan abdi Allah SWT, bukan abdi dunia, ataupun abdi setan. Wama khalaqtul jinna wal insa illa liyakbudun (QS Adzariyat ayat 56).

Disamping itu semua, Hari Raya Kurban merupakan ibadah sosial kemasyarakatan yang sangat dalam, itu terlihat ketika pemotongan hewan yang akan dikurbankan, para mustahiq yang akan menerima daging-daging kurban itu berkumpul. Mereka satu sama lainnya meluapkan rasa gembira dan sukacita. Yang kaya, yang miskin saling berpadu, berinteraksi sesamanya. Luapan kegembiraan dihari qurban, terutama bagi yang miskin dan fakir, lebih-lebih dalam situasi krisis ekonomi sekarang ini, sangat tinggi nilainya, ketika mereka menerima daging hewan kurban tersebut.

Ibadah qurban menegaskan Islam adalah agama yang berdimensi atau berukuran sosial, karena itu, orang islam yang tidak mampu mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan, dianggap sebagai pendusta agama (QS Al Maun,ayat 1-3) Ara aitalladzi yukadzibubiddin, fadzalikal ladzi yadu’ul yatim, wala yahudzu ‘ala thaamil miskin

Rasulullah SAW 14 abad lebih yang lalu telah memberikan suatu isyarat yang akan menimpa sebuah bangsa yang tidak istiqomah dalam menjalani tata aturan agama, mereka akan dilanda berbagai kesengsaraan yang berkepanjangan. Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Thabrani mengungkapkan bahwa: “ apabila akhir zaman semakin dekat maka banyak orang yang berpakaian jubah, dominasi perdagangan, harta kekayaan melimpah, para pemilik modal diagungkan, kemesuman merajalela, kanak-kanak dijadikan pemimpin, dominasi perempuan, kedholiman penguasa, manipulasi takaran dan timbangan, orang lebih suka memelihara piaraannya daripada anaknya sendiri, tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang kecil, merebaknya anak-anak zina , sampai-sampai orang bisa menggauli perempuan /ngesek di tengah jalan, maka orang yang paling baik di zaman itu hanya bisa mengatakan: tolonglah kalian menyingkir dari jalan, mereka berpakaian kulit domba tetapi berhati serigala, orang paling ideal di zaman itu adalah para penjilat.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Jamaah shalat Idul Adha Rahimakumullah

Kekhawatiran Rasulullah SAW tersebut ternyata telah bermunculan di tengah-tengah bangsa yang sedang sengsara ini. Kita dapat menyaksikan manusia-manusia yang perlente seolah orang baik, cendekiawan, dermawan, bahkan berbaju ulama atau kiayi tetapi kelakuan mereka sesungguhnya adalah kelakuan penipu dan perusak. Bahkan dengan baju tersebut mereka mengatakan bahwa semua agama itu sama dan bahkan orang-orang yang memiliki pemahaman semacam itu malah dianggap cerdas secara spiritual. Padahal itu sama halnya menyalahkan Allah SWT. Na’udzubillahi min dzalik.

Jamaah shalat Idul Adha Rahimakumullah

Dulu, kita merasakan suatu pandangan yang mirip di tengah masyarakat bahwa berhubungan sexual di luar nikah adalah sesuatu yang sangat aib dan merupakan dosa besar yang benar-benar harus dijauhi, sehingga apabila ada yang melakukan akan mendapat sangsi social berupa penyingkiran dari pergaulan social, dimusuhi, tidak mendapatkan hak-haknya sebagai warga supaya ia merasakan sebagai pihak yang terhukum dan juga sebagai pelajaran bagi yang lain. Namun kini ngesek / zina dianggap sebagai salah satu gaya hidup modern dan menutupi dalihnya sebagai “tuntutan zaman” sehingga terjadilah pergeseran norma sosial. Akhirnya perilaku menyimpang / kebobrokan moral terjadi dimana-mana.

Di negeri ini, gempa, tsunami, banjir, angin topan, longsor, gunung meletus yang telah banyak menelan korban jiwa, Lumpur lapindo, krisis yang berkepanjangan, kemelaratan, kemiskinan tak teratasi sementara harga – harga barang terus meroket. Ini semua bukan hanya musibah tapi adzab dari Allah SWT. Tanya kenapa, lupa kepada Allah SWT, menyimpang dari jalan Allah SWT. Kita dulu dikenal dengan masyarakat yang beradab sekarang berbalik menjadi masyarakat yang biadab, kemaksiatan, penipuan, korupsi, suap menyuap, pencurian, perampokan, pelacuran, rentenir, riba, pembunuhan dll. bahkan merebak klenik versi barat dan timur, perdukunan, aji penglarisan, aji pengasihan, jimat-jimat, jampe-jampe lengkap dengan segala khurafatnya yang digandrunginya.

Tanya kenapa? Adzab terus berdatangan di Negara kita ? jawabannya lupa kepada Allah SWT, tidak yakin kepada Allah SWT, menyimpang dari jalan Allah SWT yang disuburkan malah kemusyrikannya. Na’udzubilahi min dzalik.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd

Jamaah shalat Idul Adha Rahimakumullah

Oleh karena itu supaya Negara ini bisa pulih kembali bangsa ini harus meneladani derap dan langkah serta sikap nabi Ibrahim dalam mewujudkan dan mempertahankan keyakinannya kepada Allah SWT tersebut. Jangan sampai kita berlarut-larut dalam mendapatkan adzab dari Allah SWT. Dan marilah kita menjadikan idul adha sebagai momen untuk menyembelih egoisme kita dan berkurban dalam kehidupan sosial untuk tercapainya kehidupan yang sejahtera . alangkah naifnya kita jika idul adha itu hanya dimaknai sekedar memotong hewan kurban dan setelah itu selesai begitu saja.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Google Street View, Akankah Disalahgunakan? …

Deliana Setia | | 21 August 2014 | 23:02

Pembantu Kalahkan Mahasiswa, Apa Bisa? …

Seneng Utami | | 22 August 2014 | 01:24

Sharing Profesi Berbagi Inspirasi ke Siswa …

Wardah Fajri | | 21 August 2014 | 20:12

Hati-hati Minum Jamu Pemberian Paranormal …

Mas Ukik | | 21 August 2014 | 20:15

Mau Ikutan Diskusi Bareng Anggota DPR Komisi …

Redaksi Kompas.com | | 21 August 2014 | 13:59


TRENDING ARTICLES

Pernyataan Politik Bermata Banyak …

Hendra Budiman | 10 jam lalu

Ikhlas Menerima Jokowi-JK Sebagai Pemimpin …

Topik Irawan | 11 jam lalu

Belum Ada Ucapan Selamat dari Prabowo-Hatta …

Revaputra Sugito | 11 jam lalu

Rusuh MK, Sudirman-Thamrin Mencekam …

Mawalu | 13 jam lalu

Ditolak MK, Pendukung Prabowo Berduka …

Samandayu | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: