Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Syaiful Rohman

SEMANGAT, KESABARAN dan KEIKHLASAN, 3 (tiga) istilah yang membuat kita tetap BERKARYA di dalam kehidupan. selengkapnya

Catatan Harian Guru (44): Curhat Guru tentang Kurikulum 2013

OPINI | 05 October 2013 | 06:43 Dibaca: 642   Komentar: 1   0

Sebagai praktisi di sekolah, guru wajib untuk melaksanakan semua kebijakan pendidikan yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat (baca: Kemendikbud), terutama kebijakan yang berkaitan dengan kurikulum pendidikan. Pada dasarnya semua kebijakan pemerintah itu pasti mempunyai maksud dan tujuan yang baik. Namun benarkah semua kebijakan pendidikan itu sudah memenuhi kemauan dan kehendak sebagian besar guru di tanah air?.

Salah satu kebijakan pendidikan yang menjadi “obrolan” besar bagi guru saat ini adalah implementasi Kurikulum 2013 (selanjutnya baca: K13) di berbagai jenis, jenjang dan satuan pendidikan. Penulis masih ingat dengan ucapan bapak Mendikbud (M. Nuh) bahwa guru tidak perlu membuat perangkat administrasi pembelajaran (Buku, Silabus, Kalender Pendidikan, Program Tahunan, Program Semester dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Semua itu sudah disediakan oleh pemerintah pusat melalui perangkat K13, guru tinggal menerapkannya di sekolah.

Untuk guru dan siswa di tingkat SD dan SMP mungkin tidak terlalu bermasalah besar, karena semua perangkat administrasi pembelajaran itu sudah disediakan oleh pemerintah. Namun untuk tingkat SMA, tidak semua mata pelajaran dilengkapi dengan perangkat itu, kecuali pada mata pelajaran tertentu (Matematika, Bahasa Indonesia dan Sejarah). Guru yang mengajar ketiga mata pelajaran tersebut sudah mendapat pendidikan dan latihan untuk menerapkan K13 itu. Namun mata pelajaran lainnya (jumlahnya lebih dari 10 buah) malah belum mendapat pendidikan dan pelatihan sesuai dengan isi K13 itu (keinginan pemerintah).

Bagi guru yang mengajar di kelas X (tingkat SMA) selain ketiga mata pelajaran itu rasanya ada kesulitan dan problem tersendiri. Namun sebagai guru yang sudah bersertifikat pendidik (profesional), justru itu merupakan peluang dan tantangan untuk menerapkan implementasi K13 secara lengkap, baik dan benar. Sebagai jalan keluarnya, penulis mendownload (mengunduh) dari internet tentang silabus mata pelajaran yang diampu dan di print out (cetak). Namun kendala kecil muncul, ternyata silabus yang sudah dicetak itu mengalami revisi lagi (sesuai silabus terbaru dari sekolah). Dan akhirnya kembali lagi penulis harus mencetak lagi silabus yang sudah direvisi itu (berarti ada dua silabus yang berbeda isinya untuk mata pelajaran yang sama).

Dari silabus terbaru itu, penulis membuat buku kelas X (untuk kalangan sendiri). Hal ini karena pemerintah belum menyediakan buku sesuai dengan mata pelajaran yang diampu oleh penulis. Dan alhamdulillah, dalam jangka waktu lebih kurang 2 (dua) minggu akhirnya buku itu sudah disusun, dicetak dan diperbanyak untuk para siswa. Semua guru mata pelajaran yang lain pun, juga sudah menyusun sendiri buku yang digunakan oleh para siswanya.

Kemudian implementasi K13 di sekolah kami langsung berjalan. Setelah 2 bulan berjalan, ada sosialisasi baru tentang konsep penilaian (dari pihak sekolah) sesuai dengan isi K13. Ternyata konsep penilaian itu sangat berbeda dengan KTSP yang telah berjalan selama ini di sekolah kami. Jika pada KTSP menggunakan angka (10 – 100) untuk kognitif dan psikomotor, serta huruf (A, B, C dan K) untuk penilaian afektif. Maka penilaian pada K-13 ini menggunakan kombinasi angka dan huruf (konversi khusus) sesuai dengan model penilaian yang ada di Perguruan Tinggi (huruf A, B, C dan D dengan interval tertentu) untuk ketiga aspek itu (Pengetahuan, Keterampilan dan Sikap). Hal ini ditambah dengan berbagai jenis instrumen penilaian yang harus disiapkan oleh para guru sebelum masuk kelas. Semua ini dilakukan agar penilaian autentik untuk siswa bisa berlangsung dengan baik dan benar.

Tapi jangan membayangkan penilaian K13 untuk para siswa itu lebih mudah, malah justru lebih banyak pekerjaan administrasi yang harus dikerjakan oleh para guru. Dan jika tidak berhati-hati, maka guru akan “sibuk” dengan berbagai macam administrasi penilaian itu. Dan jangan sampai muncul persepsi di kalangan guru, nanti akan muncul istilah “guru administrasi” dibandingkan dengan istilah “guru mata pelajaran”.

Banyaknya instrumen penilaian itu berdampak pada perubahan posisi tempat duduk para siswa di dalam kelas. Sebagai uji coba, pada beberapa kelas tertentu di kelas X, (ada 3 kelas) diterapkan model atau posisi tempat duduk siswa yang baru. Pada awalnya para siswa duduk secara berderet lurus ke belakang dengan posisi menghadap ke papan tulis. Namun implementasi K13 ini membuat posisi tempat duduk siswa dikelompokkan sesuai dengan kepandaian, jenis kelamin dan kriteria yang lain. Dan posisi itu tidak berubah (tetap) selama pembelajaran berlangsung untuk semua mata pelajaran.

Semua itu mengacu pada 3 (tiga) istilah esensial yang digunakan oleh guru dalam implementasi K13 ini, yaitu pendekatan saintific, metode inquiri, dan model pembelajaran kolaboratif. Pendekatan saintific menuntut guru untuk menerapkan pembelajaran dengan mengikuti langkah-langkah tertentu, yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan data (eksperimen/eksplorasi), mengasosiakan dan mengkomunikasikan.

Adapun metode inquiri membuat guru tidak boleh langsung menginformasikan hal-hal baru kepada para siswa, tetapi harus menggunakan langkah-langkah sesuai dengan metode inquiri, yaitu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh oleh siswa bukan dari hasil mengingat fakta-fakta, tetapi merupakan hasil dari menemukan sendiri oleh para siswa. Tingkat pemahaman siswa terhadap suatu konsep/sub konsep mata pelajaran akan lebih tinggi dan lebih baik, apabila siswa mengalami sendiri dengan cara melibatkan panca indera yang dimiliki oleh mereka pada waktu melakukan kegiatan membaca, merangkum, diskusi kelompok maupun presentasi lisan.

Sedangkan model pembelajaran kolaboratif menuntut seorang guru untuk bisa bekerja sama dengan guru lain dalam menerapkan berbagai model pembelajaran (CIRC, Jigsaw, TPS dan lainnya) sehingga tercipta model pembelajaran yang berbasis pembelajaran PAIKEM (pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan).

Namun apakah implementasi K13 akan berjalan sesuai dengan keinginan pemerintah, guru dan siswa (mempersiapkan generasi emas tahun 2045, mempunyai kemampuan iptek yang tinggi dan mempunyai moralitas yang baik). Pada akhirnya perjalanan waktu yang akan menentukan keberhasilan K13 ini. Dan rasanya tidak salah jika ada “ungkapan” bahwa kurikulum 2013 ini juga bisa disebut “kurikulum sambil berjalan”. Dan jika semua guru tetap semangat, sabar serta ikhlas dalam implementasi K13 ini, maka tidak ada yang tidak bisa (semuanya BISA). Semoga ….

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Jangan Kacaukan Indonesiaku! …

Eki P. Sidik | 8 jam lalu

Jersey Baru, Semoga Ada Juga Prestasi Baru …

Djarwopapua | 9 jam lalu

Perpuskota Jogja Menjadi Wahana Wisata …

Iis Ernawati | 9 jam lalu

Intip SDM Kesehatan era JKN : Antara …

Deasy Febriyanty | 9 jam lalu

Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Saya …

Andri Yunarko | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: