Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Herin Priyono

jurnalis, penulis-madzab "Syaraf Penulisan" dan peneliti pd Pusat Pelatihan Pascasarjana Yogyakarta. http://syarafpenulisan.com

99 Penyebab PTK Guru Menjadi Sulit

OPINI | 12 October 2013 | 01:31 Dibaca: 153   Komentar: 12   2

Substansi penelitian tindakan kelas (PTK) guru sebenarnya sudah dilakukan (secara naluriah) oleh guru. Ada atau tidak ada PTK. Benarkah statemen ini? Mungkin iya, mungkin tidak.

Mungkin ya, benar bagi guru yang mengajar penuh kepedulian. Guru yang kuat naluri “mendidiknya” bukan guru yang sekedar mengajar. Ini kalau kita percaya memang ada beda antara “mendidik” dan mengajar.

Dalam setiap proses mendidik –khususnya di sekolah– pasti lewat proses mengajar yang terstruktur dan bertarget. Tapi mengajar, belum tentu “mendidik”, misalnya pada guru yang mengajar tak dari hati, mengajar hanya “mekanis” saja sekedar memenuhi kuajiban menghabiskan kurikulum atau sekedar memenuhi jumlah jam mengajar seperti yang dituntut oleh sertifikasi.

Ciri lain mengajar sekedar “mengajar” adalah mereka para guru yang menghadapi siswa dengan sedikit sekali melakukan “kontak mata” dengan siswanya.

Kontak mata ini menjadi penentu dan “penanda”, apakah guru memiliki cukup kepedulian akan tingkat penangkapan siswa terhadap tampilan dirinya.

Sebab sorot mata siswa “memberi tahu” banyak hal kepada guru sebagai komunikan, yaitu guru sebagai “pemberi informasi” apakah informasi yang disampaikannya dikupas dengan baik atau asal-asalan. Guru yang tak menghayati atau tak memiliki “ketertarikan” pada materi yang diajarkannya tidak akan bisa membuat siswa tertarik pada apa yang diajarkan guru.

Apa yang keluar dari otak hapalan, sekedar mekanis putar kaset, akan berhenti di otak saja. Padahal teori “learn how to learn” (belajar tentang bagaimana belajar) menemukan kenyataan, jika cara belajar hanya kognitip thok, otak menyimpan pelajaran hanya sekitar 20 persen saja sedang 80% lainnya hilang.
Sedang yang dikeluarkan dari hati –yang diucapkan dengan intonasi, diksi, penuh jeda untuk mengatur milienisasi syaraf otak– akan terkenang terus. Otak membutuhkan bantuan “respon rasa” (diantaranya musik, suara guru yang penuh kepedulian) untuk bisa menyimpan lama materi ajar.

Daftar ini, apabila dirinci lagi indikator klinis kejiwaannya, jumlahnya akan lebih dari 99 “ketakmengertian” yang menjadi penyebab kegagalan mengajar. Depdiknas tak pernah dengan sungguh-sungguh perduli untuk mengembangkan kemampuan guru mengajar dengan pelimpahan cinta yang memberdayakan ini.

Terutama etika “kontak mata” ini.

Guru yang pendidik, umumnya sangat memperhatikan sekali arti kontak mata ini. Kontak mata menjadi indikator bahwa guru sangat berkepedulian “menghargai” kedirian siswa sebagai subyek bermartabat. Kontak mata yang dilakukan guru (apalagi dengan penuh harapan) bahwa siswanya akan terberdayakan dengan materi yang diajarkannya, membangkitkan semangat dan harga diri siswa. Mendidik sebagai proses “menumbuhkan harga diri” inilah yang hilang dari sekolah. Ditambah oleh beban ambisi kurikulum yang ingin menggelontorkan banyak hal, habislah peluang sistem sekolah menjadi prosesi yang mencerahkan, baik bagi guru maupun siswa. Sekolah dengan tampilan yang sangat modern dan canggih sekarang ini, nyata telah berubah perangai menjadi pusat destruktif yang mendehumanisir anak didik.

Sebenarnyalah, dalam situasi inilah, PTK yang mempunyai tujuan ideal (sampai kapanpun) takkan pernah berhasil membangkitkan semangat guru, karena –seperti halnya Depdiknas sebagai pembina guru– semuanya terkena wabah myopis, tersandung di “titik buta” hati dalam memahami “sumber masalah” sesuatu yang dalam bahasa Al Ghozali disebut “ghurur” (jiwa yang terkelabui).

Semuanya hanya mengira-mengira dan mengira telah sampai pada sesuatu. Padahal sebenarnya masih lari di tempat. Belum beranjak kemana-mana.
Guru yang mengalami myopis (baik dalam cara melihat dan menilai) proses-proses jiwa di dalam dirinya, kelas dan siswanya jelas akan kesulitan memahami –apa yang perlu di PTK– dari kelas dan dirinya. Sementara Depdiknas sendiri cara mendekatinya penuh dengan semangat proyek, tanpa refleksi, tanpa keberendahatian dan keheningan dan lebih celaka lagi dengan superioritasnya yang dipertontonkan secara vulgar, penuh kengototan sebagaimana terlihat dalam menangani kritik terhadap UAN dan RSBI.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bergembira Bersama Anak-anak Suku Bajo …

Akhmad Sujadi | | 17 September 2014 | 05:23

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48

Jokowi Menghapus Kemenag atau Mengubah …

Ilyani Sudardjat | | 17 September 2014 | 13:53

Menempatkan Sagu Tidak Hanya sebagai Makanan …

Evha Uaga | | 16 September 2014 | 19:53

5 Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam …

Hendra Makgawinata | | 17 September 2014 | 19:50


TRENDING ARTICLES

Bangganya Pakai Sandal Jepit Seharga 239 …

Jonatan Sara | 8 jam lalu

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 11 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 11 jam lalu

Sebuah Drama di Akhir Perjalanan Studi …

Hanafi Hanafi | 12 jam lalu

Di Airport, Udah Salah Ngotot …

Ifani | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Pijat Refleksi Hilangkan Keluhan Lambungku …

Isti | 7 jam lalu

(Lumen Histoire) Sejarah dan Seputar …

Razaf Pari | 8 jam lalu

Kisah Pilu “Gerbong Maut” di …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Batik Tulis Ekspresif yang Eksklusif …

Anindita Adhiwijaya... | 8 jam lalu

Akherat, Maya Atau Nyata? …

Akhmad Fauzi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: