Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Pena Psikologi

Bersama Kita Mengembangkan Ilmu Psikologi di Indonesia | @penapsikologi

Korupsi di MK dari Perspektif Psikologi

OPINI | 14 October 2013 | 10:57 Dibaca: 170   Komentar: 0   1

Ditulis Oleh:

Antoni, S.Psi

(HR Recruitment and People Development salah satu perusahaan swasta, alumni Psikologi Universitas Islam Indonesia)

Seperti biasa setelah selesai sholat shubuh, saya duduk-duduk di depan televisi sambil sesekali melihat dua putri tersayang yang masih terbuai dengan mimpinya. Sudah menjadi rutinitas bagi saya sebelum berangkat kerja baca-baca berita dulu, baik berita di televisi maupun di media online. Kalo pagi lihat berita di televisi hanya sampingan saja, karena saya berpikir kebanyakan beritanya tentang gosip, kasus rumah tangga lah, perselingkuhan lah, rebutan hartalah, dll, ahhhh capek dech. Mendingan baca media online, pikir saya dalam hati.

Tepatnya tanggal 3 oktober 2013, saya dikejutnya dengan berita penangkapan ketua MK Akil Mochtar, tentu saja berita ini membuat saya kaget bercampur tidak percaya, bagaimana mungkin seorang ketua MK yang merupakan panutan, tauladan, bahkan di bisa dikatakan sebagai manusia setengah dewa melakukan tindakan yang sangat memalukan dan menjijikan. Wajar saja tokoh seperti Jimly Asshiddiqie memberikan komentar agar KPK bisa menuntut hukuman mati bagi ketua MK Akil Mochtar walupaun di negara kita tidak ada hukuman mati. Ini adalah bentuk kekecewaan yang sangat mendalam bagi seorang Jimmly Assidque sehingga dia memberikan komentar yang sangat keras, dan saya pun sangat mendukung pernyataan beliau tersebut. MK adalah sebuah lembaga yang selama ini menjadi tempat kita mencari keadilan bahkan benteng terakhir dalam proses sengketa hukum yang ada di tanah air tercinta ini.

Dalam memahami kasus korupsi yang menimpa ketua MK Akil Mochtar ini, kita harus bisa berpikir secara jernih dan objektif sehingga tidak terburu-buru memberikan judgment yang malah memperburuk situai dan keadaan. Dengan menggelembungnya kasus ini bisa berdampak posisitif dan negatif buat perkembangan demokrasi kedepan. Positif nya adalah, dari kasus ini bisa menjadi titik awal pagi pemerintah dalam hal ini MA, DPR, dan Presiden untuk memilih kandidat secara selektif dan betul-betul seorang negarawan sejati sehingga hal ini tidak terulang lagi, recruitment calon hakim konstitusi harus dilaksanakan secara transparan dan objektif dengan melibatkan partisipasi masyarakat yang lebih besar lagi. Dampak negatif nya adalah, dari kasus ini bisa dimanpaatkan oleh mafia-mafia, oknum-oknum, dan politikus yang tidak bertanggung jawab untuk melemahkan lembaga ini. Sekarang sudah mulai muncul sinyal-sinyal dari beberapa kalangan yang sudah mulai mempertanyakan putusan-putusan yang telah dikeluarkan oleh MK. Jikalau ini tidak disikapi dengan bijaksana, maka saya khawatir ini akan bisa menimbulkan konflik yang bersifat horizontal dan lagi-lagi dampak terburuknya adalah masyarkat.

Analisis Psikologi

Dari sisi psikologis kasus korupsi yang dilakukan oleh ketua MK Aqil Mochtar, bisa disebabkan oleh dua faktor yaitu personal dan lingkungan. Pertama, faktor personal dimana ketua MK Akil Mochtar, memiliki dorongan atau keinginan yang sangat kuat untuk menumpuk kekayaan sehingga dia sendiri tidak mampu untuk mengendalikannya. Kenapa ini bisa terjadi?, faktor apa saja yang mempengaruhinya? Dibutuhkan ruang yang lebih luas lagi untuk membahas masalah ini. Kedua, Faktor lingkungan, Diasadari atau tidak perilaku korupsi sudah menjamur di semua institusi, bahkan tidak mengenal golongan, mulai dari tingkatan RW sampai kepada lembaga tinggi negara, sehingga seolah-olah sudah menjadi budaya. Saya teringat waktu diskusi waktu kuliah dulu ada salah satu teman bilang ke saya bahwa setiap kekuasaan pasti cenderung korup. Dari perspektif ini saya melihat bahwa ketua MK Akil Mochtar terpengaruh oleh lingkungannya yang terus secara sistematis dan massif untuk mempengaruhinya sehinggga terjadilah kasus ini.

Membahas kasus di atas, tidak lah cukup menjelaskannya hanya dengan 1 teori, tentunya dibutuhkan banyak pendekatan lagi sehingga kita bisa membuat kesimpulan yang lebih objektif dan bijakasana, tulisan ini hanya sebuah ilustrasi dari bentuk kekecewaan dari anak bangsa yang melihat korupsi terus menjadi monster yang menakutkan. Wallahu bissawab.

@penapsikologi

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 12 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 14 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 15 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 16 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | 13 jam lalu

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 13 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 13 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 14 jam lalu

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | 15 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: