Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Jihesi

Terlahir pada hari Sabtu, Tanggal 08 Oktober 1977 di kota Medan dan menjadi anak tertua selengkapnya

Fenomena Gunung Sinabung

OPINI | 06 November 2013 | 17:56 Dibaca: 358   Komentar: 0   0

Akhir-akhir ini Gunung Sinabung yang terletak di Kabupaten Karo, sedang mencuri perhatian kepada dunia. Dimulai pada 03 September 2010 Gunung yang selama ini diam dengan manis, tiba-tiba bergemuruh dan memuntahkan abu vulkanik dari dalam tubuhnya. Seketika itu juga penduduk yang selama ini berteman dan bercengkrama bersama Sinabung terkejut dan panik, mereka lari tunggang langgang menyelamatkan diri apalagi masih terngiang dibenak mereka peristiwa letusan Gunung Merapi yang menelan banyak korban.

Para punggawa pemerintahan juga dibuat kalang kabut ketika itu, karena mereka juga tidak siap dan belum dipersiapkan untuk menangani bencana gunung berapi. Hal ini mungkin terjadi karena terlena dalam keindahan Sinabung yang hanya diam dan membisu selama 400 tahun terakhir. Kabupaten kecil yang tidak begitu menjadi berita hangat dinegeri ini tiba-tiba menjadi berita nasional bahkan internasional dengan ditetapkannya status bencana Sinabung sebagai bencana nasional.

Seluruh mata dan telinga mengarah kepada situasi terkini Sinabung, para punggawa-punggawa bencana berdatangan kelokasi untuk melihat langsung situasinya. Para pendekar-pendekar tanggap bencana menyusun strategi bahkan sang prabu negara juga langsung turun tangan melihat rakyatnya yang tertimpa musibah. Seketika nama Karo, Kabanjahe, Brastagi, Lau Kawar, Suka Meriah, Bekerah, Simacem, Kuta Rayat, Kuta Gugung Sigarang-garang dan lain-lainya menjadi nama yang biasa muncul di media cetak maupun elektronik.

Bagi penduduk Kabupaten Karo terkhusus yang tinggal diseputaran kaki gunung Sinabung menjadi pengungsi adalah hal yang baru, jiwa dan raga mereka terkejut dengan perubahan ini. Pengungsi berjubel memenuhi setiap jambur (tempat berkumpul/pesta penduduk Karo). Ini merupakan salah satu keuntungan bagi penduduk dan pemerintah, karena tidak lagi repot menyediakan tempat bagi pengungsi.

Karena baru menjadi pengalaman pertama menjadi pengungsi maka banyak kejadian-kejadian yang diluar akal manusia, seperti mereka menginginkan menu yang enak tidak mau disuguhi mie instant, mereka merasa sebagai tamu sehingga harus dilayani dengan sebaik-baiknya dan banyak lagi kejadian yang membuat kita geleng kepala. Tetapi hal ini dapat kita maklumi karena selain sebagai pengalaman pertama karakter masyarakat Karo juga mempengaruhinya, semiskin-miskinnya masyarakat Karo jika sudah menyangkut masalah makanan memang agak repot, karena mereka hidup ditanah yang subur sehingga menu makanan mereka juga beragam.Bahkan dengan sayuran tertentu karena sering diberikan kepada hewan ternak mereka agak ogah untuk menyantapnya.

Saat ini gunung Sinabung bereaksi kembali dengan muntahan pertamanya pada 17 September 2013, seharusnya penduduk sekitar gunung sudah terlatih setelah 3 tahun letusan pertama berlalu, namun kenyataannya justru jumlah pengungsi lebih banyak dari sebelumnya dan tentunya kembali memadati jambur-jambr yang ada. Begitu juga pemerintah daerah seharusnya sudah terlatih selama 3 tahun setelah letusan pertama, namun apa hendak dikata malah justru semakin awut-awutan tanpa koordinasi yang jelas dalam penanganannya.

Dari dua kali kejadian letusan di tahun 2010 dan 2013 maka terlihat yang lebih berperan aktif dalam penanganan bencana alam ini. Lembaga keagamaan dan lembaga masyarakat tampak saling bahu membahu membantu para pengungsi baik dari pengadaan bantuan logistik sampai kepada pendistribusiannya bahkan untuk memberikan kenyamanan para pengungsi dari segi mentalnya terlebih bagi anak-anak yang mengalami trauma akibat bencana.

Menjadi pertanyaan bagi kita, seberapa sulit kah untuk belajar dari apa yang sudah pernah kita alami ? Apakah karena ketidak tahuan kita atau karena kebebalan kita dalam memahami fenomena yang terjadi ? Apakah memang pendidikan moral bagi para penduduk dan aparatur negara sudah sedemikian bobroknya, sehingga terlihat kurang peka terhadap fenomena yang terjadi ?

Kabanjahe, 06 November 2013

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sasi, Konservasi Tradisional di Raja Ampat …

Dhanang Dhave | | 22 August 2014 | 15:21

Identitas Bangsa Modal dalam Kompetisi …

Julius Deliawan | | 22 August 2014 | 09:42

ALS #icebucketchallenge …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 22 August 2014 | 17:49

[SRINTHIL] Perempuan di Kaki Masa Lalu …

Rahab Ganendra | | 22 August 2014 | 14:33

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Pesta Perkawinan Mewah, Apa Ngaruh dalam …

Ifani | 4 jam lalu

SBY ‘Ngrecoki’ Jokowi …

Suko Waspodo | 6 jam lalu

“Ahok” Sumbangan Prabowo Paling …

Pakfigo Saja | 11 jam lalu

Saat Mahkamah Konstitusi Minus Apresiasi …

Zulfikar Akbar | 15 jam lalu

Kuasa Hukum Salah Berlogika, MK Tolak …

Sono Rumekso | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: