Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ketut Swandana

mahasiswa teknik sipil, tingkat akhir di universitas lampung

Masyarakat Indonesia “Dibodohi” Oleh Sinetron yang Tak Layak Tonton!

HL | 10 November 2013 | 20:37 Dibaca: 3919   Komentar: 64   30

13841035701034759869

Ilustrasi Admin/Shutterstock

Saya paling anti yang namanya Sinetron! Apa yang mau di lihat? Ceritanya ngawur gag mendidik!! Alay bin lebay

Saya bingung kenapa Sinetron tak layak konsumsi seperti itu malah di tayangkan di jam-jam yang vital. Ba’da Magrib, waktu keluarga ngumpul, anak-anak Sedang asyik-asyik nya menonton TV,.

RCTI “Rajanya Sinetron” getol banget menayangkan sinetronnya. Jam-jam vital seperti itu, seharusnya di isi dengan berbagai tayangan yang mendidik menambah wawasan khususnya bagi anak-anak.

Hanya segelintir sinetron yang benar-benar bermutu dan yang lain Buruk.

SCTV “rajanya FTV” tak jauh beda dengan tayangan RCTI. Tidak ada pelajaran yang bisa di ambil dari FTV nya. Kebanyakan ceritanya berisi sepasang kekasih, cinta-cintaan, pergaulan bebas, kehidupan mewah dsb.

Ini dia bukti bahwa Sinetron di Indonesia Tak Layak Tonton:

1. Ceritanya hanya berkisah kehidupan orang-orang kaya, anak pejabat, bekerja di perusahaan besar, dapat warisan tanpa perlu kerja keras.

Hal ini mengajarkan kepada kita, untuk hidup hedonis.

2. Pemeran nya selalu berwajah kinclong, tak ada jerawat sedikitpun. Apa lagi kutil. hehehe. Dari Tukang sapu, sampai pembantu semuanya kinclong.

3. Pemain kerap berpakaian tak sopan, tidak sesuai adat ketimuran. Memakai bikini, rok mini seperti suatu hal yang lumrah.

4. Jalan ceritanya tak masuk akal.

Ada salah satu pemain yang di ceritakan mati,, ee kemudian hidup lagi.

Pemain yang nyamar jadi orang lain, misalnya pakai kaca mata. Bodoh kali, nyamar kaya gitu jelas ketahuan, tapi di ceritanya kok bisa gag ketahuan?heran saya.. sampek gregeten liatnya

Contoh lain, ketika sinetron itu berkisah mengenai anak-anak remaja yang melakukan perkemahan pramuka. Di gambarkan pemeran cowok cewek jadi satu ketika kemah, keluar masuk tenda lawan jenis. Halaaaahh! Pembodohan itu. Memberikan contoh buruk tidak sesuai kenyataan yang ada.

5. Pemain kerap beradegan yang tak pantas. Misalnya: Dikit-dikit Berpelukan di tempat umum, padahal di ceritanya mereka belum ada hubungan suami istri.

6. Ini yang paling membuat miris. Jika sinetron menceritakan kehidupan anak-anak sekolah, ceritanya terlalu mengada-ada.

Misalnya: Siswi yang bebas pake rok mini ketika sekolah, dandan menor, rebutan cowok, naik mobil, kerjan nya Cuma pacaraaaaaaaaaaaaaaaaaaaan terus di sekolah. Gag ada bagian yang menceritakan pelajaran berlangsung dengan tenang.

Pernah gag Anda perhatikan? Anak-anak sekolah di cerita itu selalu memakai seragam abu-abu putih kalau gag gitu seragam almamater mereka. Kapan ya mereka pakai seragam pramuka. Hehe.

7. Jalan ceritanya terlalu muluk-muluk. Coba lihat Sinetron TERSANJUNG mulai saya lahir sampai SD belum ada ujungnya. Hadeeeeh. Apa karena ratingnya terlalu tinggi, jadi sutradara memanfaatkannya dengan menambah pemeran-pemeran tambahan, yang GJ alias Gag Jelas!

8. Artis nya terlalu lebay

Misalnya aja seorang Ibu yang diberitahu bahwa anak nya kecelakaan pasti si Ibu akan ngomong “ APAAAA?” di bumbui suara musik “jreng jreng” hadeeeh.

9. Beberapa Sinetron Indonesia menjiplak drama Korea. Kreatif dikit donk.

· Saran: Untuk para pelaku industri hiburan jangan hanya mengejar materi dari produksi Anda, pikirkan lah dampak karya Anda. Produksi lah karya-karya yang lebih mendidik, berbobot, dan inspiratif. Kasihan Generasi Muda selalu di jejali tayangan-tayangan yang kurang bermutu seperti itu.

Hmm mm . . . Kapan ya Sinetron Indonesia bisa laku di Pasar Internasional? Seperti drama Korea yang laris manis di Indonesia.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perpu Pilkada Adalah Langkah Keliru, Ini …

Rolas Jakson | | 01 October 2014 | 10:25

3 Kesamaan Demonstrasi Hongkong dan UU …

Hanny Setiawan | | 30 September 2014 | 23:56

Punya Ulasan Seputar Kependudukan? Ikuti …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:29

Kompasiana “Mengeroyok” Band Geisha …

Syaiful W. Harahap | | 01 October 2014 | 11:04

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 6 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 8 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 8 jam lalu

Beraninya Kader PAN Usul Pilpres oleh MPR, …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

Guru Pukul Siswa, Gejala Bunglonisasi …

Erwin Alwazir | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Belajar dari Sebatang Pensil …

Abukhalid Andayonk | 8 jam lalu

Separo Hatimu Milikku …

Wahyu Saptorini Ber... | 8 jam lalu

Ketika Daycare Menjadi Sebuah Pilihan …

Ulihape | 8 jam lalu

Academy Award dan Pelantikan Anggota DPR …

Rafa Mufida | 8 jam lalu

Strees, Menyebabkan Atau Disebabkan? …

Ahmad Fiqhi Fadli | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: