Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Nani Roslinda

Berusaha ceria, bahagia dan hilangkan buruk sangka bisa bikin awet muda

Pelaksanaan Kurikulum 2013 dan Kendala

OPINI | 30 November 2013 | 23:14 Dibaca: 1266   Komentar: 0   0

Banyak kesibukan kerja membuat saya tidak pernah menulis artikel lagi di Kompasiana, pada hari ini saa y kangen sekali ingin menulis lagi di Kompasiana ini,

Jujur saja, menulis di Kompasiana ini bagi saya memerlukan waktu khusus dan tidak boleh banyak hal yang dipikirkan, kadang-kadang inspirasi juga membuat saya tertarik membaca dan menuangkan tulisan lewat kompasiana.  Lebih banyak tertarik menulis kalimat-kalimat di FB atau status BBM karena dianggap tidak menyita waktu yang banyak dan tidak harus memikirkan alinia satu dengan alinia lain harus dirangkai kalimat-kalimat yang baik.

Selama ini saya tertarik menulis di Kompasiana karena ada teman yang mengajak saya untuk menghadri seminar-seminar menulis yang di selenggarakan oleh Om Jay dkk.  namun kadang-kadang setiap tindakan kita ada titik jenuhnya.  Sama halnya dengan iman kita, saat iman kita melonjak, semua tanjakan dakwah pingin kita lakukan, kita ibadah semangat, namun saat titik jenuh tiba, ada hal -hal penurunan dalam hal beribadah dan penurunan kadar iman.  Begitupun dengan menulis di Kompasiana ini.

Malam ini saya mulai tertarik lagi menulis karena saya tidak memiliki b anyak  tugas dalam mengajar ,  selain itu ada banyak hal yang ingin saya sampaikan mengenai dunia pendidikan yang saya geluti, banyak masalah yang saya hadapi dan saya lihat, mungkin malam ini saya hanya akan menceritakasnnya secara singkat-singkat saja.

Masalah pertama yang ingin saya ceritakan mengenai Kurikulum 2013.   Sekolah tempat saya mengajar sudah menggunakan Kurikulum 2013, mau tidak mau suka atau tidak suka, saya dan teman-teman guru lainnya meaksanakan pembelajaran dengan kurikulum 2013.  Pelatihan demi pelatihan dilaksanakan, dari insttuktur satu, instruktur kedua dan ketiga yang menjelasakan tentang kurikulum 2013 hampir penjelasannya berbeda-beda sehinga sempat membuat saya bimgung, mana sebetulnya yang ingn kami jalani.

Secara umum, pengetahuan saya tentang kurikulum 2013 hanyalah perbedaan dalam hal pendekatan Scientific dan penilaian Autentic.  Dalam kurikulum 2013, pembelajaran scientific dikenal adanya kegiatan mengamati, menanya, menalar, mengasosiasi dan menkomunikasikan (membangun jejaring sosial), kesimpulannya bahwa dalam pembelajaran kurikulum 2013 ini guru tidak langsung menjelaskan materi pelajaran kepada siswa tetapi memancing siswa untuk menggali dengan cara mengamati dan siswa disuruh membaca terlebih dahulum bahan materi yang dipelajari,  guru menanyakan point-point materi yang ingin dibahas, siswa dibagibeberapa kelompok diskusi atau disuruh menggali materi bersama-sama teman, tukar pikiran dan siswa mempersentasikan materi tersebut ke depan kelas, guru meluruskan jawaban dan mulai membuat penjelasan singkat dan menyimpulkan hasil diskus siswa yang mempersentasikan tersebut, kemudian guru dan siswa menugaskan siswa membentuk jejaring sosial sehingga pembelajaran kelihatan aktif dan guru tidak terlalu capek karena hanya sekedar menyimpulkan dan tanya jawab kepada siswa.

Namun demikian saya memiliki kendala dalam melakukan penilaian Autentic katena dalam kurikulum 2013 ini saya menyimpulkan bahwa penilain sikap itu adalah yang pertama dan utama, baru disusul dengan penilai ketrampilan dan pengetahuan, terbalik dengan kurikulum 2006 yang mengutamakan kognitif.  Dalam hal ini tugas guru agak sedikit berat dan perlu ketelitian dalam mengenal siswa satu pesatu, tidak bisa secara clasical.  Banyak hal yang membuat kita mengalami hambatan yaitu aspek-aspek penilaian sikap itu memiliki beberapa unsur misalnya, nilai kedisiplinan, kerjasama dan sikap menghargai pendapat orang lain dll.  Selain itu dalam hal ketrampilan juga, guru harus melakukan penilainan observasi dan portopolio kegiatan dan aspek pengetahuan penilainnya dilakukan dengan mengerti, memahami dan mampu mempresentasikan, ada nilai persentasi dan penilain tugas-tugas. Penilaian ini akan mengakibatkan penilaian sikap yang rekayasa, siswa yang baik dan siswa yang buruk saja yang menjadi patokan perbedaan nilai, sementara nilai yang lainnya standar umum saja.

Berdasarkan cerita di atas, kesimpulan terhadap kurikulum 2013 ini masih sangat perlu  pelatihan- pelatihan intensif terhadap guru atau semua guru  dan pemerintah harus berani mengeluarkan dana yang besar untuk pelaksanaan kegiatan pelatihan ini.

Pada tahun ini, tepatnya bulan juli 2013 yang lalu, buku yang mengacu kepada pelajaran kurikulum 2013 baru 3 buku matapelajaran yaitu Bahasa Indonesia, Matemarika dan Sejarah.  Ketiga buku ini sudah terbit dan sudah dicetak sebanyak sekolah-sekolah yang sudah ditugaskan menggunakan kurikulum 2013.

Mendengar cerita dari para guru, kurikulum 2013 ini bukannya meringankan tugas guru, malah lebih merepotkan guru, sebagian  besar guru mengatakan seperti itu.  Tuntutan mengenal siswa lebih mendalam dalam mengajar tidak diimbangi keterbatasan jumlah siswa yang diajarkan dikelas melebihi kuaota jumlah kelas biasa.  Penurunan nilai kualitas pendidikan yang dulunya  terkenal mantan RSBI lebih menurun dibanding saat dianugrahi istilah RSBI, Rintisan  sekolah bertaraf Internasional.

Awalnya guru-guru mencoba melakukan pembelajaran Sxientific, namun belakangan ini guru mula kembali cara-cara lama,  kurikuum 2013 ini masih belum jelas dan belum siap dilaksanakan karena keterbatasan dana, waktu, tenaga instruktur ahli, dan pengetahuan terhadap hakekat kurikulum 2013 itu sendiri,  Semo

Semoga pelaksanaan kurikulum 2013 ditahun-tahun berikutnya dapat terlaksana dengan baik dan pelatihan-pelatihannya dapat bermanfaat.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Kasus PR Habibi, ketika Guru Salah Konsep …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Abraham Lunggana, Ahok, Messi, dan Pepe …

Susy Haryawan | 9 jam lalu

Tentang 6 x 4 …

Septin Puji Astuti | 10 jam lalu

Jokowi dan Kutukan Politik …

Angin Dirantai | 11 jam lalu

PPP dan Kudeta Marwah …

Malaka Ramadhan | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Gimana Terhindar dari Jebakan Oknum Trading …

Adhie Koencoro | 8 jam lalu

Dari Priyo Sampai Ahok, Akhirnya Demokrat …

Auda Zaschkya | 8 jam lalu

Daya Tarik Kota Emas Prag, Ditinggalkan …

Cahayahati (acjp) | 8 jam lalu

Cycling, Longevity and Health …

Putri Indah | 9 jam lalu

Menemukan Pembelajaran dari kasus Habibi dan …

Maria Margaretha | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: