Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Sudarsyah Asep

Membaca teks dan konteks

Sekolah Sebagai Unit Pelaksana Teknis ?

OPINI | 25 December 2013 | 14:25 Dibaca: 31   Komentar: 4   3

Beberapa bulan lalu, ketika sedang  mengendarai motor, selintas, saya   menemukan papan nama sekolah bertuliskan Unit Pelaksana Teknis Sekolah X…Pada waktu itu, tidak sedikitpun terpikirkan apa yang dimaksud dengan  ‘pelaksana teknis’ itu.

Kemarin, saya menpunyai kendala dalam mengoperasikan  HP. Gaptek ! bertanya ke sana ke mari, sama tidak memahaminya. Seorang kawan menyarankan untuk membaca manual teknisnya. Sayang sekali,  manual tersebut hilang entah kemana. Terpaksa saya meluangkan waktu untuk berkonsultasi dengan counter HP. Akhirnya masalah dapat diselesaikan oleh ahlinya. Sampai saat ini  saya bisa mengoperasikannya.

Lalu, apa kaitanya antara manual dengan unit pelaksana teknis. Manual dibuat oleh ahli yang bertujuan memandu orang lain dalam mengoprasikan suatu sistem pekerjaan, dari A sampai Z. Sifatnya mekanistik. Jika kita mengotak atik sistem operasi tersebut sesuai dengan keinginan kita maka dianggap menyalahi prosedur. Akibatnya  bisa rusak. Saya bukan ahlinya, karena  itu patuh saja pada petunjuk teknis yang telah ditentukan.

Sedangkan sekolah sebagai unit pelaksana teknis mengandung makna  bahwa warga sekolah (guru dan kepala sekolah)  harus melakukan pekerjaannya sesuai dengan manual teknis yang telah ditetapkan dari ‘sananya’. Siapakah itu? Para ahli (expertise) kah? Bukankah di sekolah juga terdapat ahli mendidik, ahli mengelola (kepala sekolah) , ahli bimbingan dan konseling dan ahli mengawasi (pengawas)? Mereka bukan tukang tetapi ahli.

Lalu apa bedanya tukang dengan ahli. Menurut saya tukang adalah mampu melaksanakan hal teknis, sedangkan ahli mampu melaksanakan hal teknis dan teorinya (theory in use). Tukang tidak menpunyai kemampuan menjelaskan teori dan konsep yang menjadi alasan dari suatu hal-hal yang bersifat teknis.

Pada umumnya, seseorang disebut ahli apabila  kerjanya  berpatokan pada kaidah  ilmu pengetahuan yang telah lama dipelajarinya. Ahli dalam ilmu, juga ahli secara teknis. Standar, norma atau ukuran dalam bekerja ditentukan oleh dirinya sendiri.  Standar  sebagai panduan dalam rangka melaksanakan pekerjaan yang ditentukan oleh pihak di luar dirinya dianggap benar sepanjang memenuhi kaidah ilmu pengetahuan yang telah dipelajarinya. Atau anggap saja sebagai bahan pengayaan dalam rangka meningkatkan kemampuan profesionalnya. Apabila dianggap keliru, maka lebih baik tinggalkan saja. Mampukah sekolah  mengabaikan hal-hal yang bersifat teknis apabila hal tersebut dianggap keliru ?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Catat, Bawaslu Tidak Pernah Merekomendasikan …

Revaputra Sugito | | 23 July 2014 | 08:29

Kado Hari Anak; Berburu Mainan Tradisional …

Arif L Hakim | | 23 July 2014 | 08:50

Jejak Digital, Perlukah Mewariskannya? …

Cucum Suminar | | 23 July 2014 | 10:58

Apakah Rumah Tangga Anda dalam Ancaman? …

Agustinus Sipayung | | 23 July 2014 | 01:10

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Seberapa Penting Anu Ahmad Dhani buat anda? …

Robert O. Aruan | 3 jam lalu

Sampai 90 Hari Kedepan Belum Ada Presiden RI …

Thamrin Dahlan | 6 jam lalu

Membaca Efek Keputusan Prabowo …

Zulfikar Akbar | 6 jam lalu

Prabowo Lebih Mampu Atasi Kemacetan Jakarta …

Mercy | 16 jam lalu

Kalah Karena Dicurangi? Belajarlah pada …

Ipul Gassing | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: