Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Sudarsyah Asep

Membaca teks dan konteks

Sekolah Sebagai Unit Pelaksana Teknis ?

OPINI | 25 December 2013 | 14:25 Dibaca: 33   Komentar: 4   3

Beberapa bulan lalu, ketika sedang  mengendarai motor, selintas, saya   menemukan papan nama sekolah bertuliskan Unit Pelaksana Teknis Sekolah X…Pada waktu itu, tidak sedikitpun terpikirkan apa yang dimaksud dengan  ‘pelaksana teknis’ itu.

Kemarin, saya menpunyai kendala dalam mengoperasikan  HP. Gaptek ! bertanya ke sana ke mari, sama tidak memahaminya. Seorang kawan menyarankan untuk membaca manual teknisnya. Sayang sekali,  manual tersebut hilang entah kemana. Terpaksa saya meluangkan waktu untuk berkonsultasi dengan counter HP. Akhirnya masalah dapat diselesaikan oleh ahlinya. Sampai saat ini  saya bisa mengoperasikannya.

Lalu, apa kaitanya antara manual dengan unit pelaksana teknis. Manual dibuat oleh ahli yang bertujuan memandu orang lain dalam mengoprasikan suatu sistem pekerjaan, dari A sampai Z. Sifatnya mekanistik. Jika kita mengotak atik sistem operasi tersebut sesuai dengan keinginan kita maka dianggap menyalahi prosedur. Akibatnya  bisa rusak. Saya bukan ahlinya, karena  itu patuh saja pada petunjuk teknis yang telah ditentukan.

Sedangkan sekolah sebagai unit pelaksana teknis mengandung makna  bahwa warga sekolah (guru dan kepala sekolah)  harus melakukan pekerjaannya sesuai dengan manual teknis yang telah ditetapkan dari ‘sananya’. Siapakah itu? Para ahli (expertise) kah? Bukankah di sekolah juga terdapat ahli mendidik, ahli mengelola (kepala sekolah) , ahli bimbingan dan konseling dan ahli mengawasi (pengawas)? Mereka bukan tukang tetapi ahli.

Lalu apa bedanya tukang dengan ahli. Menurut saya tukang adalah mampu melaksanakan hal teknis, sedangkan ahli mampu melaksanakan hal teknis dan teorinya (theory in use). Tukang tidak menpunyai kemampuan menjelaskan teori dan konsep yang menjadi alasan dari suatu hal-hal yang bersifat teknis.

Pada umumnya, seseorang disebut ahli apabila  kerjanya  berpatokan pada kaidah  ilmu pengetahuan yang telah lama dipelajarinya. Ahli dalam ilmu, juga ahli secara teknis. Standar, norma atau ukuran dalam bekerja ditentukan oleh dirinya sendiri.  Standar  sebagai panduan dalam rangka melaksanakan pekerjaan yang ditentukan oleh pihak di luar dirinya dianggap benar sepanjang memenuhi kaidah ilmu pengetahuan yang telah dipelajarinya. Atau anggap saja sebagai bahan pengayaan dalam rangka meningkatkan kemampuan profesionalnya. Apabila dianggap keliru, maka lebih baik tinggalkan saja. Mampukah sekolah  mengabaikan hal-hal yang bersifat teknis apabila hal tersebut dianggap keliru ?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Bajaj” Kini Tak Hanya Bajaj, …

Hazmi Srondol | | 19 September 2014 | 20:47

Ekonomi Kemaritiman Jokowi-JK, Peluang bagi …

Munir A.s | | 19 September 2014 | 20:48

Bedah Buku “38 Wanita Indonesia Bisa“ di …

Gaganawati | | 19 September 2014 | 20:22

Kiat Manjakan Istri agar Bangga pada …

Mas Ukik | | 19 September 2014 | 20:36

Rekomendasikan Nominasi “Kompasiana …

Kompasiana | | 10 September 2014 | 07:02


TRENDING ARTICLES

ISIS Tak Berani Menyentuh Perusahaan yang …

Andi Firmansyah | 9 jam lalu

Mencoba Rasa Makanan yang Berbeda, Coba Ini …

Ryu Kiseki | 10 jam lalu

Fatin, Akankah Go Internasional? …

Orang Mars | 10 jam lalu

Timnas U23 sebagai Ajang Taruhan… …

Muhidin Pakguru | 13 jam lalu

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Kini Giliran Sepakbola Wanita Papua yang …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Andromax Z, Gw Banget! …

Denny Sindi Pratama | 8 jam lalu

Wow! Perusahaan yang Enggak Mau Daftarin …

Mawalu | 8 jam lalu

Tidak Rasional Mengakui Jokowi-Jk Menang …

Muhibbuddin Abdulmu... | 8 jam lalu

Surat Dari Anak Petani untuk Bupati Sinjai …

Damang Averroes Al-... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: