Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Fajarbaru

menulis untuk melawan proses amnesia sejarah

Kesiapan Berbahasa Inggris Masyarakat Indonesia Menghadapi AFTA 2015

OPINI | 19 February 2014 | 19:46 Dibaca: 601   Komentar: 24   7

Pentingkah Menguasai Bahasa Inggris bagi Masyarakat Indonesia Manghadapi AFTA 2015?

Beberapa waktu lalu, Bahasa Inggris sempat menjadi polemik di jagad Kompasiana. Apa pasal? Polemik pro-kontra ini muncul ketika ada wacana Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang menerapkan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar proses belajar mengajar di sekolah. Yang dipersoalkan publik adalah: apakah penerapan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di sekolah, otomatis menjadikan para siswanya lebih cerdas dan lebih siap menghadapi pergaulan internasional dalam dunia kerja? Bahkan sebuah pertanyaan fundamental pun diajukan: apakah tingkat kemajuan suatu bangsa sangat bergantung pada penguasaan Bahasa Inggris para masyarakatnya?

Bagi yang keberatan dengan hal ini, penguasaan Bahasa Inggris secara aktif oleh para warga negara ternyata tidak berbanding lurus dengan tingkat kemajuan bangsanya. Bahkan ada negara-negara yang jauh lebih maju, meskipun masyarakatnya tidak terlalu menguasai Bahasa Inggris misalnya: Perancis, Jepang, dll. Sementara itu, ada negara-negara yang menjadikan Bahasa Inggris sebagai salah satu Bahasa resmi negara malah tidak lebih maju misalnya: Papua New Quinea dan negara-negara Samudera Pasifik lainnya, serta negara-negara Afrika yang menjadi bekas jajahan Inggris.

Keberatan ini memang cukup mendasar. Namun, jangan sampai melemahkan motivasi masyarakat Indonesia untuk terus belajar menguasai Bahasa Inggris. Apalagi Indonesia akan menghadapi ASEAN Free Trade Area (AFTA) pada 2015 mendatang. Di hadapan tantangan seperti ini, mau tidak mau, suka tidak suka, seluruh rakyat Indonesia harus siap menyambut perdagangan bebas di tingkat Asia (AFTA). Apa saja yang harus disiapkan? Selain kesiapan Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia pun perlu ditingkatkan/diperkuat. Salah satu hal-nya adalah kemampuan menggunakan bahasa Inggris/asing sebagai bahasa pergaulan antarbangsa.

AFTA 2015 Sebagai Motivasi Meningkatkan Kemampuan Berbahasa Inggris

AFTA 2015 dengan sendirinya menjadi sebuah tantangan sekaligus peluang bagi segenap masyarakat Indonesia. Salah satu tantangan kesiapan masyarakat Indonesia Menghadapi AFTA 2015 adalah sejauh mana masyarakat Indonesia sudah cukup menguasai Bahasa Inggris, yang nantinya akan menjadi bahasa pengantar utama dalam relasi yang kian terbuka dengan sesama masyarakat Asia yang bebas hilir-mudik ke Indonesia? Bagaimana para ibu di desa-desa bisa menjajakan dagangan mereka misalnya berupa kerajinan tangan dan hasil buminya kepada warga negara Asia lainnya yang berkunjung ke daerahnya? Tentu ada banyak daya yang bisa dilakukan untuk menjembataninya, misalnya dengan memanfaatkan jasa ‘guide bayaran’ atau dengan menggunakan ‘bahasa symbol’ ala Tarzan dengan cara mengerahkan seluruh ‘bahasa tubuh’ untuk dipahami oleh lawan bicara.

Akan tetapi, sebagai sebuah tantangan bersama menghadapi era globalisasi melalui perdagangan bebas ini, pemerintah Indonesia tidak bisa menganggap remeh usaha peningkatan mutu penguasaan Bahasa Inggris kepada para siswa. Karena bukan rahasia lagi, meskipun Bahasa Inggris sudah diajarkan sejak Sekolah Dasar sampai dengan Perguruan Tinggi, tetap saja setelah lulus kuliah pun, tidak semua mahasiswa/i Indonesia mampu ‘bercuap-cuap’ dalam Bahasa Inggris dengan orang asing.  Bahkan lulusan S2 Indonesia pun tidak banyak yang mendapatkan nilai TOEFL 550 sebagai indikator bahwa orangnya sungguh menguasai Bahasa Inggris.

Kenyataan ini mau mengatakan apa? Apa penyebabnya? Salah satunya, masyarakat Indonesia sudah terlalu nyaman dan merasa mapan dengan Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerahnya masing-masing,  sehingga tidak terlalu merasa tertantang dan merasa penting untuk menguasai Bahasa Inggris. Bahkan di kalangan mahasiswa pun suka menertawakan teman-temannya ketika ada yang berani membuat paper, skripsi, atau tugas akhir  dengan menggunakan referensi dalam Bahasa Inggris. Mereka menganggap mahasiswa yang demikian hanya mau gagah-gagahan/sok-sok-an. Padahal kenyamanan dan kemapanan seperti ini seharusnya dibongkar agar agar para siswa/mahasiswa dibiasakan untuk berani menggunakan dan menerapkan Bahasa Inggris dalam tugas-tugas mereka atau dalam percakapan mereka.

Oleh karena itu, AFTA 2015 bisa menjadi motivasi bagi anak-anak Indonesia untuk lebih serius lagi meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Sehingga makin banyak dijumpai siswa/mahasiswa yang setelah menyelesaikan SMU/Perguruan Tinggi sudah mampu bercakap-cakap secara aktif dengan menggunakan Bahasa Inggris dengan orang asing yang dijumpai di jalan, di pasar, di pantai, di tempat kerja, dll.

Bagaimana Caranya?

Salah satu cara yang bisa dilakukan secara pribadi oleh para siswa/mahasiswa adalah dengan menghafal sebanyak-banyaknya kosa kata bahasa Inggris di sela-sela waktu sekolah/kuliah untuk menambah kosa kata Bahasa Inggris. Bisa saja dengan cara membuat target sehari minimal berapa kosa kata Bahasa Inggris yang kita hafal dan ingat. Bisa juga menggunakan fasilitas Handphone yang kita miliki untuk menghafal dari Kamus Elektronik yang bisa juga diunduh dan dimasukkan di dalam HP tertentu. Daripada hanya sibuk sms, Facebokkan, Twitteran, dan main games yang gak terlalu bermanfaat untuk peningkatan SDM diri, lebih baik gunakan waktu luang untuk menghafal kosa kata Bahasa Inggris. Hal ini sangat penting, karena orang bisa lancar berbicara Bahasa Inggris, kalau ia menguasai banyak daftar kosa kata. Bagaimana mungkin kita bisa lancar berbicara, jika stock kosa kata kita sangat minim?

Ada juga cara lain yakni dengan mengikuti kursus-kursus Bahasa Inggris di luar jam sekolah/jam kuliah. Apalagi saat ini, di berbagai kota/tempat telah menjamur bisnis kursus/privat bahasa asing. Ada juga orang tua murid dan mahasiswa yang saya kenal sudah menyadari pentingnya mengambil kursus-kursus/privat Bahasa Inggris di luar jam sekolah atau jam kuliah untuk meningkatkan kapasitas anak atau diri mereka sendiri dalam hal penguasaan bahasa asing. Daripada menghabiskan waktu di luar jam sekolah atau  jam kuliah untuk bermain atau duduk bengong, mendingan isi waktu luang tersebut dengan mengikuti les privat/kursus Bahasa Inggris. Siapa tahu setelah tamat SMU atau selesai kuliah kita sungguh-sungguh menjadi siswa/mahasiswa plus yang bisa aktif berbahasa Inggris.

Lebih daripada itu, anak-anak Indonesia harus dimotivasi terus untuk berani berbicara Bahasa Inggris baik di ruang kelas/ruang kuliah maupun ketika punya kesempatan berjumpa dengan orang asing. Jangan takut salah dan ditertawakan ketika kita ingin berbicara dalam Bahasa Inggris dengan orang asing. Tinggalkan grammar, dan berbicaralah dengan bebas sebagai usaha untuk belajar sambil berbicara. Dengan sendirinya, lama kelamaan kita akan menikmati hasilnya, yakni pertumbuhan signifikan terkait penguasaan Bahasa Inggris. Orang bilang: “ala bisa, karena biasa.” Kita mahir berbahasa Inggris karena biasa atau sering menggunakannya. Untuk itu, buanglah rasa malu, ketika ingin menyapa bule yang kebetulan lewat dan mengajak mereka berbicara dalam Bahasa Inggris. Kadang mereka maklum, ketika kita salah mengucapkan kata atau salah menggunakan grammar. Jarang sekali mereka menertawakan kesalahan kita. Bisa saja mereka malah akan mengoreksinya pada saat itu. Ini menjadi keuntungan bagi kita yang mau belajar juga secara gratis dari bule yang kita ajak bicara. Yang terpenting dalam komunikasi tersebut adalah mereka bisa menanggapi apa yang kita maksudkan.

Menguasai Bahasa Inggris adalah salah satu kunci untuk menguasai ilmu, menguasai teknologi, dan menguasai dunia. AFTA yang berarti keterbukaan dalam pergaulan antarbangsa di Asia sudah di depan mata. Tidak ada alasan bagi putera-puteri bangsa untuk tidak menyiapkan Sumber Daya Manusia-nya sendiri sebagai salah satu indikator kesiapan Indonesia Menghadapi AFTA 2015. Salah satu hal yang perlu dipersiapkan dan dikuasai adalah kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Inggris (minimal), syukur-syukur bisa juga menguasai beberapa bahasa dari negara-negara Asia lainnya misalnya: Mandarin dan Jepang. Sebab dengan menguasai Bahasa Inggris, kita bisa berelesi dengan sesama dari bangsa lain secara lebih baik termasuk dalam urusan pendidikan, pekerjaan, ekonomi/bisnis, sosial, budaya, dll.

Baca juga link terkait:

Pemkot Surabaya Sambut Afta 2015 dengan Mendirikan Rumah Bahasa

AFTA 2015: Buah Simalakama untuk Rakyat

AFTA 2015: Gaungnya Terbatas & Gregetnya belum Terasa

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Berburu Gaharu di Hutan Perbatasan …

Dodi Mawardi | | 29 November 2014 | 11:18

Justru Boy Sadikin-lah yang Pertama Kali …

Daniel H.t. | | 29 November 2014 | 00:12

Saatnya Regenerasi, Semoga PSSI Tak Lagi …

Rizal Marajo | | 28 November 2014 | 23:28

Kartu Kredit: Perlu atau Tidak? …

Wahyu Indra Sukma | | 29 November 2014 | 05:44

Ikuti Lomba Resensi Buku “Revolusi …

Kompasiana | | 08 November 2014 | 15:08


TRENDING ARTICLES

Ibu Vicky Prasetyo Ancam Telanjang di …

Arief Firhanusa | 4 jam lalu

Pak Jokowi, Dimanakah Kini “Politik …

Rahmad Agus Koto | 5 jam lalu

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 7 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 8 jam lalu

SBY Mulai Iri Kepada Presiden Jokowi? …

Jimmy Haryanto | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: